Hadits: Larangan Mengubah Penampilan untuk Menipu

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah,

Saudara-saudaraku sekalian, kita hidup di zaman yang penuh dengan godaan, di mana penampilan dan citra sering kali dianggap lebih penting daripada nilai dan akhlak. Media sosial, iklan, dan tren mode telah membuat banyak orang, khususnya kaum wanita, berlomba-lomba mempercantik diri — bukan semata untuk menyenangkan suami atau menjaga kebersihan diri, tetapi untuk mencari pengakuan dan perhatian publik. Perhiasan, parfum, pakaian, bahkan modifikasi tubuh, digunakan sebagai sarana untuk tampil memukau di hadapan orang lain.

Fenomena ini bukan hal baru. Sejak zaman Bani Israil, ada wanita yang mengubah penampilannya secara drastis agar terlihat lebih tinggi, lebih menawan, dan lebih memikat di hadapan orang lain. Rasulullah mengisahkan hal itu bukan sekadar sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai peringatan bagi kita agar berhati-hati terhadap fitnah dunia, dan terutama fitnah wanita — baik bagi lelaki yang terpesona, maupun bagi wanita yang terjebak dalam upaya memamerkan diri.

Urgensi mempelajari hadits ini sangat besar, karena ia mengajarkan kita batas antara berhias yang diperbolehkan dan berhias yang menjerumuskan ke dalam dosa. Ia juga mengingatkan para lelaki agar menjaga pandangan, dan para wanita agar menjaga kehormatan serta kesederhanaan dalam penampilan. Di tengah gempuran budaya pamer dan pencitraan, hadits ini adalah panduan emas untuk menjaga hati tetap bersih, niat tetap lurus, dan penampilan tetap dalam koridor syariat.


Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

كانَتِ ٱمْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ قَصِيرَةً تَمْشِي مَعَ ٱمْرَأَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ، فَٱتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ، وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٍ مُطْبَقٍ، ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا، وَهُوَ أَطْيَبُ ٱلطِّيبِ، فَمَرَّتْ بَيْنَ ٱلْمَرْأَتَيْنِ، فَلَمْ يَعْرِفُوهَا، فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا، وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ.

Ada seorang wanita dari Bani Israil yang bertubuh pendek, berjalan bersama dua wanita yang tinggi. Maka ia membuat dua kaki dari kayu dan mengenakan cincin dari emas yang tertutup rapat, lalu mengisinya dengan minyak kesturi — yaitu wewangian yang paling harum. Kemudian ia berjalan di antara dua wanita itu, dan mereka pun tidak mengenalinya. Lalu ia memberi isyarat dengan tangannya seperti ini, dan Syu’bah menggerakkan tangannya.

HR. Muslim (2252)

.


Arti dan Penjelasan Per Perkataan


كانَتِ ٱمْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Ada seorang wanita dari Bani Israil

Hadits ini dimulai dengan kisah tentang seorang wanita dari kalangan Bani Israil, yaitu kaum yang merupakan keturunan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam. Bani Israil sering dijadikan contoh dalam hadits atau Al-Qur'an, karena banyak peristiwa-peristiwa penting terjadi di kalangan mereka, baik yang berupa ketaatan maupun penyimpangan. Dalam konteks ini, disebutkan seorang wanita, menandakan bahwa kisah ini membawa pelajaran moral dan sosial, khususnya dalam hal identitas dan kehormatan diri. Masyarakat Bani Israil dikenal memperhatikan penampilan, dan kisah ini mencerminkan fenomena sosial di mana seseorang merasa kurang percaya diri dengan keadaannya.


قَصِيرَةً
bertubuh pendek

Penyebutan kondisi fisik wanita ini sebagai pendek mengindikasikan bahwa ia merasa memiliki kekurangan dalam penampilannya. Ini mencerminkan fenomena perasaan rendah diri (inferioritas) yang muncul karena perbandingan sosial. Dalam masyarakat, seringkali standar kecantikan atau penerimaan sosial berkaitan dengan hal-hal fisik, dan ini dapat mendorong seseorang mengambil langkah-langkah tidak alami untuk mengubah penampilannya. Hadits ini menyinggung secara halus masalah kejujuran terhadap diri dan penerimaan terhadap ciptaan Allah.


تَمْشِي مَعَ ٱمْرَأَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ
berjalan bersama dua wanita yang tinggi

Perkataan ini menggambarkan situasi sosial di mana wanita tersebut berada di tengah dua orang wanita lain yang memiliki kelebihan fisik dalam pandangan umum, yaitu tinggi badan. Ini memperkuat rasa ketidaknyamanan yang dirasakannya. Dalam kehidupan sosial, seseorang sering merasa dinilai berdasarkan perbandingan dengan orang lain, yang kadang menimbulkan iri hati atau dorongan untuk menyamakan diri dengan cara-cara buatan. Ini memperlihatkan betapa besar pengaruh lingkungan terhadap persepsi diri seseorang.


فَٱتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ
maka ia membuat dua kaki dari kayu

Perkataan ini menunjukkan bahwa wanita tersebut secara sengaja membuat alat bantu berupa kaki tambahan dari kayu agar terlihat lebih tinggi. Ini adalah bentuk manipulasi penampilan yang bertujuan menutupi apa yang dianggapnya sebagai kekurangan. Dalam konteks syar’i, tindakan seperti ini bisa menjadi tercela jika niatnya untuk menipu atau menampilkan sesuatu yang bukan kenyataannya. Namun, jika digunakan untuk kebutuhan medis atau syar’i, tentu berbeda hukumnya. Ini mengajarkan pentingnya kejujuran dan penerimaan diri.


وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٍ مُطْبَقٍ
dan cincin dari emas yang tertutup rapat

Wanita itu juga mengenakan cincin emas yang dirancang khusus agar tidak tampak isinya, yaitu tertutup dan rapat. Ini menjadi simbol bahwa apa yang terlihat dari luar belum tentu mencerminkan kenyataan dalamnya. Dalam kehidupan sosial, banyak orang menampilkan kesan luar yang harum dan mewah, tetapi hakikatnya berbeda. Islam mengajarkan kejujuran dan keaslian sebagai bagian dari akhlak mulia, dan tindakan menyembunyikan hakikat demi kesan bisa jadi mengarah kepada penipuan.


ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا، وَهُوَ أَطْيَبُ ٱلطِّيبِ
kemudian mengisinya dengan minyak kesturi — yaitu wewangian yang paling harum

Perkataan ini menunjukkan usaha wanita tersebut tidak hanya mempercantik tampilan fisik, tapi juga memberikan aroma yang menarik perhatian. Ini mengisyaratkan bahwa ia ingin dilihat dan dikagumi oleh orang lain. Dalam Islam, wewangian memang dianjurkan, namun pada konteks tertentu, seperti dalam interaksi bebas antara laki-laki dan perempuan, memakai wewangian secara berlebihan bisa mengarah kepada hal yang diharamkan. Terlebih jika tujuannya adalah menarik perhatian dengan maksud yang tidak baik.


فَمَرَّتْ بَيْنَ ٱلْمَرْأَتَيْنِ، فَلَمْ يَعْرِفُوهَا
lalu ia berjalan di antara dua wanita itu, dan mereka tidak mengenalinya

Perkataan ini menekankan keberhasilan wanita tersebut dalam mengubah penampilannya hingga tidak dikenali. Ini menjadi contoh dari bentuk tasyabbuh (menyerupai) yang mengarah kepada penipuan identitas. Dalam banyak hadits, Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang menipu atau menyembunyikan identitasnya secara sengaja untuk maksud buruk, maka ia berada dalam dosa. Ini juga menjadi pelajaran penting bahwa perubahan fisik yang disengaja dan menipu dapat menimbulkan fitnah sosial.


فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا، وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ
lalu ia memberi isyarat dengan tangannya seperti ini, dan Syu’bah menggerakkan tangannya

Perkataan ini menunjukkan bahwa wanita tersebut bahkan berusaha menyempurnakan penampilannya dengan gerak-gerik atau isyarat tubuh yang menarik perhatian. Dalam riwayat ini, perawi meniru gerakan itu untuk memperjelas apa yang dimaksud. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa mengubah gaya bicara, perilaku, bahkan bahasa tubuh demi mendapatkan pengakuan atau perhatian. Namun dalam pandangan Islam, keaslian dan ketulusan dalam perilaku lebih utama daripada kepura-puraan yang bisa menipu orang lain.

 


Syarah Hadits


Fitnah wanita adalah fitnah yang paling besar bahayanya bagi hamba, dan sesungguhnya telah dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat, dan syahwat wanita ditempatkan di urutan pertama di atas seluruh syahwat lainnya; karena ujian dengannya adalah ujian yang paling besar sesuai kadar fitnahnya. Maka seorang mukmin seharusnya berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar selamat dari fitnah mereka dan terhindar dari keburukan mereka.

Dalam hadits ini, Nabi menceritakan bahwa ada seorang wanita pendek dari Bani Israil yang berjalan bersama dua wanita tinggi. Yang dimaksud adalah bahwa ketika ia berjalan bersama kedua temannya yang tinggi, akan tampaklah tubuhnya yang pendek. Maka ia mengenakan pada kedua kakinya kaki palsu dari kayu, atau membuat dua hak tinggi yang panjang untuk sandalnya, sehingga karena panjangnya seolah-olah itu adalah kaki. Hal itu ia lakukan agar ia menjadi tinggi seperti mereka, sehingga tidak ada perbedaan, tidak bisa dibedakan, dan tidak ada yang membanggakan diri atasnya. Ia juga membuat cincin dari emas dan menjadikan cincin itu tertutup rapat, yaitu diberi penutup. Cincin yang dimaksud adalah cincin yang bagian dalamnya kosong, lalu ia mengisi bagian dalam cincin itu dengan minyak kesturi, menutupnya rapat dan menguncinya. Kesturi adalah wewangian terbaik, paling harum, dan paling indah. Hakikat kesturi adalah darah yang terkumpul di pusar kijang pada waktu tertentu dalam setahun. Ketika tiba waktunya, kijang betina akan sakit lalu gumpalan itu terlepas, diambil, dan digunakan sebagai parfum.

Maka wanita itu pun lewat di antara dua wanita tinggi tersebut, dalam keadaan mengenakan kaki kayu dan cincin itu, sehingga mereka berdua tidak mengenalinya karena ia telah mengubah penampilannya dan tubuhnya menjadi tinggi dengan kaki palsu itu.

فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا
"Lalu ia mengisyaratkan dengan tangannya seperti ini"

Maksudnya, ketika ia melewati kedua wanita itu, ia memberi isyarat dengan tangannya yang memakai cincin berisi kesturi, lalu menggerakkannya setelah membukanya, sehingga terciumlah aroma kesturi, seakan-akan ia sedang merasa lebih unggul daripada mereka. Perawi — yaitu Abu Usamah Hammad bin Usamah — berkata:

وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ
"Dan Syu‘bah menggerakkan tangannya"

Yakni, Syu‘bah menirukan gerakan tangan sebagaimana yang dilakukan wanita itu. Dalam riwayat Ahmad disebutkan:

فَكَانَتْ إِذَا مَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ حَرَّكَتْهُ فَنَفَخَ رِيحُهُ
"Maka setiap kali ia melewati suatu majelis, ia menggerakkannya hingga terhembus aromanya"

Maksudnya, jika ia melewati majelis orang-orang, termasuk para lelaki, ia sengaja menggerakkan cincin itu agar aromanya menyebar, sehingga orang-orang menciumnya, lalu pandangan mereka tertuju padanya, seolah-olah ia sedang membanggakan diri di hadapan kedua temannya.

Hadits ini memiliki riwayat lain yang lebih panjang, diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya. Pada awalnya terdapat peringatan dari fitnah dunia dan fitnah wanita secara khusus. Di dalamnya Nabi bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَاتَّقُوهَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ
"Sesungguhnya dunia itu hijau lagi manis, maka waspadalah terhadapnya dan waspadalah terhadap wanita"

Maksudnya, berhati-hatilah terhadap dunia dan takutlah terjerumus ke dalam fitnahnya, dan di antara fitnah yang paling berat adalah wanita. Maka waspadalah secara khusus terhadap fitnah wanita, dan jauhilah kecenderungan kepada mereka dengan cara yang haram, atau terjerumus mengikuti godaan dan tipu daya mereka. Kemudian Nabi menyebutkan kisah tiga wanita ini, dan bagaimana salah satunya berupaya dengan berbagai cara untuk menampakkan daya tariknya dan menggoda manusia.

Hadits ini mengandung anjuran untuk selalu menjaga ketakwaan dan tidak terlarut dalam gemerlap dunia dan perhiasannya. Hadits ini juga menjelaskan keutamaan kesturi dibandingkan seluruh wewangian lainnya. 

Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/68281


Pelajaran dari Hadits ini


1. Kisah dari kalangan Bani Israil sebagai peringatan
Perkataan
كانَتِ ٱمْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ (Ada seorang wanita dari Bani Israil) mengawali kisah ini dengan menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi adalah pada umat terdahulu. Rasulullah sering menceritakan kisah Bani Israil untuk diambil ibrahnya oleh umat Islam, baik berupa teladan maupun peringatan. Penyebutan “Bani Israil” memberi pesan bahwa perilaku buruk yang dilakukan seseorang akan menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Allah pun memerintahkan untuk mengambil hikmah dari sejarah.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي ٱلْأَلْبَابِ
Artinya: Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
(QS. Yusuf: 111)


2. Rasa minder karena kekurangan fisik
Perkataan قَصِيرَةً (bertubuh pendek) menunjukkan bahwa wanita tersebut memiliki kekurangan secara fisik menurut standar masyarakatnya. Kekurangan fisik terkadang membuat seseorang merasa rendah diri, apalagi jika berada di tengah orang yang memiliki kelebihan pada aspek tersebut. Islam mengajarkan agar setiap orang menerima takdir fisiknya sebagai ciptaan Allah yang sempurna untuk dirinya, dan tidak mengukur harga diri hanya dari penampilan lahir.

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَانَ فِيٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya: Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tin: 4)


3. Lingkungan yang memicu perasaan tidak puas
Perkataan تَمْشِي مَعَ ٱمْرَأَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ (berjalan bersama dua wanita yang tinggi) menunjukkan bahwa rasa minder semakin kuat ketika seseorang berada di tengah lingkungan yang membuatnya merasa berbeda. Perbandingan sosial seperti ini sering kali membuat orang tergoda untuk mengubah dirinya agar terlihat setara. Islam mengajarkan agar kita bersyukur dengan keadaan yang ada, dan tidak iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
Artinya: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain. (QS. An-Nisa: 32)


4. Mengubah ciptaan Allah untuk tujuan penipuan
Perkataan فَٱتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ (maka ia membuat dua kaki dari kayu) menggambarkan bahwa wanita ini berusaha menutupi kekurangan fisiknya dengan membuat alat tambahan agar terlihat lebih tinggi. Perbuatan ini menjadi tercela jika dilakukan untuk menipu pandangan orang lain atau memalsukan penampilan. Rasulullah melarang bentuk penipuan semacam ini.

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا
Artinya: Barang siapa menipu, maka ia bukan bagian dari golongan kami. (HR. Muslim: 102)


5. Penampilan luar yang tidak mencerminkan isi sebenarnya
Perkataan وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٍ مُطْبَقٍ (dan cincin dari emas yang tertutup rapat) memberi gambaran bahwa sesuatu yang tampak indah di luar belum tentu sesuai dengan isinya. Hal ini menjadi simbol dari penipuan visual, di mana orang terkesan oleh penampilan tetapi tertipu oleh kenyataan yang tersembunyi. Islam mengajarkan agar kita bersikap apa adanya dan tidak membangun kesan yang salah.


6. Mencari perhatian dengan aroma dan hiasan
Perkataan ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا، وَهُوَ أَطْيَبُ ٱلطِّيبِ (kemudian mengisinya dengan minyak kesturi — yaitu wewangian yang paling harum) menunjukkan bahwa wanita tersebut tidak hanya mengubah penampilannya, tetapi juga menggunakan wewangian untuk menarik perhatian. Rasulullah memperingatkan wanita yang keluar rumah dengan wewangian berlebihan, karena dapat memancing pandangan dan fitnah.

أَيُّمَا ٱمْرَأَةٍ ٱسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
Artinya: Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka ia seperti seorang pezina. (HR. An-Nasa’i: 5126)


7. Penipuan identitas yang berhasil
Perkataan فَمَرَّتْ بَيْنَ ٱلْمَرْأَتَيْنِ، فَلَمْ يَعْرِفُوهَا (lalu ia berjalan di antara dua wanita itu, dan mereka tidak mengenalinya) menunjukkan bahwa usaha wanita tersebut dalam mengubah penampilannya membuat orang lain tertipu. Islam melarang bentuk penipuan yang membuat orang salah mengenali identitas, karena dapat menimbulkan fitnah, prasangka, atau kerugian bagi pihak lain.


8. Gaya dan gerakan tubuh untuk menarik perhatian
Perkataan فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا، وَنَفَضَ شُعْبَةُ يَدَهُ (lalu ia memberi isyarat dengan tangannya seperti ini, dan Syu’bah menggerakkan tangannya) menunjukkan bahwa perubahan penampilan sering diiringi perubahan perilaku dan gaya tubuh agar lebih menarik perhatian. Hal ini menjadi bentuk tazayyun (bersolek) yang dilarang jika dimaksudkan untuk menggoda atau menipu. Rasulullah memerintahkan menjaga kesopanan gerak tubuh, terutama di hadapan lawan jenis.


9. Bahaya standar kecantikan buatan
Hadits ini memberi pelajaran tambahan bahwa standar kecantikan yang dibuat manusia sering mendorong orang melakukan hal-hal yang tidak wajar demi dianggap menarik. Standar ini seringkali bertentangan dengan nilai-nilai agama, sehingga seorang muslim harus mengukur kecantikan dan kehormatan dengan akhlak, bukan semata fisik.


Secara keseluruhan, hadits ini mengajarkan pentingnya kejujuran dalam penampilan, larangan menipu atau memalsukan diri, dan kewajiban menerima ciptaan Allah apa adanya. Lingkungan sosial dan standar kecantikan buatan dapat menjadi ujian iman, sehingga seorang muslim harus tetap menjaga kehormatan dan keaslian dirinya sesuai tuntunan syariat.

 


Penutup Kajian


Alhamdulillah, kita telah bersama-sama mempelajari sebuah hadits yang sarat pelajaran tentang fitnah wanita dan bahayanya perubahan penampilan yang bertujuan menipu atau menarik perhatian yang tidak halal. Hadits ini mengingatkan kita bahwa hiasan dan penampilan luar tidak boleh menjadi sarana untuk menjerumuskan diri maupun orang lain dalam dosa. Rasulullah menuturkan kisah wanita Bani Israil ini agar kita mengambil pelajaran, bukan sekadar sebagai sejarah masa lalu.

Dari sini kita paham bahwa berhias itu boleh, bahkan dianjurkan, jika tujuannya untuk menyenangkan pasangan atau menjaga kerapian diri, tetapi akan menjadi dosa jika dipakai untuk kesombongan, pamer, atau memancing pandangan yang diharamkan. Para lelaki pun diingatkan agar tidak terlena oleh penampilan luar dan tetap menjaga pandangan.

Harapannya, setelah keluar dari kajian ini, kita semua bisa lebih bijak dalam menata penampilan, lebih hati-hati dalam berinteraksi dengan lawan jenis, dan lebih mengutamakan ketakwaan daripada sekadar citra luar. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga hati, menundukkan pandangan, dan menghiasi diri dengan akhlak mulia yang lebih indah daripada perhiasan dunia.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.