Tafsir: Ketika Tantangan Al-Qur’an Berujung Pada Peringatan Neraka - Tadabbur QS Al-Baqarah Ayat 24

KAJIAN TADABBUR AL-QUR’AN

KETIKA TANTANGAN AL-QUR’AN BERUJUNG PADA PERINGATAN NERAKA: TADABBUR QS AL-BAQARAH AYAT 24

1. Pembukaan

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk memperoleh ketenangan batin, tetapi wahyu Allah yang mengajukan tuntutan serius kepada manusia: beriman, menerima kebenaran, dan menjadikan petunjuk-Nya sebagai pedoman hidup.
Namun, manusia sering kali menghadapi Al-Qur’an dengan sikap yang beragam.
Ada yang membacanya tetapi tidak menjadikannya pedoman, ada yang mengaguminya tetapi tidak tunduk kepada hukumnya, bahkan ada yang mempertanyakan sumber dan kebenarannya.

QS Al-Baqarah ayat 24 hadir dalam konteks yang sangat kuat.
Ayat sebelumnya memberikan tantangan kepada orang-orang yang meragukan Al-Qur’an agar menghadirkan satu surah yang semisal dengannya.
Ayat 24 kemudian menyatakan bahwa tantangan tersebut tidak akan mampu mereka jawab.
Yang menarik, Allah tidak berhenti pada pembuktian ketidakmampuan manusia.
Setelah tantangan itu, Allah mengarahkan manusia kepada konsekuensi moral dan spiritual: “maka jagalah dirimu dari neraka.”
Dengan demikian, ayat ini menghubungkan tiga hal sekaligus: kemukjizatan Al-Qur’an, kewajiban menerima kebenaran, dan tanggung jawab manusia terhadap keselamatan dirinya.

2. Teks Ayat

Allah Ta‘ala berfirman:

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ

“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

QS Al-Baqarah [2]:24.

Ayat ini merupakan kelanjutan langsung dari tantangan pada ayat 23 agar orang-orang yang meragukan Al-Qur’an menghadirkan satu surah yang semisal dengannya.

Tidak ditemukan riwayat sahih yang secara tegas menetapkan satu peristiwa tunggal sebagai sebab turunnya ayat 24.
Karena itu, pembahasan ayat ini diletakkan pada konteks rangkaian ayat 23–24 dan penjelasan para mufasir.

3. Penjelasan per Perkataan

Perkataan 1: فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟

“Maka jika kamu tidak melakukannya.”

Yang dimaksud dengan tindakan tersebut adalah memenuhi tantangan pada ayat sebelumnya, yaitu menghadirkan satu surah yang semisal dengan Al-Qur’an.

Ath-Thabari menjelaskan bahwa maksudnya adalah tidak mampu mendatangkan satu surah yang semisal dengan Al-Qur’an.

Pemaknaan tersebut semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah:

قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.’”

QS Al-Isra’ [17]:88.

Ath-Thabari menjelaskan bahwa manusia dan jin tidak akan mampu menghadirkan sesuatu yang serupa dengan Al-Qur’an, sekalipun saling membantu.

Prinsip tersebut ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ:

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ

“Tidaklah seorang nabi dari para nabi kecuali diberi mukjizat yang membuat manusia beriman kepadanya. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku.”

HR Al-Bukhari, no. 4981; hadis sahih.

Pelajaran dari Perkataan 1: Ketidakmampuan manusia memenuhi tantangan Al-Qur’an merupakan bagian dari bukti kemukjizatan wahyu Allah.

Perkataan 2: وَلَن تَفْعَلُوا۟

وَلَن تَفْعَلُوا۟

“Dan kamu pasti tidak akan dapat melakukannya.”

Ungkapan ini memberikan penegasan yang lebih kuat.
Bukan hanya “kalian belum berhasil”, melainkan “kalian tidak akan mampu melakukannya”.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa maksudnya adalah manusia tidak akan mampu melakukan hal tersebut pada masa yang akan datang.

Ibn Katsir menyebut pemberitaan tentang ketidakmampuan tersebut sebagai salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur’an.

Allah juga berfirman:

أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ مَنِ ٱسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia telah membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘Buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang dapat kamu sanggupi selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’”

QS Yunus [10]:38.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa tantangan tersebut merupakan tuntutan argumentatif: jika Al-Qur’an benar-benar buatan manusia, maka manusia seharusnya mampu menghadirkan tandingannya.

Hadis Abu Hurairah r.a. tentang mukjizat para nabi memperkuat kedudukan wahyu Al-Qur’an sebagai mukjizat utama Rasulullah ﷺ.

Pelajaran dari Perkataan 2: Pernyataan وَلَن تَفْعَلُوا menegaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an bukan sekadar klaim, tetapi tantangan terbuka yang tidak mampu dijawab manusia.

Perkataan 3: فَٱتَّقُوا۟

فَٱتَّقُوا۟

“Maka jagalah dirimu.”

Kata ini berasal dari makna menjaga atau melindungi diri dari sesuatu yang membahayakan.

Setelah menjelaskan ketidakmampuan manusia menandingi Al-Qur’an, Allah tidak berhenti pada persoalan intelektual.
Allah mengarahkan manusia kepada keselamatan dirinya:

فَاتَّقُوا النَّارَ

“Maka jagalah dirimu dari neraka.”

Allah juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

QS At-Tahrim [66]:6.

Ath-Thabari menjelaskan bahwa menjaga diri dari neraka dilakukan dengan mempelajari ketaatan kepada Allah dan mengamalkannya.

Dengan demikian, takwa bukan sekadar rasa takut.
Takwa adalah tindakan nyata untuk melindungi diri dari sesuatu yang menyebabkan murka dan azab Allah.

Pelajaran dari Perkataan 3: Takwa merupakan tindakan nyata untuk menyelamatkan diri dengan menerima kebenaran dan menaati Allah.

Perkataan 4: ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

“Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.”

Allah menggambarkan neraka dengan gambaran yang sangat dahsyat.
Kata وَقُود menunjuk kepada bahan bakar.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa وَقُودُهَا berarti bahan bakarnya dan menyebut beberapa penafsiran ulama mengenai makna batu yang menjadi bahan bakar neraka.

Allah juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.”

QS At-Tahrim [66]:6.

Kesamaan redaksi tersebut menunjukkan bahwa gambaran neraka sebagai api yang bahan bakarnya manusia dan batu merupakan bagian dari penjelasan Al-Qur’an mengenai realitas akhirat.

Pelajaran dari Perkataan 4: Gambaran neraka menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran bukan persoalan ringan karena memiliki konsekuensi ukhrawi yang sangat serius.

Perkataan 5: أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

Kata أُعِدَّتْ bermakna telah disiapkan atau dipersiapkan.
Adapun الْكَافِرِينَ menunjuk kepada orang-orang yang menolak dan menutupi kebenaran.

Allah berfirman:

وَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِيٓ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ

“Dan jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir.”

QS Ali ‘Imran [3]:131.

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa perintah menjauhi neraka merupakan bagian dari pendidikan Al-Qur’an agar manusia tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi bergerak menuju ketakwaan.

Pelajaran dari Perkataan 5: Peringatan tentang neraka mengharuskan manusia merespons wahyu dengan iman dan ketaatan, bukan sekadar pengetahuan intelektual.

4. Faedah dan Penerapan

Faedah 1: Kemukjizatan Al-Qur’an Menuntut Respons Iman

Ayat ini menunjukkan bahwa tantangan Al-Qur’an bukan sekadar pembuktian kemampuan bahasa.
Allah menghadapkan manusia pada pertanyaan mendasar: jika Al-Qur’an benar-benar bukan perkataan manusia, bagaimana manusia harus bersikap terhadapnya?

Jawabannya bukan sekadar mengakui keindahan bahasa Al-Qur’an, tetapi iman dan ketaatan.

Faedah 2: Jangan Mengubah Al-Qur’an Menjadi Sekadar Objek Perdebatan

QS Al-Baqarah:24 memperlihatkan pergeseran dari tantangan intelektual menuju peringatan spiritual.

Pelajaran ini sangat relevan pada era media sosial.
Perdebatan agama dapat berubah menjadi arena menunjukkan siapa paling pintar, paling banyak referensi, atau paling mampu memenangkan argumentasi.
Padahal tujuan akhir ilmu adalah hidayah.

Faedah 3: Takwa Harus Menghasilkan Perlindungan Nyata

Takwa bukan sekadar rasa takut dalam hati.
QS At-Tahrim:6 menghubungkan menjaga diri dari neraka dengan ketaatan dan pendidikan keluarga.

Karena itu, orang yang benar-benar memahami QS Al-Baqarah:24 akan berusaha menjaga salat, meninggalkan dosa, memperbaiki akhlak, menjaga kehalalan penghasilan, menjauhi riba, gharar, dan kezaliman, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman pengambilan keputusan.

Faedah 4: Kesombongan Intelektual Dapat Menjadi Penghalang Hidayah

Manusia dapat mengetahui kebenaran tetapi menolak konsekuensinya.

Karena itu, penyakit yang perlu diwaspadai bukan hanya kebodohan, tetapi juga kesombongan: mengetahui sesuatu benar tetapi tidak mau tunduk kepadanya.

Faedah 5: Al-Qur’an Harus Dibaca Bersama Kesadaran Akhirat

Ayat ini menyandingkan Al-Qur’an dengan neraka.
Pesannya sangat kuat: wahyu mempunyai konsekuensi akhirat.

Membaca Al-Qur’an tidak boleh dipisahkan dari kesadaran bahwa suatu saat manusia akan mempertanggungjawabkan sikapnya terhadap wahyu tersebut.

Faedah 6: Dalam Muamalah, Ketakwaan Harus Terlihat dalam Transaksi

Meskipun ayat ini tidak berbicara secara khusus tentang ekonomi, prinsip فَاتَّقُوا النَّارَ memiliki implikasi kuat dalam fikih muamalah.

Seorang muslim yang memiliki muraqabah tidak akan menjadikan celah hukum sebagai kesempatan untuk menzalimi pihak lain.
Ia memahami bahwa transaksi bukan hanya hubungan antara manusia dan manusia, tetapi juga berada dalam pengawasan Allah.

Karena itu, prinsip فَاتَّقُوا النَّارَ dapat menjadi fondasi moral bagi kejujuran dalam perdagangan, transparansi akad, pemenuhan amanah, larangan mengambil harta secara batil, menjauhi riba, gharar dan maysir, menghindari penipuan, menjaga hak mitra usaha, serta memenuhi kewajiban kepada pekerja.

Faedah 7: Ancaman Al-Qur’an Bukan untuk Membuat Putus Asa

Ayat ini memang memberikan peringatan keras.
Namun, fungsi ancaman adalah membangunkan manusia sebelum terlambat.

Takut kepada neraka harus berjalan bersama harapan kepada rahmat Allah.
Seorang pendakwah tidak cukup hanya menakut-nakuti, tetapi juga harus menunjukkan jalan kembali kepada Allah.

5. Penutup

Tadabbur Ayat dari Perspektif Akidah/Tauhid dan Akhlak Terhadap Allah

QS Al-Baqarah ayat 24 memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah dan bukan produk manusia.
Tantangan Al-Qur’an terhadap manusia dan jin menunjukkan keterbatasan makhluk di hadapan kalam Allah.

Akhlak yang semestinya lahir dari pengenalan terhadap Al-Qur’an adalah tunduk, bukan sombong; mengikuti, bukan sekadar mengagumi; dan mengamalkan, bukan hanya memperdebatkan.

Tadabbur Ayat dari Perspektif Pendidikan dan Kehidupan

Ayat ini mengajarkan pola pendidikan yang kuat: argumentasi, pembuktian, konsekuensi, dan perubahan perilaku.

Manusia tidak hanya diberi informasi tentang kebenaran.
Ia diajak berpikir, diberi bukti, kemudian diingatkan bahwa pilihannya mempunyai konsekuensi.

Dalam pendidikan Islam, pendekatan tersebut penting.
Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang cerdas, tetapi harus melahirkan manusia yang takut kepada Allah ketika menggunakan kecerdasannya.

Tadabbur Ayat dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

QS Al-Baqarah:24 tidak memberikan hukum transaksi tertentu.
Karena itu, tidak tepat memaksakan ayat ini menjadi dalil langsung tentang akad tertentu.

Namun, ayat ini memberikan fondasi etis-spiritual bagi seluruh aktivitas muamalah: takut kepada Allah dan menjaga diri dari konsekuensi dosa.

Seorang pelaku usaha yang memiliki muraqabah tidak akan menjadikan celah hukum sebagai kesempatan untuk menzalimi pihak lain.
Ia memahami bahwa transaksi bukan hanya hubungan antara manusia dan manusia, tetapi juga berada dalam pengawasan Allah.

Dengan demikian, QS Al-Baqarah:24 tidak hanya berbicara tentang mengapa Al-Qur’an tidak dapat ditandingi, tetapi juga tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap setelah mengetahui kebenaran Al-Qur’an.

Tanya Jawab

P: Apakah QS Al-Baqarah ayat 24 hanya berbicara tentang orang kafir pada zaman Nabi ﷺ?
J: Konteks awalnya berkaitan dengan orang-orang yang meragukan Al-Qur’an dan menolak kebenarannya.
Namun, pelajaran ayatnya lebih luas.
Setiap manusia harus mengambil sikap terhadap wahyu: menerima dan mengikuti atau menolak dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

P: Apa hubungan antara tantangan membuat satu surah dan perintah takut kepada neraka?
J: Ayat 23 memberikan tantangan untuk membuktikan klaim bahwa Al-Qur’an bukan wahyu Allah.
Ayat 24 menyatakan bahwa tantangan tersebut tidak akan mampu dipenuhi, lalu mengingatkan bahwa setelah kebenaran menjadi jelas, penolakan bukan lagi persoalan akademik semata, tetapi persoalan iman dan keselamatan akhirat.

P: Apakah maksud “batu” dalam neraka adalah batu biasa?
J: Para mufasir menyebut beberapa penjelasan.
Ibn Katsir, misalnya, menyebut pendapat yang mengaitkannya dengan batu yang dahulu dijadikan objek sesembahan dan pendapat lain tentang jenis batu tertentu.
Karena terdapat beberapa penafsiran, tidak tepat menetapkan salah satunya secara mutlak tanpa memperhatikan riwayat dan konteks tafsir.

P: Apakah ayat ini dapat menjadi dalil langsung bahwa semua transaksi haram menyebabkan neraka?
J: Tidak secara langsung.
Ayat ini memberikan prinsip umum tentang takwa dan ancaman akhirat.
Untuk menentukan hukum transaksi tertentu diperlukan dalil yang secara spesifik membahas akad, riba, gharar, penipuan, kezaliman, dan sebagainya.

P: Mengapa Al-Qur’an menantang manusia jika Allah sudah mengetahui manusia tidak akan mampu?
J: Tantangan tersebut merupakan hujjah bagi manusia.
Ia memperlihatkan ketidakmampuan mereka secara terbuka sehingga alasan untuk menolak kebenaran menjadi semakin lemah.

P: Apa pelajaran terpenting bagi orang yang sudah sering membaca Al-Qur’an?
J: Jangan berhenti pada kemampuan membaca, menghafal, atau menjelaskan.
Pertanyaan terpentingnya adalah: apakah Al-Qur’an membuat kita lebih tunduk kepada Allah?
QS Al-Baqarah:24 menggeser perhatian dari kemampuan intelektual menuju keselamatan spiritual.

6. Daftar Pustaka (Maraji’)

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. Al-Jami‘ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasulillah ﷺ wa Sunanihi wa Ayyamihi. Tahqiq Muhammad Zuhair ibn Nasir al-Nasir. Beirut: Dar Tawq al-Najah, 1422 H.

Al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Tahqiq Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfish. Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, edisi kedua, 1384 H/1964 M.

Ath-Thabari, Muhammad ibn Jarir. Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Tahqiq Abdullah ibn Abd al-Muhsin al-Turki. Kairo: Dar Hijr, edisi pertama, 1422 H/2001 M.

Ibn Katsir, Isma‘il ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Tahqiq Sami ibn Muhammad Salamah. Riyadh: Dar Tayyibah, edisi kedua, 1420 H/1999 M.

Catatan Akhir


1 Muhammad ibn Jarir Ath-Thabari, Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq Abdullah ibn Abd al-Muhsin al-Turki (Kairo: Dar Hijr, 2001), tafsir QS Al-Baqarah [2]:24. 

2 Isma‘il ibn Umar Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, tahqiq Sami ibn Muhammad Salamah (Riyadh: Dar Tayyibah, 1999), tafsir QS Al-Baqarah [2]:24. 

3 Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tahqiq Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfish (Kairo: Dar al-Kutub al-Misriyyah, 1964), tafsir QS Al-Baqarah [2]:24. 

4 Muhammad ibn Isma‘il Al-Bukhari, Al-Jami‘ al-Musnad al-Sahih, tahqiq Muhammad Zuhair ibn Nasir al-Nasir (Beirut: Dar Tawq al-Najah, 1422 H), hadis no. 4981. 

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.