Hadits Adab Nabi ﷺ terhadap Makanan: Tidak Mencela dan Memilih dengan Bijak
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Segala puji bagi Allah, yang telah mengajarkan kita akhlak melalui suri teladan terbaik, Nabi Muhammad ﷺ. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umat yang mengikuti jalan beliau hingga akhir zaman.
Saudara-saudariku yang dirahmati Allah,
Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang begitu mudah berkomentar — bahkan terhadap hal yang sebenarnya sepele, seperti makanan. Tak jarang, ketika makanan tidak sesuai dengan selera, keluar ucapan-ucapan seperti, “Kok hambar begini?”, “Siapa yang masak?”, “Ini nggak layak dimakan.” Padahal bisa jadi makanan itu disiapkan dengan susah payah, penuh keikhlasan, dan dari rezeki yang halal. Lisan yang tidak terjaga dalam urusan makanan telah merusak banyak hubungan — antar keluarga, suami-istri, bahkan antara jamaah dengan takmir masjid yang menyediakan konsumsi.
Di sisi lain, budaya konsumtif dan perfeksionis dalam makanan juga makin meningkat. Orang mulai terbiasa mengejar selera, bukan kebutuhan. Mereka membentuk standar yang tinggi terhadap rasa dan tampilan, namun lupa bersyukur terhadap nikmat Allah. Lupa bahwa bisa makan saja adalah karunia besar yang tidak dimiliki semua orang.
Di sinilah hadits yang akan kita bahas hari ini menjadi sangat penting. Hadits tentang bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan makanan: tidak pernah mencela, memilih dengan bijak, dan menolak tanpa menyakiti. Hadits ini bukan hanya tentang adab makan, tapi juga tentang bagaimana seorang Muslim menjaga lisannya, melatih kesabaran, menumbuhkan rasa syukur, dan menjaga hati orang lain. Inilah akhlak besar yang dimulai dari hal kecil.
Maka mari kita pelajari hadits ini bukan hanya untuk diketahui, tapi untuk dihayati dan diamalkan, agar setiap suapan kita bernilai ibadah, dan setiap ucapan kita menjadi sebab turunnya rahmat Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata:
مَا عَابَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ،
وَإِلَّا تَرَكَهُ.
Tidak pernah Nabi ﷺ mencela makanan
sedikit pun. Jika beliau menyukainya, beliau akan memakannya, dan jika tidak
menyukainya, beliau akan meninggalkannya.
HR. al-Bukhari (3563) dan Muslim (2064).
Arti
dan Penjelasan Per Kalimat
مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ
Tidak pernah Nabi ﷺ mencela makanan sedikit pun.
Perkataan مَا عَابَ secara bahasa berarti tidak pernah mencela, menghina, atau mengkritik dengan nada merendahkan, yang menunjukkan penafian secara total tanpa pengecualian.
Perkataan ini menggambarkan akhlak Nabi ﷺ yang sangat luhur dalam menjaga lisan, khususnya terhadap nikmat Allah yang berupa makanan, sekecil apa pun bentuk dan rasanya, yang mana tidak sesuai dengan selera pribadi.
Makanan, yang sering kali menjadi sumber keluhan banyak orang, tidak pernah menjadi objek celaan dari beliau.
Ini mengajarkan umat Islam untuk menjaga lisan, bahkan dalam hal-hal yang sepele seperti makanan yang tidak enak atau tidak sesuai selera.
Rasulullah ﷺ tidak mencela makanan karena mencela berarti menyakiti hati orang yang menyediakannya, dan itu bertentangan dengan prinsip kasih sayang serta menjaga perasaan sesama.
Beliau
memberikan teladan bahwa seorang Muslim harus senantiasa bersyukur dan bersikap
sopan dalam segala situasi, termasuk saat menghadapi hal yang tidak
menyenangkan.
إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ
Jika beliau menyukainya, beliau akan memakannya.
Perkataan إِنِ اشْتَهَاهُ secara bahasa menunjukkan adanya selera atau keinginan alami, bukan keterpaksaan atau sikap berlebihan.
Makna ini menegaskan bahwa Islam tidak menafikan fitrah manusia yang memiliki rasa suka dan selera, selama diekspresikan dengan cara yang santun dan seimbang.
Bagian ini memperlihatkan kesederhanaan dan sikap realistis Nabi ﷺ dalam memilih makanan.
Beliau tidak memaksakan diri untuk makan sesuatu yang tidak beliau sukai, namun jika beliau merasa cocok dan menginginkannya, maka beliau memakannya tanpa berlebihan.
Ini adalah pelajaran tentang pentingnya mengikuti kebutuhan dan selera dengan penuh kesadaran, tanpa berlebih-lebihan atau merendahkan makanan tertentu.
Perkataan
ini juga mengajarkan bahwa seseorang boleh memilih dan memilah makanan sesuai
keinginannya selama tetap menjaga adab dan etika.
وَإِلَّا تَرَكَهُ
Dan jika tidak menyukainya, beliau akan meninggalkannya.
Perkataan تَرَكَهُ secara bahasa berarti meninggalkan tanpa penolakan keras, tanpa cercaan, dan tanpa ekspresi negatif.
Makna ini menunjukkan sikap elegan Nabi ﷺ dalam menyikapi hal yang tidak sesuai dengan selera pribadi, yaitu memilih diam dan tidak menyakiti pihak lain.
Rasulullah ﷺ mengajarkan dengan perbuatan bahwa menolak sesuatu tidak harus dengan ucapan yang menyakitkan atau menunjukkan rasa tidak suka secara terang-terangan.
Jika makanan tidak sesuai dengan selera beliau, maka beliau cukup meninggalkannya tanpa mencela atau menyampaikan keluhan.
Ini merupakan bentuk pengendalian diri yang sangat tinggi dan menjadi teladan dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dengan tenang dan bijak.
Dalam konteks sosial, sikap ini sangat penting agar tidak
menyakiti perasaan orang lain, terutama tuan rumah atau orang yang menyajikan
makanan tersebut.
Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/121322
Syarah
Hadits
الطَّعَامُ وَالشَّرَابُ مِنْ رِزْقِ اللَّهِ
تَعَالَى الَّذِي مَنَّ بِهِ عَلَيْنَا
Makanan dan minuman adalah bagian dari rezeki Allah Ta‘ala yang telah Dia
anugerahkan kepada kita.
فَإِذَا عَابَ الْمَرْءُ مَا كَرِهَهُ مِنَ
الطَّعَامِ، فَإِنَّهُ قَدْ رَدَّ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ رِزْقَهُ
Maka apabila seseorang mencela makanan yang tidak disukainya, sungguh dia telah
menolak rezeki Allah Subḥānahu.
وَقَدْ يَكْرَهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنَ
الطَّعَامِ مَا لَا يَكْرَهُهُ غَيْرُهُ
Dan bisa jadi sebagian orang membenci makanan yang tidak dibenci oleh orang
lain.
وَنِعَمُ اللَّهِ تَعَالَى لَا تُعَابُ،
وَإِنَّمَا يَجِبُ الشُّكْرُ عَلَيْهَا
Dan nikmat-nikmat Allah Ta‘ala tidak boleh dicela, bahkan wajib disyukuri.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لِأَجْلِهَا؛ لِأَنَّهُ
لَا يَجِبُ لَنَا عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْهَا
Dan segala puji bagi Allah atasnya; karena tidak ada satu pun dari nikmat itu
yang menjadi hak kita atas-Nya.
بَلْ هُوَ مُتَفَضِّلٌ فِي إِعْطَائِهِ،
عَادِلٌ فِي مَنْعِهِ
Justru Dia Maha Pemberi secara karunia dan Maha Adil dalam menahan.
وَلِأَجْلِ ذَلِكَ كَانَ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَعِيبُ طَعَامًا أَبَدًا
Karena itu, Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali.
وَإِنَّمَا كَانَ يَأْكُلُهُ إِذَا اشْتَهَاهُ
وَأَرَادَهُ
Beliau hanya memakannya jika menyukainya dan menginginkannya.
فَإِذَا لَمْ يُحِبَّهُ تَرَكَهُ وَلَمْ
يَعِبْهُ
Jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya dan tidak mencelanya.
تَأَدُّبًا مَعَ اللَّهِ تَعَالَى فِي عَدَمِ
إِبْدَاءِ الْكَرَاهَةِ لِرِزْقِهِ
Sebagai bentuk adab kepada Allah Ta‘ala dalam tidak menampakkan kebencian
terhadap rezeki-Nya.
وَهَذَا مِنْ حُسْنِ رِعَايَةِ النِّعَمِ؛
حَتَّى لَا تَزُولَ مِنَ الْعَبْدِ
Ini termasuk bentuk baik dalam menjaga nikmat, agar tidak dicabut dari seorang
hamba.
كَمَا أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ
Sebagaimana hal itu menunjukkan akhlak yang baik.
Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/16008
Pelajaran dari Hadits ini
1. Tidak Mencela Makanan
Perkataan مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ (Tidak pernah Nabi ﷺ mencela makanan sedikit pun) mengajarkan kita pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menerima sesuatu dari orang lain.
Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan, baik karena rasanya kurang enak maupun karena tidak sesuai selera.
Ini menunjukkan bahwa adab menghargai pemberian lebih utama daripada memuaskan keinginan lidah.
Dalam Islam, mencela makanan bisa termasuk bentuk ketidaksyukuran terhadap nikmat Allah. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim:7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
(Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”).
Sikap Nabi ﷺ menjadi teladan agar kita tidak menjadikan lisan sebagai alat mencela hal-hal duniawi, apalagi yang termasuk dalam nikmat dari Allah.
2. Memilih Makanan dengan Bijak
Perkataan إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ (Jika beliau menyukainya, beliau akan memakannya) menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak melarang seseorang untuk memiliki selera dan mengikuti keinginannya selama tidak berlebihan.Beliau makan apa yang beliau sukai tanpa harus memaksakan diri untuk menyukai segala jenis makanan.
Ini menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada paksaan untuk menyukai sesuatu yang tidak cocok dengan selera, asalkan tidak disertai celaan atau sikap merendahkan. Allah Ta‘ala berfirman dalam QS. Al-A‘raf:31:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
(Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan).
Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan dan menjaga kendali diri agar tidak berlebih-lebihan, bahkan dalam hal makanan.
3. Menolak dengan Adab yang Luhur
Perkataan وَإِلَّا تَرَكَهُ (Dan jika tidak menyukainya, beliau akan meninggalkannya) menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki adab yang sangat tinggi dalam menolak sesuatu.Beliau tidak makan makanan yang tidak disukai, tetapi tidak pula mencelanya atau menyebutkan kekurangannya. Ini merupakan bentuk akhlak luhur yang sangat penting dalam menjaga hubungan sosial, terutama agar tidak menyakiti hati orang yang menyediakan makanan.
Hadits ini juga mengajarkan bahwa kita bisa menolak dengan cara yang halus dan penuh hormat. Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat at-Tirmidzi:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
(Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya).
Dengan tidak mencela dan cukup meninggalkan apa yang tidak disukai, seseorang telah menjaga lisannya dan meneladani akhlak Nabi.
4. Menghargai Pemberian Orang Lain
Hadits ini mengandung nilai sosial yang tinggi tentang menghargai pemberian orang lain.Makanan sering kali disajikan dengan niat baik dan penuh perhatian.
Jika seseorang mencela makanan, maka secara tidak langsung ia juga mencela orang yang membuat atau menyajikannya.
Nabi ﷺ sangat menjaga perasaan orang lain, sehingga beliau tidak menampakkan ketidaksukaan dengan ucapan atau raut wajah yang menyakitkan.
Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berkata dengan cara yang baik dalam QS. Al-Baqarah:83:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
(Dan berkatalah yang baik kepada manusia).
Dalam konteks ini, menjaga adab ketika makan adalah bagian dari perintah tersebut.
5. Menumbuhkan Rasa Syukur
Sikap Nabi ﷺ dalam hadits ini juga merupakan bentuk rasa syukur yang tinggi.Beliau tidak hanya bersyukur ketika makanan enak disajikan, tapi juga ketika makanan yang biasa atau bahkan tidak beliau sukai tetap diterima dengan diam dan tidak mencela.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang lupa bahwa makanan yang sederhana pun merupakan nikmat yang besar. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Muslim:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ
(Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada yang di atas kalian).
Dengan demikian, kita diajarkan untuk selalu mensyukuri apa yang ada dan tidak mudah mengeluh.
6. Teladan Kesederhanaan dalam Gaya Hidup
Nabi ﷺ bukan hanya tidak mencela makanan, namun gaya hidup beliau secara keseluruhan adalah sederhana dan tidak berlebihan dalam kenikmatan dunia.Beliau bisa makan makanan enak jika tersedia, namun juga bisa hidup dengan makanan yang sangat sederhana tanpa mengeluh.
Ini adalah pelajaran penting di tengah masyarakat yang sering kali mengedepankan kenikmatan dan kemewahan dalam makanan. Dalam QS. Al-Furqan:67, Allah menggambarkan hamba-hamba-Nya yang bijak dalam konsumsi:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
(Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian).
Hadits ini memberi contoh nyata bahwa kesederhanaan adalah karakter seorang mukmin sejati.
7. Membiasakan Kontrol Emosi dan Sabar
Ketika menghadapi makanan yang tidak disukai, sebagian orang mungkin menunjukkan wajah masam, komentar sinis, atau bahkan menolak dengan cara kasar.Nabi ﷺ mengajarkan bahwa cukup dengan meninggalkan tanpa komentar adalah bentuk kontrol emosi dan kesabaran. Ini adalah bentuk mujahadah an-nafs (melatih jiwa) yang sangat ditekankan dalam Islam. Dalam QS. Al-Kahfi:28 Allah berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم
(Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya).
Kontrol diri di hadapan hal-hal yang tidak disukai adalah bagian dari kesabaran yang tinggi.
Secara keseluruhan, hadits ini mengajarkan bahwa menjaga adab dalam hal yang kecil seperti makan adalah cerminan akhlak besar seorang Muslim. Dari tidak mencela makanan, memilih dengan bijak, hingga menolak dengan sopan — semuanya menunjukkan pentingnya lisan yang dijaga, hati yang bersyukur, serta sikap yang santun terhadap sesama. Ini adalah warisan akhlak Rasulullah ﷺ yang patut diteladani dalam setiap sisi kehidupan.
Penutup
Kajian
Kita diajarkan untuk tidak mencela makanan, sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah. Kita diajarkan untuk memilih dengan bijak tanpa berlebihan, sebagai cerminan kesederhanaan. Dan yang tak kalah penting, kita diajarkan untuk menolak dengan cara yang santun, tanpa menyakiti. Semua ini adalah bagian dari akhlak mulia yang harus menghiasi diri seorang Muslim.
Saudara-saudariku yang dirahmati Allah,
Bayangkan jika akhlak ini diterapkan di rumah, di tempat kerja, di masjid, bahkan saat menerima suguhan dari tetangga atau teman. Betapa banyak hati yang bisa kita jaga. Betapa banyak keberkahan yang bisa kita hadirkan dalam interaksi harian. Maka marilah kita mulai dari sekarang — jaga lisan saat makan, hargai setiap pemberian, dan tanamkan rasa syukur dalam hati.
Semoga hadits ini menjadi pengingat yang hidup dalam keseharian kita. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang lembut lisannya, halus budi pekertinya, dan penuh syukur terhadap nikmat sekecil apa pun.
Wa Allahu a‘lam.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ
وَصَلَّى اللَّهُ
عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ