Tafsir: Ketundukan Mutlak Kepada Sang Pencipta: Mengurai Misteri Kehidupan, Kematian, dan Pertanggungjawaban Finansial dalam QS. Al-Baqarah: 28

SERI TAFSIR TEMATIK DAN FIKIH MUAMALAH

Ketundukan Mutlak Kepada Sang Pencipta: Mengurai Misteri Kehidupan, Kematian, dan Pertanggungjawaban Finansial dalam QS. Al-Baqarah: 28

1. Pembukaan

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam ilusi kepemilikan mutlak dan independensi diri.
Kemajuan teknologi, akumulasi kekayaan, dan pencapaian status sosial kerap memicu kecenderungan materialistik yang mengikis rasa keterikatan jiwa kepada Sang Pencipta.
Banyak individu hidup seolah-olah dunia adalah muara akhir, sehingga mengabaikan batas-batas etika, norma syariat, serta kehalalan harta demi memuaskan ambisi egoistis.
Fenomena ingkar (kufur) terhadap nikmat Allah tidak hanya mewujud dalam bentuk penolakan akidah, tetapi juga dalam bentuk pembangkangan terhadap hukum-hukum Allah dalam tata kelola kehidupan dan ekonomi.

Surah Al-Baqarah ayat 28 hadir sebagai teguran retoris (istifham inkari) yang menghujam kesadaran terdalam manusia.
Ayat ini membedah hakikat eksistensi manusia melalui empat fase perjalanan hidup: tiada (mati), dihidupkan, dimatikan, dan dihidupkan kembali untuk dihisab.
Dengan memaparkan realitas objektif asal-usul dan muara akhir kehidupan, Al-Qur'an menawarkan penawar ampuh atas penyakit kesombongan, sekaligus meletakkan fondasi akidah yang kokoh agar manusia mengorientasikan seluruh aktivitasnya—termasuk dalam bertransaksi dan mengelola harta—semata-mata sebagai bentuk pertanggungjawaban di hadapan Allah Ta'ala.

2. Teks Ayat

Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 28:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?[1]

Referensi: QS. Al-Baqarah [2]: 28.[2]

Asbabun Nuzul: Ibnu Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang kafir Makkah atau kaum Yahudi yang mengingkari kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali manusia di hari kebangkitan[1].
Teguran ini dialamatkan kepada siapa saja yang mengingkari kekuasaan dan nikmat-Nya.

3. Penjelasan per Perkataan

Perkataan 1: كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ (Mengapa kamu kafir kepada Allah)

a. Teks dan makna

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِٱللَّهِ (Mengapa kamu kafir kepada Allah)[1].

b. Penjelasan makna per kata

Kata kaifa (كَيْفَ) di sini berfungsi sebagai istifham ta'ajjubi wa inkari (pertanyaan bernada keheranan dan penderitaan/keingkaran).
Allah tidak bertanya untuk meminta informasi, melainkan untuk menegur keanehan sikap manusia yang mengkufuri Sang Pencipta padahal bukti kekuasaan-Nya sangat nyata.
Takfuruna mengandung arti menutup diri dari kebenaran dan mengingkari nikmat-Nya.
Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah yang lain:

c. Ayat Pendukung

قُتِلَ ٱلْإِنسَٰنُ مَآ أَكْفَرَهُۥ

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya! (QS. 'Abasa [80]: 17).

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan:

هَذَا تَعَجُّبٌ مِنْ كُفْرِ الْإِنْسَانِ مَعَ وُضُوضِ الْآيَاتِ وَالدَّلَائِلِ

Ini merupakan ungkapan keheranan atas kekafiran manusia padahal bukti-bukti dan dalil-dalil sangatlah jelas.[2]

Ayat ini mempertegas betapa tidak logisnya sikap pembangkangan manusia terhadap pencipta-Nya.
Prinsip yang terkandung dalam ayat pendukung di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

d. Hadits Pendukung

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

تَعَسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ

Celakalah hamba dinar dan hamba dirham. (HR. Bukhari no. 2887, Sahih).

Hadits ini menunjukkan bentuk pengingkaran praktis di mana manusia mempertuhankan materi daripada Allah Ta'ala.
Dari keterpaduan ayat pendukung dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa keheranan Allah atas kekufuran manusia mencakup pengingkaran akidah maupun penghambaan diri pada materi.

e. Pelajaran dari Perkataan 1

Keingkaran kepada Allah—baik berupa penolakan iman maupun perbudakan materi—merupakan sikap tidak wajar yang menodai fitrah akal sehat manusia.

Perkataan 2: وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ (padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu)

a. Teks dan makna

وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ (padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu)[1].

b. Penjelasan makna per kata

Amwatan (أَمْوَٰتًا) bermakna keadaan ketiadaan sebelum ditiupkannya ruh (saat manusia masih berupa tanah/nutfah), sedangkan fa-ahyakum (فَأَحْيَٰكُمْ) adalah pemberian kehidupan di alam dunia.
Imam al-Qurthubi dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menyatakan bahwa amwatan menunjukkan keterbatasan dan ketidakmampuan mutlak manusia sebelum dihidupkan[3].
Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah yang lain:

c. Ayat Pendukung

هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al-Insan [76]: 1).

Imam at-Thabari dalam Jami' al-Bayan menerangkan:

كَانَ الْإِنْسَانُ عَدَمًا لاَ يُذْكَرُ حَتَّى خَلَقَهُ اللَّهُ

Manusia tadinya adalah ketiadaan yang tidak dinamai sampai Allah menciptakannya.[4]

Ayat ini menggarisbawahi bahwa asal manusia adalah ketiadaan yang tidak berdaya.
Prinsip yang terkandung dalam ayat pendukung di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

d. Hadits Pendukung

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari... (HR. Bukhari no. 3208 & Muslim no. 2643, Sahih).

Hadits ini merinci proses transisi dari ketiadaan/benda mati menjadi makhluk hidup.
Dari keterpaduan ayat pendukung dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa nikmat pertama manusia adalah nikmat penciptaan dari ketiadaan.

e. Pelajaran dari Perkataan 2

Kesadaran akan asal-usul diri dari ketiadaan menghancurkan benih kesombongan dan mewajibkan rasa syukur mutlak kepada Sang Pencipta.

Perkataan 3: ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ (kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali)

a. Teks dan makna

ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ (kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali)[1].

b. Penjelasan makna per kata

Kata tsumma (ثُمَّ) menunjukkan urutan dengan jeda waktu (tarakhi).
Yumitukum merujuk pada kematian di akhir ajal serta masa barzakh, lalu yuhyikum merujuk pada kebangkitan kembali di hari akhir (ba'ats).
Syaihk As-Sa'di menjelaskan bahwa fase ini menegaskan ketakberdayaan manusia untuk mengelak dari takdir kematian dan kebangkitan[5].
Untuk mendudukkan makna perkataan ini pada kerangka yang lebih luas, Allah berfirman pula:

c. Ayat Pendukung

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al-'Ankabut [29]: 57).

Jalaluddin al-Mahalli & As-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain menjelaskan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ فَلَا تَفُوتُهُ

Setiap jiwa pasti merasakan kematian dan tidak akan pernah bisa meloloskan diri darinya.[6]

Ayat ini mengunci kepastian batas akhir kehidupan duniawi.
Jika ayat tersebut meletakkan pondasi pada tataran prinsip, Rasulullah ﷺ mempertegasnya secara praktis dalam hadits berikut:

d. Hadits Pendukung

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ الْمَوْتَ

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (HR. Tirmidzi no. 2307, Sahih).

Hadits ini mendidik jiwa agar tidak tertipu oleh kefanaan dunia.
Dari keterpaduan ayat pendukung dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa kematian dan kebangkitan adalah kepastian yang menuntut persiapan bekal.

e. Pelajaran dari Perkataan 3

Kehidupan dunia bersifat sementara, dan siklus kematian serta kebangkitan adalah ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari oleh makhluk mana pun.

Perkataan 4: ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan)

a. Teks dan makna

ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan)[1].

b. Penjelasan makna per kata

Penggunaan struktur ilaihi turja'un mendahulukan jar majrur (ilaihi) memberikan faedah qashr (pembatasan/pengkhususan): "HANYA kepada-Nya kamu dikembalikan".
Pengembalian ini bertujuan untuk hisab dan pembalasan atas amal perbuatan.
Kedalaman makna yang terkandung dalam perkataan ini menemukan penguatnya dalam firman Allah:

c. Ayat Pendukung

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Imam al-Qurthubi menjelaskan:

تَأْكِيدٌ لِلْجَزَاءِ وَالْحِسَابِ عَلَى كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ

Penegasan tentang adanya balasan dan hisab atas seluruh perbuatan, baik yang kecil maupun yang besar.[3]

Ayat ini menerangkan detail pengembalian manusia di hari hisab.
Semangat yang sama digemakan kembali oleh Nabi ﷺ dalam riwayat berikut:

d. Hadits Pendukung

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ

Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal... tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. (HR. Tirmidzi no. 2417, Sahih).

Hadits ini secara eksplisit mengaitkan pengembalian diri kepada Allah dengan audit keuangan personal.
Bertolak dari dalil Al-Qur'an dan hadits yang telah dipaparkan, tergambar jelas bahwa puncak pengembalian manusia adalah pertanggungjawaban mutlak di hadapan Allah.

e. Pelajaran dari Perkataan 4

Puncak perjalanan eksistensi manusia adalah pengembalian mutlak kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan aset materi yang dikelola.

4. Faedah dan Penerapan

Faedah 1: Mengikis Kepadatan Ego dan Kesombongan Berbasis Kesadaran Asal-Usul

Memahami bahwa manusia tadinya mati lalu Allah menghidupkannya (وَكُنتُمْ أَمْوَٰتًا فَأَحْيَٰكُمْ)[1] merupakan terapi psikologis-spiritual utama terhadap penyakit sombong.
Ketika seorang pebisnis, pejabat, atau akademisi menyadari bahwa keberadaannya berawal dari ketiadaan yang tak berdaya, tidak ada ruang untuk merasa paling berkuasa.
Contoh penerapannya adalah dengan senantiasa bertawadhu dalam kepemimpinan, tidak meremehkan sesama, dan mengakui bahwa segala keahlian atau kekayaan adalah murni anugerah Allah, bukan semata-mata hasil kehebatan pribadi.

Faedah 2: Menjadikan Kematian sebagai Orientasi Kontrol Diri dan Etika Bisnis

Rangkaian takdir kematian dan kebangkitan (ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ)[1] menegaskan bahwa seluruh pencapaian duniawi memiliki batas kadaluarsa.
Dalam konteks ekonomi, kesadaran ini menuntut diterapkannya kontrol diri yang ketat agar tidak melakukan manipulasi, penipuan, atau kecurangan demi keuntungan jangka pendek.
Penerapan praktisnya: pelaku usaha memilih untuk meninggalkan transaksi yang mengandung gharar atau riba, sebab ia yakin harta hasil kecurangan tidak akan mampu menyelamatkannya saat nyawa dicabut dan dibangkitkan kelak.

Faedah 3: Penerapan Akuntabilitas Keuangan Berbasis Kesadaran Hari Pengembalian

Penegasan bahwa manusia akan dikembalikan kepada Allah (ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ)[1] melahirkan konsep akuntabilitas hakiki.
Di dunia, seseorang mungkin bisa meloloskan diri dari audit pajak atau pemeriksaan akuntan publik melalui celah hukum; namun di hadapan Allah, seluruh catatan transaksi akan dibuka secara presisi.
Penerapan praktisnya adalah menyusun laporan keuangan secara jujur, membayar zakat dan pajak tepat waktu, serta memastikan aliran pendapatan bersih dari syubhat dan haram.

5. Penutup

Tadabbur Ayat dari Perspektif Akidah/Tauhid dan Akhlak Terhadap Allah

Surah Al-Baqarah ayat 28 meletakkan pondasi Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah secara bersamaan.
Allah membuktikan hak-Nya untuk diibadahi secara mutlak lewat bukti kepemilikan-Nya atas siklus kehidupan manusia.
Akhlak manusia terhadap Allah dituntut dalam bentuk ketundukan penuh, kepatuhan tanpa syarat, dan pengakuan akan kemahakuasaan Allah atas setiap helai napas yang ditiupkan dan dicabut dari jasad manusia.

Tadabbur Ayat dari Perspektif Psikologi Perkembangan Jiwa

Siklus empat tahap dalam ayat ini merefleksikan fase kedewasaan spiritual manusia.
Jiwa yang sehat akan mengalami transformasi dari ketidaktahuan (amwatan), kesadaran eksistensial (ahyakum), kewaspadaan akan krisis masa depan (yumitukum), hingga pencapaian kepasrahan penuh menuju keabadian (turja'un).
Pemahaman ini mencegah terjadinya existential vacuum (kehampaan makna hidup) dan depresi akibat kekecewaan duniawi.

Tadabbur Ayat dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

Dari sudut pandang ekonomi syariah dan fikih muamalah, ayat ini menegaskan prinsip kepemilikan mutlak di bawah naungan kepemilikan hakiki Allah (Al-Malik).
Manusia hanyalah pemegang amanah (mustakhlaf).
Prinsip ini membingkai psikologi pebisnis dengan muraqabah (kesadaran diawasi Allah) dan khauf (rasa takut akan dosa).
Penguasaan atas harta tidak boleh melanggar prinsip keadilan.
Setiap akad muamalah, baik murabahah, mudharabah, maupun ijarah, harus diposisikan sebagai persiapan bekal audit syariah saat manusia dikembalikan kepada-Nya (ilaihi turja'un).

6. Tanya Jawab Pendalaman

P: Mengapa Allah menggunakan redaksi "kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali" (ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ) menggunakan kata sambung tsumma, padahal kematian dunia ke alam barzakh terkesan sangat dekat?[1]

J: Kata tsumma (ثُمَّ) dalam bahasa Arab memberikan faedah at-tarakhi (adanya jeda waktu atau tahapan yang memiliki jarak/bobot signifikan).
Kematian menuju alam barzakh hingga hari kebangkitan melibatkan fase panjang perjalanan ruh, kehidupan alam kubur, hingga ditiupnya sangkakala kedua.
Penggunaan tsumma memberikan peringatan bagi manusia bahwa ada ruang dan kesempatan di dunia ini untuk mempersiapkan bekal sebelum fase kebangkitan yang teramat dahsyat tersebut terjadi.

P: Bagaimana mengimplementasikan kesadaran pengembalian harta di hari kiamat (ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ) dalam profesi seorang akuntan atau auditor keuangan?[1]

J: Seorang akuntan atau auditor yang menjiwai ayat ini akan memandang lembar kerja auditnya sebagai bagian dari saksi di hari perhitungan (yaumul hisab).
Kesadaran bahwa seluruh aset akan dipertanyakan asal-usul dan penggunaannya (sebagaimana HR. Tirmidzi no. 2417) mendorongnya untuk bersikap objektif, menolak suap, mematuhi standar akuntansi syariah, dan menolak merekayasa laporan keuangan (creative accounting yang menyesatkan), karena takut akan ancaman pertanggungjawaban di hadapan Allah.

7. Catatan Akhir


1 Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an (Kairo: Dar Hijr, 2001), Vol. 1, hlm. 412. 

2 Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), Vol. 1, hlm. 210. 

3 Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006), Vol. 1, hlm. 385. 

4 At-Thabari, Op. Cit., Vol. 24, hlm. 91. 

5 Abdurrahman bin Nasir as-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2000), hlm. 48. 

6 Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain (Kairo: Dar al-Hadith, 2001), hlm. 402. 

8. Daftar Pustaka (Maraji')

Al-Mahalli, Jalaluddin & As-Suyuthi, Jalaluddin. (2001). Tafsir al-Jalalain. Kairo: Dar al-Hadith.

Al-Qurthubi, Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad. (2006). Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-Risalah.

As-Sa'di, Abdurrahman bin Nasir. (2000). Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Beirut: Muassasah al-Risalah.

At-Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir. (2001). Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an. Kairo: Dar Hijr.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (1999). Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah.

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.