Hadits: Orang Tua Dipakaikan Mahkota di Hari Kiamat Karena Amal Anaknya Terhadap Al-Qur’an
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di zaman di mana perhatian terhadap Al-Qur’an mulai melemah. Banyak anak muda sibuk dengan media sosial, game online, dan tren dunia yang tak berujung, namun mereka jauh dari mushaf yang menjadi cahaya hidup. Tak sedikit pula orang tua yang menaruh harapan tinggi pada kesuksesan anak dalam hal dunia—ranking sekolah, prestasi akademik, atau posisi kerja—namun abai menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sejak dini. Padahal, Al-Qur’an bukan hanya sumber petunjuk, tapi juga sumber keberkahan dunia dan akhirat, bahkan bisa menjadi sebab kemuliaan orang tua di hari kiamat.
Hadits yang akan kita pelajari hari ini menyentuh sisi yang sangat dalam: bahwa siapa pun yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, bukan hanya meraih kemuliaan untuk dirinya, tetapi juga memberikan pakaian dan cahaya kemuliaan kepada kedua orang tuanya di akhirat. Ini adalah kabar gembira yang sangat agung di tengah kondisi banyak orang tua yang merasa tidak bisa lagi banyak beramal karena usia, tapi mereka masih punya harapan besar—yakni anak-anak yang shalih dan dekat dengan Al-Qur’an.
Karena itulah, hadits ini sangat penting untuk kita pahami dan resapi. Ia bukan sekadar motivasi untuk membaca Al-Qur’an, tapi juga peta jalan membangun keluarga yang berkah dan akhirat yang cerah. Kajian ini bukan hanya untuk anak-anak yang ingin membahagiakan orang tuanya kelak, tapi juga bagi para orang tua agar menyadari betapa pentingnya menanamkan cinta Al-Qur’an dalam keluarga. Mari kita dalami bersama makna, pelajaran, dan urgensi dari sabda Nabi ﷺ ini, semoga Allah melembutkan hati kita dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidup kita dunia dan akhirat.
Dari Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami radhiyallahu 'anhu,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ
وَتَعَلَّمَ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ
نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا
تَقُومُ لَهُمَا الدُّنْيَا، فَيَقُولَانِ: بِمَ كُسِينَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ
وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ
"Barang siapa membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan
mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan pada hari kiamat
mahkota dari cahaya yang sinarnya seperti cahaya matahari. Keduanya juga akan
diberi dua pakaian kemuliaan yang tidak sebanding nilainya dengan dunia. Maka
keduanya bertanya, 'Kenapa kami diberi pakaian ini?' Lalu dijawab: 'Karena anak
kalian mengambil (mempelajari dan mengamalkan) Al-Qur’an.'"
HR.
al-Hakim dalam al-Mustadrak (2086), dan dinyatakan sanadnya hasan
oleh al-Mundziri dalam at-Targhib wat-Tarhib (2/303).
Maraji:
https://dorar.net/h/SGvzobAi
Arti dan Penjelasan per Perkataan
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ
Barang siapa yang membaca Al-Qur’an.
Membaca Al-Qur’an merupakan langkah awal untuk
mendekatkan diri kepada wahyu Allah.
Aktivitas ini bukan hanya sebatas pelafalan, tetapi merupakan ibadah yang
mengandung pahala dalam setiap hurufnya.
Perintah membaca menegaskan pentingnya interaksi aktif dengan kitab suci yang menjadi sumber petunjuk hidup.
Dalam konteks pendidikan Islam, membaca Al-Qur’an menjadi dasar pengajaran iman, akhlak, dan syariat.
Orang yang gemar membaca Al-Qur’an akan memiliki hubungan ruhani yang kuat
dengan Kalamullah.
وَتَعَلَّمَ
Dan ia mempelajarinya.
Setelah membaca, tahap selanjutnya adalah mempelajari kandungan dan maknanya.
Belajar Al-Qur’an meliputi tajwid, tafsir, serta pemahaman konteks hukum dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Belajar mengubah aktivitas membaca menjadi sebuah pemahaman yang menyentuh akal
dan hati.
Ilmu yang didapat dari Al-Qur’an memberi pencerahan dalam berpikir dan
bertindak.
Orang yang belajar Al-Qur’an menunjukkan kesungguhan dalam memuliakan wahyu
Allah, tidak hanya menjadikannya bacaan ritual semata.
وَعَمِلَ بِهِ
Dan mengamalkannya.
Amalan adalah bukti nyata dari pemahaman dan keimanan terhadap Al-Qur’an.
Mengamalkan Al-Qur’an artinya menjadikan nilai-nilainya hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Ini mencakup amal ibadah, akhlak mulia, serta keadilan dalam muamalah dan kehidupan sosial.
Orang yang mengamalkan Al-Qur’an akan menjadi pribadi yang berintegritas dan terpercaya di tengah masyarakat.
Allah tidak hanya memuliakan ilmu yang dipelajari, tetapi juga amal yang lahir
dari ilmu tersebut.
أُلْبِسَ وَالِدَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
تَاجًا مِنْ نُورٍ
Maka kedua orang tuanya akan dipakaikan pada hari kiamat mahkota dari cahaya.
Ini merupakan bentuk penghargaan Allah terhadap jasa pendidikan dan peran orang tua.
Mahkota cahaya menunjukkan kemuliaan dan kebesaran balasan yang tidak bisa dibandingkan dengan kehormatan dunia.
Mahkota ini bukan hasil usaha pribadi mereka, melainkan karena keberhasilan anak mereka dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Ini menggambarkan betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak dengan Al-Qur’an.
Balasan ini juga menjadi motivasi bagi para orang tua agar mendorong anaknya
mencintai Al-Qur’an.
ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ
Cahayanya seperti cahaya matahari.
Perumpamaan ini menunjukkan betapa agung dan terang kemuliaan mahkota itu.
Cahaya matahari adalah cahaya paling terang dan paling vital dalam kehidupan dunia.
Kemuliaan ini bukan hanya terlihat, tapi juga menyinari dan memberi manfaat bagi sekelilingnya.
Orang tua dari anak pecinta Al-Qur’an akan menjadi sosok yang dipandang dan dihormati di akhirat.
Hal ini menggambarkan derajat tinggi yang diberikan Allah kepada keluarga yang
hidup dalam naungan wahyu.
وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ
Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian kemuliaan.
Pakaian ini adalah simbol kehormatan dan keistimewaan di hadapan seluruh makhluk.
Tidak sembarang orang mendapatkan pakaian ini; ia diperuntukkan bagi yang berjasa dalam pendidikan Qur’ani.
Dua pakaian tersebut menunjukkan kelengkapan kemuliaan: satu untuk dunia, satu untuk akhirat.
Balasan ini menunjukkan bahwa mendidik anak bukan hanya amanah duniawi, tetapi investasi akhirat.
Pakaian ini mencerminkan keberhasilan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai
Qur’ani.
لَا تَقُومُ لَهُمَا الدُّنْيَا
Yang nilainya tidak dapat ditandingi oleh dunia seluruhnya.
Ungkapan ini menunjukkan betapa luar biasa pahala yang dijanjikan.
Seluruh perhiasan dan kekayaan dunia tidak bisa menandingi kemuliaan ini.
Hal ini mengajarkan kepada manusia agar tidak menilai amal dengan ukuran duniawi.
Allah menyiapkan ganjaran besar untuk siapa saja yang berjasa dalam menjaga kalam-Nya.
Keutamaan ini membimbing kita untuk mengejar akhirat melebihi kenikmatan dunia.
فَيَقُولَانِ: بِمَ كُسِينَا هَذَا؟
Maka keduanya berkata: “Dengan apa kami diberi pakaian ini?”
Pertanyaan ini menunjukkan rasa takjub dan keheranan orang tua terhadap kemuliaan yang mereka terima.
Mereka merasa tak layak menerima itu, karena tidak menyangka sebesar ini balasannya.
Ini menggambarkan betapa banyak manusia yang tidak menyadari besarnya pahala mendidik anak dalam Al-Qur’an.
Pertanyaan itu juga menunjukkan sifat rendah hati para penghuni surga.
Mereka tidak menganggap diri layak, namun tetap bersyukur atas nikmat Allah.
فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ
Lalu dikatakan: “Karena anak kalian mengambil (mempelajari dan mengamalkan)
Al-Qur’an.”
Jawaban ini menegaskan hubungan erat antara amalan anak dan pahala bagi orang tuanya.
Anak yang mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an menjadi sebab naiknya derajat kedua orang tuanya.
Ini adalah bentuk limpahan rahmat Allah yang menjadikan amalan anak sebagai sumber keberkahan bagi keluarganya.
Ungkapan ini juga menyadarkan kita bahwa pendidikan Al-Qur’an pada anak adalah investasi abadi.
Setiap orang tua hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai warisan utama dalam
keluarga mereka.
Syarah Hadits
Seorang hamba yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, menunjukkan bentuk kesempurnaan iman yang melibatkan ilmu, amal, dan spiritualitas.
Bacaan Al-Qur’an adalah bentuk pendekatan kepada Allah, pembelajaran adalah penguatan iman dan pemahaman syariat, sedangkan pengamalan merupakan bukti kejujuran iman.
Ketiga hal ini menjadi satu paket ibadah yang menyelamatkan, bukan hanya
bagi pelakunya, tetapi juga memberi keberkahan kepada orang tua dan
lingkungannya. Ini sesuai dengan firman Allah:
﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ
كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا
وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ﴾
(Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan
sebagian dari rezeki yang Kami berikan secara sembunyi dan terang-terangan,
mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi) (QS. Fāṭir: 29).
Kemuliaan seorang anak yang berinteraksi serius dengan Al-Qur’an tidak hanya berbuah untuk dirinya, tetapi juga akan melimpah ke kedua orang tuanya pada hari kiamat.
Pemberian mahkota cahaya dan dua pakaian mulia kepada kedua orang tuanya merupakan bentuk penghargaan dari Allah terhadap jasa dan kesabaran mereka dalam mendidik atau membimbing anak menuju jalan Allah.
Ini juga menunjukkan bahwa amal seseorang bisa menjadi sebab kebaikan bagi
orang lain, terutama bagi orang tuanya, sebagaimana dalam hadits:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا
أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ
(Sebaik-baik
makanan yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usahanya, dan anaknya
termasuk hasil usahanya) (HR. Abu Dawud: 3528).
Pertanyaan orang tua “بِمَ كُسِينَا هَذَا؟”
(dengan apa kami diberi pakaian seperti ini?) menggambarkan kekaguman mereka
akan karunia yang luar biasa, yang ternyata berasal dari amal anaknya terhadap
Al-Qur’an. Hal ini memperlihatkan bahwa amal shalih anak bisa membawa manfaat
ukhrawi yang luar biasa kepada orang tuanya. Maka menjadi tanggung jawab setiap
anak untuk tidak sekadar berbakti secara duniawi, tetapi juga menjadi sebab
keselamatan orang tuanya di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ
انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
(Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah
amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak
shalih yang mendoakannya) (HR. Muslim: 1631).
Hadits ini mengajarkan bahwa keberkahan Al-Qur’an mencakup pribadi, keluarga, bahkan masyarakat.
Anak yang menekuni Al-Qur’an akan tumbuh menjadi sosok yang memberi manfaat luas, karena ia membawa cahaya petunjuk, ilmu, dan akhlak.
Ini juga menanamkan motivasi kepada para orang tua untuk memperhatikan pendidikan agama anak sejak kecil, karena manfaatnya bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung
jawab untuk menjaga hubungan dengan Al-Qur’an: membacanya, memahaminya, dan
mengamalkannya—karena dari situlah kemuliaan kita akan dibangun di sisi Allah.
Pelajaran dari Hadits ini
1. Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Perkataan مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ (Barang siapa yang membaca Al-Qur’an) menunjukkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah awal dari jalan keberkahan. Tidak semua bacaan mendatangkan pahala, namun bacaan Al-Qur’an adalah ibadah yang mendatangkan kedekatan dengan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ (Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan) (HR. Tirmidzi no. 2910). Membaca Al-Qur’an juga menenangkan jiwa dan menjauhkan dari kesesatan, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 9:
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ
يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
(Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin).
2. Pentingnya Mempelajari Al-Qur’an
Perkataan وَتَعَلَّمَ (Dan ia mempelajarinya) mengajarkan bahwa membaca saja tidak cukup, tetapi harus disertai usaha untuk memahami. Belajar Al-Qur’an mencakup tajwid, makna ayat, dan nilai-nilai di balik ayat. Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya) (HR. Bukhari no. 5027). Allah juga berfirman dalam Surah Muhammad ayat 24:أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ
3. Mengamalkan Al-Qur’an dalam Kehidupan
Perkataan وَعَمِلَ بِهِ (Dan mengamalkannya) mengandung pesan bahwa ilmu tanpa amal adalah sia-sia. Al-Qur’an harus tercermin dalam perilaku, akhlak, dan keputusan hidup. Orang yang mengamalkan Al-Qur’an berarti menjadikannya sebagai pedoman hidup. Dalam Surah Al-Hashr ayat 21, Allah menggambarkan betapa beratnya kandungan Al-Qur’an jika benar-benar direnungi:لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا
ٱلْقُرْءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَـٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ
ٱللَّهِ
4. Kemuliaan Orang Tua Anak Pecinta Qur’an
Perkataan أُلْبِسَ وَالِدَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ (Maka kedua orang tuanya akan dipakaikan pada hari kiamat mahkota dari cahaya) menunjukkan betapa besar pahala bagi orang tua yang mendidik anaknya dengan Al-Qur’an. Mahkota itu adalah simbol kemuliaan di akhirat. Dalam Surah Al-Kahfi ayat 46, Allah menyebut anak sebagai amal yang bisa memberi manfaat akhirat:ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ
زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَـٰقِيَاتُ ٱلصَّـٰلِحَاتُ خَيْرٌ
5. Kecemerlangan Mahkota Seperti Cahaya Matahari
Perkataan ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ (Cahayanya seperti cahaya matahari) menunjukkan betapa terang dan agungnya balasan Allah di akhirat. Ini bukan sekadar penghargaan biasa, tetapi pantulan dari kemuliaan Al-Qur’an yang dibawa oleh anak mereka. Firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 69:وَأَشْرَقَتِ ٱلْأَرْضُ
بِنُورِ رَبِّهَا
6. Pakaian Kemuliaan yang Tak Tertandingi Dunia
Perkataan وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا تَقُومُ لَهُمَا الدُّنْيَا (Dan kedua orang tuanya diberi dua pakaian yang tidak sebanding dengan dunia) menjelaskan bahwa penghargaan dari Allah jauh lebih besar dari apapun yang dapat diberikan dunia. Ini menjadi motivasi bagi orang tua untuk tidak hanya mengejar keberhasilan dunia untuk anak, tetapi juga keberhasilan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ
إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ... أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
7. Rasa Takjub Orang Tua di Hari Kiamat
Perkataan فَيَقُولَانِ: بِمَ كُسِينَا هَذَا؟ (Maka keduanya berkata: “Dengan apa kami diberi pakaian ini?”) memperlihatkan bahwa orang tua pun tidak menyangka akan mendapat kemuliaan sebesar itu. Ini menunjukkan bahwa balasan akhirat sering kali melampaui bayangan manusia. Dalam Surah As-Sajdah ayat 17, Allah berfirman:فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ
مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ
8. Amal Anak Mengangkat Derajat Orang Tua
Perkataan فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ (Lalu dikatakan: “Karena anak kalian mengambil Al-Qur’an”) menjadi bukti bahwa amal anak bisa menjadi sebab diangkatnya derajat orang tuanya di akhirat. Ini menjadi pengingat agar mendidik anak bukan sekadar memberi makan dan ilmu dunia, tetapi juga mempersiapkan mereka menjadi ahli Qur’an. Dalam Surah At-Tur ayat 21 disebutkan:وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟
وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَـٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
9. Kekuatan Pendidikan Al-Qur’an dalam Keluarga
Meskipun tidak tercantum langsung dalam teks hadits, pelajaran penting yang tak boleh diabaikan adalah bahwa rumah tangga yang dipenuhi dengan semangat mencintai dan menghafal Al-Qur’an akan menjadi sebab keberkahan. Maka, mendidik anak dengan Al-Qur’an adalah bentuk amal jariyah yang terus mengalir.Secara keseluruhan, hadits ini menekankan pentingnya membentuk generasi yang membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an karena keberkahannya meluas hingga orang tuanya. Keutamaan yang dijanjikan tidak hanya bersifat pribadi, tetapi membawa kemuliaan bagi keluarga. Rumah tangga Qur’ani adalah sumber cahaya yang tidak hanya menyinari dunia, tetapi juga menjadi sebab kemuliaan di akhirat.
Penutupan Kajian
Faedah besar dari hadits ini adalah bahwa Al-Qur’an bisa menjadi sebab keselamatan dan kemuliaan, bukan hanya secara individu, tapi juga secara keluarga. Ia menjadi warisan terbaik, amal jariyah yang terus mengalir, dan jalan bakti tertinggi kepada orang tua. Jika selama ini kita mencari cara membalas jasa orang tua, maka hadits ini memberi petunjuk nyata: jadilah anak yang hidup bersama Al-Qur’an, maka engkau akan memuliakan orang tuamu di hadapan Allah kelak.
Harapannya, setelah mengikuti kajian ini, kita semua bisa mengambil langkah nyata. Bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an, mulailah belajar. Bagi yang sudah membaca, tingkatkan dengan memahami dan mengamalkannya. Dan bagi para orang tua, tanamkanlah cinta Al-Qur’an sejak dini kepada anak-anak, bukan hanya melalui nasihat, tetapi juga dengan teladan yang nyata. Jadikan rumah kita bercahaya dengan lantunan kalam Allah. InsyaAllah, cahaya itu akan menjadi pakaian kehormatan di hari yang penuh kegelapan nanti.
Semoga Allah menjadikan kita dan keluarga kita sebagai ahlul Qur’an, yang menjadi keluarga Allah dan hamba-Nya yang istimewa.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ
نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan
rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang
baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.