Hadits: Keutamaan Berjalan Ke Masjid Untuk Shalat Berjamaah
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Hadirin
dan hadirat yang dirahmati Allah,
Di
tengah kehidupan kita hari ini, masjid sering kali hanya dipandang sebagai
tempat singgah saat waktu shalat tiba, bukan sebagai tujuan utama yang
dirindukan. Tidak sedikit kaum muslimin yang merasa berat melangkahkan kaki ke
masjid, terlebih untuk shalat berjamaah, dengan berbagai alasan: sibuk bekerja,
lelah, jarak terasa jauh, atau karena sudah merasa “cukup” shalat di rumah.
Bahkan ada yang lebih memilih kemudahan dan kenyamanan, tanpa menyadari bahwa
di balik langkah kaki menuju masjid tersimpan pahala yang sangat besar.
Hadits
yang akan kita kaji ini hadir sebagai jawaban atas realitas tersebut.
Rasulullah ﷺ menggeser cara pandang kita:
bahwa ibadah tidak dimulai saat takbiratul ihram, tetapi sejak kita bersuci di
rumah dan melangkahkan kaki menuju masjid. Setiap langkah bukan sekadar
perjalanan fisik, melainkan ladang pahala—satu langkah menghapus dosa, langkah
lainnya mengangkat derajat. Ini adalah kabar gembira bagi umat yang sering
merasa penuh kekurangan dan dosa, sekaligus motivasi bagi mereka yang ingin
meningkatkan kualitas iman dengan amalan yang ringan namun bernilai besar.
Mempelajari
hadits ini menjadi sangat urgen, karena ia menata ulang skala prioritas kita
dalam beragama, menumbuhkan kecintaan pada masjid, serta membangkitkan semangat
shalat berjamaah di tengah budaya serba praktis dan instan. Dengan memahami
makna hadits ini secara utuh, diharapkan setiap peserta kajian tidak lagi
memandang langkah ke masjid sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan emas untuk
membersihkan dosa, menaikkan derajat, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan
cara yang sederhana namun konsisten.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ تَطَهَّرَ فِي
بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً
مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً،
وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu ia berjalan menuju
salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan satu kewajiban dari
kewajiban-kewajiban Allah, maka salah satu langkah kakinya menghapus satu dosa
dan langkah yang lainnya mengangkat satu derajat.
HR. Muslim (666)
Arti dan Penjelasan per Perkataan
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ
“Barangsiapa bersuci di rumahnya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa ibadah yang bernilai besar
dimulai dari kesiapan diri, bukan hanya dari pelaksanaan akhirnya.
Secara bahasa, تَطَهَّرَ berarti
membersihkan diri dari hadats dan najis, sedangkan dalam istilah syariat
bermakna wudhu atau bersuci yang sah sesuai tuntunan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini mengajarkan bahwa kebaikan
yang bernilai di sisi Allah sering kali bermula dari hal yang tampak sederhana
namun dilakukan dengan kesadaran dan niat yang lurus.
ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ
اللَّهِ
“Kemudian ia berjalan menuju salah satu rumah dari rumah-rumah Allah.”
Perkataan ini menegaskan bahwa aktivitas berjalan kaki itu
sendiri termasuk bagian dari ibadah.
Secara bahasa, مَشَى berarti
melangkah dengan kaki, dan penyebutan masjid sebagai بُيُوتِ اللَّهِ menunjukkan
kemuliaan tempat tersebut karena dinisbatkan kepada Allah.
Dalam praktik sehari-hari, ini menanamkan kesadaran bahwa
perjalanan menuju ketaatan bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perjalanan
spiritual yang penuh nilai.
لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ
“Untuk menunaikan satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah.”
Perkataan ini menekankan bahwa tujuan utama ke masjid
adalah melaksanakan shalat wajib, bukan aktivitas lain.
Secara istilah, فَرِيضَة berarti
ibadah yang ditetapkan secara pasti dan berdosa jika ditinggalkan tanpa uzur.
Dalam konteks kehidupan, ini mengingatkan bahwa kewajiban
harus menjadi prioritas utama, didahulukan dari kesibukan dan urusan duniawi.
كَانَتْ خَطْوَتَاهُ
“Maka langkah-langkah kakinya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa setiap langkah
diperhitungkan satu per satu oleh Allah.
Secara bahasa, خَطْوَة berarti
satu pijakan kaki, dan bentuk dual di sini memberi isyarat bahwa tidak ada
langkah yang sia-sia.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini menanamkan optimisme bahwa
usaha kecil yang konsisten dalam ketaatan memiliki nilai besar di sisi Allah.
إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً
“Yang satu menghapuskan satu dosa.”
Perkataan ini menjelaskan keutamaan pertama dari berjalan
ke masjid, yaitu penghapusan dosa.
Secara istilah, خَطِيئَة merujuk
pada dosa-dosa, khususnya dosa kecil yang terhapus dengan amal saleh.
Dalam kehidupan nyata, ini memberi harapan bahwa Allah
membuka banyak pintu ampunan melalui amalan yang mudah dan berulang.
وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
“Dan yang lainnya mengangkat satu derajat.”
Perkataan ini menjelaskan keutamaan kedua, yaitu peninggian
kedudukan seorang hamba di sisi Allah.
Secara istilah, دَرَجَة menunjukkan
tingkatan kemuliaan iman dan pahala, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam praktik keseharian, ini mengajarkan bahwa ibadah
tidak hanya menghapus keburukan masa lalu, tetapi juga membangun kemuliaan dan
kualitas diri di masa depan.
Pelajaran dari Hadits ini
1.
Memulai Ibadah dengan Kesungguhan dan Persiapan
Perkataan
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ (barangsiapa bersuci di rumahnya)
mengajarkan bahwa ibadah yang bernilai besar di sisi Allah dimulai dari
kesiapan hati dan tubuh sejak dari rumah. Bersuci bukan sekadar membersihkan
anggota badan, tetapi menata niat dan kesadaran bahwa kita sedang bersiap
menghadap Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, ini menanamkan kebiasaan baik:
tidak menunda wudhu, menjaga kebersihan, dan menyiapkan diri dengan tenang
sebelum berangkat shalat. Allah mencintai hamba yang menjaga kesucian lahir dan
batin, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah: 222:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
(Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang
menyucikan diri)
Juga,
Rasulullahﷺ bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ
(Bersuci itu adalah sebagian dari iman — HR. Muslim)
2.
Melangkah ke Masjid Bernilai Ibadah
Perkataan
ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ (kemudian
ia berjalan menuju salah satu rumah Allah) menegaskan bahwa langkah kaki
menuju masjid sudah dihitung sebagai ibadah. Masjid dimuliakan karena
dinisbatkan kepada Allah, sehingga perjalanan ke sana bukan perjalanan biasa.
Dalam praktik hidup, ini menguatkan semangat untuk tidak malas ke masjid, meski
jarak jauh atau kondisi kurang nyaman, karena setiap langkah dicatat sebagai
amal. Allah berfirman dalam QS. An-Nur: 36:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ
Di
rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di
dalamnya.
Rasulullahﷺ bersabda:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنَ
الْجَنَّةِ، كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
Barangsiapa
pergi ke masjid pada waktu pagi atau sore, Allah akan menyiapkan baginya jamuan
(kehormatan) di surga setiap kali ia pergi atau pulang. HR. Bukhari (662) dan
Muslim (669)
3.
Shalat Wajib sebagai Tujuan Utama
Perkataan
لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ (untuk menunaikan satu kewajiban
dari kewajiban-kewajiban Allah) menunjukkan bahwa tujuan utama ke masjid
adalah menunaikan shalat fardhu. Ini mengingatkan bahwa kewajiban harus
didahulukan dari urusan dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, perkataan ini
melatih disiplin iman: menjadikan shalat sebagai poros waktu dan prioritas
utama hidup. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 103:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Sesungguhnya
shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.
Rasulullahﷺ bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ،
فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ
عَمَلِهِ
Amalan
pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.
Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Namun jika shalatnya
rusak, maka rusak pula seluruh amalnya. HR. Ath-Thabrani dalam Al-Awsath (1 859)
4.
Setiap Langkah Diperhitungkan Allah
Perkataan
كَانَتْ خَطْوَتَاهُ (maka langkah-langkah kakinya)
mengajarkan bahwa tidak ada usaha kecil yang sia-sia dalam ketaatan. Setiap
pijakan kaki menuju masjid dicatat satu per satu oleh Allah. Dalam kehidupan
sehari-hari, ini menumbuhkan optimisme dan kesabaran: amal kecil yang rutin
bisa lebih bernilai daripada amal besar yang jarang. Allah berfirman dalam QS.
Az-Zalzalah: 7:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat
balasannya.
Rasulullahﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan
yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit — HR.
Bukhari (6465) dan Muslim (783)
5.
Satu Langkah Menghapus Dosa
Perkataan
إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً (yang satu menghapus satu dosa)
memberikan kabar gembira bahwa berjalan ke masjid menjadi sebab penghapusan
dosa. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah yang menjadikan amalan ringan
sebagai penghapus kesalahan. Dalam kehidupan nyata, ini menumbuhkan harapan dan
menghilangkan putus asa dari rahmat Allah. Allah berfirman dalam QS. Hud: 114:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Sesungguhnya
kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan.
Rasulullahﷺ bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ
إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
(Shalat
lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan
berikutnya, menjadi penghapus dosa-dosa di antara waktu-waktu tersebut selama
dosa-dosa besar dijauhi. HR At-Tirmidzi (214) dan Ahmad (10285), serta Ibnu
Majah (1086).
6.
Langkah Lain Mengangkat Derajat
Perkataan
وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً (dan yang lainnya mengangkat satu
derajat) menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya membersihkan dosa, tetapi juga
meninggikan kedudukan seorang hamba. Dalam kehidupan sehari-hari, ini
mengajarkan bahwa istiqamah ke masjid membentuk kemuliaan iman dan akhlak, baik
di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah: 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah
mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.
7.
Keutamaan Berjalan Kaki Dibanding Berkendara
Hadits
ini secara tidak langsung memberi isyarat keutamaan berjalan kaki ke masjid
ketika mampu, karena setiap langkah dihitung pahala. Ini relevan di masa kini
agar tidak selalu mengandalkan kenyamanan, tetapi tetap mencari nilai ibadah. Rasulullahﷺ bersabda:
إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ إِلَيْهَا
مَمْشًى، فَأَبْعَدُهُمْ
Sesungguhnya
orang yang paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh jaraknya
menuju shalat dengan berjalan kaki; maka yang paling jauh di antara mereka. HR
Al-Bukhari (651)
8.
Masjid sebagai Pusat Pembinaan Iman
Hadits
ini juga mengajarkan bahwa masjid bukan sekadar tempat shalat, tetapi pusat
pembinaan iman dan penghapus dosa. Rutin ke masjid membentuk kedisiplinan,
ukhuwah, dan kekuatan spiritual umat. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah: 18
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الْآخِرِ
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhir.
Secara
keseluruhan, hadits ini menegaskan bahwa perjalanan ke masjid untuk shalat
wajib adalah ibadah yang utuh sejak dari rumah hingga kembali. Setiap langkah
membawa dua keuntungan besar: penghapusan dosa dan peninggian derajat. Ia
menanamkan optimisme, disiplin, dan kecintaan pada masjid, sekaligus
mengajarkan bahwa amal kecil yang istiqamah dapat mengantarkan seorang hamba
pada kemuliaan dunia dan akhirat.
Penutupan Kajian
Sebagai
penutup kajian ini, kita diingatkan kembali bahwa hadits tentang berjalan ke
masjid bukan sekadar informasi keutamaan, tetapi undangan penuh kasih dari
Rasulullah ﷺ agar kita memaknai ibadah secara lebih utuh. Hadits ini
mengajarkan bahwa pahala tidak hanya menanti kita di dalam masjid, tetapi sudah
mengalir sejak kita bersuci di rumah, melangkahkan kaki, dan menata niat untuk
menunaikan shalat wajib. Setiap langkah adalah ibadah, setiap perjalanan adalah
ladang ampunan, dan setiap kehadiran di masjid menjadi sebab naiknya derajat
seorang hamba di sisi Allah.
Harapan
dari kajian ini bukan sekadar bertambahnya pengetahuan, tetapi tumbuhnya
kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari. Semoga setelah memahami hadits ini,
langkah kita ke masjid menjadi lebih ringan, hati kita lebih rindu, dan
alasan-alasan untuk meninggalkan shalat berjamaah semakin berkurang. Semoga
kita mampu menjadikan masjid sebagai tujuan utama, bukan pilihan terakhir;
sebagai tempat membersihkan dosa, bukan sekadar rutinitas; dan sebagai jalan
untuk mendekat kepada Allah dengan amalan yang sederhana, namun dilakukan
dengan istiqamah hingga akhir hayat.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.