Hadits: Adab Saat Bertamu dengan Posisi Berdiri dan Memberi Salam
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menghiasi
iman kita dengan akhlak yang mulia. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurah kepada teladan abadi kita, Rasulullah ﷺ.
Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan rekan-rekan sekalian yang
dirahmati Allah,
Pernahkah kita merasa tidak nyaman ketika sedang
beristirahat di rumah, lalu tiba-tiba ada tamu yang berdiri tepat di depan
celah pintu, atau bahkan langsung mengintip ke dalam jendela saat kita belum
sempat merapikan diri?
Atau mungkin sebaliknya, tanpa sadar kita sering berdiri
mematung tepat di depan pintu orang lain, sehingga saat pintu terbuka, mata
kita langsung "menjelajah" ke ruang tamu, ruang keluarga, bahkan
hingga ke dapur mereka?
Fenomena ini sering kita jumpai di masyarakat kita hari
ini. Di satu sisi, kita ingin menyambung silaturahmi, namun di sisi lain, kita
sering abai terhadap satu hal yang sangat mahal harganya, yaitu privasi dan
rasa aman tuan rumah.
Banyak konflik antar tetangga atau rasa tidak enak hati
bermula dari kunjungan yang tidak beradab; entah itu karena waktu yang tidak
tepat, posisi berdiri yang membuat tuan rumah merasa terintimidasi, atau cara
memanggil yang mengganggu ketenangan.
Di era media sosial saat ini, batas-batas privasi seolah
semakin bias. Namun, Islam melalui lisan Rasulullah ﷺ telah menetapkan
standar yang sangat detail dan canggih tentang bagaimana seorang mukmin
seharusnya bersikap saat berada di depan pintu rumah orang lain. Hadits yang
akan kita bedah hari ini bukan sekadar aturan kuno, melainkan solusi atas
permasalahan sosial terkait rasa saling menghormati.
Mempelajari hadits ini menjadi sangat urgen bagi kita semua
agar silaturahmi yang kita bangun tidak berubah menjadi dosa karena melanggar
hak mata, dan agar setiap langkah kita menuju rumah saudara benar-benar
membuahkan pahala serta keberkahan. Mari kita simak bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk menjadi tamu yang membawa kedamaian,
bukan gangguan.
Dari Abdullah bin Bisr radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah
ﷺ bersabda:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ
وَجْهِهِ ، وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوِ الْأَيْسَرِ ، وَيَقُولُ:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ
عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ
Adalah Rasulullah ﷺ apabila mendatangi
pintu suatu kaum, beliau tidak berdiri tepat di depan pintu, melainkan di
samping kanan atau samping kiri pintu tersebut, seraya mengucapkan:
'Assalamu'alaikum, Assalamu'alaikum'. Hal itu dikarenakan rumah-rumah pada masa
itu belum memiliki tirai penutup di pintunya.
HR.
Abu Dawud (5186), Al-Baihaki (17724) dengan redaksi yang sama, dan Ahmad
(17692)
Arti dan Penjelasan per Perkataan
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ
Adalah Rasulullah ﷺ apabila mendatangi
pintu suatu kaum
Kalimat ini menunjukkan teladan langsung dari pribadi Nabi
Muhammad ﷺ dalam hal interaksi sosial dan etika bertamu.
Beliau tidak hanya memberikan instruksi lisan, tetapi
menunjukkan praktik nyata bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap saat
mengunjungi tempat tinggal orang lain.
Kata "mendatangi" di sini memberi isyarat bahwa
adab dimulai sejak kaki berpijak di area luar rumah orang lain, bahkan sebelum
interaksi fisik terjadi.
لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ
وَجْهِهِ
Beliau tidak berdiri tepat di depan pintu
Rasulullah ﷺ sangat menghargai privasi penghuni rumah
dengan tidak memposisikan diri sejajar lurus dengan bukaan pintu.
Hal ini bertujuan agar ketika pintu terbuka, mata beliau
tidak langsung melihat bagian dalam rumah atau kondisi keluarga yang mungkin
belum siap menerima tamu.
Etika ini mengajarkan kita untuk menjaga pandangan (ghadhul
bashar) dan memberikan ruang bagi tuan rumah untuk mempersiapkan diri sebelum
menyambut tamu.
وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوِ
الْأَيْسَرِ
Melainkan di samping kanan atau samping kiri pintu
tersebut
Sebagai gantinya, beliau memilih posisi berdiri di sudut
samping agar pandangan beliau terhalang oleh tembok atau daun pintu.
Pilihan posisi ini mencerminkan kehalusan budi pekerti
dalam memuliakan orang lain dan menjaga rahasia rumah tangga mereka dari
penglihatan orang luar.
Posisi ini juga memberikan rasa aman bagi pemilik rumah
karena mereka memiliki kendali penuh atas siapa yang mereka izinkan untuk
melihat ke dalam area pribadi mereka.
وَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ
Seraya mengucapkan: 'Assalamu'alaikum, Assalamu'alaikum'
Mengucapkan salam adalah cara memberikan sinyal keberadaan
kita dengan cara yang paling damai dan penuh doa.
Rasulullah ﷺ mengulanginya untuk memastikan suara
beliau terdengar dengan jelas tanpa harus berteriak atau mengetuk pintu dengan
keras yang dapat mengejutkan penghuni.
Salam berfungsi sebagai identitas sekaligus permohonan izin
masuk yang dibungkus dengan harapan keselamatan bagi pemilik rumah.
وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ
عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ
Hal itu dikarenakan rumah-rumah pada masa itu belum
memiliki tirai penutup di pintunya
Keterangan ini menjelaskan konteks sosial bahwa pada masa
itu, banyak rumah yang belum memiliki gorden atau pembatas berlapis yang
melindungi bagian dalam rumah.
Namun, meski kondisi zaman sudah berubah dan rumah modern
memiliki banyak lapisan pengaman, esensi pelajaran ini tetap berlaku sebagai
prinsip menjaga privasi.
Pelajaran ini menekankan bahwa alasan utama dari segala
adab ini adalah "al-istidzan min ajlil bashar" atau meminta izin itu
diwajibkan demi menjaga pandangan mata.
Syarah Hadits
مِنْ آدَابِ
الِاسْتِئْذَانِ أَلَّا يَقِفَ الْمُسْتَأْذِنُ قُبَالَةَ الْبَابِ إِذَا كَانَ
الْبَابُ مَفْتُوحًا،
Di antara adab meminta izin adalah tidak berdiri tepat di hadapan pintu apabila
pintu dalam keadaan terbuka,
وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ
مُغْلَقًا؛
dan demikian pula apabila pintu dalam keadaan tertutup;
خَشْيَةَ أَنْ يُفْتَحَ
لَهُ فَيَرَى مِنْ أَهْلِ الْمَنْزِلِ مَا لَا يُحِبُّونَ أَنْ يَرَوْهُ.
karena khawatir pintu dibukakan untuknya lalu ia melihat dari penghuni rumah
sesuatu yang tidak mereka sukai untuk dilihat.
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ
بَيَانٌ لِهَذَا الْأَدَبِ النَّبَوِيِّ،
Dan dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang adab Nabi ini,
حَيْثُ يُخْبِرُ عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ:
di mana Abdullah bin Busr mengabarkan,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ «إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ»؛
bahwa Nabi ﷺ apabila mendatangi pintu suatu kaum,
لِزِيَارَتِهِمْ، أَوْ
عِيَادَةِ مَرِيضٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ،
untuk mengunjungi mereka, atau menjenguk orang sakit, atau semisal itu,
«لَمْ» يَكُنْ
«يَسْتَقْبِلُ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ»،
beliau tidak menghadap pintu tepat dari arah wajahnya,
يَعْنِي: لَمْ يَكُنِ
الْبَابُ مُقَابِلَ وَجْهِهِ؛
maksudnya: pintu tidak berada tepat di depan wajah beliau;
حَتَّى لَا يَقَعَ
بَصَرُهُ عَلَى مَا فِي الْبَيْتِ،
agar pandangannya tidak jatuh kepada apa yang ada di dalam rumah,
«وَلَكِنْ» يَسْتَقْبِلُ
«مِنْ رُكْنِهِ»،
akan tetapi beliau menghadap dari sampingnya,
يَعْنِي: مِنْ رُكْنِ
الْبَابِ «الْأَيْمَنِ أَوِ الْأَيْسَرِ،
maksudnya: dari sudut pintu sebelah kanan atau kiri,
وَيَقُولُ: السَّلَامُ
عَلَيْكُمْ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ»،
dan beliau mengucapkan: “Assalāmu ‘alaikum, assalāmu ‘alaikum”,
وَفِي تَكْرَارِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ السَّلَامَ مَرَّتَيْنِ
dan dalam pengulangan salam oleh beliau ﷺ sebanyak dua kali
قَصْدُ إِسْمَاعِ مَنْ
دَاخِلَ الْبَيْتِ؛
terdapat maksud agar orang yang berada di dalam rumah mendengarnya;
«وَذَلِكَ أَنَّ
الدُّورَ»، أَيْ: أَبْوَابَ هَذِهِ الْبُيُوتِ،
dan hal itu karena rumah-rumah, yakni pintu-pintu rumah tersebut,
«لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا
يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ»،
pada waktu itu belum memiliki tirai,
جَمْعُ سِتْرٍ،
kata “sutūr” adalah jamak dari “sitr”,
وَهِيَ الَّتِي تَكُونُ
فِي الْأَبْوَابِ تَسْتُرُ هَذِهِ الْبُيُوتَ مِنَ الدَّاخِلِ،
yaitu penutup yang berada di pintu-pintu untuk menutupi bagian dalam rumah,
وَأَمَّا إِذَا كَانَ
عَلَى الْأَبْوَابِ سَاتِرٌ،
adapun apabila pada pintu terdapat penutup,
أَوْ كَانَ عَلَيْهَا
مَا يُغْلِقُهَا
atau terdapat sesuatu yang menutupinya,
فَلَا مَانِعَ مِنِ
اسْتِقْبَالِ الْبَابِ مَعَ التَّحَرُّزِ أَيْضًا مِنْ فَتْحِهِ؛
maka tidak mengapa menghadap pintu, dengan tetap berhati-hati agar tidak
membukanya,
حَتَّى لَا يَرَى مَا
يَكْرَهُ أَهْلُ الْبَيْتِ أَنْ يَرَوْهُ.
agar ia tidak melihat sesuatu yang dibenci oleh penghuni rumah untuk dilihat.
Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/30036
Pelajaran dari Hadits ini
1.
Meneladani Kepemimpinan Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari
Melalui perkataan كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ (Adalah Rasulullah ﷺ apabila mendatangi pintu suatu kaum), kita diajarkan bahwa seorang pemimpin dan teladan terbaik tidak hanya bicara, tetapi memberikan contoh langsung dalam hal yang dianggap kecil sekalipun seperti bertamu. Kehadiran beliau ke rumah-rumah sahabat menunjukkan sikap rendah hati dan keinginan untuk mempererat silaturahmi secara langsung di tengah masyarakat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
(Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah).
Keteladanan ini
menjadi pengingat bagi kita bahwa adab bertamu adalah bagian tak terpisahkan
dari kepribadian seorang muslim yang baik.
2.
Menjaga Pandangan dan Rahasia Rumah Orang Lain
Dalam
perkataan لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ (beliau tidak
berdiri tepat di depan pintu), terdapat pelajaran sangat berharga tentang
menjaga privasi penghuni rumah agar mata kita tidak langsung melihat kondisi di
dalam rumah saat pintu dibuka. Rumah adalah tempat paling pribadi bagi
seseorang di mana mereka mungkin sedang tidak dalam keadaan rapi atau ada hal
yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Rasulullah ﷺ memberikan batasan
fisik agar mata kita tidak menjadi "pencuri" privasi orang lain,
sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits:
إِنَّمَا جُعِلَ
الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ
(Sesungguhnya
diberlakukannya meminta izin itu hanyalah demi menjaga pandangan mata).
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hal
ini mengajarkan kita untuk selalu memiliki rasa pekerti dan rasa malu sebelum
memasuki ruang kehidupan orang lain.
3.
Memilih Posisi yang Nyaman bagi Tuan Rumah
Perkataan
وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوِ الْأَيْسَرِ (melainkan di
samping kanan atau samping kiri pintu tersebut) memberikan panduan teknis
yang sangat cerdas agar tamu tetap bisa berkomunikasi tanpa harus melanggar
batas privasi visual. Dengan berdiri di sisi samping, kita memberikan ruang
bagi pemilik rumah untuk membuka pintu sedikit terlebih dahulu tanpa merasa
terintimidasi atau merasa diawasi secara langsung. Etika ini menciptakan rasa
aman dan nyaman bagi pihak yang dikunjungi, sehingga mereka bisa menyambut kita
dengan hati yang lapang. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat An-Nur ayat
27:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا
وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا
(Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu
sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya).
4.
Menyebarkan Doa melalui Salam yang Jelas
Melalui perkataan وَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (seraya mengucapkan: 'Assalamu'alaikum, Assalamu'alaikum'), Nabi ﷺ mengajarkan bahwa suara salam adalah cara terbaik untuk memperkenalkan diri dan memohon izin masuk. Pengulangan salam menunjukkan kesabaran dan upaya untuk memastikan bahwa penghuni rumah mendengar kehadiran kita tanpa perlu mengetuk pintu dengan keras atau berteriak. Salam bukan sekadar kata sapaan, melainkan doa keselamatan yang mencairkan suasana dan membawa keberkahan ke dalam rumah tersebut. Cara penyampaian salam pun harus dilakukan dengan penuh kesantunan.
5.
Memahami Alasan di Balik Aturan Syariat
Perkataan
وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ
(Hal itu dikarenakan rumah-rumah pada masa itu belum memiliki tirai penutup
di pintunya) memberikan pemahaman bahwa setiap aturan dalam Islam memiliki
alasan yang masuk akal dan tujuan yang mulia (maqashid). Meskipun zaman
sekarang rumah sudah memiliki gorden dan pintu yang kokoh, esensi untuk menjaga
privasi tetap tidak berubah karena tujuan utamanya adalah memuliakan manusia.
Kita tidak boleh merasa aman hanya karena ada penghalang fisik, melainkan hati
kita harus tetap memiliki "tirai" rasa hormat terhadap orang lain.
Allah mengingatkan kita dalam surat Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا تَجَسَّسُوا
(dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain).
Ini
berarti kita tidak boleh mencoba melihat-lihat ke dalam rumah orang lain
melalui celah apapun.
6.
Batasan Waktu dalam Meminta Izin
Sebagai
tambahan yang sangat relevan, kita perlu memahami bahwa meminta izin atau
memberi salam saat bertamu ada batasannya, yaitu maksimal tiga kali sebagaimana
dipraktikkan oleh para sahabat berdasarkan ajaran Nabi. Jika setelah tiga kali
salam dan ketukan lembut tidak ada jawaban, maka kita harus pulang dengan hati
yang lapang tanpa rasa kesal, karena mungkin pemilik rumah sedang sibuk atau
tidak ingin diganggu. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا اسْتَأْذَنَ
أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ
(Apabila
salah seorang di antara kalian meminta izin sebanyak tiga kali namun tidak
diberi izin, maka hendaklah ia pulang). (HR. Muslim).
Hal
ini melatih ego kita untuk tetap menghargai hak istirahat dan kesibukan orang
lain.
7.
Menghindari Mengetuk Pintu Terlalu Keras
Pelajaran
tambahan lainnya adalah tentang cara mengetuk pintu yang seringkali dilakukan
terlalu keras hingga mengganggu ketenangan penghuni rumah atau tetangga
sekitar. Para sahabat Nabi mencontohkan bahwa mereka mengetuk pintu Rasulullah ﷺ hanya dengan menggunakan kuku jari sebagai bentuk penghormatan
yang luar biasa. Dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu
dikatakan:
إِنَّ أَبْوَابَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تُقْرَعُ بِالْأَظَافِيرِ
(Sesungguhnya
pintu-pintu (rumah) Nabi ﷺ dulunya diketuk dengan kuku-kuku jari).
(HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad).
Kelembutan
dalam bertamu mencerminkan kelembutan hati dan kedalaman pemahaman agama
seseorang.
Secara
keseluruhan, hadits ini merupakan panduan praktis tentang pentingnya menjaga
privasi dan kehormatan orang lain melalui adab bertamu yang mulia. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak berdiri menghadap pintu secara
langsung, memberikan salam dengan santun, dan memahami bahwa setiap tindakan
kita harus didasari niat menjaga kenyamanan sesama. Dengan mengedepankan etika
ini, hubungan sosial antarmanusia akan terjaga dari kecurigaan dan rasa tidak
nyaman. Mengikuti jejak Nabi dalam hal-hal kecil ini adalah bentuk ketaatan
yang akan membawa keharmonisan serta keberkahan dalam kehidupan bermasyarakat
dan bertetangga.
Penutupan Kajian
Bapak,
Ibu, dan rekan-rekan sekalian yang dirahmati Allah,
Sebagai
penutup, hadits yang kita pelajari hari ini memberikan pelajaran berharga bahwa
Islam adalah agama yang sangat mendalam dalam menjaga kehormatan manusia.
Melalui tindakan sederhana Rasulullah ﷺ—yaitu bergeser
sedikit ke samping pintu saat bertamu—kita memahami sebuah prinsip besar: bahwa
kenyamanan hati saudara kita jauh lebih penting daripada rasa ingin tahu kita.
Faedah
utama dari hadits ini adalah mengajarkan kita untuk memiliki "mata yang
santun" dan "jiwa yang tahu batasan."
Harapan
kami, setelah keluar dari majelis ini, ilmu yang kita dapatkan tidak hanya
berhenti sebagai catatan di buku, melainkan menjelma menjadi kebiasaan baru di
kehidupan sehari-hari.
Mulailah
mempraktikkan posisi berdiri di samping pintu saat mengunjungi tetangga atau
kerabat. Mulailah membiasakan salam yang lembut namun jelas, serta miliki
kesabaran untuk pulang jika pintu tak kunjung dibuka.
Bayangkan
betapa indahnya jika lingkungan kita dipenuhi oleh orang-orang yang saling
menjaga privasi, saling mendoakan lewat salam, dan saling merasa aman satu sama
lain karena masing-masing menjaga pandangannya. Mari kita jadikan setiap
kunjungan kita sebagai tabungan pahala dan bukti cinta kita kepada sunnah Nabi ﷺ.
Semoga
Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk terus memperbaiki akhlak, menjadikan
kita tamu yang selalu dirindukan kehadirannya, dan tuan rumah yang dimuliakan
karena kesantunannya. Sampai bertemu di kajian berikutnya dengan semangat
memperbaiki diri yang lebih kuat lagi.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ
نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan
rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang
baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.