Hadits Nasehat tentang Ketaatan dan Keteguhan di Atas Kebenaran

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah ,

Di tengah kehidupan masyarakat kita hari ini, ada satu fenomena yang kian terasa: melemahnya semangat ketaatan, menurunnya disiplin dalam beragama, dan semakin lunturnya keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Banyak orang yang taat hanya ketika keadaan mudah, namun goyah ketika diuji kesulitan. Ada yang semangat menjalankan perintah agama saat suasana mendukung, tetapi berhenti ketika rasa malas atau tekanan sosial datang menghampiri. Bahkan dalam urusan kepemimpinan, tak jarang kita temui masyarakat yang mudah mencela, sulit menghormati pemimpin, dan tidak memahami batas-batas ketaatan dalam Islam.

Dalam situasi seperti inilah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat mulia ʿUbadah bin ash-Shamit radhiyallahu ʿanhu, yang akan kita kaji ini, menjadi sangat relevan untuk kita pelajari. Rasulullah mengajarkan melalui hadits ini makna baiat yang sejati—yaitu janji untuk taat, berdisiplin, konsisten dalam segala keadaan, menegakkan kebenaran di mana pun berada, dan tidak takut pada celaan manusia ketika berada di atas jalan Allah. Ini bukan sekadar nasihat untuk para sahabat dahulu, tetapi panduan hidup bagi setiap Muslim di setiap zaman.

Hadits ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya ritual, tetapi sistem nilai yang melahirkan ketertiban, keteguhan, dan kekuatan moral umat. Jika hadits ini dihayati, maka seorang Muslim akan menjadi pribadi yang berkomitmen, sabar dalam ujian, berani dalam kebenaran, dan menjaga persatuan dalam ketaatan. Oleh karena itu, memahami faedah hadits ini bukan sekadar menambah ilmu, tetapi membentuk karakter, memperbaiki akhlak, dan memperkuat sendi-sendi umat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Maka mari kita sama-sama menyimak dan mengkaji hadits ini dengan hati yang terbuka, agar kita dapat mengambil hikmah besar dari baiat para sahabat kepada Rasulullah , dan menjadikannya kompas dalam menjalani kehidupan beragama, bermasyarakat, dan berbangsa dengan penuh keimanan dan tanggung jawab.


Dari ʿUbadah bin ash-Shamit radhiyallahu ʿanhu, bahwa Rasulullah bersabda:

بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَأَلَّا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا، لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ.

Artinya: Kami telah berbaiat kepada Rasulullah untuk selalu mendengar dan taat dalam keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan semangat maupun terpaksa, serta agar tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya. Kami juga berjanji untuk menegakkan—atau berkata dengan—kebenaran di mana pun kami berada, tanpa takut celaan siapa pun dalam (menegakkan) agama Allah.

HR. al-Bukhari (7199, 7200), Muslim (1709), dan Ibnu Ḥibban (4547).


Arti dan Penjelasan Per Perkataan


بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kami telah berbaiat kepada Rasulullah .

Perkataan ini menunjukkan adanya ikrar dan komitmen langsung dari para sahabat kepada Rasulullah sebagai pemimpin umat. Baiat dalam Islam bukan sekadar janji formal, tetapi pernyataan kesetiaan yang mengikat hati dan tindakan. Dalam konteks ini, baiat kepada Rasulullah mencerminkan ketaatan kepada wahyu dan kebenaran, bukan kepada pribadi manusia semata. Ia menegaskan konsep kepemimpinan yang berbasis pada keimanan, bukan kepentingan duniawi.


عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ

Untuk mendengar dan taat.

Perkataan ini mengandung makna pentingnya disiplin spiritual dan sosial dalam masyarakat Islam. Mendengar berarti memahami perintah dengan hati yang tunduk, sedangkan taat berarti mengamalkannya tanpa menunda atau membantah. Keduanya menuntut keikhlasan, karena ketaatan yang sejati hanya akan lahir dari hati yang yakin terhadap kebenaran wahyu. Dalam konteks kepemimpinan, ini menegaskan pentingnya loyalitas terhadap pemimpin selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat.


فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ

Dalam keadaan lapang maupun sempit.

Perkataan ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak bergantung pada kondisi duniawi. Ketika seseorang taat hanya saat keadaan mudah, maka ketaatannya rapuh dan bersyarat. Islam menuntut keteguhan, baik dalam kenikmatan maupun kesulitan. Dalam kehidupan sosial dan politik, ini mengajarkan agar umat Islam tetap berpegang pada prinsip keadilan dan kebenaran, meskipun keadaan menekan atau merugikan diri sendiri.


وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ

Dalam keadaan semangat maupun terpaksa.

Perkataan ini menggambarkan spektrum psikologis manusia dalam menjalankan perintah agama. Ada saatnya seseorang bersemangat dalam ibadah, dan ada saatnya ia merasa berat. Namun, keimanan sejati menuntut konsistensi, bukan ketergantungan pada suasana hati. Rasulullah mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit, karena menunjukkan keteguhan hati dalam pengabdian.


وَأَلَّا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ

Dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya.

Perkataan ini mengandung prinsip ketertiban dan stabilitas dalam masyarakat Islam. Rasulullah melarang umatnya untuk memecah kekuasaan yang sah selama pemimpin tidak melakukan kekufuran yang nyata. Tujuannya adalah menjaga kesatuan umat dan mencegah kekacauan. Dalam konteks modern, hal ini menegaskan pentingnya etika politik Islam yang menolak ambisi pribadi dan menjunjung kepemimpinan yang adil serta amanah.


وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا

Dan agar kami menegakkan—atau mengatakan—kebenaran di mana pun kami berada.

Perkataan ini menggambarkan keberanian moral seorang Muslim. Kebenaran tidak bergantung pada tempat, waktu, atau siapa yang dihadapi. Seorang mukmin dituntut untuk menjadi saksi keadilan, bahkan terhadap dirinya sendiri atau orang yang dicintainya. Dalam kehidupan sosial, perkataan ini mengajarkan integritas dan tanggung jawab moral untuk membela nilai-nilai ilahi meski berisiko menghadapi celaan dan tekanan.


لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Kami tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam (menegakkan) agama Allah.

Perkataan ini menunjukkan tingkat keikhlasan tertinggi dalam jihad moral. Orang yang benar-benar beriman akan menegakkan kebenaran semata-mata karena Allah, bukan karena pujian manusia atau takut terhadap hinaan. Prinsip ini menjadi fondasi bagi kekuatan dakwah dan keadilan Islam, karena kebenaran sering kali tidak populer. Seorang mukmin sejati menempatkan ridha Allah di atas semua bentuk penilaian manusia.


Syarah Hadits


Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar berpegang teguh kepada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai. Di antara konsekuensi dari berpegang teguh ini adalah bersatunya kaum Muslimin dalam satu kalimat dan di bawah satu kepemimpinan. Sebab, apabila perkataan mereka beragam dan para pemimpin mereka terpecah, maka urusan mereka akan melemah, kekuatan mereka akan sirna, dan musuh mereka akan menguasai mereka.

Dalam hadis ini, Junadah bin Abi Umayyah as-Sadusi meriwayatkan bahwa mereka pernah menjenguk ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu ketika beliau sedang sakit. Mereka berkata kepadanya: “Ashlaḥakallah” (semoga Allah memperbaiki keadaanmu), yaitu ucapan yang biasa mereka katakan ketika meminta sesuatu, atau maksudnya adalah doa agar tubuhnya diperbaiki dan disembuhkan dari penyakitnya. Lalu mereka meminta beliau untuk menyampaikan sebuah hadis yang semoga Allah memberinya pahala karena menyampaikannya kepada mereka, yang beliau dengar langsung dari Nabi ﷺ.

Ubadah berkata: “Rasulullah memanggil kami pada malam ‘Aqabah pertama di bulan Dzulhijjah,” yaitu dua tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Imam Aḥmad. “Maka kami pun berbaiat kepadanya,” yakni mengulurkan tangan sebagai bentuk pengambilan janji dan perjanjian setia.

Di antara syarat yang ditetapkan oleh Nabi kepada mereka adalah bahwa beliau membaiat mereka untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat dan kuat, yakni pada perkara yang jika seseorang diperintah untuk melakukannya, ia akan melakukannya dengan senang hati karena sesuai dengan keinginannya; dan juga dalam keadaan yang mereka benci, yaitu pada perkara yang jika diperintahkan, mereka tidak menyukainya.

Demikian pula mereka berbaiat untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun lapang, yakni saat miskin ataupun kaya, terhadap apa yang diperintahkan oleh para pemimpin.

Lalu beliau bersabda:

«وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا»

Dan sekalipun ada keistimewaan yang diberikan kepada orang lain di atas kami.

Artinya, sekalipun pemimpin tersebut mengambil sebagian urusan dunia untuk dirinya sendiri dengan kezaliman atau lebih mengutamakan orang lain daripada mereka dan menahan hak mereka, maka mereka tetap harus bersabar dan tidak menentangnya.

Dan beliau juga membaiat mereka agar tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, yakni tidak memberontak terhadap imam (pemimpin) dengan peperangan, kecuali apabila mereka melihat kekufuran yang nyata. Dalam hal ini, boleh menentangnya dengan syarat bahwa kekufuran itu:

«كُفْرًا بَوَاحًا»

Kekufuran yang jelas dan nyata

yakni kekufuran yang tampak dan diumumkan secara terang-terangan, serta mereka memiliki dalil yang tegas dari Allah — baik dari Al-Qur’an maupun hadis sahih — yang tidak mungkin ditakwil.

Hadis ini menunjukkan larangan untuk memberontak kepada para pemimpin dan larangan memecah persatuan kaum Muslimin, agar tidak menyebabkan pertumpahan darah dan pelanggaran kehormatan, kecuali apabila pemimpin tersebut telah kafir secara nyata dan menampakkan penentangan terhadap dakwah Islam; maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq.

Dalam hadis ini juga terdapat perintah untuk taat kepada para pemimpin dalam setiap keadaan, selama hal itu dalam perkara yang diridhai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/5051


Pelajaran dari Hadits ini


1. Komitmen kepada Rasulullah

Perkataan بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  (Kami telah berbaiat kepada Rasulullah ) mengajarkan pentingnya komitmen dan kesetiaan terhadap ajaran Nabi. Baiat bukan sekadar ucapan, tetapi janji hati untuk tunduk kepada kebenaran dan kepemimpinan beliau. Dalam kehidupan sekarang, maknanya adalah kesediaan untuk menjalani syariat Islam dengan sepenuh hati, tanpa menawar atau memilih sebagian. Allah berfirman dalam surah an-Nisa’ ayat 65:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

(Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak merasa keberatan terhadap putusanmu dan menerima dengan sepenuhnya).


2. Ketaatan yang Tulus dan Penuh Disiplin

Perkataan عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ  (Untuk mendengar dan taat) menegaskan pentingnya sikap disiplin dan ketaatan terhadap perintah yang baik. Islam mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin atau ulama harus selaras dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini melatih jiwa untuk tunduk kepada aturan, bukan kepada hawa nafsu. Rasulullah bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ

(Barang siapa taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa durhaka kepadaku maka sungguh ia telah durhaka kepada Allah.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.


3. Istiqamah dalam Segala Keadaan

Perkataan فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ  (Dalam keadaan lapang maupun sempit) menanamkan makna kesetiaan kepada kebenaran dalam setiap kondisi. Ketaatan bukan hanya ketika keadaan mudah, tapi juga ketika berat dan penuh ujian. Seorang mukmin sejati tidak berubah oleh situasi, karena yang ia cari adalah ridha Allah. Allah berfirman dalam surah al-Ḥajj ayat 11:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ

(Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi; jika memperoleh kebaikan, ia tetap tenang, tetapi jika ditimpa ujian, ia berbalik ke belakang, rugilah ia di dunia dan akhirat.)


4. Konsistensi Meski dalam Suasana Hati yang Berbeda

Perkataan وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ  (Dalam keadaan semangat maupun terpaksa) mengajarkan pentingnya konsistensi dalam beramal. Tidak setiap saat seseorang berada dalam kondisi bersemangat, namun iman menuntut untuk tetap melangkah. Amalan yang konsisten menunjukkan keteguhan hati. Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

(Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.


5. Menjaga Ketertiban dan Menghormati Kepemimpinan yang Sah

Perkataan وَأَلَّا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ  (Dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya) mengandung pelajaran tentang pentingnya stabilitas dan menghormati otoritas. Islam mengajarkan agar tidak memberontak terhadap pemimpin yang sah selama ia tidak melakukan kekufuran nyata. Hal ini menjaga umat dari perpecahan. Rasulullah bersabda:

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللهِ بُرْهَانٌ

(Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah tentang hal itu.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.


6. Keberanian Menegakkan Kebenaran di Mana pun Berada

Perkataan وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا  (Dan agar kami menegakkan—atau mengatakan—kebenaran di mana pun kami berada) menegaskan kewajiban setiap Muslim untuk menjadi saksi kebenaran. Tidak boleh takut untuk menyuarakan keadilan, bahkan kepada orang yang berkuasa. Allah berfirman dalam surah an-Nisa’ ayat 135:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
(Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau orang tuamu dan kerabatmu.)


7. Tidak Takut Celaan dalam Menegakkan Agama Allah

Perkataan لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ  (Kami tidak takut terhadap celaan orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah) menunjukkan keberanian moral seorang mukmin. Ia menempatkan ridha Allah di atas semua penilaian manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti berani tetap benar meski dikritik atau diasingkan. Allah memuji sifat ini dalam surah al-Ma’idah ayat 54:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

(Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang beriman dan tegas terhadap orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.)


8. Keteguhan Hati dan Keikhlasan dalam Beragama

Sebagai pelajaran tambahan, hadits ini juga menanamkan nilai ikhlas dan keteguhan hati. Baiat kepada Rasulullah adalah simbol ketundukan total kepada perintah Allah tanpa pamrih. Seorang Muslim sejati tidak menimbang manfaat duniawi dalam beragama. Ia berjalan di jalan kebenaran karena yakin bahwa pertolongan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Firman Allah dalam surah Muḥammad ayat 7:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

(Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.)


9. Etika Sosial dan Kepemimpinan dalam Islam

Hadits ini juga menanamkan kesadaran sosial bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah amanah, bukan ambisi. Masyarakat yang taat dan pemimpin yang adil akan menciptakan kedamaian. Rasulullah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

(Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.


Kesimpulan

Secara keseluruhan, hadits ini menegaskan fondasi kehidupan beragama dan bermasyarakat: ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, konsistensi dalam kebenaran, penghormatan terhadap kepemimpinan yang sah, serta keberanian menegakkan kebenaran tanpa takut celaan. Ia membentuk pribadi Muslim yang teguh, berdisiplin, berani, dan ikhlas dalam setiap langkah perjuangan hidup demi ridha Allah .


Penutup Kajian


Hadirin yang dimuliakan Allah , setelah kita bersama-sama mengkaji hadits mulia yang diriwayatkan oleh ʿUbadah bin ash-Shamit radhiyallahu ʿanhu, kita dapat memahami bahwa hadits ini bukan sekadar perjanjian sahabat kepada Rasulullah , tetapi merupakan pedoman hidup yang abadi bagi seluruh umat Islam. Di dalamnya terkandung nilai-nilai agung: ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam setiap keadaan, kesetiaan terhadap kebenaran, keberanian moral untuk berkata jujur, serta tanggung jawab sosial untuk menjaga ketertiban dan keadilan.

Hadits ini mengajarkan bahwa ketaatan bukan hanya ketika hati senang atau keadaan mendukung, tetapi juga ketika berat, terpaksa, dan tidak nyaman. Ia mengajarkan bahwa menegakkan kebenaran sering kali menuntut pengorbanan dan keberanian, bahkan ketika celaan datang bertubi-tubi. Namun, orang yang berpegang teguh kepada Allah tidak akan gentar, karena ridha-Nya lebih berharga daripada pujian makhluk.

Maka, harapan besar dari kajian ini adalah agar setiap kita mampu menerapkan nilai-nilai hadits ini dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah السمع والطاعة  sebagai landasan dalam beragama dan bermasyarakat—mendengar yang benar dan taat kepada kebenaran. Hidupilah semangat istiqamah dalam اليسر والعسر  dan المنشط والمكره, yaitu tetap teguh beramal walau dalam kondisi sulit. Dan jadikanlah keberanian menegakkan الحق sebagai identitas seorang Muslim sejati—yang tidak takut celaan dalam memperjuangkan agama Allah.

Semoga setelah pulang dari majelis ini, kita membawa semangat baru untuk menjadi Muslim yang lebih taat, lebih berani dalam kebenaran, lebih sabar dalam ujian, dan lebih bijak dalam bersikap terhadap pemimpin dan sesama. Dengan demikian, kita tidak hanya memahami isi hadits ini, tetapi benar-benar menghidupkannya dalam amal dan akhlak kita sehari-hari.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat, lalu mengikuti yang terbaik darinya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.