Tafsir: Fananya Dunia dalam Bingkai Iman - Surah Al-Hadid ayat 20

Tadabbur Ayat Ekonomi Syariah

Fananya Dunia dalam Bingkai Iman

1. Pembukaan

Di tengah masyarakat modern, ukuran keberhasilan hidup semakin sering diletakkan pada tumpukan harta, gelar, jabatan, dan jumlah pencapaian yang dipamerkan di media sosial.
Rumah yang lebih besar, kendaraan yang lebih baru, pendidikan anak yang lebih bergengsi, semuanya berlomba menjadi bahan kebanggaan yang dipertontonkan kepada orang lain.
Tidak sedikit yang kemudian terjebak dalam kelelahan batin, iri hati, dan utang konsumtif demi mengejar citra kehidupan yang sebenarnya rapuh dan sementara.

Allah Ta'ala, melalui ayat yang akan dikaji ini, menyingkap hakikat kehidupan dunia secara gamblang agar setiap mukmin tidak tertipu oleh gemerlapnya.
Memahami ayat ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan spiritual semata, melainkan juga menjadi fondasi penting bagi cara pandang seorang muslim dalam mengelola harta, membesarkan keluarga, dan menata prioritas hidup --- sebuah kebutuhan yang sangat relevan bagi siapa pun yang ingin membangun kesejahteraan tanpa kehilangan arah menuju akhirat.

2. Teks Ayat

Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا ۖ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya.
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

QS. Al-Hadid [57]: 20.

3. Penjelasan per Perkataan

Perkataan 1: Lima Ciri Kehidupan Dunia

a. Teks dan makna

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.

b. Penjelasan makna per kata (tafsir mufradat)

اعْلَمُوا (ketahuilah): kalimat pembuka berupa perintah tegas untuk memberi perhatian penuh, menandakan bahwa apa yang akan disampaikan adalah perkara besar yang wajib diketahui setiap mukmin, bukan sekadar informasi biasa.

لَعِبٌ (permainan): aktivitas yang tidak memiliki tujuan bermakna dan dilakukan sekadar demi kesenangan sesaat tanpa hasil yang kekal, menggambarkan bahwa banyak kesibukan duniawi manusia pada hakikatnya menyerupai permainan anak-anak: ramai, namun tidak membekas.

وَلَهْوٌ (senda gurau): sesuatu yang melalaikan hati dari mengingat Allah dan tujuan penciptaan, mencakup hiburan yang menyita perhatian hingga manusia lupa akan kewajiban dan persiapan akhiratnya.

وَزِينَةٌ (perhiasan): kecenderungan manusia mempercantik penampilan lahiriah, seperti busana, kendaraan, dan rumah, yang pada dasarnya diperbolehkan namun berpotensi menjadi ukuran kebanggaan yang keliru apabila dijadikan tujuan hidup.

وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ (saling berbangga): sikap membangga-banggakan pencapaian materi di hadapan orang lain, yang sering kali disertai keinginan merendahkan pihak yang kurang beruntung.

وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ (berlomba dalam harta dan anak): dorongan untuk mengumpulkan kekayaan dan memperbanyak keturunan sebagai simbol status sosial, bukan sebagai sarana ibadah dan amal saleh.

Sebagai landasan atas pemaknaan tersebut, perhatikan pula firman Allah berikut:

c. Ayat Pendukung

Allah juga berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

Artinya: *"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."*

(QS. Ali 'Imran [3]: 14)

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan keterkaitan kedua ayat ini[1]

قَوْلُهُ تَعَالَى مُوهِنًا أَمْرَ ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا وَمُحَقِّرًا لَهَا: (أَنَّمَا ٱلْحَيَاةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي ٱلْأَمْوَالِ وَٱلْأَوْلَادِ) أَيْ: إِنَّمَا حَاصِلُ أَمْرِهَا عِنْدَ أَهْلِهَا هَذَا، كَمَا قَالَ: (زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَاتِ مِنَ ٱلنِّسَاءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَاطِيرِ ٱلْمُقَنْطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَامِ وَٱلْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ ٱلْمَآبِ) [آلِ عِمْرَانَ: 14]

"Firman Allah yang melemahkan kedudukan kehidupan dunia dan merendahkannya: 'Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, dan saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam harta dan anak-anak', maksudnya, itulah puncak capaian dunia menurut penduduknya, sebagaimana firman-Nya: 'Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa yang diingini, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik' [QS. Ali 'Imran: 14]."

Ibnu Katsir secara langsung menghubungkan kedua ayat ini, menegaskan bahwa lima kesenangan yang disebut dalam Al-Hadid, yaitu permainan, senda gurau, perhiasan, kebanggaan, dan perlombaan harta-anak, merupakan rincian dari apa yang "dihiasi" bagi manusia dalam Ali 'Imran ayat 14.
Kedua ayat saling menafsirkan dan menunjukkan bahwa daya tarik dunia bersifat buatan, bukan nilai hakiki, sehingga siapa pun yang menyadarinya akan menempatkan dunia pada porsi yang wajar.
Untuk memperjelas penerapan makna ayat ini dalam keseharian, perhatikan pula sabda Rasulullah ﷺ berikut:

d. Hadits Pendukung

وَٱللَّهِ مَا ٱلدُّنْيَا فِي ٱلْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي ٱلْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

Artinya: "Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ini ke laut, maka hendaklah ia melihat apa yang tersisa di jarinya itu."

Perawi: HR. Muslim dari sahabat Al-Mustawrid bin Syaddad radhiyallahu 'anhu, no. 2858[2]

Hadits ini menggambarkan secara visual betapa kecilnya nilai dunia dibanding akhirat, seperti air yang menempel di ujung jari dibandingkan luasnya lautan, memperkuat makna la'ib, lahwun, dan zinah dalam ayat yang dikaji: seluruh kenikmatan dunia, betapapun tampak besar di mata manusia, sesungguhnya hanya setitik dibanding kenikmatan akhirat yang kekal.
Titik temu antara ayat pendukung dan hadits di atas menegaskan bahwa seluruh kemilau dunia, betapapun manusia berbangga dengannya, hanyalah bagian yang sangat kecil dibanding kenikmatan akhirat yang telah Allah siapkan bagi hamba-Nya yang beriman.

e. Pelajaran dari Perkataan 1

Kesadaran bahwa lima daya tarik dunia (permainan, senda gurau, perhiasan, kebanggaan, dan perlombaan harta-anak) bersifat sementara dan kecil nilainya dibanding akhirat menjadi fondasi bagi seorang mukmin untuk tidak menjadikannya tujuan akhir hidup.

Perkataan 2: Perumpamaan Hujan dan Tanaman yang Layu

a. Teks dan makna

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّۭا ثُمَّ يَكُونُ حُطَـٰمًۭا

seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

b. Penjelasan makna per kata (tafsir mufradat)

كَمَثَلِ غَيْثٍ (seperti hujan): Allah memilih perumpamaan hujan karena sifatnya yang turun setelah manusia berputus asa menantikannya, sehingga kedatangannya terasa mengejutkan dan menggembirakan, sebagaimana dunia yang menghampiri manusia dengan kenikmatan yang tampak tiba-tiba dan menggiurkan.

أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُ (mengagumkan penanamnya): kata al-kuffar di sini disepakati mayoritas mufasir bermakna para petani atau penanam benih, karena akar kata kafara juga bermakna menutup atau menanam benih ke dalam tanah.
Ibnu Katsir sendiri menegaskan makna ini dalam tafsirnya[3]

وَقَوْلُهُ: (أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُ) أَيْ: يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ نَبَاتُ ذَٰلِكَ ٱلزَّرْعِ ٱلَّذِي نَبَتَ بِٱلْغَيْثِ

"Dan firman-Nya (aʻjaba al-kuffāra nabātuhū), artinya: menakjubkan para petani atas tanaman hasil tumbuhnya benih itu oleh sebab hujan."

Kesepakatan ini sekaligus mengandung sindiran bahwa yang paling terpesona dengan gemerlap dunia adalah mereka yang hatinya condong kepada kekufuran dan paling rakus terhadapnya.

ثُمَّ يَهِيجُ (kemudian menjadi kering): tanaman yang semula subur berubah kering dalam waktu singkat, menggambarkan betapa cepatnya masa keemasan hidup manusia, seperti masa muda, kekuatan, dan kejayaan, berubah menjadi kelemahan dan ketuaan.

فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا (kamu lihat menguning): perubahan warna dari hijau segar menjadi kuning pudar adalah tanda awal kerusakan, sebagaimana wajah dan tubuh manusia yang mulai menampakkan tanda-tanda penuaan.

ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا (kemudian menjadi hancur): tahap akhir tanaman yang remuk menjadi debu melambangkan kematian dan kefanaan total sebagai penutup siklus kehidupan dunia siapa pun.

Uraian makna per kata di atas sejalan dengan apa yang difirmankan Allah pada ayat lain:

c. Ayat Pendukung

Allah juga berfirman:

وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًۭا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَـٰحُ

Artinya: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi suburlah dengannya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin."

(QS. Al-Kahf [18]: 45)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas ayat yang dikaji melanjutkan penjelasan perumpamaan ini dengan mengaitkannya pada siklus hidup manusia[4]

هَكَذَا ٱلْحَيَاةُ ٱلدُّنْيَا تَكُونُ أَوَّلًا شَابَّةً، ثُمَّ تَكْتَهِلُ، ثُمَّ تَكُونُ عَجُوزًا شَوْهَاءَ، وَٱلْإِنْسَانُ كَذَلِكَ فِي أَوَّلِ عُمُرِهِ وَعُنْفُوَانِ شَبَابِهِ غَضًّا طَرِيًّا لَيِّنَ ٱلْأَعْطَافِ، بَهِيَّ ٱلْمَنْظَرِ، ثُمَّ إِنَّهُ يَشْرَعُ فِي ٱلْكُهُولَةِ، فَتَتَغَيَّرُ طِبَاعُهُ وَيَنْفَدُ بَعْضُ قُوَاهُ، ثُمَّ يَكْبَرُ فَيَصِيرُ شَيْخًا كَبِيرًا، ضَعِيفَ ٱلْقُوَى، قَلِيلَ ٱلْحَرَكَةِ، يُعْجِزُهُ ٱلشَّيْءُ ٱلْيَسِيرُ

"Demikianlah kehidupan dunia: pada mulanya seperti masa muda, kemudian memasuki usia paruh baya, lalu menjadi tua renta.
Manusia pun demikian: pada awal usianya dan puncak masa mudanya ia segar, lembut, dan elok dipandang; kemudian ia memasuki usia kematangan sehingga wataknya berubah dan sebagian kekuatannya berkurang; kemudian ia menua menjadi orang tua yang lemah kekuatannya, sedikit geraknya, hingga perkara ringan pun terasa berat baginya."

Ibnu Katsir menggunakan perumpamaan siklus tanaman dalam ayat yang dikaji untuk menjelaskan siklus hidup manusia itu sendiri, sejalan dengan perumpamaan serupa dalam Al-Kahf ayat 45.
Keduanya menegaskan bahwa kesegaran dan keindahan dunia, baik pada tumbuhan maupun manusia, tidak pernah bersifat permanen.
Sebagai gambaran konkret dari kandungan ayat tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

d. Hadits Pendukung

إِنَّ ٱلدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ ٱللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَٱتَّقُوا ٱلدُّنْيَا وَٱتَّقُوا ٱلنِّسَاءَ

Artinya: *"Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (menawan), dan Allah menjadikan kalian khalifah (pengelola) di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal.
Maka berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita."*

Perawi: HR. Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, no. 6948[5]

Kata hulwah khadirah (manis dan hijau) senada dengan gambaran ayat tentang tanaman yang mula-mula subur dan mempesona.
Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa daya tarik itu adalah ujian kekhalifahan, bukan tujuan, sehingga sikap waspada terhadap dunia menjadi kunci agar keindahan yang fana tidak melalaikan dari amal yang kekal.
Sebagai simpul dari kedua dalil tersebut, dapat dipahami bahwa kesegaran dan kejayaan duniawi, sebagaimana tanaman yang subur oleh hujan, hanyalah fase sementara dalam ujian kekhalifahan manusia yang pasti berujung pada kelayuan dan kefanaan.

e. Pelajaran dari Perkataan 2

Siklus subur-layu pada tanaman dalam perumpamaan ini mengingatkan bahwa setiap kejayaan duniawi manusia, baik usia muda, harta, maupun jabatan, pasti mengalami masa surut, sehingga kesadaran akan kefanaan itu semestinya melahirkan sikap syukur dan amal yang lebih giat, bukan keputusasaan.

Perkataan 3: Dua Nasib di Akhirat, Azab dan Ampunan

a. Teks dan makna

وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ عَذَابٌۭ شَدِيدٌۭ وَمَغْفِرَةٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌۭ

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya.

b. Penjelasan makna per kata (tafsir mufradat)

وَفِى ٱلْآخِرَةِ (dan di akhirat): frasa ini menjadi titik balik ayat, dari penggambaran kefanaan dunia beralih tegas kepada kepastian kehidupan akhirat yang kekal, menegaskan bahwa dunia bukanlah akhir dari perjalanan manusia.

عَذَابٌ شَدِيدٌ (azab yang keras): balasan bagi mereka yang terlena oleh lima daya tarik dunia sebagaimana disebut di awal ayat, tanpa mempersiapkan bekal akhirat.

وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ (ampunan dari Allah): rahmat Allah yang menghapus dosa-dosa hamba yang bertobat dan beramal saleh, menunjukkan bahwa pintu harapan tetap terbuka meski manusia pernah tergelincir dalam gemerlap dunia.

وَرِضْوَٰنٌ (dan keridaan): puncak kenikmatan akhirat yang melampaui kenikmatan surga itu sendiri, yaitu keridaan Allah kepada hamba-Nya, sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat lain:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةًۭ فِى جَنَّٰتِ عَدْنٍۢ ۚ وَرِضْوَٰنٌۭ مِّنَ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Artinya: *"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn.
Dan keridaan Allah lebih besar.
Itulah kemenangan yang agung."*

(QS. At-Taubah [9]: 72)

Dari pemaknaan per kata ini, dapat ditelusuri keterkaitannya dengan firman Allah berikut:

c. Ayat Pendukung

Pada ayat berikutnya dalam surah yang sama, Allah berfirman:

سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ

Artinya: "Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya."

(QS. Al-Hadid [57]: 21)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan dua nasib akhirat pada ayat 20 menjadi pijakan bagi seruan berikutnya[6]

فَلِهَذَا حَثَّهُ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُبَادَرَةِ إِلَى ٱلْخَيْرَاتِ، مِنْ فِعْلِ ٱلطَّاعَاتِ، وَتَرْكِ ٱلْمُحَرَّمَاتِ، ٱلَّتِي تُكَفِّرُ عَنْهُ ٱلذُّنُوبَ وَٱلزَّلَّاتِ، وَتُحَصِّلُ لَهُ ٱلثَّوَابَ وَٱلدَّرَجَاتِ

"Oleh karena itulah Allah mendorong hamba-Nya untuk bersegera kepada kebaikan, berupa menjalankan ketaatan dan meninggalkan larangan, yang dengannya dosa-dosa dan kekeliruan akan terhapus, serta pahala dan derajat akan diraih."

Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat yang tengah dikaji, dengan penyebutan dua nasib akhirat, secara langsung menjadi pijakan bagi seruan "berlombalah" pada ayat berikutnya.
Kesadaran akan adanya azab dan ampunan mendorong seorang mukmin untuk aktif mengejar sebab-sebab ampunan itu, bukan sekadar berharap secara pasif.
Makna kedekatan azab dan ampunan itu kemudian dijelaskan lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui haditsnya:

d. Hadits Pendukung

ٱلْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَىٰ أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَٱلنَّارُ مِثْلُ ذَٰلِكَ

Artinya: "Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya, begitu pula neraka."

Perawi: HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, no. 6488[7]

Hadits ini menegaskan makna "di akhirat ada azab yang keras dan ampunan" dalam ayat, bahwa jarak menuju surga maupun neraka sangatlah dekat, ditentukan oleh amal yang bisa saja menjadi amal terakhir sebelum ajal, sehingga tidak ada alasan untuk menunda kebaikan atau meremehkan dosa kecil.
Keduanya bermuara pada satu pesan inti, yaitu akhirat bukanlah sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan dekat dan nyata, menuntut kesungguhan setiap saat dalam meraih ampunan dan menjauhi sebab-sebab azab.

e. Pelajaran dari Perkataan 3

Dua kemungkinan nasib di akhirat, azab yang keras dan ampunan yang penuh rahmat, menuntun seorang mukmin untuk hidup dalam keseimbangan antara khauf (takut) dan raja' (harap), sekaligus mendorongnya bersegera dalam kebaikan selama kesempatan hidup di dunia masih terbentang.

Perkataan 4: Dunia Hanyalah Kesenangan yang Menipu

a. Teks dan makna

وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ

Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.

b. Penjelasan makna per kata (tafsir mufradat)

وَمَا ٱلْحَيَاةُ ٱلدُّنْيَا (dan tidaklah kehidupan dunia): bentuk penegasan dengan huruf nafi "ma" dan istitsna "illa" yang dalam kaidah bahasa Arab berfungsi sebagai qashr (pembatasan), menegaskan bahwa dunia hanya bernilai sebatas yang disebutkan sesudahnya, tidak lebih.

مَتَاعُ (kesenangan): sesuatu yang dimanfaatkan sementara waktu, bukan tujuan akhir; kata ini digunakan Al-Qur'an untuk hal-hal yang sifatnya sekali pakai dan segera habis.

ٱلْغُرُورِ (yang menipu): berasal dari akar kata gharra-yaghurru, bermakna memperdaya dengan tampilan luar yang menyembunyikan hakikat yang berbeda; sebagian mufasir menafsirkannya sebagai sifat dunia itu sendiri yang menipu, sebagian lain mengaitkannya dengan bisikan setan (al-gharur) yang menghiasi dunia di mata manusia.

Guna memperkuat pemahaman terhadap perkataan ini, Allah menegaskan pula:

c. Ayat Pendukung

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّۭ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلْغَرُورُ

Artinya: *"Wahai manusia!
Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah."*

(QS. Fatir [35]: 5)

Ibnu Katsir menjelaskan makna dunia yang dimaksud pada ayat ini[8]

ٱلْعَيْشَةُ ٱلدُّنِيَّةُ بِٱلنِّسْبَةِ إِلَىٰ مَا أَعَدَّ ٱللَّهُ لِأَوْلِيَائِهِ وَأَتْبَاعِ رُسُلِهِ مِنَ ٱلْخَيْرِ ٱلْعَظِيمِ، فَلَا تَتَلَهَّوْا عَنْ ذَٰلِكَ ٱلْبَاقِي بِهَٰذِهِ ٱلزَّهْرَةِ ٱلْفَانِيَةِ

"(Yang dimaksud dunia adalah) kehidupan yang rendah, jika dibandingkan dengan kebaikan besar yang telah Allah siapkan bagi para wali-Nya dan pengikut rasul-rasul-Nya.
Maka janganlah kalian terlalaikan dari kenikmatan abadi itu oleh kemilau dunia yang fana ini."

Ibnu Katsir menyebut dunia sebagai zahrah faniyah (kemilau yang fana), istilah yang senada dengan mata'ul ghurur pada ayat yang dikaji.
Keduanya menegaskan bahwa perbandingan nilai dunia dengan akhirat bukanlah perbandingan yang setara, melainkan perbandingan antara yang sementara dan yang abadi.
Prinsip yang terkandung dalam ayat pendukung di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

d. Hadits Pendukung

مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي ٱلْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ ٱلدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Artinya: "Tempat sebatang cambuk di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya."

Perawi: HR. Al-Bukhari dari Sahl bin Sa'd as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, no. 6415[9]

Hadits ini memberikan gambaran tegas tentang kerendahan nilai dunia; bahkan ruang seukuran cambuk di surga masih lebih bernilai daripada dunia beserta seluruh isinya.
Ini menjadi penegasan praktis atas makna mata'ul ghurur dalam ayat, bahwa betapapun besar dunia terlihat di mata manusia, ia tetap tidak sebanding dengan balasan akhirat.
Bertolak dari dalil Al-Qur'an dan hadits yang telah dipaparkan, tergambar jelas bahwa seluruh gemerlap dunia, sebesar apa pun ia tampak, hanyalah tipuan sesaat yang nilainya tak sebanding dengan balasan akhirat yang kekal.

e. Pelajaran dari Perkataan 4

Memahami dunia sebagai mata'ul ghurur mendorong seorang mukmin untuk menempatkan harta, jabatan, dan kesenangan duniawi sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebagai tujuan yang diperebutkan hingga melupakan hakikat yang lebih besar.

4. Faedah dan Penerapan

Faedah 1: Membangun Kesadaran Proporsional terhadap Harta dan Anak

Salah satu pelajaran terbesar dari ayat ini adalah peringatan terhadap وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ (berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan) yang hari ini banyak bertransformasi menjadi budaya pamer di media sosial: rumah yang lebih mewah, sekolah anak yang lebih bergengsi, liburan yang lebih eksklusif.
Dalam ekonomi rumah tangga muslim, kesadaran ini semestinya menuntun pada niat yang lurus dalam mencari nafkah dan mendidik anak, yaitu semata sebagai bentuk ibadah dan amanah, bukan demi validasi sosial.
Seorang pengusaha muslim yang memahami ayat ini akan tetap bekerja keras dan membangun usahanya, namun ia menata hatinya agar pencapaian tersebut tidak menjadi ajang kesombongan atau sumber gelisah ketika dibandingkan dengan pencapaian orang lain.

Hal ini pula yang menjawab persoalan masyarakat modern yang diangkat pada bagian Pembukaan: kelelahan batin akibat kompetisi gaya hidup sesungguhnya bersumber dari kekeliruan menempatkan dunia sebagai ukuran kehormatan diri, padahal Al-Qur'an telah menegaskan bahwa kehormatan sejati hanya diperoleh di sisi Allah.

Faedah 2: Menjadikan Kefanaan Dunia sebagai Bahan Bakar Amal

Kesadaran bahwa masa muda dan puncak karier pasti surut, sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan tanaman yang layu, semestinya mendorong seorang muslim untuk merencanakan masa depan secara matang, termasuk dalam aspek keuangan syariah.
Merencanakan dana pensiun berbasis syariah, membangun wakaf produktif, atau menanam amal jariyah lainnya adalah bentuk konkret dari kesadaran ini: harta yang dikumpulkan pada masa produktif diarahkan menjadi pahala yang terus mengalir meski fisik telah melemah, sehingga kefanaan justru menjadi pendorong amal, bukan sumber keputusasaan.

Faedah 3: Menghidupkan Keseimbangan Khauf dan Raja' dalam Bermuamalah

Kesadaran akan kedekatan azab dan ampunan sebagaimana dijelaskan pada Perkataan 3 semestinya diterapkan pula dalam praktik ekonomi sehari-hari.
Kehati-hatian terhadap transaksi yang mengandung riba, yaitu tambahan yang disyaratkan atas pokok pinjaman atau pertukaran barang ribawi secara tidak setara, dan gharar, yaitu ketidakjelasan objek atau ketentuan akad yang berpotensi merugikan salah satu pihak, lahir dari rasa khauf (takut) akan azab yang keras, sementara semangat memperbaiki diri melalui tobat, sedekah, dan akad yang lebih sesuai syariat lahir dari raja' (harap) akan ampunan dan keridaan Allah.
Keduanya harus berjalan beriringan agar seorang muslim tidak jatuh pada sikap putus asa maupun sikap meremehkan dosa dalam urusan harta.

Faedah 4: Urutan Harta Sebelum Anak sebagai Pola yang Disengaja

Menariknya, ayat ini menyebut kata al-amwal (harta) lebih dahulu daripada al-awlad (anak keturunan).
Susunan ini bukan kebetulan satu ayat, sebab pola yang sama secara konsisten diulang pada ayat-ayat lain yang menyandingkan harta dan anak, misalnya:

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَـٰدُكُمْ فِتْنَةٌۭ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌۭ

Artinya: "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."

(QS. Al-Anfal [8]: 28, senada pula dengan QS. At-Taghabun [64]: 15)

Konsistensi susunan al-amwal sebelum al-awlad di beberapa tempat dalam Al-Qur'an ini mengisyaratkan bahwa ujian harta lazimnya menjadi ujian yang paling mendasar dan paling dini dihadapi manusia dalam kehidupan ekonominya, sebelum ujian keturunan menyusul; pola linguistik yang berulang menunjukkan hal ini sengaja ditata, bukan kebetulan redaksional.
Implikasinya bagi keluarga muslim adalah pentingnya menata pengelolaan harta secara benar sejak awal, karena kekeliruan dalam cara memperoleh dan membelanjakan harta akan berdampak pula pada pola asuh dan nilai yang diwariskan kepada anak-anak di kemudian hari.

5. Penutup

Tadabbur Ayat dari Perspektif Akidah/Tauhid dan Akhlak Terhadap Allah

Ayat ini pada dasarnya mengajarkan bahwa nilai sejati suatu perkara diukur dari sudut pandang Allah, bukan dari pandangan dan hawa nafsu manusia.
Mengenal Allah sebagai satu-satunya Zat yang menetapkan dunia sebagai mata'ul ghurur, sekaligus sebagai pemberi mata'ul akhirah yang kekal, menumbuhkan sikap khauf, raja', dan muraqabah, yaitu hidup dengan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam mengelola dunia yang dititipkan kepada kita.
Akhlak terhadap Allah dalam konteks ini terwujud dalam sikap rendah hati atas capaian duniawi dan senantiasa mengembalikan segala keberhasilan kepada karunia-Nya, bukan kepada kehebatan diri sendiri.

Tadabbur Ayat dari Perspektif Pendidikan Keluarga

Karena ayat ini secara eksplisit menyebut harta dan anak sebagai dua objek perlombaan duniawi, ia menjadi rujukan penting bagi pendidikan keluarga muslim.
Orang tua perlu menanamkan pemahaman ini sejak dini kepada anak-anak, agar mereka tidak tumbuh dengan mentalitas berlomba memamerkan kepemilikan, melainkan memandang harta dan pencapaian sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Keteladanan orang tua dalam bersikap sederhana dan tidak berlebihan dalam gaya hidup menjadi kunci utama penanaman nilai ini.

Tadabbur Ayat dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

Dari sudut pandang ekonomi syariah, ayat ini menjadi landasan konsep zuhud fungsional, yaitu zuhud yang tidak berarti meninggalkan dunia secara fisik, melainkan menata niat dan cara memperolehnya agar selaras dengan syariat: bebas dari riba dan gharar, serta diniatkan sebagai wasilah menuju akhirat, bukan sebagai ghayah atau tujuan akhir.
Dalam kerangka maqasid syariah, kemaslahatan manusia dijaga melalui lima aspek pokok, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta; prinsip hifzhul mal (penjagaan harta) yang menjadi salah satu dari kelima aspek tersebut tidak dimaknai sebagai dorongan untuk menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya, melainkan untuk mengarahkan harta agar mendatangkan keberkahan dan kemaslahatan bersama.
Mekanisme zakat, infak, dan sedekah dalam fikih muamalah dapat dipahami sebagai sarana yang Allah syariatkan untuk melepaskan hati dari ketertautan berlebihan pada harta, sehingga seorang muslim terhindar dari fitnah takatsur yang diperingatkan dalam ayat ini, sekaligus menjadikan hartanya sebagai kendaraan menuju mata'ul akhirah yang kekal.

6. Tanya Jawab

P: Apakah memiliki harta yang banyak atau mendidik anak agar berprestasi termasuk yang dilarang dalam ayat ini?

J: Tidak.
Ayat ini tidak melarang seseorang memiliki harta atau membesarkan anak-anak yang berprestasi.
Yang diperingatkan adalah menjadikan keduanya sebagai ajang tafakhur (saling berbangga) dan takatsur (berlomba menumpuk), sebagaimana diuraikan pada Perkataan 1, sehingga harta dan anak menjadi tujuan hidup itu sendiri, bukan sarana ibadah.
Sebagaimana dijelaskan pada Faedah 1, kuncinya terletak pada niat dan cara memperoleh serta mengelolanya, bukan pada ada atau tidaknya harta dan keturunan.

P: Jika dunia hanyalah mata'ul ghurur, apakah itu berarti seorang muslim boleh bermalas-malasan dalam bekerja mencari nafkah?

J: Tidak demikian.
Sebagaimana ditegaskan pada Faedah 2, kesadaran akan kefanaan dunia justru semestinya menjadi bahan bakar amal, bukan alasan berpangku tangan.
Perumpamaan hujan dan tanaman pada Perkataan 2 mengajarkan bahwa masa produktif manusia terbatas, sehingga ia dituntut memanfaatkannya sebaik mungkin, termasuk bekerja dan berikhtiar mencari nafkah, namun dengan niat menjadikannya wasilah menuju akhirat, bukan tujuan akhir yang diperebutkan.

P: Mengapa ayat ini menyebut kata "harta" lebih dahulu daripada "anak", dan apakah susunan itu sekadar kebetulan redaksional?

J: Bukan kebetulan.
Sebagaimana diuraikan pada Faedah 4, susunan al-amwal sebelum al-awlad ini berulang secara konsisten pada beberapa ayat lain, seperti QS. Al-Anfal [8]: 28 dan QS. At-Taghabun [64]: 15, yang mengisyaratkan bahwa ujian harta lazimnya menjadi ujian yang lebih mendasar dan lebih dini dihadapi manusia dalam kehidupan ekonominya, sebelum ujian keturunan menyusul.
Oleh karena itu, keluarga muslim perlu menata pengelolaan harta secara benar sejak awal, karena kekeliruan dalam cara memperoleh dan membelanjakan harta akan berdampak pula pada nilai yang diwariskan kepada anak-anak.

P: Apa perbedaan antara khauf dan raja' yang disebut pada bagian Penutup, dan mengapa keduanya harus seimbang?

J: Khauf adalah rasa takut akan azab Allah yang keras, sedangkan raja' adalah harapan akan ampunan dan keridaan-Nya, sebagaimana keduanya terkandung dalam dua nasib akhirat pada Perkataan 3.
Keseimbangan antara keduanya penting agar seorang mukmin tidak jatuh pada keputusasaan karena terlalu takut, maupun pada keberanian berlebihan untuk berbuat dosa karena merasa terlalu aman dari azab.
Sikap inilah yang, sebagaimana dijelaskan pada Penutup bagian akidah, melahirkan muraqabah, yaitu kesadaran senantiasa diawasi oleh Allah dalam setiap urusan dunia, termasuk urusan harta.

7. Daftar Pustaka (Maraji')

Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Shahih al-Bukhari. Tahqiq Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir. Beirut: Dar Thuq an-Najah, 1422 H.

Ibnu Katsir, Isma'il bin 'Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah. Cet. ke-2. Riyadh: Dar Thayyibah, 1420 H/1999 M.

Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fu'ad 'Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyyah, 1955 M.


1 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20. 

2 Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2858. 

3 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20. 

4 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20. 

5 Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 6948. 

6 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Hadid [57]: 20. 

7 Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6488. 

8 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Fatir [35]: 5. 

9 Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6415. 

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.