Tafsir: Ketika Bumi Menjadi Nikmat, Amanah, Dan Bukti Kekuasaan Allah: Tadabbur QS. Al-Baqarah Ayat 29
Ketika Bumi Menjadi Nikmat, Amanah, Dan Bukti Kekuasaan Allah: Tadabbur QS. Al-Baqarah Ayat 29
Kajian Tadabbur Al-Qur'an
1. Pembukaan
Manusia hidup di tengah limpahan nikmat yang luar biasa: tanah yang menjadi tempat berpijak, air yang menopang kehidupan, tumbuh-tumbuhan yang menyediakan makanan, hewan yang memberikan berbagai manfaat, serta berbagai sumber daya alam yang memungkinkan manusia membangun peradaban. Namun, kemajuan tersebut sering membuat manusia lupa terhadap sumber seluruh nikmat itu. Kekayaan dipandang sebagai hasil kemampuan pribadi semata, alam dianggap sebagai objek eksploitasi tanpa batas, dan kepemilikan harta terkadang dipahami sebagai kebebasan mutlak untuk melakukan apa saja terhadapnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika kemajuan ekonomi dan teknologi tidak selalu diiringi kesadaran spiritual. Manusia dapat memperoleh keuntungan melalui cara yang merugikan orang lain, mengembangkan sumber daya dengan merusak lingkungan, atau menggunakan harta tanpa mempertimbangkan halal dan haram.
QS. Al-Baqarah ayat 29 memberikan kerangka pandang yang sangat mendasar: Allah adalah Pencipta, bumi adalah nikmat yang disediakan-Nya, manusia adalah penerima manfaat sekaligus pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban, dan seluruh aktivitas manusia berada dalam ilmu Allah.
Dengan demikian, ayat ini bukan hanya berbicara tentang penciptaan bumi dan langit, tetapi juga membangun cara pandang tauhid terhadap kehidupan, kepemilikan, pemanfaatan sumber daya, dan tanggung jawab manusia.
2. Teks Ayat
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
QS. Al-Baqarah [2]: 29
“Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Konteks Ayat
QS. Al-Baqarah ayat 29 berada dalam rangkaian yang sangat kuat. Ayat 28 berbicara tentang manusia yang semula mati kemudian dihidupkan, dimatikan, dihidupkan kembali, dan dikembalikan kepada Allah. Ayat 29 kemudian mengarahkan perhatian manusia kepada bumi dan langit. Ayat 30 setelahnya berbicara tentang penciptaan Adam dan amanah kekhalifahan di bumi.
Dengan demikian, rangkaian tersebut dapat dibaca sebagai berikut:
Allah menciptakan manusia → Allah menyediakan bumi bagi manusia → Allah menciptakan dan menyempurnakan langit → manusia diberi amanah di bumi → manusia akan kembali kepada Allah.
Tafsir Ringkas Kementerian Agama juga menghubungkan ayat ini dengan pembahasan tentang manusia dan asal-muasal kekufuran manusia dalam konteks kisah Adam.
Tidak ditemukan riwayat asbabun nuzul khusus yang sahih dan masyhur yang perlu dijadikan dasar utama untuk ayat ini. Karena itu, konteks ayat lebih tepat dipahami melalui hubungan antarayat.
3. Penjelasan per Perkataan
Perkataan 1: هُوَ ٱلَّذِى
a. Teks dan makna
هُوَ ٱلَّذِى
“Dialah yang...”
b. Penjelasan makna
Ayat dibuka dengan penunjukan langsung kepada Allah sebagai pelaku penciptaan. Perhatian manusia tidak diarahkan berhenti pada benda-benda yang diciptakan, tetapi kepada Zat yang menciptakannya.
Dalam konteks ayat, bumi, langit, dan seluruh yang berada di dalamnya merupakan tanda kekuasaan Allah. Karena itu, perenungan terhadap alam seharusnya berakhir pada pengenalan terhadap Penciptanya.
c. Ayat Pendukung
أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Ingatlah, segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”
QS. Al-A'raf [7]: 54.
d. Hadis Pendukung
Dalam pembahasan ini tidak diperlukan hadis khusus yang dipaksakan untuk menjelaskan kata هُوَ ٱلَّذِى. Dalil Al-Qur'an telah cukup jelas menunjukkan Allah sebagai Pencipta dan Penguasa seluruh alam.
e. Pelajaran
Perkataan 2: خَلَقَ
a. Teks dan makna
خَلَقَ
“Dia menciptakan.”
b. Penjelasan makna
Kata خَلَقَ menunjukkan tindakan penciptaan Allah. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa khalq berkaitan dengan mengadakan dan mewujudkan sesuatu setelah sebelumnya tidak ada.
Ibnu Katsir juga menempatkan penciptaan bumi dan langit sebagai bukti yang dapat disaksikan manusia tentang kekuasaan Allah.
c. Ayat Pendukung
ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ
“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
QS. Az-Zumar [39]: 62.
e. Pelajaran
Perkataan 3: لَكُمْ
a. Teks dan makna
لَكُمْ
“Untukmu.”
b. Penjelasan makna
Frasa خَلَقَ لَكُمْ menunjukkan adanya manfaat yang Allah sediakan bagi manusia. Berbagai ciptaan di bumi dapat memberikan manfaat kepada manusia.
Namun, kata لَكُمْ tidak boleh diubah menjadi konsep kepemilikan mutlak. Manusia memperoleh hak pemanfaatan dan kepemilikan yang diakui syariat, sedangkan Allah tetap Pemilik hakiki seluruh alam.
c. Ayat Pendukung
وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِىٓ ءَاتَىٰكُمْ
“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang Dia karuniakan kepada kalian.”
QS. An-Nur [24]: 33.
d. Hadis Pendukung
إِنَّ ٱلدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ ٱللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal.”
HR. Muslim no. 2742.
e. Pelajaran
Perkataan 4: مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Segala yang ada di bumi semuanya.”
Ungkapan ini menunjukkan keluasan cakupan ciptaan yang Allah sediakan bagi manusia.
Tafsir Al-Madinah menyebut bumi sebagai tempat berbagai kenikmatan yang dapat dimanfaatkan manusia. Al-Mukhtashar memberikan contoh sungai dan pepohonan serta berbagai ciptaan yang tidak terhitung. Al-Wajiz menyebut hewan, tumbuhan, benda mati, dan lainnya. Tafsir As-Sa'di menekankan bahwa ciptaan tersebut dapat dimanfaatkan, dinikmati, dan dijadikan pelajaran.
Al-Baghawi menyebut dua orientasi manfaat dari ciptaan bumi:
لِكَيْ تَعْتَبِرُوا وَتَسْتَدِلُّوا وَقِيلَ لِكَيْ تَنْتَفِعُوا
“Agar kalian mengambil pelajaran dan menjadikannya dalil; dan dikatakan pula, agar kalian mengambil manfaat.”
Ayat Pendukung
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya.”
QS. Al-Jatsiyah [45]: 13.
Hadis Pendukung
إِنَّ ٱللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
HR. Muslim.
Pelajaran
Perkataan 5: ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ إِلَى ٱلسَّمَاءِ
ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ إِلَى ٱلسَّمَاءِ
“Kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit.”
Bagian ini termasuk bagian yang memerlukan ketelitian dalam penafsiran.
Ath-Thabari mencatat adanya perbedaan pendapat tentang makna ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ. Salah satu penjelasan yang beliau nukil adalah:
أَقْبَلَ عَلَيْهَا
“Dia mengarah kepadanya.”
Al-Baghawi juga mencatat beberapa arah penafsiran. Beliau menyebut pendapat Ibnu Abbas dan mayoritas mufasir salaf:
أَيْ ارْتَفَعَ إِلَى السَّمَاءِ
“Maksudnya adalah Dia tinggi menuju langit.”
Beliau juga menyebut pendapat yang memaknainya sebagai:
أَيْ أَقْبَلَ عَلَى خَلْقِ السَّمَاءِ
“Maksudnya adalah Dia mengarahkan perhatian kepada penciptaan langit.”
Ibnu Katsir menjelaskan konteks bahasa dengan mengatakan bahwa istiwa' dalam ayat ini mengandung makna menuju dan mengarah karena digunakan bersama kata إِلَى.
Ayat Pendukung
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
QS. Asy-Syura [42]: 11.
Pelajaran
Perkataan 6: فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ
فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ
“Lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit.”
Allah menjelaskan bahwa langit disempurnakan menjadi tujuh langit.
Al-Muyassar, Al-Madinah, Al-Mukhtashar, Ash-Shaghir, Al-Wajiz, Al-Baghawi, dan Ibnu Katsir sama-sama menegaskan penciptaan tujuh langit.
Al-Baghawi menjelaskan:
خَلَقَهُنَّ مُسْتَوِيَاتٍ لَا فُطُورَ فِيهَا وَلَا صَدْعَ
“Dia menciptakan langit-langit itu dalam keadaan sempurna, tidak terdapat keretakan dan tidak terdapat celah padanya.”
Ayat Pendukung
ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ٱئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَآ أَتَيْنَا طَآئِعِينَ
“Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan patuh.’”
QS. Fussilat [41]: 11.
Pelajaran
Perkataan 7: وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ayat ditutup dengan penegasan sifat Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui.
Ibnu Katsir menjelaskan:
وَعِلْمُهُ مُحِيطٌ بِجَمِيعِ مَا خَلَقَ
“Ilmu-Nya meliputi seluruh apa yang Dia ciptakan.”
Ayat Pendukung
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
“Apakah pantas Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.”
QS. Al-Mulk [67]: 14.
Hadis Pendukung
أَنْ تَعْبُدَ ٱللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
HR. Muslim.
Pelajaran
4. Faedah dan Penerapan
Faedah 1: Alam Semesta Mengantarkan Manusia kepada Tauhid
QS. Al-Baqarah ayat 29 tidak mengajarkan manusia untuk berhenti pada kekaguman terhadap alam. Alam harus mengantarkan manusia kepada Penciptanya.
Semakin manusia memahami keteraturan ciptaan, seharusnya semakin kuat kesadarannya tentang ilmu, kekuasaan, dan hikmah Allah.
Faedah 2: Nikmat Bumi adalah Pemberian Allah
Frasa لَكُمْ mengingatkan bahwa berbagai manfaat bumi adalah karunia Allah.
Manusia memang bekerja, berusaha, meneliti, dan mengembangkan teknologi. Namun, semua itu menggunakan bahan dasar, kemampuan akal, hukum alam, dan sumber daya yang tidak diciptakan manusia dari ketiadaan.
Faedah 3: Hukum Asal Benda Tidak Sama dengan Kebolehan Semua Cara Pemanfaatannya
As-Sa'di dan Hidayatul Insan mengambil dari ayat ini kaidah:
الأَصْلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ وَالطَّهَارَةُ
“Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci.”
Namun, kaidah ini harus diterapkan secara tepat.
- Tanah pada asalnya boleh dimiliki, tetapi merampas tanah orang lain haram.
- Uang pada asalnya boleh digunakan, tetapi memperoleh uang melalui riba haram.
- Teknologi pada asalnya dapat digunakan, tetapi penggunaannya untuk penipuan atau perjudian dapat menjadi haram.
- Barang halal dapat diperjualbelikan, tetapi transaksi yang mengandung penipuan, kezaliman, atau unsur yang dilarang syariat tidak menjadi halal hanya karena objek barangnya halal.
Maka perlu dibedakan antara hukum asal benda dan hukum cara memperoleh serta memanfaatkannya.
Faedah 4: “Diciptakan untuk Kalian” Bukan Berarti “Terserah Kalian”
Frasa خَلَقَ لَكُمْ tidak dapat dijadikan alasan untuk mengeksploitasi bumi tanpa batas.
Allah berfirman:
وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
QS. Al-Qashash [28]: 77.
Karena itu, aktivitas ekonomi harus memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.
Faedah 5: Dunia adalah Nikmat Sekaligus Ujian
Rasulullah ﷺ menyebut dunia sebagai:
حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ
“Manis dan hijau.”
Namun hadis yang sama mengingatkan bahwa manusia ditempatkan di dunia untuk diuji bagaimana ia beramal.
Faedah 6: Kekayaan adalah Amanah
Jika Allah adalah Pemilik hakiki, maka manusia adalah pihak yang menerima amanah.
Kesadaran ini melahirkan kewajiban membayar zakat, menunaikan nafkah, memenuhi akad, membayar utang, menjaga amanah, dan menghindari pengambilan hak orang lain.
Faedah 7: Kemajuan Ekonomi Harus Berjalan Bersama Moral
Islam tidak melarang manusia menjadi kaya.
Islam tidak melarang perdagangan.
Islam tidak melarang inovasi.
Islam tidak melarang pembangunan.
Namun, semua aktivitas tersebut harus tunduk kepada halal dan haram.
Faedah 8: Ilmu Allah Melahirkan Integritas
Penutup ayat:
وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
mengubah cara manusia memandang perilakunya.
Seorang pedagang tidak menipu meskipun pembeli tidak mengetahui.
Seorang pengusaha tidak memanipulasi laporan meskipun pemeriksa tidak menemukan.
Seorang pengelola dana umat tidak menggunakan dana amanah untuk kepentingan pribadi meskipun tidak ada manusia yang melihat.
Mengapa?
Karena Allah mengetahui segala sesuatu.
Faedah 9: Bumi adalah Ruang Ibadah, Bukan Sekadar Ruang Ekonomi
Manusia dapat beribadah melalui aktivitas ekonomi.
- Bekerja untuk memenuhi nafkah keluarga dapat menjadi ibadah.
- Berdagang dengan jujur dapat menjadi ibadah.
- Mengembangkan teknologi untuk kemaslahatan dapat menjadi ibadah.
- Mengelola sumber daya secara bertanggung jawab dapat menjadi ibadah.
Faedah 10: Manusia Harus Menggabungkan Istifādah dan I'tibār
Al-Baghawi menyebut dua dimensi dalam pemanfaatan bumi: mengambil manfaat dan mengambil pelajaran.
Manusia tidak cukup mengambil istifādah atau manfaat dari alam. Ia juga harus mengambil i'tibār, yaitu pelajaran.
Air bukan hanya untuk diminum, tetapi mengingatkan kepada Pemberi air.
Tanah bukan hanya untuk dibangun, tetapi mengingatkan asal penciptaan manusia.
Langit bukan hanya untuk diamati, tetapi menjadi tanda kebesaran Allah.
5. Penutup
Tadabbur dari Perspektif Akidah/Tauhid dan Akhlak Terhadap Allah
QS. Al-Baqarah ayat 29 membangun cara pandang tauhid terhadap seluruh alam.
Bumi bukan Tuhan.
Langit bukan Tuhan.
Harta bukan Tuhan.
Teknologi bukan Tuhan.
Kekuasaan bukan Tuhan.
Semuanya adalah ciptaan Allah.
Allah adalah Pencipta dan Pemilik hakiki.
melihat ciptaan → menyadari nikmat → mengenal Pencipta → bersyukur → menjaga amanah → menaati syariat
Tadabbur dari Perspektif Kekhalifahan dan Tanggung Jawab Sosial
Manusia memperoleh ruang luas untuk memanfaatkan bumi, tetapi pemanfaatan tersebut harus dipertanggungjawabkan.
Hak kepemilikan harus berjalan bersama kewajiban.
Kekayaan harus berjalan bersama amanah.
Kekuasaan harus berjalan bersama keadilan.
Ilmu harus berjalan bersama kemaslahatan.
Teknologi harus berjalan bersama moral.
Tadabbur dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah
QS. Al-Baqarah ayat 29 bukan ayat yang secara langsung menjelaskan akad murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, wakaf, zakat, atau instrumen keuangan tertentu.
Namun, ayat ini memberikan fondasi pandangan dunia bagi ekonomi syariah.
Allah adalah Pemilik → manusia menerima amanah → bumi disediakan untuk kemaslahatan → manusia boleh memanfaatkan → pemanfaatan dibatasi syariat → harta harus dikelola secara bertanggung jawab → semua akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Karena itu, prinsip yang dapat dirumuskan adalah:
Kepemilikan memberikan hak, tetapi tauhid memberikan batas.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:
“Berapa banyak bumi yang berhasil saya kuasai?”
Melainkan:
“Apakah cara saya memanfaatkan apa yang Allah ciptakan untuk saya membuat Allah ridha kepada saya?”
Sebab seluruh aktivitas manusia berada dalam ilmu Allah:
وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
“Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Tidak ada keuntungan yang tersembunyi dari-Nya.
Tidak ada transaksi yang tersembunyi dari-Nya.
Tidak ada kezaliman yang tersembunyi dari-Nya.
Tidak ada amanah yang tersembunyi dari-Nya.
Tidak ada penggunaan nikmat Allah yang luput dari pengetahuan-Nya.
Bumi yang Allah ciptakan untuk manusia bukan hanya tempat menikmati kehidupan, tetapi tempat membuktikan ketaatan kepada-Nya.
6. Tanya Jawab
Apakah QS. Al-Baqarah ayat 29 berarti semua yang ada di bumi halal digunakan?
Jawab: Tidak secara mutlak. Ayat menunjukkan bahwa Allah menciptakan berbagai hal di bumi untuk kemanfaatan manusia. Dari ayat tersebut, As-Sa'di dan Hidayatul Insan mengambil kaidah bahwa hukum asal benda adalah boleh dan suci. Namun, benda yang secara khusus diharamkan syariat, atau pemanfaatan yang menimbulkan bahaya dan kezaliman, tidak otomatis menjadi halal.
Apakah manusia menjadi pemilik mutlak bumi?
Jawab: Tidak. Manusia memiliki hak kepemilikan dan pemanfaatan yang diakui syariat, tetapi Allah tetap Pemilik hakiki. Karena itu, kepemilikan manusia dibatasi oleh syariat serta hak Allah dan hak manusia lainnya.
Apakah ayat ini membolehkan eksploitasi sumber daya alam?
Jawab: Ayat memberikan dasar bahwa manusia boleh mengambil manfaat dari ciptaan Allah. Namun, pemanfaatan tersebut tidak boleh berubah menjadi kerusakan. Karena itu, eksploitasi yang menimbulkan kezaliman dan kerusakan tidak dapat dibenarkan hanya dengan alasan keuntungan.
Apakah semua inovasi ekonomi otomatis halal karena hukum asal benda adalah boleh?
Jawab: Tidak. Hukum asal benda tidak sama dengan hukum transaksi. Teknologi dapat halal sebagai benda atau alat, tetapi penggunaannya dalam penipuan, perjudian, riba, atau kezaliman tetap dapat menjadi haram.
Mengapa Allah menyebut ilmu-Nya setelah menyebut penciptaan bumi dan langit?
Jawab: Karena penciptaan merupakan tanda ilmu, hikmah, dan kekuasaan Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ilmu Allah meliputi seluruh ciptaan-Nya.
Apa hubungan ayat ini dengan ekonomi syariah?
Jawab: Hubungannya bersifat fondasional. Ayat memberikan pandangan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemilik, sedangkan manusia menerima amanah untuk memanfaatkan bumi. Dari fondasi tersebut lahir tuntutan agar aktivitas ekonomi dilakukan secara halal, adil, maslahat, dan bertanggung jawab.
Apakah pembahasan tujuh langit harus dipaksakan sesuai teori sains modern?
Jawab: Tidak. Ayat merupakan berita wahyu tentang penciptaan. Kajian ilmiah dapat membantu manusia memahami alam, tetapi tafsir tidak seharusnya dipaksakan mengikuti teori ilmiah yang masih berubah. Yang pasti dari ayat adalah penegasan penciptaan dan penyempurnaan tujuh langit.
Apakah QS. Al-Baqarah ayat 29 bertentangan dengan QS. An-Nazi'at ayat 27–32?
Jawab: Tidak harus demikian. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara penciptaan bumi dan proses dahw, yaitu penghamparan dan penyempurnaan bumi dengan keluarnya air, tumbuhan, serta penetapan gunung.
Apakah hadis tentang penciptaan bumi pada hari Sabtu boleh dijadikan dalil dalam kajian ini?
Jawab: Tidak sebaiknya dijadikan dalil utama. Ibnu Katsir memang menyebut riwayat tersebut ketika menafsirkan ayat ini, tetapi beliau juga mencatat kritik sejumlah ahli hadis terhadap status hadis tersebut. Karena itu, untuk kajian ini lebih aman menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an yang jelas, khususnya QS. Fussilat 9–12.
7. Maraji' dan Daftar Pustaka
- Al-Baghawi, Al-Husain bin Mas'ud. Ma'alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an.
- Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.
- As-Sa'di, Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan.
- Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an.
- Ibnu Katsir, Isma'il bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azim.
- Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur'an dan Tafsir Ringkas Kementerian Agama Republik Indonesia.
- Al-Muyassar. Tafsir Al-Muyassar.
- Al-Madinah Al-Munawwarah. Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah.
- Al-Mukhtashar. Al-Mukhtashar fi Tafsir al-Qur'an al-Karim.
- Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-'Aziz.
- Ash-Shaghir. Tafsir Ash-Shaghir.
- An-Nafahat Al-Makkiyah. An-Nafahat Al-Makkiyah fi Tafsir al-Qur'an.
- Hidayatul Insan. Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an.
Catatan: Untuk publikasi ilmiah, data kota penerbit, penerbit, tahun edisi, dan nomor halaman setiap kitab sebaiknya disesuaikan dengan edisi kitab yang benar-benar digunakan.