Hadits: Sujud Malam Nabi ﷺ dan Doa Perlindungan dari Murka Allah

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah, 

Dalam kehidupan yang semakin sibuk dan penuh hiruk pikuk dunia, banyak kaum muslimin yang mulai kehilangan kepekaan terhadap hubungan pribadinya dengan Allah Subḥānahu wa Taʿala, terutama dalam hal ibadah malam dan doa yang tulus di sepertiga malam terakhir. Tidak sedikit yang tertidur pulas dalam kenyamanan duniawi, tanpa menyadari bahwa Nabi Muhammad ﷺ — kekasih Allah, yang dosanya telah diampuni — justru memilih untuk sujud di tengah malam, merendahkan diri, merintih kepada Allah dengan doa yang penuh makna dan ketundukan.

Hadits yang akan kita pelajari ini menyingkap satu sisi kehidupan Rasulullah ﷺ yang begitu agung namun sering terlupakan: sujudnya beliau di malam hari dengan doa perlindungan dari kemurkaan Allah, serta dialog beliau dengan istrinya, ʿĀisyah radhiyallāhu 'anhā, yang menggambarkan perjuangan menghadapi godaan syaitan bahkan oleh para nabi. 

Di tengah gempuran syubhat dan syahwat, serta lemahnya kesadaran untuk memperbaiki diri, hadits ini menjadi cermin penting bagi kita semua untuk merenungi bagaimana seharusnya seorang muslim membangun hubungan yang jujur, takut, dan penuh harap kepada Rabb-nya. Oleh karena itu, memahami hadits ini bukan hanya penting, tetapi sangat urgen — agar kita mampu meneladani keikhlasan Nabi ﷺ dan memperkuat benteng ruhani di tengah derasnya gelombang godaan dunia.


Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

قالت عائشةُ زَوجُ النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ وَكانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي، فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ، مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ القِبْلَةَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَبِكَ مِنْكَ، أُثْنِي عَلَيْكَ، لَا أَبْلُغُ كُلَّ مَا فِيكَ. قَالَتْ: فَلَمَّا انْصَرَفَ، قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَخَذَكِ شَيْطَانُكِ؟ فَقُلْتُ: أَمَا لَكَ شَيْطَانٌ؟ قَالَ: مَا مِنْ آدَمِيٍّ إِلَّا لَهُ شَيْطَانٌ. فَقُلْتُ: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَأَنَا، وَلَكِنِّي دَعَوْتُ اللَّهَ فَأَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ.

‘Aisyah, istri Nabi , berkata: Aku kehilangan Rasulullah , padahal beliau biasa bersamaku di atas ranjangku. Aku pun mencarinya, dan mendapati beliau sedang bersujud, merapatkan kedua tumitnya, menghadap kiblat dengan ujung-ujung jari kakinya. Aku mendengar beliau berdoa: “Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu, dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu, dan kepada-Mu dari (murka)-Mu. Aku memuji-Mu, namun aku tidak mampu menjangkau seluruh pujian untuk-Mu.” Lalu ketika beliau kembali, beliau bertanya: “Wahai ‘Aisyah, apakah setanmu menguasaimu?” Aku menjawab: “Apakah engkau tidak memiliki setan?” Beliau menjawab: “Setiap anak Adam memiliki setan.” Aku berkata: “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, tapi aku memohon kepada Allah, lalu Dia membantuku mengalahkannya sehingga ia masuk Islam.”

HR. Muslim (486), Abu Dawud (879), at-Tirmidzi (3493), an-Nasa’ī (1130), Ibnu Majah (3841), Aḥmad (25655) dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam at-Tamhīd (23/348).

.


Arti dan Penjelasan per Perkataan


 فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku kehilangan Rasulullah

Perkataan ini menggambarkan suasana malam yang sunyi, di mana ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā menyadari bahwa Nabi tidak berada di sisinya di atas ranjang.

Kata “فَقَدْتُ” menunjukkan perasaan kehilangan yang disertai perhatian dan cinta yang mendalam.

Ini mencerminkan hubungan rumah tangga yang harmonis dan peka antara suami dan istri.

Dari sisi pendidikan rumah tangga, hal ini menunjukkan pentingnya kehadiran suami bagi istri, baik secara fisik maupun emosional.

Ketiadaan suami bahkan dalam waktu sebentar saja dirasakan dan dicari.

Hal ini juga menegaskan bahwa Nabi tidak meninggalkan rumah dengan sembarangan, sehingga ketika tidak ditemukan, hal itu menjadi perhatian.


وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي
Dan beliau biasanya bersamaku di atas ranjangku

Perkataan ini menguatkan bahwa kepergian Nabi bukan kebiasaan pada waktu itu, karena sebelumnya beliau ada di tempat tidur bersama istrinya.

Penggunaan kalimat ini menunjukkan bahwa ‘Aisyah tidak sekadar mencari beliau karena keingintahuan, tapi karena kondisi tersebut tidak lazim.

Menunjukkan keintiman dan kebersamaan Nabi dengan istrinya, bahwa kehidupan beliau sebagai pemimpin umat tidak membuatnya abai terhadap hak-hak keluarga.

Menjadi teladan dalam menyeimbangkan antara ibadah, dakwah, dan kehidupan rumah tangga.

Kehangatan hubungan rumah tangga yang diperlihatkan dalam kalimat ini juga mengisyaratkan bahwa ibadah malam tidak mengorbankan keharmonisan rumah tangga.


فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا
Lalu aku menemukannya sedang bersujud

Perkataan ini menunjukkan bahwa Nabi berada dalam ibadah malam ketika tidak ditemukan di tempat tidur.

Sujud adalah bentuk ibadah yang paling menunjukkan kerendahan dan kehambaan.

Keadaan sujud menandakan bahwa Nabi menjadikan malam sebagai saat khusus untuk mendekat kepada Allah.

Ini juga mengajarkan bahwa momen-momen sunyi di malam hari sangat ideal untuk munajat kepada Allah tanpa gangguan.

Meskipun beliau adalah manusia paling mulia, beliau tetap merendahkan diri dalam sujud dengan penuh kekhusyukan.

Perilaku ini menjadi teladan spiritual bagi umat Islam dalam menjadikan malam sebagai waktu mendekat kepada Allah.


رَاصًّا عَقِبَيْهِ
Merapatkan kedua tumitnya

Perkataan ini menjelaskan posisi sujud Nabi yang sangat rapi dan sempurna.

Tumit yang dirapatkan menunjukkan kekhusyukan dan kesempurnaan dalam gerakan shalat.

Hal ini menunjukkan perhatian beliau terhadap detail gerakan ibadah.
Menjadi pelajaran bahwa bukan hanya hati yang khusyuk, tetapi juga badan yang tunduk dengan tata cara yang benar.

Keindahan lahiriah sujud mencerminkan kekhusyukan batiniah.
Sikap ini mengajarkan pentingnya adab dan sunnah dalam ibadah, bahkan dalam hal kecil seperti posisi kaki.


مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ القِبْلَةَ
Menghadap kiblat dengan ujung-ujung jari kakinya

Perkataan ini menambah gambaran detail bagaimana Nabi menjaga arah dalam sujudnya.

Menghadap kiblat adalah syarat sah dalam shalat dan sujud, dan Nabi memperhatikannya dengan penuh ketelitian.

Ujung jari yang mengarah ke kiblat menunjukkan keselarasan tubuh dalam sujud dengan arah yang ditentukan syariat.

Ini menggambarkan totalitas ketundukan Nabi dalam ibadahnya, hingga posisi jari pun diperhatikan.

Menjadi pengingat bagi umat Islam untuk memperhatikan arah kiblat dengan seksama dalam ibadah mereka.

Kiblat bukan hanya arah geografis, tetapi simbol kesatuan umat dalam ibadah kepada Allah.


يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
Beliau berkata: “Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu”

Perkataan ini adalah doa dalam sujud yang penuh makna penghambaan dan pengakuan akan sifat-sifat Allah.

Berlindung dengan ridha Allah menunjukkan bahwa ridha-Nya adalah pelindung terbaik dari murka-Nya.

Menggambarkan bahwa seorang hamba tidak mampu menolak murka Allah kecuali dengan mencari ridha-Nya.

Doa ini menunjukkan betapa Nabi sangat bergantung kepada Allah bahkan dalam hal perlindungan dari sifat Allah sendiri.

Mengajarkan kita untuk menjadikan ridha Allah sebagai orientasi utama dalam hidup.

Perkataan ini juga mencerminkan ketakutan yang seimbang dengan harapan – antara khauf dan rajā’.


وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ
Dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu

Perkataan ini menggambarkan harapan akan keselamatan dari segala hukuman Allah.

Kata “معافاة” menunjukkan pemeliharaan dan penyembuhan, bukan sekadar tidak dihukum, tetapi juga dijaga dari sebab-sebab hukuman.
Menunjukkan pemahaman Nabi
akan kelemahan manusia dan kebutuhan mutlak akan perlindungan Allah.

Hukuman Allah tidak hanya di akhirat, tetapi juga bisa berupa cobaan di dunia akibat dosa dan kelalaian.

Permohonan ini menunjukkan urgensi berdoa dengan rasa rendah diri dan menyadari betapa lemahnya manusia.

Sebagai umat, kita diajarkan untuk tidak merasa aman dari hukuman Allah dan selalu meminta perlindungan dengan penuh harap.


وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ
Aku berlindung kepada-Mu dari (murka)-Mu

Perkataan ini sangat mendalam secara makna tauhid.
Berlindung kepada Allah dari Allah berarti tidak ada tempat perlindungan kecuali kepada-Nya.

Menunjukkan pengakuan total bahwa Allah-lah pemilik murka dan rahmat, serta hanya Dia yang dapat menyelamatkan dari keduanya.

Ini adalah puncak penghambaan, ketika seorang hamba hanya menggantungkan diri kepada Rabb-nya dalam segala hal.

Perkataan ini juga menunjukkan sifat keagungan dan keperkasaan Allah yang mutlak.

Sekaligus mengandung makna bahwa murka Allah bukan sesuatu yang dapat dihindari kecuali dengan kasih sayang dan perlindungan-Nya sendiri.


لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ
Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu

Perkataan ini menunjukkan kerendahan hati Nabi meskipun beliau adalah makhluk paling mulia.

Mengakui bahwa seluruh pujian kepada Allah tidak dapat dihitung karena kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.

Pujian kepada Allah bukan berdasarkan apa yang kita rasakan, tetapi berdasarkan siapa Allah itu sendiri.

Ucapan ini mencerminkan betapa besarnya kesadaran spiritual Nabi terhadap keagungan Allah.

Juga menunjukkan bahwa pujian manusia kepada Allah selalu kurang dan tidak sempurna, karena keterbatasan manusia.

Namun, tetap wajib memuji-Nya karena itu adalah bentuk syukur dan penghambaan.


أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri

Perkataan ini adalah bentuk pujian paling tinggi kepada Allah.


Karena hanya Allah yang tahu pujian terbaik untuk diri-Nya, maka hamba menyerahkan pujian itu kepada cara Allah memuji diri-Nya.
Ini bentuk kesempurnaan tauhid dalam memuji Allah.


Nabi
mengajarkan bahwa puncak pujian bukan pada ucapan kita, tapi pada pujian yang Allah berikan kepada diri-Nya dalam Al-Qur’an dan wahyu-Nya.


Mengandung makna bahwa pujian terbaik adalah yang datang dari Allah, bukan dari makhluk yang terbatas dan lemah.


Kalimat ini menjadi penutup doa yang penuh pengakuan akan kebesaran Allah dan kehinaan diri sebagai hamba.


Syarah Hadits


Nabi adalah orang yang paling bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah. Beliau sangat tekun menunaikan shalat malam, serta memperbanyak doa dan munajat.

Dalam hadis ini, Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata:
"فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي"
("Aku kehilangan Rasulullah , padahal beliau bersamaku di atas ranjangku")
Maksudnya adalah bahwa saat itu malam giliran beliau bersama ‘Aisyah. Ia terbangun di tengah malam dan tidak mendapati Nabi di sampingnya di atas ranjang. Maka ia mulai meraba-raba dengan tangannya dan mencari beliau, ingin tahu di mana beliau berada.

"فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ"
("Aku pun mendapati beliau sedang bersujud, merapatkan kedua tumitnya, dan menghadap kiblat dengan ujung-ujung jari kakinya")
Maksudnya, ia menyentuh kaki Nabi dalam keadaan beliau sedang bersujud. Keadaan beliau saat itu adalah merapatkan kedua tumitnya satu sama lain, dan ujung-ujung jari kaki beliau diarahkan ke kiblat, sementara beliau sedang berdoa dan mengucapkan:

"أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ"
("Aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu")
Yaitu aku memohon perlindungan dan keselamatan dengan hal-hal yang membuat-Mu ridha dariku, dari hal-hal yang menyebabkan murka dan kemarahan-Mu terhadapku.

"وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ"
("Dan dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu")
Artinya, aku memohon perlindungan dan keselamatan dengan ampunan-Mu terhadapku dari hal-hal yang dapat menimbulkan hukuman-Mu.

"وَبِكَ مِنْكَ"
("Dan kepada-Mu dari (murka)-Mu")
Artinya, aku memohon perlindungan dengan segala sifat-sifat-Mu yang penuh harapan dari segala sifat-Mu yang menakutkan. Semua itu adalah bagian dari nama dan sifat Allah yang agung.

"أُثْنِي عَلَيْكَ، لَا أَبْلُغُ كُلَّ مَا فِيكَ"
("Aku memuji-Mu, namun aku tidak sanggup menjangkau seluruh pujian untuk-Mu")
Yakni, aku tidak mampu memberikan pujian yang layak atas semua nikmat dan keutamaan-Mu. Engkau, wahai Rabb-ku, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. Ini adalah pengakuan akan kelemahan dalam menunaikan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata:
"فَلَمَّا انْصَرَفَ"
("Ketika beliau telah selesai (shalatnya)")
Maksudnya, setelah Nabi selesai dari shalatnya dan mengucapkan salam.

"قَالَ: يَا عَائِشَةُ، أَخَذَكِ شَيْطَانُكِ؟"
("Beliau berkata: Wahai ‘Aisyah, apakah setanmu menguasaimu?")
Yaitu, apakah setanmu membisikkan sesuatu padamu?

"فَقُلْتُ: أَمَا لَكَ شَيْطَانٌ؟"
("Aku menjawab: Apakah engkau tidak memiliki setan?")
Maksudnya, apakah setan tidak juga membisikkan sesuatu kepadamu dan membujukmu melakukan sesuatu?

"قَالَ: مَا مِنْ آدَمِيٍّ إِلَّا لَهُ شَيْطَانٌ"
("Beliau bersabda: Setiap anak Adam pasti memiliki setan")
Yakni, tidak ada manusia kecuali ia ditemani oleh setan yang senantiasa menggodanya.

"فَقُلْتُ: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟"
("Aku bertanya: Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?")

"قَالَ: وَأَنَا، وَلَكِنِّي دَعَوْتُ اللَّهَ فَأَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ"
("Beliau bersabda: Iya, termasuk aku. Tetapi aku berdoa kepada Allah, maka Dia membantuku terhadapnya, lalu ia masuk Islam")
Artinya, aku selamat darinya dan dari makar serta bisikannya, atau setan itu menjadi Muslim sehingga tidak menyuruhku kecuali pada kebaikan.

Hadits ini mengandung penjelasan tentang kebiasaan Nabi yang sangat tekun dan perhatian terhadap shalat malam serta ibadah di sepertiga malam terakhir.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa rasa cemburu bisa muncul di antara istri-istri, bahkan di kalangan wanita-wanita salehah dan para Ummahatul Mukminin.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa sifat ridha dan murka adalah sifat-sifat yang dimiliki Allah Ta‘ala, dan bahwa seorang hamba boleh memohon perlindungan kepada Allah dengan sebagian sifat-Nya dari sifat-Nya yang lain. Karena sifat yang dimohonkan perlindungan dan sifat yang dijadikan tempat berlindung, keduanya adalah milik satu Zat yang sama, yaitu Allah.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ma‘shum (terjaga) dari gangguan setan yang dapat memengaruhi akal atau hatinya dengan bisikan-bisikan buruk.

Selain itu, hadits ini juga menunjukkan bahwa setan bisa memiliki pengaruh bahkan terhadap jiwa-jiwa yang suci dan bersih, yaitu melalui bisikan-bisikannya.

 

Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/133397


Pelajaran dari Hadits ini


 1. Perhatian Istri kepada Suami di Malam Hari

Perkataan نَفَقَدتُّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Aku kehilangan Rasulullah ﷺ) menunjukkan betapa perhatian dan peka seorang istri terhadap keberadaan suaminya. Ini mencerminkan cinta dan kepedulian yang besar dalam rumah tangga. Dalam suasana malam yang hening, ‘Āisyah merasa kehilangan saat Rasulullah tidak berada di sampingnya. Hal ini memberi teladan penting bahwa hubungan suami-istri bukan hanya sebatas fisik, tetapi juga emosional dan spiritual. Islam sangat mendorong terciptanya hubungan yang penuh kasih sayang dalam rumah tangga. Allah berfirman dalam QS Ar-Rūm ayat 21:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang).


2. Kebiasaan Nabi yang Penuh Kasih di Rumah

Perkataan وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي (Dan beliau biasanya bersamaku di atas ranjangku) menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki kebiasaan menghabiskan malam bersama istrinya. Ini mencerminkan akhlak beliau dalam memperhatikan hak keluarga. Seorang pemimpin umat pun tidak mengabaikan perhatian kepada istrinya. Ini menjadi teladan bahwa seorang suami yang baik adalah yang mampu meluangkan waktu bersama keluarganya. Dalam hadis riwayat Bukhari, Anas bin Malik berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ
(Rasulullah ﷺ biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah).


3. Shalat Malam sebagai Bukti Kedekatan dengan Allah

Perkataan فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا (Lalu aku menemukannya sedang bersujud) menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memanfaatkan malamnya untuk bermunajat kepada Allah dalam keadaan sujud. Sujud adalah bentuk ibadah yang paling menunjukkan kerendahan dan keintiman seorang hamba kepada Rabb-nya. Rasulullah ﷺ menjadikan sujud sebagai tempat curahan hati dan doa. Dalam QS Al-‘Alaq ayat 19, Allah memerintahkan:
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
(Sekali-kali jangan! Jangan engkau patuhi dia; dan sujudlah serta dekatkanlah dirimu [kepada Allah].)


4. Kesempurnaan Gerakan Sujud dalam Shalat

Perkataan رَاصًّا عَقِبَيْهِ (Merapatkan kedua tumitnya) menggambarkan bagaimana Nabi ﷺ memperhatikan detail gerakan sujudnya. Beliau merapatkan tumitnya sebagai bentuk kesempurnaan dalam gerakan shalat. Ini memberi pelajaran bahwa tata cara shalat bukan hanya soal rukun, tetapi juga adab dan sunnah yang memperindah ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
(Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.)


5. Menghadap Kiblat Sepenuh Tubuh

Perkataan مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ القِبْلَةَ (Menghadap kiblat dengan ujung-ujung jari kakinya) menunjukkan perhatian Rasulullah ﷺ terhadap arah kiblat bahkan dalam detail tubuh saat sujud. Ini mengajarkan bahwa menghadap kiblat adalah tanda ketaatan dalam ibadah. Arah kiblat bukan hanya simbol geografis, tetapi juga simbol persatuan umat Islam dalam ibadah. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 144:
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
(Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram).


6. Memohon Perlindungan dari Murka Allah

Perkataan اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ (Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari murka-Mu) adalah bentuk doa penuh pengharapan dan ketakutan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ridha Allah adalah perlindungan terbaik dari murka-Nya. Ini mengajarkan keseimbangan antara rasa cinta kepada Allah dan rasa takut akan murka-Nya. Dalam QS Al-A‘rāf ayat 56, Allah berfirman:
إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
(Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.)


7. Mengharap Keselamatan dari Hukuman Allah

Perkataan وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ (Dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat sadar akan kemungkinan hukuman dari Allah, dan berharap dijaga dari segala bentuk siksa. Doa ini mengajarkan agar seorang hamba tidak hanya berharap tidak dihukum, tetapi juga selalu dalam penjagaan dan kesehatan dari Allah. Allah berfirman dalam QS Ghāfir ayat 9:
وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ ۚ وَمَن تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ
(Dan peliharalah mereka dari kejahatan. Barang siapa Engkau pelihara dari kejahatan pada hari itu, maka sungguh telah Engkau beri rahmat kepadanya.)


8. Berlindung kepada Allah dari Hukuman Allah

Perkataan وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ (Aku berlindung kepada-Mu dari (murka)-Mu) adalah puncak penghambaan, di mana seorang hamba menyadari bahwa tidak ada tempat lari dari Allah kecuali kepada-Nya. Ini mengajarkan tauhid yang murni dan pemahaman bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Dalam QS Az-Zumar ayat 54, Allah berfirman:
وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ
(Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya).


9. Merendah dalam Memuji Allah

Perkataan لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ (Aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu) menunjukkan bahwa bahkan Rasulullah ﷺ mengakui keterbatasannya dalam memuji Allah. Ini pelajaran tentang rendah hati dan kesadaran akan keterbatasan manusia. Allah terlalu agung untuk dipuji dengan kata-kata manusia yang terbatas. Dalam QS Ibrahim ayat 34 disebutkan:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
(Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.)


10. Menyerahkan Pujian kepada Allah

Perkataan أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ (Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri) adalah bentuk puncak pujian yang hanya layak disandarkan kepada Allah. Karena hanya Allah yang mengetahui bagaimana cara terbaik memuji diri-Nya, maka seorang hamba berserah diri dalam pujian itu. Ini adalah bentuk kesempurnaan dalam adab kepada Allah. Dalam QS Al-Ḥasyr ayat 24, Allah menyebutkan nama-nama-Nya dan menutup dengan:
لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
(Dia memiliki nama-nama yang paling indah, apa yang ada di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya.)


11. Kelembutan dalam Ibadah Tanpa Melupakan Keluarga

Hadits ini mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan Rasulullah ﷺ antara ibadah malam yang khusyuk dan peran sebagai suami yang perhatian. Rasulullah ﷺ tidak pernah membiarkan hak keluarganya terabaikan meskipun sedang beribadah. Ini menjadi pelajaran penting agar umat Islam meniru keseimbangan tersebut. Allah berfirman dalam QS Al-Furqān ayat 67:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
(Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.)


12. Sunnah Mengajarkan Doa-doa Indah dalam Sujud

Doa yang dibaca Rasulullah ﷺ dalam hadits ini termasuk doa-doa istimewa yang menunjukkan keutamaan sujud sebagai tempat paling dekat dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Muslim:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
(Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia sujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya.)


Secara keseluruhan, hadits ini menggambarkan kehidupan malam Rasulullah ﷺ yang penuh kekhusyukan dalam ibadah, keseimbangan dalam berumah tangga, serta ketundukan total kepada Allah dalam sujud dan doa. Ia menjadi teladan dalam hal kedekatan dengan Allah tanpa melupakan hak manusia, serta mengajarkan doa-doa yang dalam maknanya dan menyentuh hati setiap orang yang beriman.


Penutupan Kajian


Jamaah sekalian, hadits yang telah kita pelajari hari ini menyimpan faedah yang begitu mendalam. Kita melihat bagaimana Rasulullah ﷺ, seorang manusia paling mulia, tetap merendahkan diri dalam sujud malam, memohon perlindungan dari murka Allah, meski beliau telah dijamin ampunan. Ini mengajarkan kepada kita bahwa rasa takut kepada Allah bukanlah tanda kelemahan, tetapi ciri kedewasaan iman.

Kita juga belajar bahwa ibadah malam bukan sekadar rutinitas, melainkan momen spiritual yang menghadirkan kedekatan yang intim dengan Allah. Dalam sujud itu, Nabi ﷺ mengajarkan doa yang penuh pengakuan, ketergantungan, dan permohonan keselamatan dari siksa dan kemurkaan-Nya.

Faedah lain dari hadits ini adalah pentingnya komunikasi yang jujur dan lembut dalam rumah tangga. Perbincangan antara Nabi ﷺ dan ʿĀisyah radhiyallāhu ‘anhā menunjukkan akhlak mulia dalam membimbing pasangan, bahkan dalam hal seintim ibadah.

Harapan kita, semoga setelah mempelajari hadits ini, setiap peserta kajian mampu menumbuhkan kembali semangat untuk memperbanyak sujud di malam hari, menyadari kelemahan diri, dan selalu memohon keselamatan dari murka Allah. Marilah kita jadikan sujud dan doa Rasulullah ﷺ ini sebagai bagian dari keseharian kita — tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam sikap hidup yang senantiasa merasa diawasi dan membutuhkan rahmat-Nya. 

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang baik.

وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.

Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:

🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

 

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.