Tafsir: Dialah Allah yang Maha Menyembuhkan - QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80
Tadabbur Ayat Pekanan
Dialah yang Maha Menyembuhkan
1. Pembukaan
Ketika sakit menyapa, tidak sedikit orang yang panik mencari kesembuhan ke berbagai penjuru --- berpindah dari satu dokter ke dokter lain, mencoba beragam pengobatan alternatif, bahkan tidak jarang terjerumus pada praktik perdukunan dan klenik yang justru merusak akidah. Di sisi lain, ada pula yang menyerah pada penyakit kronis yang dideritanya, kehilangan harapan, dan lupa bahwa kesembuhan sejatinya bukan semata di tangan manusia. Dalam keriuhan mencari obat dan ikhtiar, hati sering kali lalai menyandarkan pengharapan kepada Dzat yang sesungguhnya menggenggam kesembuhan itu sendiri.
Al-Qur'an mengabadikan sebuah pengakuan agung dari lisan Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika beliau berdakwah menentang penyembahan berhala kaumnya. Di antara untaian sifat rububiyah Allah yang beliau sebutkan, terdapat satu pengakuan yang begitu personal dan menenangkan: bahwa apabila beliau sakit, hanya Allah semata yang menyembuhkannya. Ayat ini menjadi penawar bagi siapa pun yang tengah bergulat dengan penyakit --- ia meluruskan kembali ke mana hati semestinya bersandar, tanpa harus meninggalkan ikhtiar yang disyariatkan. Mempelajarinya adalah kebutuhan mendesak bagi setiap Muslim, sebab urusan sakit adalah keniscayaan yang akan dijumpai oleh siapa saja, tanpa kecuali.
2. Teks Ayat
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Asy-Syu'ara' ayat 80, mengisahkan pengakuan Nabi Ibrahim 'alaihissalam di hadapan kaumnya:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
"dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,"
QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80.
3. Tafsir per Perkataan
Perkataan 1: Ketika Sakit Menimpa
a. Teks dan makna
وَإِذَا مَرِضْتُ
"dan apabila aku sakit"
b. Penjelasan makna per kata (tafsir mufradat)
إِذَا (idza) --- kata syarat yang menunjukkan kepastian dan pengulangan, bukan sekadar andaian. Pemilihan kata ini menegaskan bahwa sakit bukan kemungkinan yang jauh, melainkan keniscayaan yang pasti akan dijumpai oleh setiap manusia, termasuk seorang nabi pilihan sekalipun.
مَرِضْتُ (maridhtu) --- "aku sakit", fi'il yang dinisbahkan langsung kepada diri Nabi Ibrahim sendiri, bukan kepada Allah, meskipun beliau meyakini bahwa sakit dan sehat sama-sama terjadi atas kehendak dan qadar Allah. Para mufasir menjelaskan bahwa ini adalah adab tertinggi dalam bermunajat: keburukan atau sesuatu yang secara lahiriah tidak menyenangkan disandarkan kepada diri sendiri, sedangkan kebaikan dan karunia disandarkan langsung kepada Allah[1]. Kaidah adab yang sama ditemukan dalam Surah Al-Fatihah, ketika nikmat dinisbahkan kepada Allah sedangkan pelaku kesesatan tidak disebutkan pelakunya secara eksplisit. Nabi Ibrahim, dalam untaian pengakuannya ini, hanya menyebut nama Rabbnya di setiap konteks pemberian nikmat --- penciptaan, petunjuk, makan-minum, dan kesembuhan --- namun tidak pernah menisbahkan sakitnya kepada Allah[2].
Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah yang lain:
c. Ayat Pendukung
Allah juga berfirman:
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
Artinya: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah."
QS. At-Taghabun [64]: 11.
Menurut Ibnu Katsir, siapa yang tertimpa musibah --- termasuk di dalamnya sakit yang menimpa badan --- lalu ia menyadari bahwa hal itu terjadi atas qada dan qadar Allah, kemudian ia bersabar dan berserah diri kepada-Nya, niscaya Allah akan menganugerahkan petunjuk dan keyakinan yang kukuh ke dalam hatinya[3]. Ayat ini menegaskan kembali makna dari perkataan "wa idza maridhtu": sakit yang dialami Nabi Ibrahim bukan kejadian yang lepas dari kehendak Allah, melainkan bagian dari ketetapan-Nya yang harus disikapi dengan keyakinan dan kesabaran.
Prinsip yang terkandung dalam ayat pendukung di atas kemudian ditegaskan secara lebih konkret oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:
d. Hadits Pendukung
مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
"Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan pula obat baginya." (HR. Bukhari no. 5678, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Menurut Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fath al-Bari, hadits ini menjadi dalil ditetapkannya sebab (ikhtiar berobat) dalam syariat, dan mengambil sebab tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan sikap tawakal kepada Allah --- sebagaimana makan dan minum untuk mengatasi lapar dan haus juga tidak menafikan tawakal, selama hati tetap meyakini bahwa kesembuhan hakiki hanya terwujud atas izin Allah[4]. Hadits ini relevan dengan perkataan yang dibahas: ketika Nabi Ibrahim mengalami sakit, kepastian bahwa Allah menyertakan obat bagi setiap penyakit menegaskan bahwa berikhtiar mencari pengobatan adalah bagian dari mengambil sebab yang disyariatkan, bukan sikap yang bertentangan dengan penyerahan diri kepada-Nya.
Dari keterpaduan ayat pendukung dan hadits di atas, dapat ditarik benang merah bahwa...
e. Pelajaran dari Perkataan 1
Sakit adalah ketetapan Allah yang pasti dijumpai oleh setiap insan, termasuk para nabi pilihan-Nya, sehingga penyikapan yang benar terhadapnya adalah kesabaran disertai keyakinan bahwa Allah telah menyediakan sebab-sebab menuju kesembuhan bagi setiap penyakit yang diturunkan-Nya.
Perkataan 2: Dialah yang Menyembuhkan
a. Teks dan makna
فَهُوَ يَشْفِينِ
"maka Dialah yang menyembuhkan aku"
b. Penjelasan makna per kata (tafsir mufradat)
هُوَ (huwa) --- dhamir munfashil (kata ganti terpisah) yang di sini berfungsi memberi makna pengkhususan (hashr): hanya Dia semata yang menyembuhkan, bukan tabib, bukan obat, dan bukan pula sarana lain yang ditempuh. Kehadiran dhamir ini secara gramatikal menegaskan penekanan yang tidak didapati bila kalimat hanya berbunyi "yasyfin" tanpa "huwa" di depannya.
يَشْفِينِ (yasyfin) --- fi'il mudhari' (kata kerja bentuk sekarang/akan datang) yang menunjukkan kesinambungan dan keberlangsungan tindakan penyembuhan Allah, berbeda dengan "maridhtu" pada perkataan sebelumnya yang berbentuk fi'il madhi (lampau, sekali terjadi). Menurut Ibnu Katsir, maksud perkataan ini adalah: apabila Ibrahim ditimpa sakit, maka tidak ada satu pun yang sanggup menyembuhkannya selain Allah, melalui berbagai sebab yang Dia mudahkan untuk sampai kepada kesembuhan tersebut[5]. Di sinilah letak kontras adab dengan perkataan pertama: sakit dinisbahkan kepada diri sendiri, sedangkan kesembuhan dinisbahkan secara langsung dan tegas kepada Allah semata.
Untuk mendudukkan makna perkataan ini pada kerangka yang lebih luas, Allah berfirman pula:
c. Ayat Pendukung
Allah berfirman (QS. An-Nahl [16]: 69):
يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ
Artinya: "Dari perutnya (lebah) itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia."
Menurut Ibnu Katsir, madu yang keluar dari perut lebah mengandung kesembuhan bagi manusia dari berbagai penyakit yang menimpa mereka[6]. Ayat ini menunjukkan bahwa kesembuhan yang Allah janjikan tidak selalu datang secara langsung tanpa perantara, melainkan sering kali diwujudkan melalui sarana-sarana yang telah Dia ciptakan di alam ini --- sehingga pengakuan "fahuwa yasyfin" tidak meniadakan keberadaan obat, melainkan menegaskan bahwa obat itu sendiri hanyalah sarana; kesembuhan hakiki tetap kembali kepada kehendak Allah.
Semangat yang sama digemakan kembali oleh Nabi ﷺ dalam riwayat berikut:
d. Hadits Pendukung
أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
"Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." (HR. Bukhari no. 5675, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, muttafaq 'alaih)
Menurut Ibnu Hajar al-'Asqalani, penamaan Allah dengan "Asy-Syafi" dalam doa ruqyah Nabi ﷺ ini memiliki landasan langsung di dalam Al-Qur'an, yaitu firman Allah pada ayat yang sedang dikaji ini sendiri: وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80)[7]. Keterkaitan ini menunjukkan bahwa doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada umatnya, pada hakikatnya, adalah gema dari pengakuan tauhid yang sama dengan yang diucapkan Nabi Ibrahim ribuan tahun sebelumnya.
Titik temu antara ayat pendukung dan hadits di atas menegaskan bahwa...
e. Pelajaran dari Perkataan 2
Obat, tabib, dan segala sarana ikhtiar hanyalah wasilah yang Allah tetapkan sebagai sunnatullah, sedangkan penyembuhan yang hakiki tetap berada sepenuhnya di tangan Allah semata, sehingga hati tidak boleh bersandar kepada sebab, melainkan hanya kepada Dzat yang menciptakan sebab tersebut.
4. Faedah dan Penerapan
Faedah 1: Meluruskan Tauhid dalam Menyeimbangkan Ikhtiar dan Tawakal Saat Sakit
Ayat ini mengajarkan sebuah keseimbangan yang sering hilang dari genggaman umat: mengambil sebab tanpa bersandar kepadanya. Banyak orang, ketika sakit, condong ke salah satu dari dua ekstrem. Sebagian menggantungkan hatinya sepenuhnya kepada dokter dan obat, sehingga jika ikhtiar itu gagal, ia jatuh dalam keputusasaan atau bahkan menyalahkan takdir. Sebagian lain, dengan dalih tawakal, justru meninggalkan ikhtiar berobat sama sekali, padahal ini adalah pemahaman keliru terhadap makna tawakal itu sendiri. Nabi Ibrahim mengajarkan jalan tengah yang lurus: beliau menyebut sakit sebagai bagian dari dirinya (وَإِذَا مَرِضْتُ), namun kesembuhan beliau sandarkan sepenuhnya kepada Allah (فَهُوَ يَشْفِينِ).
Dalam praktiknya, penerapan faedah ini terlihat pada seorang Muslim yang tetap berikhtiar ke dokter, mengonsumsi obat sesuai anjuran medis, serta menjalani terapi yang diperlukan, namun di saat yang sama tidak pernah putus berdoa dengan sungguh-sungguh, tidak menaruh curiga kepada takdir ketika hasil pengobatan tidak sesuai harapan, dan tidak pula menyalahkan tenaga medis secara berlebihan karena menyadari bahwa kesembuhan bukan sepenuhnya berada di tangan mereka. Sikap inilah yang menjadi penawar bagi kegelisahan yang diuraikan pada bagian Pembukaan --- ketika seseorang panik mencari kesembuhan ke berbagai penjuru hingga tersesat pada praktik yang menyimpang, ayat ini meluruskan kembali ke mana hati semestinya berlabuh: ikhtiar yang sungguh-sungguh, disertai penyerahan hati hanya kepada Allah.
Faedah 2: Adab Bermunajat --- Menisbahkan Kebaikan kepada Allah, Introspeksi atas Keburukan pada Diri Sendiri
Dari perbandingan perkataan pertama dan kedua ayat ini, tampak sebuah adab luhur dalam bermunajat kepada Allah: keburukan atau sesuatu yang secara lahiriah tidak menyenangkan dinisbahkan kepada diri sendiri, sementara kebaikan dan karunia dinisbahkan secara tegas kepada Allah. Adab ini bukan berarti mengingkari bahwa segala sesuatu --- baik dan buruk menurut pandangan manusia --- sama-sama terjadi atas qada dan qadar Allah, melainkan sebuah bentuk kesantunan dalam berbicara kepada Sang Pencipta, sekaligus mendorong sikap introspeksi diri.
Penerapan adab ini terasa relevan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia kerja dan bermuamalah. Ketika sebuah usaha mengalami kerugian atau kegagalan, sikap yang diajarkan ayat ini adalah terlebih dahulu introspeksi diri --- barangkali ada kelalaian, ketidakcermatan, atau kekurangan ikhtiar yang perlu diperbaiki --- alih-alih segera menyalahkan keadaan atau pihak lain. Sebaliknya, ketika usaha membuahkan keuntungan dan keberkahan, hendaknya segera disyukuri sebagai karunia murni dari Allah, bukan semata hasil kepiawaian diri sendiri.
Faedah 3: Keteladanan Ketabahan Para Nabi dalam Menghadapi Sakit
Menelusuri lebih jauh, pengakuan Nabi Ibrahim ini menemukan gemanya pada kisah nabi lain yang juga diuji dengan sakit berkepanjangan, yaitu Nabi Ayyub 'alaihissalam. Allah berfirman:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Artinya: "(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.'" (QS. Al-Anbiya' [21]: 83)
Menurut Al-Qurthubi, ucapan Nabi Ayyub "aku telah ditimpa penyakit" bermakna bahwa penderitaan itu telah menimpa tubuh, harta, dan keluarganya sekaligus[8].
Perbandingan kedua doa ini memperlihatkan pola yang sama di antara para nabi: keduanya mengadukan sakitnya kepada Allah tanpa berkeluh kesah kepada makhluk, dan keduanya menyandarkan harapan kesembuhan semata kepada sifat-sifat Allah --- Nabi Ibrahim kepada penyembuhan-Nya yang pasti, Nabi Ayyub kepada rahmat-Nya yang luas. Sudut pandang ini belum tersentuh pada Faedah 1 dan 2 di atas, karena keduanya berfokus pada keseimbangan ikhtiar-tawakal dan adab bermunajat, sementara faedah ini menegaskan bahwa ujian sakit --- betapapun beratnya --- bukanlah tanda kehinaan seorang hamba di sisi Allah, melainkan jalan yang juga ditempuh oleh para kekasih-Nya, sehingga tidak sepatutnya seorang mukmin berputus asa atau merasa sendirian ketika menghadapinya.
5. Penutup
Tadabbur Ayat dari Perspektif Tauhid, Akidah, dan Akhlak terhadap Allah
Seluruh untaian kajian di atas pada akhirnya bermuara pada satu fondasi utama: tauhid rububiyah, yaitu keyakinan bahwa Allah semata yang mencipta, memberi rezeki, mematikan, dan menyembuhkan. Pengakuan Nabi Ibrahim 'alaihissalam --- "dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku" --- bukan sekadar ungkapan pasrah, melainkan deklarasi akidah yang meletakkan dokter, obat, dan segala ikhtiar medis pada kedudukannya yang benar: sebagai wasilah yang Allah ciptakan, bukan sebagai sumber kekuatan yang berdiri sendiri. Sebagaimana telah disinggung pada catatan akhir [7], penamaan Allah dengan "Asy-Syafi" dalam doa ruqyah Nabi ﷺ berakar langsung dari ayat ini, sehingga mengimani nama dan sifat Allah tersebut berarti menempatkan setiap ikhtiar kesembuhan dalam bingkai penghambaan: berusaha semaksimal mungkin, namun hati tidak pernah berpaling dari Sang Pemilik kesembuhan yang sesungguhnya.
Dari sisi akhlak terhadap Allah, ayat ini mengajarkan adab batin yang mendalam: ridha terhadap qada, husnuzhan kepada-Nya di tengah ujian, dan keengganan mengadukan derita kepada makhluk. Sikap Nabi Ibrahim yang menisbahkan sakit kepada dirinya sendiri namun menyandarkan kesembuhan sepenuhnya kepada Allah, sebagaimana diteladankan pula oleh Nabi Ayyub 'alaihissalam yang mengadukan penderitaannya hanya kepada Rabbnya, menunjukkan bahwa kesantunan dalam bermunajat dan penerimaan atas ketetapan Allah bukanlah kepasrahan yang lemah, melainkan puncak keyakinan seorang hamba bahwa apa pun yang ditetapkan-Nya --- termasuk sakit yang menyakitkan --- senantiasa terbingkai dalam rahmat dan hikmah-Nya yang sempurna. Akhlak inilah yang menjadi buah nyata dari tauhid yang benar, sebelum kemudian merambah ke ranah muamalah dan kehidupan berekonomi.
Tadabbur Ayat dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah
Sekilas, ayat tentang sakit dan kesembuhan ini tampak jauh dari pembahasan ekonomi dan muamalah. Namun, fondasi tauhid yang dikandungnya --- menyeimbangkan ikhtiar dengan tawakal --- justru merupakan akar dari etika kerja dan berusaha dalam Islam. Seorang pelaku ekonomi syariah dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam ikhtiar: bekerja keras, merencanakan usaha dengan cermat, mengelola risiko secara profesional, dan menempuh segala sarana yang halal untuk meraih keberkahan rezeki. Namun di saat yang sama, hatinya tidak boleh bergantung kepada hasil usaha itu sendiri, melainkan kepada Allah yang menetapkan hasil akhirnya.
Sikap inilah yang membedakan seorang Muslim yang bertawakal dengan benar dari dua kekeliruan yang berlawanan: keserakahan yang lahir dari keyakinan bahwa rezeki dan keuntungan semata hasil kepandaian diri, serta kepasrahan keliru yang meninggalkan ikhtiar dengan dalih tawakal. Sebagaimana Nabi Ibrahim tidak meninggalkan sikap mengakui adanya sebab kesembuhan sembari tetap menyandarkan hasil akhirnya kepada Allah, seorang pelaku usaha syariah pun dituntut untuk tetap berikhtiar secara maksimal --- termasuk dalam menjaga kehalalan setiap transaksi dan menghindari riba serta gharar --- sembari meyakini bahwa keberkahan sejati datang dari Allah, bukan semata dari besarnya modal atau kelihaian strategi. Muraqabah, kesadaran senantiasa diawasi oleh Allah dalam setiap langkah usaha, menjadi buah alami dari tauhid rububiyah yang diajarkan ayat ini, dan pada gilirannya melahirkan pelaku ekonomi yang berintegritas: giat berikhtiar, namun rendah hati dan bersyukur di hadapan Allah.
6. Daftar Pustaka (Maraji')
Al-'Asqalani, Ahmad bin Ali bin Hajar. Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H.
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 2002.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Beirut: Dar al-Fikr, 1993.
Ibnu Katsir, Isma'il bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah, 1999.
Quthb, Sayyid. Fi Zhilal al-Qur'an. Kairo: Dar asy-Syuruq, 1993.
1 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, jilid 4 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), tafsir QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80. Ibnu Katsir menegaskan bahwa penisbatan sakit kepada diri sendiri oleh Nabi Ibrahim mengikuti kaidah adab yang sama dengan Surah Al-Fatihah, ketika nikmat disandarkan kepada Allah sedangkan pelaku keburukan tidak disebutkan secara eksplisit. ↩
2 Sayyid Quthb, Fi Zhilal al-Qur'an, jilid 5 (Kairo: Dar asy-Syuruq, 1993), tafsir QS. Asy-Syu'ara' [26]: 79-80. Sayyid Quthb menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah menisbahkan sakitnya kepada Allah walaupun beliau meyakini sakit dan sehat sama-sama terjadi atas kehendak-Nya; beliau hanya menyebut nama Rabbnya dalam konteks pemberian nikmat dan karunia. ↩
3 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, jilid 8 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), tafsir QS. At-Taghabun [64]: 11. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa siapa yang tertimpa musibah lalu meyakininya sebagai qada dan qadar Allah, kemudian bersabar dan berserah diri, hatinya akan diberi petunjuk oleh Allah berupa keyakinan yang teguh. ↩
4 Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid 10 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H), 142. Ibnu Hajar menegaskan bahwa berobat dan mengambil sebab kesembuhan tidak bertentangan dengan sikap tawakal kepada Allah, sebagaimana makan dan minum untuk menghilangkan lapar dan haus juga tidak menafikan tawakal. ↩
5 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, jilid 4 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), tafsir QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80. Ibnu Katsir menafsirkan perkataan ini: apabila Ibrahim ditimpa sakit, maka tidak ada satu pun yang mampu menyembuhkannya selain Allah, melalui sebab-sebab yang Dia mudahkan untuk sampai kepada kesembuhan itu. ↩
6 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, jilid 4 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), tafsir QS. An-Nahl [16]: 69. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa madu yang keluar dari perut lebah mengandung kesembuhan bagi manusia dari berbagai penyakit yang menimpa mereka. ↩
7 Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, jilid 10 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H), 207. Ibnu Hajar menyatakan bahwa penamaan Allah dengan "Asy-Syafi" dalam doa ini memiliki landasan langsung dalam Al-Qur'an, yaitu firman-Nya pada QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80 yang sedang dikaji ini. ↩
8 Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, jilid 11 (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), tafsir QS. Al-Anbiya' [21]: 83. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ucapan Nabi Ayyub "mesniyadl-dlurr" bermakna bahwa penderitaan itu telah menimpa tubuh, harta, dan keluarganya. ↩