Hadits Nasehat tentang Ketaatan dan Keteguhan di Atas Kebenaran
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin yang dirahmati Allah ﷻ,
Di tengah kehidupan masyarakat kita hari
ini, ada satu fenomena yang kian terasa: melemahnya semangat ketaatan,
menurunnya disiplin dalam beragama, dan semakin lunturnya keberanian untuk
menyuarakan kebenaran. Banyak orang yang taat hanya ketika keadaan mudah, namun
goyah ketika diuji kesulitan. Ada yang semangat menjalankan perintah
agama saat suasana mendukung, tetapi berhenti ketika rasa malas atau tekanan
sosial datang menghampiri. Bahkan dalam urusan kepemimpinan, tak jarang kita
temui masyarakat yang mudah mencela, sulit menghormati pemimpin, dan tidak
memahami batas-batas ketaatan dalam Islam.
Dalam
situasi seperti inilah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat mulia ʿUbadah bin
ash-Shamit radhiyallahu ʿanhu, yang akan kita kaji ini, menjadi sangat relevan untuk kita
pelajari. Rasulullah ﷺ mengajarkan melalui hadits ini makna baiat
yang sejati—yaitu janji untuk taat, berdisiplin, konsisten dalam segala
keadaan, menegakkan kebenaran di mana pun berada, dan tidak takut pada celaan
manusia ketika berada di atas jalan Allah. Ini bukan sekadar nasihat untuk para
sahabat dahulu, tetapi panduan hidup bagi setiap Muslim di setiap zaman.
Hadits
ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya ritual,
tetapi sistem nilai yang melahirkan ketertiban, keteguhan, dan kekuatan moral
umat. Jika hadits ini dihayati, maka seorang Muslim akan menjadi pribadi yang
berkomitmen, sabar dalam ujian, berani dalam kebenaran, dan menjaga persatuan
dalam ketaatan. Oleh karena itu, memahami faedah hadits ini bukan sekadar
menambah ilmu, tetapi membentuk karakter, memperbaiki akhlak, dan memperkuat
sendi-sendi umat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Maka
mari kita sama-sama menyimak dan mengkaji hadits ini dengan hati yang terbuka,
agar kita dapat mengambil hikmah besar dari baiat para sahabat kepada
Rasulullah ﷺ, dan menjadikannya kompas dalam menjalani kehidupan beragama,
bermasyarakat, dan berbangsa dengan penuh keimanan dan tanggung jawab.
Dari ʿUbadah bin ash-Shamit radhiyallahu ʿanhu, bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَايَعْنَا رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي
الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَأَلَّا نُنَازِعَ
الْأَمْرَ أَهْلَهُ، وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا
كُنَّا، لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ.
Artinya: Kami
telah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk selalu mendengar dan taat dalam
keadaan lapang maupun sempit, dalam keadaan semangat maupun terpaksa, serta
agar tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya. Kami juga berjanji untuk
menegakkan—atau berkata dengan—kebenaran di mana pun kami berada, tanpa takut
celaan siapa pun dalam (menegakkan) agama Allah.
HR.
al-Bukhari (7199, 7200), Muslim (1709), dan Ibnu Ḥibban (4547).
Arti
dan Penjelasan Per Perkataan
بَايَعْنَا رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kami telah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ.
Perkataan
ini menunjukkan adanya ikrar dan komitmen langsung dari para sahabat kepada
Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin umat. Baiat dalam Islam bukan sekadar janji
formal, tetapi pernyataan kesetiaan yang mengikat hati dan tindakan. Dalam
konteks ini, baiat kepada Rasulullah ﷺ mencerminkan ketaatan kepada wahyu dan
kebenaran, bukan kepada pribadi manusia semata. Ia menegaskan konsep
kepemimpinan yang berbasis pada keimanan, bukan kepentingan duniawi.
عَلَى السَّمْعِ
وَالطَّاعَةِ
Untuk mendengar dan taat.
Perkataan
ini mengandung makna pentingnya disiplin spiritual dan sosial dalam masyarakat
Islam. Mendengar berarti memahami perintah dengan hati yang tunduk, sedangkan
taat berarti mengamalkannya tanpa menunda atau membantah. Keduanya menuntut
keikhlasan, karena ketaatan yang sejati hanya akan lahir dari hati yang yakin
terhadap kebenaran wahyu. Dalam konteks kepemimpinan, ini menegaskan pentingnya
loyalitas terhadap pemimpin selama perintahnya tidak bertentangan dengan
syariat.
فِي الْيُسْرِ
وَالْعُسْرِ
Dalam keadaan lapang maupun sempit.
Perkataan
ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak bergantung pada
kondisi duniawi. Ketika seseorang taat hanya saat keadaan mudah, maka
ketaatannya rapuh dan bersyarat. Islam menuntut keteguhan, baik dalam
kenikmatan maupun kesulitan. Dalam kehidupan sosial dan politik, ini
mengajarkan agar umat Islam tetap berpegang pada prinsip keadilan dan
kebenaran, meskipun keadaan menekan atau merugikan diri sendiri.
وَالْمَنْشَطِ
وَالْمَكْرَهِ
Dalam keadaan semangat maupun terpaksa.
Perkataan
ini menggambarkan spektrum psikologis manusia dalam menjalankan perintah agama.
Ada saatnya seseorang bersemangat dalam ibadah, dan ada saatnya ia merasa
berat. Namun, keimanan sejati menuntut konsistensi, bukan ketergantungan pada
suasana hati. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa amal yang paling
dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun sedikit, karena
menunjukkan keteguhan hati dalam pengabdian.
وَأَلَّا نُنَازِعَ
الْأَمْرَ أَهْلَهُ
Dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya.
Perkataan
ini mengandung prinsip ketertiban dan stabilitas dalam masyarakat Islam.
Rasulullah ﷺ melarang umatnya untuk memecah kekuasaan yang sah selama
pemimpin tidak melakukan kekufuran yang nyata. Tujuannya adalah menjaga
kesatuan umat dan mencegah kekacauan. Dalam konteks modern, hal ini menegaskan
pentingnya etika politik Islam yang menolak ambisi pribadi dan menjunjung
kepemimpinan yang adil serta amanah.
وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ
نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا
Dan agar kami menegakkan—atau mengatakan—kebenaran di
mana pun kami berada.
Perkataan
ini menggambarkan keberanian moral seorang Muslim. Kebenaran tidak bergantung
pada tempat, waktu, atau siapa yang dihadapi. Seorang mukmin dituntut untuk
menjadi saksi keadilan, bahkan terhadap dirinya sendiri atau orang yang
dicintainya. Dalam kehidupan sosial, perkataan ini mengajarkan integritas dan
tanggung jawab moral untuk membela nilai-nilai ilahi meski berisiko menghadapi
celaan dan tekanan.
لَا نَخَافُ فِي اللهِ
لَوْمَةَ لَائِمٍ
Kami tidak takut terhadap celaan orang yang mencela
dalam (menegakkan) agama Allah.
Perkataan
ini menunjukkan tingkat keikhlasan tertinggi dalam jihad moral. Orang yang
benar-benar beriman akan menegakkan kebenaran semata-mata karena Allah, bukan
karena pujian manusia atau takut terhadap hinaan. Prinsip ini menjadi fondasi
bagi kekuatan dakwah dan keadilan Islam, karena kebenaran sering kali tidak
populer. Seorang mukmin sejati menempatkan ridha Allah di atas semua bentuk
penilaian manusia.
Syarah Hadits
Allah Subḥanahu wa Ta‘ala memerintahkan hamba-hamba-Nya
yang beriman agar berpegang teguh kepada tali agama Allah dan tidak
bercerai-berai. Di antara konsekuensi dari berpegang teguh ini adalah
bersatunya kaum Muslimin dalam satu kalimat dan di bawah satu kepemimpinan.
Sebab, apabila perkataan mereka beragam dan para pemimpin mereka terpecah, maka
urusan mereka akan melemah, kekuatan mereka akan sirna, dan musuh mereka akan
menguasai mereka.
Dalam hadis ini,
Junadah bin Abi Umayyah as-Sadusi meriwayatkan bahwa mereka pernah menjenguk
‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu ketika beliau sedang sakit. Mereka
berkata kepadanya: “Ashlaḥakallah” (semoga Allah memperbaiki keadaanmu), yaitu
ucapan yang biasa mereka katakan ketika meminta sesuatu, atau maksudnya adalah
doa agar tubuhnya diperbaiki dan disembuhkan dari penyakitnya. Lalu
mereka meminta beliau untuk menyampaikan sebuah hadis yang semoga Allah
memberinya pahala karena menyampaikannya kepada mereka, yang beliau dengar
langsung dari Nabi ﷺ.
‘Ubadah
berkata: “Rasulullah ﷺ memanggil kami pada malam ‘Aqabah pertama
di bulan Dzulhijjah,” yaitu dua tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah
sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Imam Aḥmad. “Maka kami pun berbaiat
kepadanya,” yakni mengulurkan tangan sebagai bentuk pengambilan janji dan
perjanjian setia.
Di antara syarat
yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ kepada mereka adalah bahwa beliau membaiat
mereka untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat dan kuat, yakni pada
perkara yang jika seseorang diperintah untuk melakukannya, ia akan melakukannya
dengan senang hati karena sesuai dengan keinginannya; dan juga dalam keadaan
yang mereka benci, yaitu pada perkara yang jika diperintahkan, mereka tidak
menyukainya.
Demikian pula mereka berbaiat untuk mendengar dan taat
dalam keadaan sulit maupun lapang, yakni saat miskin ataupun kaya, terhadap apa
yang diperintahkan oleh para pemimpin.
Lalu beliau ﷺ bersabda:
«وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا»
Dan sekalipun
ada keistimewaan yang diberikan kepada orang lain di atas kami.
Artinya,
sekalipun pemimpin tersebut mengambil sebagian urusan dunia untuk dirinya
sendiri dengan kezaliman atau lebih mengutamakan orang lain daripada mereka dan
menahan hak mereka, maka mereka tetap harus bersabar dan tidak menentangnya.
Dan beliau juga
membaiat mereka agar tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, yakni tidak
memberontak terhadap imam (pemimpin) dengan peperangan, kecuali apabila mereka
melihat kekufuran yang nyata. Dalam hal ini, boleh menentangnya dengan
syarat bahwa kekufuran itu:
«كُفْرًا بَوَاحًا»
Kekufuran
yang jelas dan nyata
yakni kekufuran
yang tampak dan diumumkan secara terang-terangan, serta mereka memiliki dalil
yang tegas dari Allah — baik dari Al-Qur’an maupun hadis sahih — yang tidak
mungkin ditakwil.
Hadis ini
menunjukkan larangan untuk memberontak kepada para pemimpin dan larangan
memecah persatuan kaum Muslimin, agar tidak menyebabkan pertumpahan darah dan
pelanggaran kehormatan, kecuali apabila pemimpin tersebut telah kafir secara
nyata dan menampakkan penentangan terhadap dakwah Islam; maka tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq.
Dalam hadis ini juga terdapat perintah untuk taat kepada
para pemimpin dalam setiap keadaan, selama hal itu dalam perkara yang diridhai
oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/5051
Pelajaran dari Hadits
ini
1. Komitmen kepada Rasulullah ﷺ
Perkataan بَايَعْنَا رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Kami telah berbaiat kepada Rasulullah ﷺ)
mengajarkan pentingnya komitmen dan kesetiaan terhadap ajaran Nabi. Baiat
bukan sekadar ucapan, tetapi janji hati untuk tunduk kepada kebenaran dan
kepemimpinan beliau. Dalam kehidupan sekarang, maknanya adalah kesediaan untuk
menjalani syariat Islam dengan sepenuh hati, tanpa menawar atau memilih
sebagian. Allah ﷻ berfirman dalam surah an-Nisa’ ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ
بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(Maka demi Tuhanmu, mereka tidak
beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara
yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak merasa keberatan terhadap
putusanmu dan menerima dengan sepenuhnya).
2.
Ketaatan yang Tulus dan Penuh Disiplin
Perkataan
عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ (Untuk mendengar dan taat)
menegaskan pentingnya sikap disiplin dan ketaatan terhadap perintah yang baik.
Islam mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin atau ulama harus selaras
dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan seperti ini melatih jiwa
untuk tunduk kepada aturan, bukan kepada hawa nafsu. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ
(Barang siapa taat kepadaku maka
sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa durhaka kepadaku maka
sungguh ia telah durhaka kepada Allah.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.
3.
Istiqamah dalam Segala Keadaan
Perkataan
فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ (Dalam keadaan lapang maupun sempit)
menanamkan makna kesetiaan kepada kebenaran dalam setiap kondisi. Ketaatan
bukan hanya ketika keadaan mudah, tapi juga ketika berat dan penuh ujian.
Seorang mukmin sejati tidak berubah oleh situasi, karena yang ia cari adalah
ridha Allah. Allah ﷻ berfirman dalam surah al-Ḥajj ayat 11:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ
اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةَ
(Dan di antara manusia ada yang
menyembah Allah dengan berada di tepi; jika memperoleh kebaikan, ia tetap
tenang, tetapi jika ditimpa ujian, ia berbalik ke belakang, rugilah ia di dunia
dan akhirat.)
4.
Konsistensi Meski dalam Suasana Hati yang Berbeda
Perkataan
وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ (Dalam keadaan semangat maupun
terpaksa) mengajarkan pentingnya konsistensi dalam beramal. Tidak setiap
saat seseorang berada dalam kondisi bersemangat, namun iman menuntut untuk
tetap melangkah. Amalan yang konsisten menunjukkan keteguhan hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
(Amalan
yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus walaupun
sedikit.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.
5.
Menjaga Ketertiban dan Menghormati Kepemimpinan yang Sah
Perkataan
وَأَلَّا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ (Dan agar kami
tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya) mengandung pelajaran tentang
pentingnya stabilitas dan menghormati otoritas. Islam mengajarkan agar tidak
memberontak terhadap pemimpin yang sah selama ia tidak melakukan kekufuran
nyata. Hal ini menjaga umat dari perpecahan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللهِ
بُرْهَانٌ
(Kecuali
jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah
tentang hal itu.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.
6.
Keberanian Menegakkan Kebenaran di Mana pun Berada
Perkataan
وَأَنْ نَقُومَ ـ أَوْ نَقُولَ ـ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا (Dan agar kami menegakkan—atau
mengatakan—kebenaran di mana pun kami berada) menegaskan kewajiban setiap
Muslim untuk menjadi saksi kebenaran. Tidak boleh takut untuk menyuarakan
keadilan, bahkan kepada orang yang berkuasa. Allah ﷻ berfirman dalam surah
an-Nisa’ ayat 135:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ
لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
(Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi
saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau orang tuamu dan
kerabatmu.)
7.
Tidak Takut Celaan dalam Menegakkan Agama Allah
Perkataan
لَا نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ (Kami tidak
takut terhadap celaan orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah)
menunjukkan keberanian moral seorang mukmin. Ia menempatkan ridha Allah di atas
semua penilaian manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti berani tetap
benar meski dikritik atau diasingkan. Allah ﷻ memuji sifat ini
dalam surah al-Ma’idah ayat 54:
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ
عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ
(Dia
mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut
terhadap orang beriman dan tegas terhadap orang kafir. Mereka berjihad di jalan
Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.)
8. Keteguhan
Hati dan Keikhlasan dalam Beragama
Sebagai
pelajaran tambahan, hadits ini juga menanamkan nilai ikhlas dan keteguhan hati.
Baiat kepada Rasulullah ﷺ adalah simbol ketundukan total kepada
perintah Allah tanpa pamrih. Seorang Muslim sejati tidak menimbang manfaat
duniawi dalam beragama. Ia berjalan di jalan kebenaran karena yakin bahwa
pertolongan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Firman Allah ﷻ dalam surah Muḥammad ayat 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ
أَقْدَامَكُمْ
(Wahai
orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.)
9.
Etika Sosial dan Kepemimpinan dalam Islam
Hadits
ini juga menanamkan kesadaran sosial bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah
amanah, bukan ambisi. Masyarakat yang taat dan pemimpin yang adil akan
menciptakan kedamaian. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
(Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
yang dipimpinnya.) – HR. al-Bukhari dan Muslim.
Kesimpulan
Secara
keseluruhan, hadits ini menegaskan fondasi kehidupan beragama dan
bermasyarakat: ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, konsistensi dalam
kebenaran, penghormatan terhadap kepemimpinan yang sah, serta keberanian
menegakkan kebenaran tanpa takut celaan. Ia membentuk pribadi Muslim yang
teguh, berdisiplin, berani, dan ikhlas dalam setiap langkah perjuangan hidup
demi ridha Allah ﷻ.
Penutup
Kajian
Hadirin yang dimuliakan Allah ﷻ,
setelah kita bersama-sama mengkaji hadits mulia yang diriwayatkan oleh ʿUbadah
bin ash-Shamit radhiyallahu ʿanhu, kita dapat memahami bahwa hadits ini
bukan sekadar perjanjian sahabat kepada Rasulullah ﷺ, tetapi merupakan pedoman hidup yang abadi bagi seluruh umat
Islam. Di dalamnya terkandung nilai-nilai agung: ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya dalam setiap keadaan, kesetiaan terhadap kebenaran, keberanian moral
untuk berkata jujur, serta tanggung jawab sosial untuk menjaga ketertiban dan
keadilan.
Hadits
ini mengajarkan bahwa ketaatan bukan hanya ketika hati senang atau keadaan
mendukung, tetapi juga ketika berat, terpaksa, dan tidak nyaman. Ia mengajarkan
bahwa menegakkan kebenaran sering kali menuntut pengorbanan dan keberanian,
bahkan ketika celaan datang bertubi-tubi. Namun, orang yang berpegang teguh
kepada Allah tidak akan gentar, karena ridha-Nya lebih berharga daripada pujian
makhluk.
Maka,
harapan besar dari kajian ini adalah agar setiap kita mampu menerapkan
nilai-nilai hadits ini dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah السمع والطاعة sebagai landasan dalam beragama dan
bermasyarakat—mendengar yang benar dan taat kepada kebenaran. Hidupilah
semangat istiqamah dalam اليسر والعسر dan المنشط والمكره, yaitu tetap teguh beramal walau dalam
kondisi sulit. Dan jadikanlah keberanian menegakkan الحق sebagai identitas seorang Muslim sejati—yang tidak takut celaan
dalam memperjuangkan agama Allah.
Semoga
setelah pulang dari majelis ini, kita membawa semangat baru untuk menjadi
Muslim yang lebih taat, lebih berani dalam kebenaran, lebih sabar dalam ujian,
dan lebih bijak dalam bersikap terhadap pemimpin dan sesama. Dengan demikian,
kita tidak hanya memahami isi hadits ini, tetapi benar-benar menghidupkannya
dalam amal dan akhlak kita sehari-hari.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْمَعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ
أَحْسَنَهُ
— Ya
Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat, lalu
mengikuti yang terbaik darinya.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ