Hadits: Ridho Allah pada Ridho Ayah Ibu

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan kajian ini, kita akan bersama-sama menyelami sebuah hadits agung yang berbicara tentang hubungan erat antara keridhaan Allah dengan keridhaan kedua orang tua. Hadits ini bukan sekadar pengingat, tapi menjadi kompas utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjaga adab dan hubungan keluarga yang hari ini mulai banyak diabaikan.

Di tengah zaman yang penuh hiruk-pikuk dan dominasi media sosial, kita melihat gejala yang mengkhawatirkan: semakin banyak anak yang berbicara kasar kepada orang tua, mengeluh ketika disuruh, bahkan merasa bahwa orang tua adalah beban. Ada pula yang menganggap bahwa cukup baginya beribadah tanpa perlu memperhatikan kondisi orang tuanya, padahal ridha Allah tak bisa diraih tanpa ridha mereka.

Lebih tragis lagi, sebagian dari kita merasa sudah cukup berbakti hanya dengan mengirimkan uang, namun lupa bahwa senyum, pelukan, dan pelayanan langsung jauh lebih bermakna bagi hati kedua orang tua yang mulai menua.

Maka dari itu, hadits yang akan kita pelajari ini sangat penting untuk direnungkan dan diamalkan. Ia mengajarkan bahwa keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemurkaan mereka. Jika kita ingin hidup penuh berkah, jauh dari musibah, dan ditutup dengan husnul khatimah, maka hadits ini harus kita jadikan pedoman utama.

Mari kita buka hati dan pikiran, agar cahaya ilmu dari hadits Nabi ﷺ ini benar-benar menuntun langkah kita untuk menjadi anak yang diridhai Allah dan menjadi penyambung kebaikan bagi generasi setelah kita.


Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

رِضَى اللَّهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ.
Keridhaan Allah ada pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.

HR. at-Tirmidzi (1899), Ibnu Hibban (429), dan al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman (7830), serta dicantumkan oleh Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram (no. 434).


Arti dan Penjelasan Per Perkataan


رِضَى اللَّهِ
Keridhaan Allah

Perkataan ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat ridha, yaitu sifat cinta dan kasih sayang kepada hamba-Nya yang melakukan kebaikan.   

Ridha Allah adalah tujuan tertinggi dalam kehidupan seorang mukmin karena ia menjadi sebab datangnya keberkahan dan keselamatan dunia akhirat.   

Ungkapan ini juga menggambarkan betapa pentingnya mencari rida Allah dalam setiap perbuatan.   

Dalam konteks hadits ini, keridhaan Allah ternyata sangat erat hubungannya dengan perilaku manusia terhadap orang tua.   

Artinya, jalan menuju keridhaan Allah bukan semata ibadah ritual, tetapi juga terletak pada relasi sosial yang penuh bakti.


فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ
Ada pada keridhaan kedua orang tua

Perkataan ini menegaskan bahwa keridhaan Allah bergantung pada ridha kedua orang tua.   

Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan orang tua dalam Islam, hingga keridhaan mereka dijadikan parameter keridhaan Allah.   

Perintah berbakti kepada orang tua dalam Al-Qur’an selalu disandingkan dengan perintah untuk menyembah Allah, seperti dalam QS. Al-Isra’ ayat 23.   

Penekanan ini menegaskan bahwa hubungan anak dengan orang tua bukan sekadar hubungan biologis, tetapi juga tanggung jawab spiritual.   

Dalam konteks sosial, hadits ini juga menjadi peringatan agar seseorang tidak merasa dekat dengan Allah ketika ia masih menyakiti atau mengabaikan orang tuanya.


وَسَخَطُ اللَّهِ
Dan kemurkaan Allah

Perkataan ini menjelaskan bahwa Allah tidak hanya memiliki sifat ridha, tetapi juga memiliki sifat murka.   

Sifat ini akan berlaku kepada hamba-Nya yang melakukan dosa atau melanggar larangan-Nya.   

Kemurkaan Allah bukan sekadar ketidaksukaan, tetapi bentuk penolakan atas perilaku yang zhalim, kufur, dan durhaka.   

Penggunaan kata ini dalam hadits memberi makna yang sangat serius bahwa perilaku terhadap orang tua bukan persoalan sepele.   

Kemurkaan Allah menjadi ancaman yang nyata bagi siapa saja yang melanggar hak-hak orang tua atau menyakiti mereka secara fisik maupun verbal.


فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
Ada pada kemurkaan kedua orang tua

Perkataan ini menyampaikan bahwa kemurkaan Allah sejalan dengan kemurkaan kedua orang tua.   

Ini mengandung makna bahwa siapa pun yang membuat orang tuanya marah tanpa alasan yang benar, maka ia berada dalam posisi yang sangat berbahaya secara spiritual.   

Kemurkaan orang tua bukan hanya menyangkut perasaan, tapi juga terkait dengan keberkahan hidup anak.   

Jika orang tua merasa tersakiti dan tidak ridha, maka dampaknya bukan hanya secara batin, tapi juga mengundang murka Ilahi.   

Dalam realitas kehidupan, banyak orang merasa jauh dari ketenangan dan keberkahan hidup karena lupa memperbaiki hubungan dengan orang tua.



Syarah Hadits


لَمْ يَتَوَقَّفِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مُتَابَعَةِ الْوَصَايَا لِأَصْحَابِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Nabi tidak berhenti memberi wasiat kepada para sahabatnya radhiyallahu 'anhum

حَتَّى يُوَصِّلَهُمْ إِلَى رِضَا اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
hingga mengantarkan mereka kepada keridhaan Allah 'azza wa jalla

وَيُبْعِدَهُمْ عَنْ سَخَطِهِ وَعِقَابِهِ
dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan siksa-Nya

وَلِيَفُوزُوا بِالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
dan agar mereka beruntung di dunia dan akhirat

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ بَعْضُ وَصَايَاهُ الْعَظِيمَةِ
dan dalam hadits ini terdapat sebagian dari wasiat-wasiat beliau yang agung

حَيْثُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
di mana Nabi bersabda

رِضَا اللهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ
Keridhaan Allah ada pada keridhaan kedua orang tua

أَيْ: إِرْضَاءُ الْوَالِدَيْنِ سَبِيلٌ لِرِضَا اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
artinya: membuat orang tua ridha adalah jalan menuju ridha Allah 'azza wa jalla

فَيَعْفُو وَيَغْفِرُ لَهُ
maka Allah akan memaafkan dan mengampuninya

وَذَلِكَ بِالإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا
dan itu dilakukan dengan berbuat baik kepada keduanya

وَالْقِيَامِ بِخِدْمَتِهِمَا
dan melayani mereka

وَتَرْكِ عُقُوقِهِمَا
serta meninggalkan durhaka kepada keduanya

حَتَّى يَرْضَيَا عَنْ ابْنِهِمَا
hingga mereka ridha terhadap anaknya

شَرِيطَةَ أَنْ تَكُونَ الطَّاعَةُ الَّتِي يَتَحَصَّلُ بِهَا الْابْنُ عَلَى رِضَا الْوَالِدَيْنِ فِيمَا يُرْضِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
dengan syarat bahwa ketaatan yang menyebabkan anak mendapat ridha orang tua adalah dalam hal yang diridhai Allah 'azza wa jalla

لَا فِيمَا يُسْخِطُهُ
bukan dalam hal yang membuat-Nya murka

لِأَنَّهُ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal bermaksiat kepada Sang Pencipta

قَالَ تَعَالَى
Allah Ta‘ala berfirman

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu taati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik (Luqman: 15)

وَسَخَطُ اللهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
Dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua

وَذَلِكَ إِذَا أَسَاءَ الْمَرْءُ إِلَى وَالِدَيْهِ بِالْقَوْلِ أَوِ الْفِعْلِ
dan itu terjadi bila seseorang menyakiti kedua orang tuanya dengan ucapan atau perbuatan

وَحَقُّ الْوَالِدَيْنِ يَأْتِي بَعْدَ حَقِّ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
dan hak kedua orang tua datang setelah hak Allah 'azza wa jalla

كَمَا قَالَ تَعَالَى
sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah tempat kembali (Luqman: 14)

وَحُصُولُ رِضَا اللهِ يَكُونُ بِالْفَوْزِ بِالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فِي الْجَنَّةِ
dan tercapainya keridhaan Allah adalah dengan meraih kenikmatan abadi di surga

وَالْقُرْبِ مِنَ اللهِ الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ
dan kedekatan dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

وَلِذَلِكَ يُقَدَّمُ رِضَاهُمَا عَلَى فِعْلِ مَا يَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ
karena itu, keridhaan keduanya didahulukan atas pelaksanaan kewajiban fardu kifayah bagi seseorang

وَهَذَا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ بِالْوَالِدَيْنِ وَالْأَوْلَادِ
dan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada orang tua dan anak-anak

إِذْ بَيْنَ الطَّرَفَيْنِ ارْتِبَاطٌ وَثِيقٌ
karena antara kedua pihak terdapat keterkaitan yang erat

وَالْإِحْسَانُ يَبْدَأُ مِنَ الْوَالِدَيْنِ
dan kebaikan dimulai dari kedua orang tua

وَهُوَ لَا يُسَاوِيهِ إِحْسَانُ أَحَدٍ مِنَ الْخَلْقِ
dan tidak ada satu pun kebaikan makhluk lain yang bisa menyamainya

وَمَعَ التَّرْبِيَةِ وَسَدِّ حَاجَةِ الْأَوْلَادِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ
serta dengan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan agama dan dunia anak-anak

وَالْقِيَامِ بِهَذَا الْحَقِّ الْمُتَأَكِّدِ
dan pelaksanaan hak yang sangat kuat ini

فَيَجِبُ عَلَى الْأَبْنَاءِ الْوَفَاءُ بِالْحَقِّ
maka wajib atas anak-anak untuk memenuhi hak tersebut

اكْتِسَابًا لِلثَّوَابِ
demi meraih pahala

وَتَعْلِيمًا لِذُرِّيَّتِهِمْ أَنْ يُعَامِلُوهُمْ بِمَا عَامَلُوا بِهِ وَالِدَيْهِمْ
dan sebagai pelajaran bagi keturunan mereka agar memperlakukan mereka sebagaimana mereka memperlakukan orang tuanya dahulu

Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/91648

 


Pelajaran dari Hadits ini



1. Keutamaan Mencari Keridhaan Allah

Perkataan رِضَى اللَّهِ (keridhaan Allah) mengajarkan bahwa tujuan hidup tertinggi seorang Muslim adalah mendapatkan rida dari Allah. Rida Allah adalah bentuk kasih sayang dan penerimaan-Nya atas amal perbuatan seorang hamba. Semua ibadah dan amal kebaikan menjadi tidak bermakna bila tidak mendapatkan rida dari Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itulah keberuntungan yang besar) (QS. At-Taubah: 72).
Karena itu, setiap Muslim perlu bertanya dalam hati sebelum bertindak: apakah perbuatan ini akan mendatangkan keridhaan Allah atau tidak?


2. Rida Allah Bergantung pada Rida Orang Tua

Perkataan فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ (ada pada keridhaan kedua orang tua) menegaskan bahwa keridhaan Allah sangat erat kaitannya dengan keridhaan orang tua. Tidak cukup seseorang rajin beribadah jika masih menyakiti hati orang tuanya. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam sangat menekankan adab dan hubungan keluarga. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

(Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak) (QS. Al-Isra: 23).
Maka bila ingin mendapat rida Allah, perbaikilah hubungan dan perlakuan kepada kedua orang tua.


3. Bahaya Kemurkaan Allah

Perkataan وَسَخَطُ اللَّهِ (dan kemurkaan Allah) mengingatkan bahwa Allah juga bisa murka kepada hamba-Nya yang melanggar batas dan durhaka. Murka Allah bukan hanya azab akhirat, tetapi juga bisa berupa hilangnya keberkahan hidup di dunia. Jika seseorang membuat Allah murka, maka segala amal bisa tidak bernilai di sisi-Nya. Dalam hadis disebutkan:

وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ

(Dan amal yang paling dicintai oleh Allah 'azza wa jalla adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang Muslim..) (HR. Thabrani).
Sebaliknya, jika seseorang justru menimbulkan kemurkaan Allah, maka ia sedang menjauh dari kasih-Nya.


4. Kemurkaan Allah Terjadi Ketika Orang Tua Murka

Perkataan فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ (ada pada kemurkaan kedua orang tua) mengandung peringatan keras bahwa murka orang tua bisa berujung pada murka Allah. Jika orang tua kecewa dan marah karena perlakuan buruk anak, maka itu menjadi tanda bahaya besar bagi si anak. Banyak orang mengalami kesulitan hidup bukan karena kurang doa, tetapi karena menyakiti hati orang tua. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَاقٌّ

(Tidak akan masuk surga anak yang durhaka kepada orang tuanya) (HR. Ahmad).
Karena itu, penting bagi setiap anak untuk menjaga perasaan dan kehormatan orang tua agar tidak menjadi sebab kemurkaan Allah.


5. Dahsyatnya Dampak Doa dan Kutukan Orang Tua
Walaupun tidak disebut langsung dalam hadits, namun pelajaran tambahan yang sangat penting adalah bahwa doa orang tua sangat mustajab. Bila orang tua mendoakan kebaikan, hidup anak akan penuh keberkahan. Sebaliknya, bila orang tua mengeluh dan berdoa buruk karena perilaku anak, itu bisa menjadi bencana. Dalam hadis disebutkan:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

(Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang teraniaya) (HR. Abu Dawud).
Maka dari itu, jagalah agar mulut orang tua selalu berisi doa baik untuk kita.


6. Berbakti kepada Orang Tua adalah Jalan Menuju Surga
Hadits ini mengajarkan bahwa jalan tercepat menuju surga bukan hanya lewat shalat atau puasa, tetapi dengan berbakti kepada kedua orang tua. Ketika orang tua ridha, maka pintu-pintu surga terbuka. Rasulullah ﷺ bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
(Celaka, celaka, celaka – dikatakan: siapa ya Rasulullah? Beliau menjawab: orang yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satu atau keduanya, lalu ia tidak masuk surga) HR. Muslim (2551).
Maka selagi mereka masih hidup, raihlah surga dengan berbakti sepenuh hati.


7. Memutuskan Hubungan dengan Orang Tua Adalah Dosa Besar
Meninggalkan orang tua, tidak mengurus mereka, atau memutuskan komunikasi tanpa alasan yang syar’i merupakan bentuk kedurhakaan besar. Dalam Islam, silaturahim adalah kewajiban, dan orang tua adalah hubungan darah paling utama. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ﴿٢٢﴾ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰٓ أَبْصَـٰرَهُمْ

(Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah, yang ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka) (QS. Muhammad: 22–23).
Ini menjadi pengingat keras agar jangan sekali-kali menjauhkan diri dari orang tua.


Secara keseluruhan, hadits ini menunjukkan bahwa hubungan dengan kedua orang tua adalah cerminan hubungan dengan Allah. Keridhaan dan kemurkaan Allah ditentukan oleh bagaimana seseorang memperlakukan orang tuanya. Ibadah tidak akan sempurna jika belum memperbaiki adab kepada ayah dan ibu. Surga dan neraka tergantung pada sikap kita terhadap mereka. Maka bersegeralah berbakti selagi mereka masih hidup, dan muliakan mereka dengan sepenuh cinta dan penghormatan.


Penutup Kajian


Alhamdulillāh, hadirin yang dirahmati Allah, kajian kita hari ini telah membawa kita kepada sebuah pelajaran besar dari sabda Rasulullah ﷺ tentang pentingnya mencari keridhaan Allah melalui keridhaan kedua orang tua. Hadits yang kita pelajari bukan hanya mengandung nasihat, tetapi merupakan peringatan tegas bahwa kebaikan amal dan ibadah tidak akan sempurna selama hubungan kita dengan orang tua masih rusak.

Faedah utama dari hadits ini adalah bahwa Allah menjadikan keridhaan orang tua sebagai pintu utama menuju keridhaan-Nya, dan menjadikan kemurkaan mereka sebagai jalan menuju murka-Nya. Ini menunjukkan betapa tinggi dan sakralnya kedudukan orang tua dalam Islam. Bahkan jika kita sibuk berdakwah, bekerja, atau menuntut ilmu, namun kita menyakiti hati orang tua — maka keberkahan hidup bisa terhalang dan doa kita bisa tertolak.

Maka harapan kami, setelah kajian ini, para peserta tidak hanya memahami makna hadits ini secara ilmiah, tetapi juga membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari. Pulang dari majelis ini, periksa kembali hubungan kita dengan ayah dan ibu. Apakah kita sudah membuat mereka ridha? Apakah kita sering menelpon mereka, mendoakan mereka, atau justru membuat mereka kecewa karena sikap kita?

Mari kita berlomba-lomba menjadi anak yang diridhai orang tua, sebagai jalan termudah meraih ridha Allah. Semoga Allah memudahkan langkah kita dalam berbakti, melembutkan hati kita dalam menghadapi mereka, dan menjadikan kita sebagai anak-anak yang membawa cahaya rahmat dalam kehidupan keluarga. 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 

 

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.