Hadits: Celaka Bagi Tidak Berbakti Kepada Orang Tua
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Jama’ah yang dirahmati Allāh,
Pada zaman sekarang ini, kita sedang menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam hal hubungan antara anak dengan kedua orang tuanya. Tidak sedikit kita temui anak-anak yang mengabaikan bakti kepada orang tua, bahkan merasa risih, terganggu, atau berat untuk merawat mereka ketika memasuki usia lanjut. Tidak sedikit pula yang menitipkan orang tuanya ke panti jompo, atau membiarkan mereka hidup sendiri dalam kesepian, padahal keduanya dahulu telah bersusah payah membesarkan, mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya. Hal ini adalah kerusakan besar dalam tatanan akhlak umat, dan menunjukkan jauhnya manusia dari nilai-nilai Islam yang luhur.
Hadits yang akan kita kaji pada kesempatan ini menjadi peringatan yang sangat keras bagi kita semua. Nabi ﷺ menyebut tiga kali kutukan halus bagi seseorang yang hidup bersama orang tuanya di masa tua, namun justru kehilangan kesempatan untuk meraih surga. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua — terutama saat mereka telah lanjut usia — bukan hanya kewajiban biasa, tapi juga ladang besar untuk mendapatkan rahmat dan surga Allāh.
Oleh karena itu, memahami hadits ini bukan hanya penting, tapi mendesak. Karena ia membukakan mata kita bahwa jangan sampai kita menjadi orang yang merugi di dunia dan akhirat, hanya karena lalai dalam memperlakukan orang tua yang telah renta. Kita akan menggali pelajaran demi pelajaran dari setiap perkataan hadits ini, agar bisa kita renungkan dan amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allāh membukakan hati dan pikiran kita.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ
رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ. قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ:
مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِندَ الْكِبَرِ - أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا -
فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.
Celaka hidung seseorang, celaka hidung seseorang, celaka
hidung seseorang. Ada yang bertanya: Siapa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab:
Orang yang mendapati kedua orang tuanya pada masa tua – salah satu atau
keduanya – tetapi tidak masuk surga.
HR. Muslim (2551).
Arti
dan Penjelasan Per Perkataan
رَغِمَ أَنْفُ
Celaka hidung seseorang
Ungkapan ini adalah bentuk doa kehinaan dan kerugian
yang sangat dalam dalam bahasa Arab.
Secara harfiah, artinya adalah "terkena debu hidungnya", namun
secara makna, itu mengandung makna terhina, tercampakkan, atau merugi.
Rasulullah ﷺ menggunakan ungkapan ini untuk menunjukkan
besarnya penyesalan seseorang yang melewatkan peluang emas dalam hidupnya.
Perkataan ini mengawali peringatan keras kepada siapa saja yang
menyia-nyiakan ladang pahala yang Allah berikan melalui keberadaan orang tua.
ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ
Kemudian celaka hidung seseorang
Pengulangan ini mempertegas urgensi dan seriusnya
peringatan tersebut.
Bila Rasulullah ﷺ mengulangi sebuah kalimat, maka itu
menunjukkan tingginya perhatian dan beratnya akibat bagi orang yang dimaksud.
Ini bukan sekadar pengulangan bahasa, tapi peringatan berlapis yang
menunjukkan bahwa peluang berbakti kepada orang tua bukan hal remeh yang bisa
diabaikan.
Siapa pun yang melewatkan kesempatan ini, sangat layak mendapat celaan dari
Nabi ﷺ.
ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ
Kemudian celaka hidung seseorang
Pengulangan untuk ketiga kalinya menunjukkan bahwa
kerugian ini bukan kerugian biasa, tetapi kerugian yang luar biasa besar.
Peluang emas yang bisa membawa seseorang ke surga justru diabaikan oleh
mereka yang tidak berbakti kepada orang tuanya.
Ini menggambarkan penyesalan yang terus-menerus dan tidak tertebus, bahkan
sampai akhir hayat.
Betapa besar dosa dan kerugian seseorang yang hidup bersama orang tua yang
telah lanjut usia, namun tidak merawat, tidak mendoakan, dan tidak melayani
mereka dengan ikhlas.
قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ
Ada yang bertanya: Siapa, wahai Rasulullah?
Para sahabat menunjukkan kepedulian dan semangat mereka
terhadap pelajaran ini dengan bertanya langsung.
Pertanyaan ini menjadi jembatan agar kita semua mengetahui siapa sebenarnya
yang dimaksud oleh Nabi dengan peringatan keras itu.
Mereka tidak membiarkan kalimat itu berlalu tanpa kepastian makna, karena
ini menyangkut keselamatan di akhirat.
Sikap ini menunjukkan pula pentingnya bertanya dalam majelis ilmu ketika ada
hal yang belum jelas.
قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِندَ
الْكِبَرِ
Beliau bersabda: Orang yang mendapati kedua orang tuanya pada masa tua
Nabi ﷺ tidak menyebut orang yang menyia-nyiakan
shalat, zakat, atau jihad, tapi menyebut orang yang bertemu orang tuanya dalam
kondisi tua.
Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua saat mereka telah lemah
adalah ladang pahala yang sangat besar.
Orang tua yang sudah tua biasanya membutuhkan banyak perhatian, kesabaran,
dan bantuan fisik maupun emosional.
Ketika seseorang mendapati mereka dalam kondisi ini, sesungguhnya Allah
sedang membuka pintu surga melalui pelayanan dan kasih sayang kepada orang tua.
أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا
Salah satu dari keduanya atau kedua-duanya
Nabi ﷺ memberi kelonggaran bahwa tidak harus
keduanya masih hidup, cukup salah satu pun sudah cukup sebagai kesempatan.
Ini menegaskan bahwa sekecil apa pun peluang untuk berbakti harus
dimaksimalkan.
Tidak ada alasan untuk lalai, bahkan dengan satu orang tua yang masih hidup
pun bisa menjadi sebab masuk surga.
Allah Maha Pengasih, memberi jalan bagi siapa pun yang mau sungguh-sungguh
merawat orang tuanya yang tersisa.
فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
Namun ia tidak masuk surga
Inilah inti dari peringatan Nabi ﷺ: bahwa orang yang tidak masuk surga padahal mendapati orang
tuanya dalam keadaan tua adalah orang yang sangat merugi.
Surga semestinya menjadi tujuan akhir setiap mukmin, dan peluang meraihnya
terbuka lebar lewat bakti kepada orang tua.
Bila peluang semudah itu tidak bisa digunakan, maka wajar bila ia disifati
sebagai celaka.
Kalimat ini bukan berarti dia pasti kafir atau kekal di neraka, tetapi
menunjukkan bahwa ia telah gagal memanfaatkan salah satu jalan termudah ke
surga.
Syarah
Hadits
البِرُّ بِالْوَالِدَيْنِ بَابٌ وَاسِعٌ
لِلنَّجَاةِ مِنَ النَّارِ، وَالْفَوْزِ بِالْجَنَّةِ
Berbakti kepada kedua orang tua adalah pintu luas untuk selamat dari neraka dan
meraih surga.
وَلِهٰذَا أَكَّدَتْ تَعَالِيمُ الْإِسْلَامِ
الْبِرَّ بِالْوَالِدَيْنِ، مَعَ التَّحْذِيرِ مِنْ عُقُوقِهِمَا
Oleh karena itu, ajaran Islam menekankan pentingnya berbakti kepada kedua orang
tua dan memperingatkan dari durhaka kepada keduanya.
وَفِي هٰذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَغِمَ أَنْفُ»
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ bersabda: “Celaka hidung seseorang”.
أَيْ: لُصِقَ أَنْفُهُ بِالرَّغَامِ، وَهُوَ
التُّرَابُ الْمُخْتَلِطُ بِالرَّمْلِ
Artinya: hidungnya ditempelkan ke tanah, yaitu debu yang bercampur dengan
pasir.
وَالْمُرَادُ بِهِ: الذُّلُّ وَالْخِزْيُ
Yang dimaksud adalah kehinaan dan kerugian.
وَكَرَّرَهَا ثَلَاثًا؛ زِيَادَةً فِي
التَّنْفِيرِ وَالزَّجْرِ عَمَّا يُذْكَرُ بَعْدَهُ
Beliau mengulanginya tiga kali, untuk menambah penekanan dan peringatan
terhadap hal yang akan disebutkan setelahnya.
فَسُئِلَ: مَنْ هٰذَا يَا رَسُولَ اللهِ؟
Lalu ditanyakan: Siapa orang itu, wahai Rasulullah?
فَأَجَابَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ - أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا - عِندَ الْكِبَرِ،
فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»
Maka Nabi ﷺ menjawab: “Orang yang menjumpai kedua orang tuanya – salah satu
atau keduanya – pada masa tua, namun tidak masuk surga.”
وَذٰلِكَ بِسَبَبِ عُقُوقِهِمَا
Itu disebabkan oleh kedurhakaannya kepada keduanya.
فَبِرُّهُمَا عِنْدَ كِبَرِهِمَا
وَضَعْفِهِمَا بِالْخِدْمَةِ وَالنَّفَقَةِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ
Berbakti kepada keduanya saat tua dan lemah dengan melayani, menafkahi, dan
lainnya.
سَبَبٌ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ، فَمَنْ قَصَّرَ
فِي ذٰلِكَ فَاتَهُ دُخُولُهَا، وَاسْتَحَقَّ سُوءَ الْعَاقِبَةِ
Adalah sebab masuk surga, maka siapa yang lalai dalam hal itu akan kehilangan
surga dan berhak mendapatkan akhir yang buruk.
وَخُصَّ حَالَةَ الْكِبَرِ بِالذِّكْرِ
Keadaan tua disebutkan secara khusus.
مَعَ أَنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ يَنْبَغِي
الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ، وَفِي كُلِّ حَالَةٍ
Padahal berbakti kepada kedua orang tua harus dijaga di setiap waktu dan dalam
segala keadaan.
لِأَنَّهُ أَحْوَجُ الْأَوْقَاتِ إِلَى
حُقُوقِهِمَا
Karena itu adalah waktu yang paling membutuhkan pemenuhan hak-hak mereka.
لِشِدَّةِ احْتِيَاجِهِمَا إِلَى الْبِرِّ
وَالْخِدْمَةِ فِي تِلْكَ الْحَالَةِ
Karena sangat besarnya kebutuhan mereka terhadap bakti dan pelayanan pada masa
itu.
وَقَدْ وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ بَيَانُ
وَكَيْفِيَّةُ التَّعَامُلِ مَعَ الْوَالِدَيْنِ
Telah disebutkan dalam Al-Qur’an penjelasan dan cara berinteraksi dengan kedua
orang tua.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى:
﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ
أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ﴾
﴿وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا﴾ [الإسراء: ٢٣-٢٤]
Allah Ta‘ala berfirman:
(Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia
dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah satu di antara
keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada mereka perkataan “ah” dan
janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang
dan ucapkanlah: Wahai Rabb-ku, rahmatilah mereka keduanya sebagaimana mereka
telah mendidikku waktu kecil.)
فَقَدْ أَمَرَ اللهُ تَعَالَى وَأَوْجَبَ
وَوَصَّى بِعِبَادَتِهِ وَحْدَهُ، وَبِالْإِحْسَانِ إِلَى الْوَالِدَيْنِ
Allah Ta‘ala telah memerintahkan, mewajibkan, dan berwasiat untuk hanya
menyembah-Nya dan berbuat baik kepada kedua orang tua.
فَإِنْ عَاشَا حَتَّى كَبِرَتْ سِنُّهُمَا
وَضَعُفَتْ قُوَاهُمَا - أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا -
Jika keduanya masih hidup hingga usia tua dan menjadi lemah – salah satu atau
keduanya –
فَلَا يَجُوزُ التَّأَفُّفُ وَإِظْهَارُ
التَّضَجُّرِ مِنْهُمَا
Maka tidak boleh mengeluh dan menunjukkan rasa kesal terhadap keduanya.
وَلَا يَجُوزُ انْتِهَارُهُمَا وَإِغْلَاظُ
الْقَوْلِ لَهُمَا
Dan tidak boleh membentak atau berkata kasar kepada mereka.
بَلِ الْوَاجِبُ عَلَى الْابْنِ أَنْ يَقُولَ
لَهُمَا قَوْلًا حَسَنًا لَيِّنًا، رَقِيقًا جَمِيلًا يُفْرِحُهُمَا
Bahkan kewajiban seorang anak adalah berkata kepada keduanya dengan kata-kata
yang baik, lembut, halus, dan indah yang menyenangkan hati mereka.
فِيهِ تَأَدُّبٌ مَعَهُمَا، وَتَلَطُّفٌ
لَهُمَا
Di dalamnya terdapat sikap sopan santun dan kelembutan terhadap mereka.
وَعَلَيْهِ أَنْ يَكُونَ ذَلِيلًا
مُتَوَاضِعًا لِوَالِدَيْهِ؛ رَحْمَةً مِنْهُ بِهِمَا
Dan ia harus menjadi seorang yang tunduk dan rendah hati kepada orang tuanya
sebagai bentuk kasih sayang.
فَلَا يُخَالِفَهُمَا فِيمَا يَأْمُرَانِهِ
بِهِ وَيَنْهَيَانِهِ عَنْهُ مِمَّا لَيْسَ فِيهِ مَعْصِيَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى
Ia tidak boleh menentang mereka dalam hal yang mereka perintahkan atau larang
selama tidak bertentangan dengan perintah Allah Ta‘ala.
وَأَنْ يَدْعُوَ لَهُمَا بِالرَّحْمَةِ؛
جَزَاءً لَهُمَا عَلَى تَرْبِيَتِهِمَا لَهُ فِي صِغَرِهِ
Dan ia harus mendoakan keduanya agar dirahmati sebagai balasan atas jasa mereka
dalam mendidiknya sejak kecil.
وَفِي الْحَدِيثِ: فَضْلُ بِرِّ
الْوَالِدَيْنِ وَأَنَّهُ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ
Dan dalam hadits ini terdapat keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, dan
bahwa itu adalah salah satu sebab masuk surga.
Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/17119
Pelajaran dari Hadits
ini
1. Ancaman bagi yang menyia-nyiakan peluang emas
Dalam perkataan رَغِمَ أَنْفُ (Celaka hidung seseorang), Rasulullah ﷺ mengisyaratkan sebuah doa kehinaan kepada orang yang menyia-nyiakan kesempatan besar. Dalam bahasa Arab, ini adalah ungkapan kehinaan dan kerugian mendalam. Ungkapan ini memberi peringatan bahwa ada orang-orang yang terlihat biasa-biasa saja di dunia, tapi di sisi Allah sangat merugi karena mengabaikan ladang pahala yang ada di depan mata. Dalam konteks ini, kerugian terbesar adalah ketika seseorang mendapati orang tuanya masih hidup, terutama saat mereka tua, namun tidak berbuat baik kepada mereka.2. Penegasan yang menunjukkan keseriusan
Pada perkataan kedua ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ (Kemudian celaka hidung seseorang), Rasulullah ﷺ mengulang ancaman tersebut. Ini bukan pengulangan biasa, tapi bentuk penegasan dari Nabi agar kita tidak menganggap remeh. Orang yang menyia-nyiakan orang tua saat tua bukan hanya kehilangan pahala, tapi layak mendapatkan kehinaan. Pengulangan ini juga membuktikan bahwa peluang berbakti kepada orang tua tidak selalu hadir dua kali dalam hidup seseorang.3. Kerugian yang tak tergantikan
Perkataan ketiga ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ (Kemudian celaka hidung seseorang) menekankan bahwa siapa pun yang tidak memanfaatkan kesempatan ini akan benar-benar menyesal. Kesempatan seperti ini tidak akan bisa ditebus dengan amalan lain bila sudah berlalu. Sebab, tidak ada amalan yang bisa menggantikan kehadiran orang tua dalam hidup seseorang sebagai ladang amal jariyah langsung. Bahkan dalam Islam, menyakiti orang tua dengan perkataan “ah” saja sudah dilarang.وَقَضىٰ رَبُّكَ أَلّا تَعبُدوا إِلّا إِيّاهُ وَبِالوالِدَينِ إِحسانًا ۚ إِمّا يَبلُغَنَّ عِندَكَ الكِبَرَ أَحَدُهُما أَو كِلاهُما فَلا تَقُل لَهُما أُفٍّ وَلا تَنهَرهُما وَقُل لَهُما قَولًا كَريمًا
(Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.)
(QS. Al-Isra: 23)
4. Kewaspadaan terhadap sikap lalai
Dalam perkataan قِيلَ: مَنْ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ (Ada yang bertanya: Siapa, wahai Rasulullah?), para sahabat menunjukkan sikap tanggap terhadap peringatan Nabi ﷺ. Mereka ingin tahu siapa yang tergolong orang celaka itu. Ini mengajarkan kepada kita pentingnya peka terhadap nasihat dan jangan merasa aman dari murka Allah. Bisa jadi kita termasuk yang dimaksud Nabi, jika kita tidak segera memperbaiki sikap terhadap orang tua. Ketika mendengar ancaman, seorang mukmin seharusnya segera bercermin dan bertanya dalam hati: "Apakah ini saya?"5. Menyia-nyiakan orang tua adalah kerugian besar
Perkataan قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِندَ الْكِبَرِ (Beliau bersabda: Orang yang mendapati kedua orang tuanya pada masa tua) menjelaskan bahwa keberadaan orang tua yang lanjut usia adalah anugerah yang besar. Justru ketika mereka lemah, renta, dan membutuhkan pertolongan, di situlah letak peluang besar meraih ridha Allah. Merawat mereka di masa tua, mendengar keluh kesah mereka, memberi makan, menyuapi, memandikan—semua itu bisa menjadi jalan menuju surga jika dilakukan dengan ikhlas.6. Satu saja cukup jadi jalan ke surga
Dalam perkataan أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا (Salah satu dari keduanya atau kedua-duanya), Nabi ﷺ memberi tahu bahwa walau hanya satu orang tua yang masih hidup, itu sudah cukup untuk membuka jalan ke surga. Maka, siapa pun yang memiliki satu orang tua yang masih hidup—baik ibu maupun ayah—harus memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Tidak boleh menunggu keduanya ada atau menunggu waktu luang. Kesempatan bisa tertutup tiba-tiba oleh kematian.7. Gagal masuk surga padahal punya peluang besar
Perkataan terakhir فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ (Namun ia tidak masuk surga) menyimpulkan bahwa orang tersebut benar-benar merugi. Ia mendapatkan fasilitas dari Allah berupa orang tua yang sudah tua, yang bisa menjadi pintu menuju surga, namun tidak dimanfaatkan. Ini bukan karena ia tidak mampu, tapi karena ia lalai dan tidak peka. Banyak orang mencari pahala ke sana kemari, tapi lupa bahwa surga bisa diraih hanya dengan mencium tangan ibu atau mengantarkan ayah ke masjid.8. Ridha orang tua adalah ridha Allah
Hadits ini mengandung makna yang sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang lain:رِضى اللَّهِ فِي رِضى الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ.
(Artinya: Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan kedua orang tua.)
(HR. Tirmidzi no. 1899)
Ini berarti bahwa siapa pun yang mencari ridha Allah tanpa memperhatikan orang tuanya, maka ia telah salah jalan. Bakti kepada orang tua bukan sekadar tugas, tapi ibadah yang sangat besar nilainya di sisi Allah.
9. Berbakti adalah amalan terbaik setelah shalat
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بَرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.
(Artinya: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ: "Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?" Beliau menjawab, "Shalat pada waktunya." Aku bertanya, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orang tua." Aku bertanya, "Lalu apa?" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah." Perawi berkata: "Beliau memberitahuku tiga hal ini, dan seandainya aku meminta tambahan, tentu beliau akan menambahkannya kepadaku.)
(HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85)
Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan birrul walidain dalam Islam. Bahkan lebih utama dari jihad, jika jihad itu belum menjadi kewajiban saat itu. Maka tidak ada alasan untuk meremehkan amalan ini.
10. Doa dan layanan kepada orang tua adalah tabungan akhirat
Meskipun orang tua telah wafat, seorang anak tetap bisa berbakti melalui doa, sedekah atas nama mereka, dan menyambung silaturahmi dengan kerabat mereka. Bakti tidak berhenti ketika mereka meninggal, justru di situlah diuji keikhlasan anak.وَأَنِ
اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
(Artinya: Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.)
(QS. Luqman: 14)
Ayat ini menunjukkan bahwa rasa syukur kepada Allah tak akan sempurna tanpa disertai dengan rasa terima kasih dan penghormatan kepada orang tua.
Secara keseluruhan, hadits ini mengingatkan bahwa keberadaan orang tua yang lanjut usia adalah pintu surga yang sering kali terabaikan. Siapa pun yang masih memiliki kesempatan berbakti kepada mereka, harus segera mengambilnya dengan penuh kesungguhan. Surga bukan hanya untuk orang yang berjihad atau bersedekah besar, tapi juga untuk mereka yang memuliakan orang tua dengan sepenuh hati dan tulus..
Penutup
Kajian
Alhamdulillāh, setelah bersama-sama kita menelaah sabda Nabi ﷺ tentang ancaman bagi orang yang tidak memanfaatkan keberadaan orang tuanya yang telah lanjut usia untuk meraih surga, kita dapat menyimpulkan betapa agungnya kedudukan berbakti kepada orang tua dalam Islam. Hadits ini memberikan pelajaran besar bahwa orang tua bukanlah beban, melainkan jembatan menuju surga, terutama ketika mereka berada di usia senja, lemah, dan sangat membutuhkan kasih sayang anak-anaknya.
Hadits ini menjadi cermin bagi kita, sejauh mana kita telah memperlakukan orang tua kita. Apakah kita sudah benar-benar berbakti, ataukah kita justru termasuk golongan yang disebutkan Nabi sebagai orang yang merugi? Karena sungguh, keberadaan orang tua yang masih hidup adalah kesempatan emas yang tidak bisa diulang.
Jama’ah yang dirahmati Allāh,
Mari kita pulang dari kajian ini dengan membawa tekad baru: untuk lebih menyayangi, menghormati, dan melayani orang tua kita, baik dengan ucapan yang lembut, perbuatan yang penuh kasih, doa yang tulus, maupun perhatian yang tidak terputus. Bagi yang orang tuanya masih hidup, ini saatnya memperbaiki hubungan dan meningkatkan bakti. Bagi yang orang tuanya telah wafat, ini saatnya memperbanyak doa dan amal kebaikan atas nama mereka.
Semoga hadits ini tidak hanya kita dengarkan hari ini, tapi juga menjadi cahaya dalam kehidupan kita sehari-hari, yang membimbing kita menuju ridha orang tua, dan pada akhirnya menuju ridha dan surga Allah.
وَصَلَّى
اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ