Hadits: Majelis Al-Qur'an Turunnya Ketenangan, Rahmat, dan Naungan Malaikat

Kajian Hadits Pekanan

Majelis Al-Qur'an: Turunnya Ketenangan, Rahmat, dan Naungan Malaikat

1. Pembukaan

Di tengah deras arus informasi digital saat ini, banyak kaum muslimin justru semakin jauh dari kebiasaan berkumpul untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an secara bersama-sama. Waktu luang lebih banyak dihabiskan di layar gawai, sementara majelis-majelis tadarus di masjid dan mushala perlahan kehilangan jamaahnya. Padahal, kegelisahan batin, kecemasan berlebih, dan hilangnya ketenangan hidup yang banyak dikeluhkan masyarakat modern sesungguhnya memiliki penawar yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ empat belas abad silam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira yang agung bagi siapa saja yang mau meluangkan waktu berkumpul di rumah Allah untuk membaca dan saling mempelajari Al-Qur'an. Empat keutamaan sekaligus dijanjikan Allah bagi mereka: ketenangan, rahmat, naungan malaikat, dan disebutnya nama mereka di hadapan makhluk mulia yang ada di sisi-Nya. Hadits ini penting dipelajari setiap muslim sebagai pengingat bahwa jalan menuju ketenteraman jiwa telah tersedia, tinggal ditempuh bersama-sama.

2. Matan Hadits

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ فِيمَا بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya."

HR. Muslim (2699), Abu Dawud (1455), Ibnu Majah (225), dan Tirmidzi (3174).

3. Syarah per Perkataan

Perkataan 1: Berkumpul di Rumah Allah untuk Membaca dan Mempelajari Al-Qur'an

a. Teks dan makna

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ فِيمَا بَيْنَهُمْ

"Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka"

b. Penjelasan makna per kata

Kata اجْتَمَعَ (berkumpul) mengandung makna lebih dari sekadar hadir di tempat yang sama; ia menunjukkan penyatuan niat dan tujuan sekelompok orang menuju satu maksud, yaitu bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah.

بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ (salah satu rumah Allah) adalah sebutan mulia bagi masjid. Penyandaran kata "rumah" kepada Allah ﷻ merupakan bentuk pemuliaan tertinggi, meskipun Allah tentu tidak bertempat di dalamnya; penyandaran ini menunjukkan kedudukan istimewa masjid sebagai pusat ibadah dan aktivitas keagamaan umat.

يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ (mereka membaca Kitabullah) menunjukkan tilawah yang dilakukan dengan tartil, penghayatan, dan kesungguhan, bukan sekadar melafalkan huruf tanpa ruh.

وَيَتَدَارَسُونَهُ فِيمَا بَيْنَهُمْ (dan saling mempelajarinya di antara mereka) berasal dari kata mudarasah, yaitu proses belajar dua arah yang melibatkan tanya-jawab, diskusi, dan saling mengoreksi antarpeserta majelis, berbeda dari sekadar mendengarkan ceramah satu arah. Untuk mendudukkan makna perkataan ini pada kerangka yang lebih luas, Allah berfirman:

c. Dalil Al-Qur'an Penguat

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi." (QS. Fathir/35: 29)

Al-Baghawi menjelaskan bahwa yang dimaksud "perniagaan yang tidak akan rugi" adalah pahala dan keridaan Allah yang dijanjikan bagi para pembaca Al-Qur'an yang mengamalkan isinya[1]. Ayat ini menegaskan bahwa aktivitas membaca dan mempelajari Al-Qur'an, sebagaimana disebutkan dalam perkataan pertama hadits ini, adalah bentuk perniagaan akhirat yang hasilnya pasti dan tidak pernah merugi, berbeda dari perniagaan dunia yang senantiasa berisiko. Sebagai gambaran konkret dari kandungan ayat tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda:

d. Dalil Hadits Penguat

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

"Barang siapa berangkat menuju masjid pada pagi hari maupun sore hari, Allah akan menyiapkan baginya hidangan (tempat singgah) di surga setiap kali ia berangkat pagi atau sore." (HR. Bukhari [662] dan Muslim [669])

Ibnu Hajar al-'Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya kemuliaan yang Allah siapkan bagi siapa saja yang membiasakan diri mendatangi masjid, sebagai bentuk penghormatan Allah atas kesungguhan hamba-Nya menuju rumah-Nya[2]. Kaitannya dengan perkataan pertama hadits ini jelas: jika sekadar berangkat ke masjid saja telah dijanjikan pahala besar, apalagi jika kedatangan itu disertai aktivitas mulia berupa membaca dan mempelajari Al-Qur'an bersama-sama. Merangkai kedua dalil di atas, pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa Allah melipatgandakan keutamaan bagi hamba yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas keilmuan dan ibadahnya.

e. Pelajaran dari Perkataan 1

Perkataan ini mengajarkan bahwa berkumpul secara khusus di masjid untuk membaca dan saling mempelajari Al-Qur'an adalah amal saleh yang dijanjikan pahala besar oleh Allah dan Rasul-Nya.

Perkataan 2: Turunnya Ketenangan (As-Sakinah)

a. Teks dan makna

إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ

"melainkan akan turun kepada mereka ketenangan (sakinah)"

b. Penjelasan makna per kata

Kata نَزَلَتْ (turun) menegaskan bahwa sakinah datang dari sisi Allah, bukan sekadar hasil rekayasa psikologis manusia semata.

السَّكِينَةُ (ketenangan) berasal dari akar kata sakana yang bermakna diam, tenang, dan tenteram. Ia adalah ketenangan hati yang menghilangkan rasa gelisah dan cemas, digantikan dengan ketenteraman jiwa dan kekhusyukan yang mendalam.

عَلَيْهِمْ (kepada mereka) menegaskan bahwa keutamaan ini bersifat kolektif, dirasakan oleh seluruh peserta majelis tanpa terkecuali. Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah berikut:

c. Dalil Al-Qur'an Penguat

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ

Artinya: "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)." (QS. Al-Fath/48: 4)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sakinah yang Allah turunkan ke dalam hati orang-orang beriman adalah ketenteraman dan keteguhan yang menambah kekuatan iman mereka dalam menghadapi berbagai situasi[3]. Ayat ini memperlihatkan bahwa sakinah bukan sekadar rasa tenang biasa, melainkan anugerah khusus yang berkaitan erat dengan peningkatan kualitas keimanan seorang hamba, sebagaimana yang dijanjikan bagi peserta majelis Al-Qur'an dalam hadits ini. Makna sakinah dalam ayat di atas kemudian dijelaskan lebih rinci oleh Rasulullah ﷺ melalui haditsnya:

d. Dalil Hadits Penguat

اقْرَأْ فُلَانُ فَإِنَّهَا السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ عِنْدَ الْقُرْآنِ، أَوْ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرْآنِ

"Bacalah wahai fulan, karena itu adalah ketenangan (sakinah) yang turun karena Al-Qur'an, atau turun untuk Al-Qur'an." (HR. Bukhari dan Muslim [795], dari Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu)

An-Nawawi menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika seorang sahabat membaca Surat Al-Kahfi, lalu turun semacam awan yang menaunginya; Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa itulah sakinah yang turun karena bacaan Al-Qur'an[4]. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa tilawah dan pendalaman Al-Qur'an, sebagaimana disebutkan dalam perkataan pertama hadits ini, memang benar-benar mengundang turunnya sakinah dari langit. Dari keterpaduan ayat dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa sakinah adalah anugerah nyata yang menyertai kedekatan seorang hamba dengan Al-Qur'an.

e. Pelajaran dari Perkataan 2

Perkataan ini mengajarkan bahwa majelis Al-Qur'an adalah sarana turunnya ketenangan batin yang tidak dapat digantikan oleh hiburan duniawi mana pun.

Perkataan 3: Diliputi Rahmat

a. Teks dan makna

وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ

"dan mereka diliputi rahmat"

b. Penjelasan makna per kata

Kata غَشِيَتْهُمُ (menyelimuti/meliputi mereka) berasal dari ghasyiya yang bermakna menutupi secara menyeluruh, seperti kain yang menyelimuti seluruh tubuh, menunjukkan bahwa rahmat yang turun meliputi seluruh peserta majelis tanpa terkecuali.

الرَّحْمَةُ (rahmat) adalah kasih sayang Allah yang mendorong turunnya kebaikan, ampunan, dan pertolongan bagi hamba-Nya. Penggunaan bentuk definitif pada kata ini mengisyaratkan rahmat yang khusus dan agung, bukan sekadar rahmat umum yang meliputi seluruh makhluk.

Dari pemaknaan per kata ini, dapat ditelusuri akarnya pada firman Allah berikut:

c. Dalil Al-Qur'an Penguat

Allah berfirman:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Artinya: "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami." (QS. Al-A'raf/7: 156)

Al-Baghawi menjelaskan bahwa meskipun rahmat Allah pada dasarnya meliputi seluruh makhluk baik mukmin maupun kafir di dunia, rahmat khusus yang dijanjikan secara pasti pada hari kiamat hanya diperuntukkan bagi hamba-hamba yang bertakwa dan beriman kepada ayat-ayat-Nya[5]. Peserta majelis Al-Qur'an, dengan ketakwaan dan keimanan yang mereka tunjukkan melalui kesungguhan mempelajari kitab-Nya, termasuk golongan yang berhak mendapatkan rahmat khusus tersebut. Prinsip yang terkandung dalam ayat di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:

d. Dalil Hadits Penguat

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh (Allah) yang ada di langit." (HR. Abu Dawud [4941] dan Tirmidzi [1924], hasan sahih)

Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kaidah timbal balik: rahmat Allah kepada seorang hamba berkaitan erat dengan sifat penyayang yang ditunjukkan hamba tersebut kepada sesama makhluk[6]. Berkumpul untuk saling membantu memahami Al-Qur'an adalah salah satu wujud kasih sayang antarsesama muslim, sehingga sangat layak jika Allah membalasnya dengan curahan rahmat yang meliputi seluruh peserta majelis. Keduanya bermuara pada satu pesan inti, yaitu bahwa rahmat Allah senantiasa mengiringi kebersamaan hamba-hamba-Nya dalam kebaikan.

e. Pelajaran dari Perkataan 3

Perkataan ini mengajarkan bahwa kasih sayang Allah tercurah berlipat ganda kepada mereka yang berkumpul karena Al-Qur'an.

Perkataan 4: Dikelilingi Malaikat

a. Teks dan makna

وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ

"dan mereka dikelilingi oleh para malaikat"

b. Penjelasan makna per kata

Kata حَفَّتْهُمُ (mengelilingi mereka) berasal dari haffa yang bermakna mengitari dari segala penjuru, sebagaimana pagar yang mengelilingi sebuah taman, menggambarkan kehadiran malaikat yang menyeluruh dan melindungi.

الْمَلَائِكَةُ (para malaikat) di sini dipahami ulama sebagai malaikat-malaikat yang secara khusus ditugaskan berkeliling mencari majelis-majelis kebaikan, sebagaimana akan dijelaskan pada dalil hadits penguat berikut. Sebagai landasan atas pemaknaan tersebut, perhatikan firman Allah berikut:

c. Dalil Al-Qur'an Penguat

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami adalah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati, bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'" (QS. Fussilat/41: 30)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa turunnya malaikat dalam ayat ini merupakan bentuk penghormatan dan pertolongan Allah bagi hamba-hamba yang teguh di atas keimanan, baik dalam kehidupan dunia maupun saat menghadapi kematian[7]. Keteguhan dalam mempelajari dan mengamalkan Al-Qur'an, sebagaimana dilakukan peserta majelis dalam hadits ini, termasuk bentuk istikamah yang menjadikan seorang hamba layak mendapatkan kehadiran malaikat yang menenteramkan. Semangat yang sama digemakan kembali oleh Nabi ﷺ dalam riwayat berikut:

d. Dalil Hadits Penguat

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَؤُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا

"Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling, senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menjumpai suatu majelis yang di dalamnya terdapat zikir, mereka duduk bersama jamaah tersebut dan saling mengelilingi dengan sayap-sayap mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit dunia." (HR. Bukhari [6408] dan Muslim [2689], dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud majelis zikir dalam hadits ini mencakup segala bentuk perkumpulan untuk mengingat Allah, membaca Al-Qur'an, dan mempelajari ilmu agama, sehingga malaikat-malaikat tersebut turut hadir mengitari para peserta dengan sayap mereka[8]. Hadits ini menjadi penjelas langsung bagi kata حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ pada matan hadits utama, sekaligus menegaskan bahwa fenomena naungan malaikat bukan sekadar kiasan, melainkan peristiwa nyata yang terjadi di setiap majelis Al-Qur'an. Dari sini tampak jelas keterkaitan antara ayat dan hadits di atas, yaitu bahwa keteguhan dalam kebaikan senantiasa disertai kehadiran malaikat yang mengelilingi dan menenteramkan.

e. Pelajaran dari Perkataan 4

Perkataan ini mengajarkan bahwa kehadiran seorang mukmin dalam majelis Al-Qur'an mengundang kehadiran para malaikat yang menyertai dan mendoakannya.

Perkataan 5: Disebut Allah di Hadapan Makhluk yang di Sisi-Nya

a. Teks dan makna

وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya"

b. Penjelasan makna per kata

Kata ذَكَرَهُمُ اللَّهُ (Allah menyebut mereka) menunjukkan bahwa Allah ﷻ memuji dan membanggakan hamba-hamba-Nya yang berkumpul karena Al-Qur'an, sebuah kemuliaan yang tidak tertandingi oleh pujian makhluk mana pun.

فِيمَنْ عِنْدَهُ (di hadapan siapa yang ada di sisi-Nya) merujuk pada para malaikat dan makhluk-makhluk mulia yang berada di sisi Allah, sehingga penyebutan ini terjadi di forum yang paling agung dan mulia. Guna memperkuat pemahaman terhadap perkataan ini, Allah berfirman:

c. Dalil Al-Qur'an Penguat

Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: "Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah/2: 152)

As-Sa'di menjelaskan bahwa balasan Allah mengingat hamba-Nya jauh lebih agung daripada zikir hamba itu sendiri, karena Allah mengingatnya dengan pujian, ampunan, dan kasih sayang yang tidak terhingga[9]. Ayat ini menjadi dasar umum bagi janji khusus dalam hadits yang sedang dikaji, yaitu bahwa Allah menyebut-nyebut peserta majelis Al-Qur'an di hadapan makhluk-Nya yang mulia sebagai balasan atas kesungguhan mereka mengingat dan mempelajari kalam-Nya. Jika ayat tersebut meletakkan pondasi pada tataran prinsip, Rasulullah ﷺ mempertegasnya secara praktis dalam hadits berikut:

d. Dalil Hadits Penguat

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di tengah sekumpulan orang, Aku mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik dari mereka." (HR. Bukhari [7405] dan Muslim [2675], hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Ibnu Hajar al-'Asqalani menjelaskan bahwa "kumpulan yang lebih baik" dalam hadits ini adalah para malaikat, sehingga seorang hamba yang mengingat Allah di tengah majelis manusia akan disebut-sebut Allah di tengah majelis malaikat yang jauh lebih mulia[10]. Inilah penjelas paling tepat bagi perkataan terakhir hadits utama, bahwa peserta majelis Al-Qur'an disebut Allah di hadapan makhluk-Nya yang berada di sisi-Nya, yaitu para malaikat. Al-Qur'an dan sunnah yang saling menguatkan ini pada akhirnya menuntun pada satu kesimpulan, yaitu bahwa mengingat Allah secara berjamaah membuka pintu balasan yang berlipat ganda dan penuh kemuliaan.

e. Pelajaran dari Perkataan 5

Perkataan ini mengajarkan bahwa kehormatan tertinggi bagi seorang hamba adalah disebut-sebut oleh Allah di hadapan makhluk-Nya yang mulia.

4. Faedah dan Penerapan

Faedah 1: Majelis Al-Qur'an sebagai Sumber Ketenangan Batin di Tengah Kehidupan Modern

Kegelisahan, kecemasan berlebih, dan hilangnya ketenteraman batin yang banyak dikeluhkan masyarakat modern, sebagaimana disinggung pada bagian Pembukaan, sesungguhnya memiliki jawaban konkret dalam hadits ini. Janji إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ menegaskan bahwa ketenangan sejati bukan dicari lewat hiburan atau distraksi digital, melainkan diperoleh dengan mendekatkan diri kepada Al-Qur'an bersama orang-orang saleh. Penerapan nyata dari faedah ini adalah menjadwalkan diri hadir rutin dalam majelis tadarus mingguan di masjid terdekat, serta membiasakan mematikan gawai selama majelis berlangsung agar ketenangan yang dijanjikan benar-benar dapat dirasakan tanpa gangguan.

Faedah 2: Masjid sebagai Ruang Pembentukan Sumber Daya Manusia yang Amanah dalam Muamalah

Kebiasaan berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an, sebagaimana dijelaskan pada Perkataan 1 dan diperkuat oleh naungan malaikat pada Perkataan 4, membentuk karakter yang sangat dibutuhkan dalam dunia ekonomi dan keuangan syariah, yaitu kejujuran, ketelitian, dan rasa diawasi oleh Allah dalam setiap transaksi. Sumber daya manusia yang terbiasa belajar Al-Qur'an secara berjamaah cenderung lebih amanah dibandingkan mereka yang hanya belajar muamalah secara otodidak tanpa bimbingan dan koreksi bersama. Penerapan nyata dari faedah ini adalah lembaga keuangan syariah dapat memfasilitasi kajian Al-Qur'an rutin bagi karyawannya, tidak sekadar sebagai pelatihan kepatuhan syariah formal, melainkan sebagai pembinaan karakter yang berkelanjutan.

Faedah 3: Kebersamaan Belajar Al-Qur'an sebagai Ta'awun yang Berbuah Rahmat dan Kemuliaan

Perkataan 3 dan 5 hadits ini menunjukkan bahwa Allah melipatgandakan rahmat dan kemuliaan bagi mereka yang belajar Al-Qur'an secara bersama-sama, sebagaimana ditegaskan dalam janji وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ. Ini adalah bentuk ta'awun 'alal birri wat-taqwa (tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa) yang balasannya jauh lebih besar dibandingkan belajar sendirian. Penerapan nyata dari faedah ini adalah mendirikan komunitas kecil tadarus keluarga atau tetangga di lingkungan tempat tinggal, sehingga kebaikan belajar Al-Qur'an dapat dirasakan bersama-sama, bukan hanya oleh individu tertentu.

Faedah 4: Mudarasah sebagai Model Pembelajaran Partisipatif dalam Pendidikan Islam

Kata وَيَتَدَارَسُونَهُ فِيمَا بَيْنَهُمْ pada matan hadits mengandung dimensi metodologis yang belum tuntas diuraikan pada Faedah sebelumnya, yaitu model mudarasah sebagai pembelajaran dua arah yang partisipatif. Berbeda dari ceramah satu arah di mana peserta hanya pasif mendengarkan, mudarasah menuntut keterlibatan aktif berupa tanya-jawab, diskusi, dan saling mengoreksi antarpeserta. Model ini sangat relevan diterapkan dalam pendidikan ekonomi syariah kontemporer, misalnya melalui metode studi kasus dan diskusi kelompok kecil ketika membahas persoalan muamalah yang kompleks, alih-alih hanya mengandalkan metode ceramah satu arah yang cenderung membuat peserta pasif dan kurang mendalam dalam memahami persoalan.

5. Penutup

Syarah Hadits dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah

Hadits ini, meskipun berbicara tentang keutamaan majelis Al-Qur'an, menyimpan pelajaran mendalam bagi pembangunan ekonomi syariah, khususnya dalam aspek pembentukan sumber daya manusia yang menjadi fondasi maqashid syariah berupa hifzhul 'aql (penjagaan akal) dan hifzhul mal (penjagaan harta). Majelis Al-Qur'an adalah infrastruktur non-formal yang membentuk karakter shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), dan fathanah (cerdas) pada diri seorang muslim, tiga sifat yang menjadi prasyarat mutlak bagi siapa pun yang bergelut dalam dunia perbankan syariah, lembaga zakat-wakaf, maupun audit syariah.

Firman Allah dalam QS. Fathir/35: 29 tentang "perniagaan yang tidak akan rugi" (bagian Perkataan 1) memberikan kerangka berpikir yang relevan bagi etos kerja produktif dalam ekonomi syariah: bahwa investasi terbaik bukan semata-mata investasi duniawi yang fluktuatif, melainkan investasi akhirat yang hasilnya pasti. Cara pandang ini mendorong pelaku ekonomi syariah untuk tidak semata mengejar keuntungan materi, tetapi juga mempertimbangkan keberkahan dalam setiap keputusan muamalah yang diambil.

Selain itu, sakinah atau ketenangan batin yang dijanjikan hadits ini (Perkataan 2) merupakan prasyarat psikologis yang sangat penting bagi pengambilan keputusan muamalah yang jernih dan bebas dari keserakahan maupun ketergesa-gesaan yang sering menjerumuskan pelaku bisnis pada praktik riba, gharar, dan maisir. Adapun kebersamaan dalam belajar yang menjadi inti hadits ini menjadi preseden penting bagi semangat ta'awun dalam ekonomi syariah, seperti yang terwujud dalam koperasi syariah, arisan produktif, dan berbagai bentuk gotong royong ekonomi umat lainnya, di mana kekuatan kolektif menghasilkan keberkahan yang lebih besar dibandingkan usaha yang dijalankan secara individual.

6. Catatan Akhir dan Daftar Pustaka (Maraji')

Daftar Pustaka (Maraji')

Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy'ats as-Sijistani. Sunan Abi Dawud. Tahqiq Syu'aib al-Arna'uth dan Muhammad Kamil Qarah Balli. Beirut: Dar ar-Risalah al-'Alamiyyah, cet. ke-1, 1430 H/2009 M.

Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain bin Mas'ud. Ma'alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an. Riyadh: Dar Thayyibah, cet. ke-4, 1417 H/1997 M.

Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Shahih al-Bukhari. Tahqiq Muhammad Zuhair bin Nashir an-Nashir. Beirut: Dar Thuruq an-Najah, cet. ke-1, 1422 H/2001 M.

Al-Mubarakfuri, Abul 'Ala Muhammad 'Abdurrahman. Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jami' at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1410 H/1990 M.

An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cet. ke-2, 1392 H.

As-Sa'di, 'Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Beirut: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1, 1420 H/2000 M.

At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan at-Tirmidzi (al-Jami' al-Kabir). Tahqiq Basysyar 'Awwad Ma'ruf. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, 1998 M.

Ibnu Hajar al-'Asqalani, Ahmad bin 'Ali. Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H.

Ibnu Katsir, Isma'il bin 'Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah, cet. ke-2, 1420 H/1999 M.

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid al-Qazwini. Sunan Ibnu Majah. Tahqiq Syu'aib al-Arna'uth dkk. Beirut: Dar ar-Risalah al-'Alamiyyah, cet. ke-1, 1430 H/2009 M.

Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fuad 'Abdul Baqi. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cet. ke-1, 1412 H/1991 M.


1 Abu Muhammad al-Husain bin Mas'ud al-Baghawi, Ma'alim at-Tanzil fi Tafsir al-Qur'an (Riyadh: Dar Thayyibah, cet. ke-4, 1417 H/1997 M), dalam penafsiran QS. Fathir/35: 29. 

2 Ahmad bin 'Ali Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H), dalam syarah hadits keutamaan berangkat ke masjid pagi dan sore. 

3 Isma'il bin 'Umar Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim (Riyadh: Dar Thayyibah, cet. ke-2, 1420 H/1999 M), dalam penafsiran QS. Al-Fath/48: 4. 

4 Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, cet. ke-2, 1392 H), dalam syarah kisah Usaid bin Hudhair radhiyallahu 'anhu. 

5 Al-Baghawi, Ma'alim at-Tanzil, dalam penafsiran QS. Al-A'raf/7: 156. 

6 Abul 'Ala Muhammad 'Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi bi Syarh Jami' at-Tirmidzi (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1410 H/1990 M), dalam syarah hadits "ar-rahimuna yarhamuhumur-Rahman". 

7 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, dalam penafsiran QS. Fussilat/41: 30. 

8 An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, dalam syarah hadits malaikat sayyarah (Sahih Muslim no. 2689). 

9 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan (Beirut: Muassasah ar-Risalah, cet. ke-1, 1420 H/2000 M), dalam penafsiran QS. Al-Baqarah/2: 152. 

10 Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, dalam syarah hadits qudsi "ana 'inda zhanni 'abdi bi" (Sahih al-Bukhari no. 7405). 

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.