Tafsir: Mengapa Kamu Kafir kepada Allah? - Tadabbur QS Al-Baqarah Ayat 28
Mengapa Kamu Kafir kepada Allah?
Tadabbur QS Al-Baqarah Ayat 28
1. Pembukaan
Manusia modern hidup dalam paradoks. Ia semakin mampu mengendalikan banyak hal, tetapi semakin mudah lupa bahwa ada hal-hal paling mendasar dalam kehidupannya yang sama sekali tidak berada dalam kuasanya. Manusia dapat membangun rumah, perusahaan, teknologi, dan berbagai sistem kehidupan, tetapi ia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri. Ia tidak memilih kapan dilahirkan, tidak mampu menghentikan kematian ketika ajal datang, dan tidak dapat menentukan apakah ia akan dibangkitkan atau tidak.
Kesibukan mengejar kehidupan dunia juga sering membuat manusia lupa kepada asal dan tujuan kehidupannya. Harta dikumpulkan seakan-akan akan dimiliki selamanya, jabatan dipertahankan seakan-akan tidak akan berakhir, dan berbagai aktivitas dilakukan seolah-olah manusia tidak akan pernah mempertanggungjawabkan semuanya. Di tengah kondisi seperti itu, QS Al-Baqarah ayat 28 menghadirkan sebuah pertanyaan yang mengguncang kesadaran:
Bagaimana mungkin manusia mengingkari Allah, sementara seluruh perjalanan hidupnya sendiri merupakan bukti kekuasaan Allah?
Ayat ini membawa manusia merenungkan perjalanan eksistensialnya: dahulu belum menjadi sesuatu yang disebut, kemudian Allah memberikan kehidupan, setelah itu Allah menetapkan kematian, kemudian membangkitkan kembali, dan akhirnya seluruh manusia dikembalikan kepada-Nya.
Karena itu, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang kehidupan dan kematian, tetapi merupakan argumentasi tauhid yang menghubungkan penciptaan, kehidupan, kematian, kebangkitan, dan pertanggungjawaban.
2. Teks Ayat
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”
QS. Al-Baqarah [2]: 28
Riwayat Tafsir dan Kedudukan Asbāb al-Nuzūl
Dalam mengkaji ayat ini, perlu dibedakan secara tegas antara asbāb al-nuzūl dan riwayat tafsir dari sahabat.
Dalam pembahasan al-Tabari terhadap QS Al-Baqarah ayat 28, tidak ditemukan riwayat yang secara eksplisit menyatakan bahwa ayat ini turun karena suatu peristiwa tertentu yang menjadi sebab turunnya ayat.
Al-Tabari justru membuka pembahasan dengan:
“Para ahli takwil berbeda pendapat dalam menafsirkan hal tersebut.”
Setelah itu, al-Tabari mengumpulkan beberapa riwayat mengenai makna ayat. Salah satu riwayat yang mencantumkan Ibn ‘Abbas melalui al-Suddi menjelaskan:
“Kalian sebelumnya bukanlah sesuatu, lalu Dia menciptakan kalian; kemudian Dia mematikan kalian; kemudian Dia menghidupkan kalian pada hari Kiamat.”
Al-Tabari juga menghimpun riwayat dari Ibn ‘Abbas melalui Ibn Jurayj dan ‘Atha' al-Khurasani yang menghubungkan ayat ini dengan konsep:
“Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali.”
3. Penjelasan Per Perkataan
Perkataan 1: كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ
Makna: “Bagaimana mungkin kamu kafir kepada Allah?”
Kata كَيْفَ secara bahasa merupakan kata tanya tentang keadaan atau cara. Namun dalam konteks ayat ini, pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan yang membutuhkan informasi tentang “bagaimana caranya”.
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penggunaan كَيْفَ mengandung makna keheranan karena kekufuran terjadi setelah tegaknya hujah. Al-Sa‘di juga menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut mengandung makna ta‘ajjub, teguran, dan pengingkaran.
Dengan demikian, Allah tidak sedang meminta manusia menjelaskan proses kekufurannya. Ayat tersebut justru merupakan teguran: bagaimana mungkin manusia mengingkari Allah setelah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada dirinya sendiri?
Ayat Pendukung
“Ataukah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini.”
QS. At-Tur [52]: 35–36.
Perkataan 2: وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ
Makna: “Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu.”
Al-Tabari menghimpun beberapa riwayat mengenai makna bagian ini. Di antaranya riwayat yang mencantumkan Ibn ‘Abbas:
“Kalian sebelumnya bukanlah sesuatu, lalu Dia menciptakan kalian.”
Al-Baghawi juga menjelaskan sejumlah sisi makna yang berkaitan dengan keadaan manusia dalam proses penciptaan, kehidupan di rahim, kemudian kehidupan dunia.
Ayat Pendukung
“Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa, ketika dia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
QS. Al-Insan [76]: 1.
Perkataan 3: ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
Makna: “Kemudian Dia mematikan kamu.”
Setelah memberikan kehidupan, Allah menyebut kematian. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia tidak bersifat kekal.
“Kemudian Dia mematikan kalian ketika ajal kalian berakhir.”
Ayat Pendukung
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
QS. Ali ‘Imran [3]: 185.
Perkataan 4: ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
Makna: “Kemudian Dia menghidupkan kamu kembali.”
Setelah menyebut kematian, Allah menyebut kehidupan kembali. Inilah salah satu dasar penting bagi iman kepada kebangkitan.
“Kemudian Dia menghidupkan kalian untuk kebangkitan.”
Ayat Pendukung
“Dan sungguh, hari Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.”
QS. Al-Hajj [22]: 7.
Perkataan 5: ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Makna: “Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
Ini merupakan puncak rangkaian ayat. Allah tidak berhenti pada pemberian kehidupan, kematian, dan kebangkitan. Setelah kebangkitan, manusia dikembalikan kepada Allah.
“Kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan, yaitu kalian dikembalikan di akhirat lalu Dia memberi balasan kepada kalian berdasarkan amal-amal kalian.”
Ayat Pendukung
“Kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Ma'idah [5]: 105.
4. Faedah dan Penerapan
1. Kehidupan adalah Nikmat dan Amanah Allah
Allah berfirman:
“Lalu Allah menghidupkan kamu.”
Kehidupan adalah pemberian Allah. Karena itu, manusia tidak boleh memperlakukan kehidupannya sebagai milik mutlak yang dapat digunakan sesuka hati tanpa batas moral.
Apa yang akan saya pertanggungjawabkan dari kehidupan yang Allah berikan?
2. Mengingat Asal Keberadaan Menghilangkan Kesombongan
Manusia sering merasa besar karena harta, ilmu, jabatan, keturunan, popularitas, atau kemampuan.
Namun QS Al-Baqarah ayat 28 mengembalikannya kepada titik awal:
“Padahal kamu tadinya mati.”
Kesadaran terhadap asal penciptaan melahirkan tawaduk dan menghilangkan kesombongan.
3. Kematian Meruntuhkan Ilusi Kepemilikan Mutlak
Harta boleh dimiliki, tetapi manusia tidak memilikinya secara mutlak. Jabatan boleh dipegang, tetapi tidak selamanya. Rumah boleh dibangun, tetapi penghuninya akan meninggalkannya.
Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia, tetapi mengajarkan manusia tidak diperbudak oleh dunia.
4. Iman kepada Kebangkitan Mengubah Orientasi Hidup
Seandainya kehidupan hanya berhenti pada kematian, banyak ketidakadilan di dunia tidak pernah memperoleh penyelesaian akhir.
Namun iman kepada akhirat mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukan pengadilan terakhir. Ada hari kebangkitan, ada hisab, dan ada balasan.
5. Kesadaran Akhirat Membangun Integritas
Seseorang mungkin dapat menyembunyikan kebohongan dari manusia. Ia mungkin dapat memanipulasi angka atau menyembunyikan transaksi. Namun ia tidak dapat menyembunyikan amalnya dari Allah.
Karena itu, iman kepada akhirat merupakan salah satu fondasi integritas.
6. Amanah dalam Keluarga dan Masyarakat
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
HR. al-Bukhari no. 7138.
Hadits tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi tanggung jawab sosial.
7. Relevansi dengan Ekonomi Syariah
QS Al-Baqarah ayat 28 bukan ayat hukum yang secara langsung menetapkan hukum murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, atau akad tertentu. Namun ayat ini memberikan fondasi tauhid dan pertanggungjawaban bagi perilaku ekonomi seorang Muslim.
Seorang Muslim dalam aktivitas bisnis tidak hanya bertanya:
- Apakah ini menguntungkan?
- Apakah akadnya sah?
- Apakah transaksi ini halal?
- Apakah informasi telah disampaikan secara jujur?
- Apakah ada pihak yang dizalimi?
- Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?
Dalam perspektif ini, muraqabah menjadi pengendalian moral dari dalam diri yang melengkapi sistem hukum, pengawasan, audit, dan pengendalian internal.
8. Mengingat Kematian Bukan Berarti Pesimis
Mengingat kematian bukan berarti berhenti bekerja, meninggalkan bisnis, atau tidak boleh menjadi kaya. Kesadaran terhadap kematian justru membuat manusia lebih serius menggunakan waktu.
Ia ingin menyelesaikan utang, mengembalikan hak orang lain, memperbaiki hubungan keluarga, membersihkan harta, memperbaiki ibadah, dan meninggalkan amal yang bermanfaat.
5. Penutup
Tadabbur Ayat dari Perspektif Akidah dan Tauhid
QS Al-Baqarah ayat 28 merupakan argumentasi Al-Qur'an tentang hubungan antara rububiyah Allah dan kewajiban manusia untuk beriman kepada-Nya.
“Kamu tadinya mati.”
“Lalu Allah menghidupkan kamu.”
“Kemudian Dia mematikan kamu.”
“Kemudian Dia menghidupkan kamu kembali.”
“Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa manusia sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.
Karena itu, pertanyaan:
“Bagaimana mungkin kamu kafir kepada Allah?”
merupakan pertanyaan yang seharusnya mengguncang kesadaran manusia.
Jika Allah yang memberiku kehidupan, apakah kehidupanku sudah kugunakan untuk menaati-Nya?
Jika kematian pasti datang, apa yang sudah kupersiapkan?
Jika kebangkitan pasti terjadi, amal apa yang akan kubawa?
Jika aku pasti kembali kepada Allah, apakah aku sudah siap bertemu dengan-Nya?
Tanya Jawab
P: Apa makna “أَمْوَاتًا” menurut riwayat Ibn ‘Abbas?
J: Salah satu riwayat yang dihimpun al-Tabari menjelaskannya dengan ungkapan:
“Kalian sebelumnya bukanlah sesuatu, lalu Dia menciptakan kalian.”
P: Apakah ayat ini merupakan dalil tentang kebangkitan?
J: Ya. Bagian ثُمَّ يُحْيِيكُمْ menunjukkan kehidupan kembali setelah kematian dan berkaitan dengan kebangkitan pada hari Kiamat.
P: Apa hubungan ayat ini dengan QS Ghafir ayat 11?
J: QS Ghafir ayat 11 menyebut:
Al-Tabari menghimpun riwayat dari Ibn ‘Abbas yang menghubungkan rangkaian tersebut dengan QS Al-Baqarah ayat 28.
P: Apakah ayat ini dapat menjadi dalil langsung untuk hukum ekonomi syariah?
J: Tidak untuk menetapkan hukum akad tertentu. Ayat ini bukan ayat hukum muamalah. Namun ia memberikan fondasi tauhid, amanah, integritas, dan pertanggungjawaban yang sangat penting bagi perilaku ekonomi seorang Muslim.
P: Apa satu kalimat yang paling tepat untuk merangkum ayat ini?
Kita hidup karena Allah, mati karena ketetapan Allah, dibangkitkan oleh Allah, dan kembali kepada Allah; karena itu kehidupan harus dijalani dalam iman, amanah, dan tanggung jawab.
Renungan Akhir
فَأَحْيَاكُمْ
ثُمَّ يُمِيتُكُمْ
ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Hidup adalah pemberian Allah.
Mati adalah ketetapan Allah.
Kebangkitan adalah janji Allah.
Dan kembali kepada Allah adalah kepastian.
Semoga Allah menjadikan kehidupan kita sebagai kehidupan yang penuh iman dan ketaatan, memberikan kita husnul khatimah, dan menjadikan kepulangan kita kepada-Nya sebagai kepulangan yang membawa keselamatan.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Catatan Akhir
- Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tafsir QS Al-Baqarah [2]: 28, riwayat no. 576.
- Al-Tabari, Jami‘ al-Bayan, tafsir QS Al-Baqarah [2]: 28, riwayat no. 581, dari Ibn Jurayj dan ‘Atha' al-Khurasani dari Ibn ‘Abbas.
- Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS Al-Baqarah [2]: 28.
- Al-Baghawi, Ma‘alim al-Tanzil, tafsir QS Al-Baqarah [2]: 28.
- Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tafsir QS Al-Baqarah [2]: 28.
- Al-Sa‘di, Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, tafsir QS Al-Baqarah [2]: 28.
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hadis no. 7138.