Tafsir QS. At-Tahrim [66]: 7: Ketika Alasan Tak Lagi Berguna: Pertanggungjawaban Amal di Hadapan Allah
KAJIAN TAFSIR AYAT TEMATIK
Ketika Alasan Tak Lagi Berguna: Pertanggungjawaban Amal di Hadapan Allah
1. Pembukaan
Salah satu kelemahan manusia ketika melakukan kesalahan adalah kecenderungan mencari alasan.
Ketika keputusan yang diambil membawa akibat buruk, seseorang sering berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa keadaan memaksanya, orang lain juga melakukan hal yang sama, ia tidak mempunyai pilihan, atau ia sebenarnya memiliki niat yang baik.
Dalam kehidupan dunia, alasan tertentu memang dapat diterima apabila benar-benar merupakan uzur yang sah.
Namun, alasan yang sekadar digunakan untuk membenarkan kesalahan tidak akan mengubah hakikat sebuah perbuatan.
Al-Qur'an mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan manusia.
Akan datang suatu hari ketika seluruh manusia berhadapan dengan konsekuensi amalnya.
Pada saat itu, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan telah berakhir.
Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia, mengulang amal, mengembalikan waktu, atau memperbaiki pilihan yang telah dibuat.
QS At-Taḥrīm ayat 7 menggambarkan keadaan orang-orang kafir pada hari tersebut: mereka diperintahkan untuk tidak lagi mengemukakan alasan karena yang tersisa hanyalah pembalasan atas apa yang dahulu mereka kerjakan.
Ayat ini sekaligus menjadi peringatan yang sangat kuat bagi orang beriman.
Jangan menunggu sampai datang hari ketika alasan tidak lagi berguna.
Selama masih hidup, manusia masih mempunyai kesempatan untuk bertobat, memperbaiki amal, mengembalikan hak orang lain, meninggalkan transaksi yang haram, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Dengan demikian, QS At-Taḥrīm ayat 7 bukan sekadar ayat tentang ancaman bagi orang-orang kafir.
Di balik ancaman tersebut terdapat pendidikan yang sangat penting bagi manusia yang masih hidup: jangan menggunakan kesempatan hidup untuk membangun alasan; gunakanlah untuk membangun amal.
2. Teks Ayat
Allah Ta'ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَعْتَذِرُوا۟ ٱلْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. At-Taḥrīm [66]: 7.
Konteks Ayat
QS At-Taḥrīm ayat 7 tidak berdiri sendiri.
Ayat sebelumnya berbicara kepada orang-orang beriman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
QS. At-Taḥrīm [66]: 6.
Kemudian ayat 7 menggambarkan orang-orang kafir pada hari kiamat:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَعْتَذِرُوا۟ ٱلْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan.”
Lalu ayat 8 kembali berbicara kepada orang beriman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.”
QS. At-Taḥrīm [66]: 8.
Rangkaian ini mengandung pesan yang sangat kuat.
Ayat 6: jagalah diri dan keluarga.
Ayat 7: jangan menunggu sampai hari ketika alasan tidak lagi berguna.
Ayat 8: selama masih hidup, bertobatlah kepada Allah.
Karena itu, salah satu pesan penting rangkaian ayat ini adalah bahwa peringatan tentang akhirat diberikan agar manusia memperbaiki diri sebelum datang akhirat.
Asbābun Nuzūl
Tidak ditemukan dalam penelusuran yang digunakan untuk kajian ini riwayat khusus yang dapat dijadikan dasar kuat untuk menetapkan suatu peristiwa tertentu sebagai sebab turunnya QS At-Taḥrīm ayat 7.
Oleh karena itu, ayat ini tidak dikaitkan dengan suatu sebab turun tertentu yang tidak terverifikasi.
Konteks ayat 6–8 sudah memberikan kerangka yang sangat kuat untuk memahami kandungannya: perintah menjaga diri dan keluarga, peringatan tentang akibat kekufuran, dan seruan kepada orang beriman agar segera bertobat.
3. Penjelasan per Perkataan
Perkataan 1 — يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟
a. Teks dan makna
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟
“Wahai orang-orang kafir!”
b. Penjelasan makna per kata
Ayat diawali dengan seruan yang sangat tegas: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟.
Seruan ini ditujukan kepada orang-orang yang berada dalam kekufuran.
Dalam konteks ayat, seruan tersebut menggambarkan keadaan orang-orang kafir ketika berada di hadapan Allah pada hari pembalasan.
Mereka bukan sedang berada pada masa memilih dan beramal, tetapi pada masa menerima konsekuensi dari pilihan dan amal yang dahulu mereka lakukan.
Al-Ṭabari dalam Jāmi‘ al-Bayān menjelaskan konteks seruan tersebut berkaitan dengan orang-orang yang mengingkari keesaan Allah:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ مُخْبِرًا عَنْ قِيلِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِلَّذِينَ جَحَدُوا وَحْدَانِيَّتَهُ فِي الدُّنْيَا
“Allah Yang Mahatinggi memberitakan tentang perkataan-Nya pada hari kiamat kepada orang-orang yang di dunia mengingkari keesaan-Nya.”
Dengan demikian, ayat ini menggambarkan pertanggungjawaban akidah manusia di akhirat.
Namun, perlu dibedakan antara penjelasan mengenai sifat kekufuran secara umum dan menetapkan kekafiran terhadap individu tertentu.
Penetapan hukum terhadap individu memiliki rincian pembahasan dalam akidah dan fikih dan tidak boleh dilakukan secara serampangan.
c. Ayat Pendukung
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كُفَّارٌ أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ ٱللَّهِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya.”
QS. Al-Baqarah [2]: 161.
Ayat ini memperlihatkan bahwa yang menjadi persoalan adalah keadaan seseorang ketika meninggal.
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menggunakan ayat-ayat ancaman akhirat untuk melakukan vonis tergesa-gesa kepada individu tertentu.
Ayat ini juga memperlihatkan pentingnya akhir kehidupan.
Seseorang dapat mengalami perubahan selama hidupnya.
Karena itu, selama kesempatan hidup masih ada, pintu taubat belum tertutup.
d. Hadis Pendukung
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Hadis ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap manusia tidak dapat dilepaskan dari dimensi batin, khususnya niat.
Karena itu, kehidupan seorang Muslim harus dibangun di atas iman yang benar dan amal yang benar.
e. Pelajaran dari Perkataan 1
Keadaan iman manusia di akhir kehidupan sangat menentukan keselamatan akhirat sehingga seorang Muslim harus menjaga iman dan amalnya sampai akhir hayat.
Perkataan 2 — لَا تَعْتَذِرُوا۟
a. Teks dan makna
لَا تَعْتَذِرُوا۟
“Janganlah kamu mengemukakan alasan.”
b. Penjelasan makna per kata
Kata تَعْتَذِرُوا۟ berasal dari akar kata ع ذ ر, yang berkaitan dengan alasan atau pembelaan diri.
Yang dimaksud dalam ayat bukanlah bahwa manusia tidak boleh memberikan penjelasan dalam seluruh keadaan.
Syariat mengenal adanya uzur yang sah.
Orang sakit memiliki hukum yang berbeda dengan orang sehat.
Orang yang dipaksa memiliki pembahasan tersendiri.
Orang yang benar-benar tidak mengetahui memiliki rincian hukum yang berbeda dengan orang yang mengetahui tetapi sengaja melanggar.
Yang ditolak dalam ayat ini adalah alasan yang sudah tidak mempunyai manfaat pada hari pembalasan.
Pada hari itu, manusia tidak lagi berada pada fase memilih amal.
Fase amal telah selesai.
Karena itu, alasan tidak dapat mengubah kenyataan tentang apa yang telah dikerjakan.
فَإِنَّ عُذْرَكُمْ لَا يَنْفَعُ
“Sesungguhnya alasan kalian tidak bermanfaat.”
Dengan demikian, ayat ini harus dipahami sebagai gambaran tentang hilangnya manfaat pembelaan diri pada hari pembalasan.
Di dunia, seseorang masih dapat berkata: “Saya salah.”
“Saya bertobat.”
“Saya akan memperbaiki kesalahan.”
“Saya akan mengembalikan hak orang lain.”
Tetapi pada hari pembalasan, kesempatan tersebut telah berakhir.
c. Ayat Pendukung
يَوْمَئِذٍ لَا يَنْفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ
“Pada hari itu tidak berguna lagi alasan orang-orang yang zalim bagi mereka, dan mereka tidak diberi kesempatan untuk mendapat keridaan Allah.”
QS. Ar-Rūm [30]: 57.
Ayat ini memiliki hubungan makna yang sangat kuat dengan QS At-Taḥrīm ayat 7.
Pada hari pembalasan, manusia tidak lagi berada dalam masa memperbaiki amal.
d. Hadis Pendukung
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskannya, tentang ilmunya untuk apa diamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”
HR. At-Tirmidzi no. 2417.
e. Pelajaran dari Perkataan 2
Jangan menjadikan alasan sebagai tameng untuk mempertahankan kesalahan karena kesempatan memperbaiki diri tidak berlangsung selamanya.
Perkataan 3 — ٱلْيَوْمَ
a. Teks dan makna
ٱلْيَوْمَ
“Pada hari ini.”
b. Penjelasan makna per kata
Yang dimaksud dengan ٱلْيَوْمَ dalam ayat adalah hari pembalasan, yaitu hari kiamat.
Kata ini sangat penting karena memberikan dimensi waktu.
Ada masa ketika manusia beramal dan ada masa ketika manusia menerima balasan.
Dunia adalah tempat ujian dan amal.
Akhirat adalah tempat pembalasan.
فَإِنَّهُ ذَهَبَ وَقْتُ الِاعْتِذَارِ، وَزَالَ نَفْعُهُ، فَلَمْ يَبْقَ الْآنَ إِلَّا الْجَزَاءُ عَلَى الْأَعْمَالِ
“Sebab waktu untuk mengemukakan alasan telah berlalu dan manfaatnya telah hilang; sekarang tidak tersisa kecuali pembalasan atas amal.”
Inilah salah satu pesan terbesar ayat tersebut.
Manusia sering merasa masih mempunyai banyak waktu.
Nanti saya bertobat.
Nanti saya memperbaiki ibadah.
Nanti saya melunasi utang.
Nanti saya mengembalikan hak orang lain.
Nanti saya berhenti dari transaksi haram.
Nanti saya memperbaiki hubungan dengan keluarga.
Masalahnya adalah tidak seorang pun mengetahui kapan “nanti” itu berakhir.
c. Ayat Pendukung
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوٓءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُۥٓ أَمَدًا بَعِيدًا
“Pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan dihadapkan kepadanya, dan apa yang telah dikerjakannya berupa kejahatan; dia ingin sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dan kejahatan itu.”
QS. Āli ‘Imrān [3]: 30.
Ayat ini menggambarkan bagaimana amal manusia akan dihadapkan kepadanya.
Apa yang dahulu dilakukan dan mungkin dilupakan manusia tidak hilang dari pengetahuan Allah.
d. Hadis Pendukung
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
Makna yang dapat diambil adalah pentingnya melakukan evaluasi diri sebelum datang waktu ketika evaluasi tidak lagi menghasilkan kesempatan memperbaiki amal.
e. Pelajaran dari Perkataan 3
Kesadaran bahwa akan datang hari pembalasan harus mendorong manusia melakukan evaluasi dan perbaikan amal sejak sekarang.
Perkataan 4 — إِنَّمَا تُجْزَوْنَ
a. Teks dan makna
إِنَّمَا تُجْزَوْنَ
“Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan.”
b. Penjelasan makna per kata
Kata إِنَّمَا mengandung makna pembatasan, sedangkan تُجْزَوْنَ berkaitan dengan pembalasan.
Ayat ini menunjukkan adanya hubungan antara amal dan balasan.
إِنَّمَا تُثَابُونَ الْيَوْمَ، وَذَلِكَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، وَتُعْطَوْنَ جَزَاءَ أَعْمَالِكُمُ الَّتِي كُنْتُمْ فِي الدُّنْيَا تَعْمَلُونَ
“Kalian hanya diberi balasan pada hari ini, yaitu hari kiamat, dan diberikan balasan atas amal yang dahulu kalian kerjakan di dunia.”
Prinsip ini menunjukkan bahwa pembalasan Allah bukanlah pembalasan yang zalim atau tanpa dasar.
Allah mengetahui seluruh amal manusia dan memberikan balasan dengan keadilan-Nya.
c. Ayat Pendukung
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah. Jika sesuatu yang sebesar zarah itu berupa kebaikan, niscaya Allah melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.”
QS. An-Nisā' [4]: 40.
Ayat ini menunjukkan kesempurnaan keadilan Allah.
Allah tidak menzalimi manusia, bahkan kebaikan yang kecil pun tidak disia-siakan.
d. Hadis Pendukung
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser sampai ia ditanya tentang umurnya, ilmunya, hartanya, dan tubuhnya.”
HR. At-Tirmidzi no. 2417.
Hadis ini memperlihatkan bahwa kehidupan manusia adalah amanah.
Waktu, ilmu, harta, dan tubuh tidak boleh digunakan secara sembarangan.
e. Pelajaran dari Perkataan 4
Allah membalas manusia dengan keadilan sehingga setiap orang harus bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya.
Perkataan 5 — مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
a. Teks dan makna
مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Apa yang telah kamu kerjakan.”
b. Penjelasan makna per kata
Frasa مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ mengarahkan perhatian kepada amal yang dilakukan manusia selama kehidupan dunia.
Ibn Kathīr menjelaskan bahwa orang-orang kafir pada hari kiamat diberitahu agar tidak lagi mengemukakan alasan karena mereka akan diberi balasan berdasarkan amal yang mereka lakukan.
Makna tersebut menegaskan bahwa kehidupan manusia bukan kumpulan kejadian tanpa pertanggungjawaban.
Setiap pilihan mempunyai nilai dan konsekuensi.
c. Ayat Pendukung
وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tercatat). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”
QS. Al-Kahf [18]: 49.
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat jelas: amal yang dilakukan manusia tidak hilang.
Manusia boleh melupakannya, tetapi Allah tidak melupakannya.
d. Hadis Pendukung
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang dimurkai Allah, yang tidak ia anggap penting, tetapi karenanya ia terjerumus ke dalam Jahanam.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang semakna.
Hadis tersebut mengajarkan agar seorang Muslim tidak meremehkan perkataan dan perbuatan.
Bisa jadi manusia menganggap suatu perbuatan kecil, tetapi di sisi Allah perbuatan tersebut memiliki konsekuensi besar.
e. Pelajaran dari Perkataan 5
Jangan meremehkan amal sekecil apa pun karena setiap perbuatan manusia memiliki konsekuensi di hadapan Allah.
4. Faedah dan Penerapan
Faedah 1: Jangan Menjadikan Alasan sebagai Pembenaran Dosa
QS At-Taḥrīm ayat 7 memberikan gambaran tentang keadaan ketika alasan sudah tidak berguna.
Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati terhadap kebiasaan membela diri.
“Semua orang juga melakukan.”
“Keadaan memaksa saya.”
“Saya tidak punya pilihan.”
“Yang penting niat saya baik.”
“Nanti saya bertobat.”
Kalimat-kalimat tersebut tidak otomatis menjadi alasan yang benar.
Islam mengenal uzur yang sah, tetapi uzur berbeda dengan rasionalisasi dosa.
Penerapan praktis:
Ketika melakukan kesalahan, biasakan tiga langkah:
1. akui kesalahan;
2. perbaiki akibatnya;
3. bertobat dan bertekad tidak mengulanginya.
Faedah 2: Dunia adalah Tempat Memperbaiki Amal
Kata ٱلْيَوْمَ memberikan pelajaran bahwa ada masa amal dan ada masa pembalasan.
Selama hidup, seseorang masih dapat berubah.
Orang yang dahulu lalai dapat menjadi taat.
Orang yang dahulu boros dapat menjadi hemat.
Orang yang dahulu mengambil hak orang lain dapat mengembalikannya.
Orang yang dahulu melakukan transaksi haram dapat menghentikannya.
Orang yang dahulu meninggalkan salat dapat bertobat dan memperbaiki ibadahnya.
Namun, kesempatan tersebut tidak berlangsung selamanya.
Penerapan: jangan menunda perubahan yang sebenarnya dapat dilakukan hari ini.
Faedah 3: Setiap Amal Memiliki Konsekuensi
Frasa مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ menunjukkan hubungan antara perbuatan dan konsekuensinya.
Kebohongan dapat menghancurkan kepercayaan.
Kecurangan dapat merusak bisnis.
Pengkhianatan dapat menghancurkan keluarga.
Kezaliman dapat melahirkan tuntutan.
Riba dapat menghilangkan keberkahan.
Sebaliknya, kejujuran, amanah, sedekah, ilmu yang bermanfaat, pelayanan kepada manusia, dan kerja yang halal merupakan amal yang memiliki nilai di sisi Allah.
Karena itu, seorang Muslim tidak hanya bertanya: “Apakah saya mendapatkan keuntungan?”
Tetapi juga: “Apakah keuntungan itu diperoleh dengan cara yang diridai Allah?”
Faedah 4: Allah Tidak Menzalimi Hamba-Nya
Ayat ini tidak boleh dipahami sebagai gambaran bahwa Allah menghukum manusia secara sewenang-wenang.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah.”
QS. An-Nisā' [4]: 40.
Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan manusia.
Allah juga Maha Mengetahui kondisi manusia.
Karena itu, seorang Muslim harus memiliki keseimbangan antara takut dan berharap.
Faedah 5: Lakukan Muhāsabah Sebelum Datang Hari Perhitungan
Jika manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya, maka orang beriman seharusnya melakukan evaluasi diri sebelum datang hari pembalasan.
Evaluasi dapat mencakup:
- bagaimana kualitas salat;
- bagaimana hubungan dengan orang tua;
- bagaimana hubungan dengan pasangan dan anak;
- bagaimana amanah pekerjaan;
- bagaimana penggunaan waktu;
- bagaimana sumber penghasilan;
- bagaimana utang dan piutang;
- bagaimana penggunaan harta;
- bagaimana perkataan;
- bagaimana hubungan dengan sesama manusia.
Orang yang melakukan muhāsabah di dunia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi hisab di akhirat.
Faedah 6: Jangan Menunggu Akhirat untuk Menyelesaikan Hak Manusia
QS At-Taḥrīm ayat 7 memiliki relevansi yang sangat kuat dengan fikih muamalah.
Seseorang yang menipu, menggelapkan uang, memalsukan dokumen, mengurangi timbangan, menyembunyikan cacat barang, mengambil keuntungan secara batil, atau menahan hak orang lain tidak boleh merasa aman hanya karena perbuatannya belum diketahui manusia.
Tidak terungkapnya suatu kesalahan di dunia bukan berarti kesalahan tersebut hilang dari catatan Allah.
Karena itu, seorang Muslim yang menyadari adanya hak orang lain pada hartanya harus berusaha menyelesaikannya selama masih berada di dunia.
Jika pernah mengambil harta orang lain, kembalikan.
Jika pernah menipu, perbaiki.
Jika pernah merugikan, mintalah maaf dan lakukan penggantian sesuai kewajiban.
Jika memiliki utang, berusahalah membayarnya.
Jika pernah melakukan transaksi yang tidak sesuai syariah, hentikan dan lakukan perbaikan.
Inilah bentuk nyata dari kesadaran bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya.
Faedah 7: Kesempatan Bertobat Adalah Nikmat
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.”
QS. At-Taḥrīm [66]: 8.
Perhatikan kontrasnya.
Ayat 7 menggambarkan keadaan orang-orang yang telah sampai pada hari pembalasan, ketika alasan tidak lagi berguna.
Ayat 8 memberikan solusi kepada orang beriman: selama masih hidup, bertobatlah kepada Allah.
Seolah-olah manusia diberi pilihan: bertobat sekarang atau memberikan alasan ketika kesempatan telah berakhir.
Faedah 8: Takut kepada Akhirat Harus Melahirkan Perbaikan
Peringatan tentang hari pembalasan bukan untuk membuat manusia berputus asa.
Sebaliknya, peringatan tersebut dimaksudkan agar manusia berubah sebelum terlambat.
Seorang Muslim harus mempunyai khauf, yaitu rasa takut kepada akibat dosa, tetapi rasa takut tersebut harus melahirkan amal.
Ketika seseorang menyadari banyaknya dosa, jangan sampai ia berkata: “Saya sudah terlalu banyak dosa sehingga tidak mungkin berubah.”
Sikap yang benar adalah: “Saya memang banyak melakukan kesalahan, tetapi Allah masih memberi saya kehidupan. Maka saya harus segera bertobat.”
5. Penutup
Tadabbur Ayat dari Perspektif Akidah/Tauhid dan Akhlak Terhadap Allah
QS At-Taḥrīm ayat 7 menanamkan keyakinan tentang adanya hari pembalasan.
Kehidupan dunia bukan akhir perjalanan.
Manusia akan kembali kepada Allah.
Amal manusia akan dipertanggungjawabkan.
Tidak ada kezaliman dalam keputusan Allah.
Tidak ada amal yang luput dari pengetahuan-Nya.
Keyakinan tersebut seharusnya membentuk akhlak seorang Muslim.
Ia menjadi lebih takut melakukan dosa.
Ia tidak mudah meremehkan kesalahan.
Ia tidak menjadikan alasan sebagai tameng.
Ia segera bertobat ketika melakukan kesalahan.
Ia tidak merasa aman hanya karena manusia tidak mengetahui perbuatannya.
Inilah akhlak seorang hamba yang memiliki kesadaran bahwa Allah selalu mengawasinya.
Tadabbur Ayat dari Perspektif Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Ayat ini juga mengandung prinsip pendidikan yang sangat kuat: pendidikan tanggung jawab.
Manusia tidak boleh dididik menjadi pribadi yang selalu mencari kambing hitam.
Anak perlu belajar mengatakan: “Saya salah.”
“Saya bertanggung jawab.”
“Saya akan memperbaikinya.”
Peserta didik perlu dibiasakan mengevaluasi proses belajarnya.
Pegawai perlu dibiasakan bertanggung jawab terhadap amanah pekerjaannya.
Pemimpin perlu berani mengakui kesalahan kebijakan.
Pengusaha perlu berani mengakui kesalahan bisnis.
Orang tua perlu berani meminta maaf kepada anak ketika melakukan kesalahan.
Budaya mengakui kesalahan dan memperbaikinya jauh lebih dekat dengan pendidikan Qurani daripada budaya mempertahankan kesalahan dengan berbagai alasan.
Tadabbur Ayat dari Perspektif Ekonomi Syariah dan Fikih Muamalah
Dalam ekonomi syariah, kesadaran terhadap hari pembalasan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku ekonomi.
Seorang pengusaha Muslim tidak hanya bertanya: “Berapa keuntungan yang saya dapat?”
Tetapi juga: “Dari mana keuntungan tersebut?”
“Apakah akadnya sah?”
“Apakah terdapat riba?”
“Apakah terdapat gharar?”
“Apakah terdapat penipuan?”
“Apakah terdapat kezaliman?”
“Apakah hak pihak lain telah ditunaikan?”
“Apakah harta ini dapat saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?”
Kesadaran tersebut melahirkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.
Dalam konteks laporan keuangan, misalnya, seorang Muslim tidak boleh melakukan manipulasi hanya karena berpikir: “Tidak akan ada yang tahu.”
Bisa jadi auditor tidak mengetahui.
Bisa jadi pemilik tidak mengetahui.
Bisa jadi regulator tidak mengetahui.
Bisa jadi masyarakat tidak mengetahui.
Namun, Allah mengetahui.
Begitu pula dalam utang-piutang.
Jangan berpikir bahwa karena pemberi utang tidak menagih, maka kewajiban telah hilang.
Jangan menganggap bahwa karena kesalahan administrasi tidak ditemukan, maka hak orang lain menjadi halal.
Kesadaran akhirat membuat seseorang memahami bahwa kepatuhan syariah bukan hanya persoalan apakah sebuah transaksi dapat lolos pemeriksaan manusia, tetapi apakah transaksi tersebut dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Inilah salah satu fondasi spiritual ekonomi syariah.
6. Tanya Jawab
P: Apakah QS At-Taḥrīm ayat 7 berarti semua orang yang melakukan dosa tidak boleh memberikan alasan?
J: Tidak.
Ayat ini secara langsung berbicara kepada orang-orang kafir pada hari pembalasan.
Adapun dalam kehidupan dunia, syariat mengenal uzur yang sah.
Yang tercela adalah menjadikan alasan sebagai pembenaran untuk mempertahankan kesalahan.
P: Mengapa Allah melarang mereka memberikan alasan, padahal Allah sudah mengetahui semuanya?
J: Larangan tersebut menggambarkan bahwa pada hari pembalasan alasan tidak lagi mempunyai manfaat.
Persoalannya bukan karena Allah membutuhkan penjelasan manusia, tetapi karena fase amal telah berakhir.
Manusia tidak lagi dapat mengubah apa yang telah dikerjakannya.
P: Apakah ayat ini hanya berlaku bagi orang kafir?
J: Dari sisi objek langsung, ayat ini berbicara kepada orang-orang kafir.
Namun, pelajarannya sangat relevan bagi orang beriman.
Orang beriman tidak boleh menunggu sampai akhirat untuk memperbaiki dirinya.
Justru ayat berikutnya memberikan perintah kepada orang beriman agar segera bertobat kepada Allah dengan taubat nasūḥā.
P: Apa hubungan ayat 7 dengan ayat 8?
J: Hubungannya sangat erat.
Ayat 7 menggambarkan keadaan orang-orang yang telah sampai pada hari pembalasan, ketika alasan tidak lagi berguna.
Ayat 8 kemudian menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh orang beriman sebelum hari itu tiba: bertobat kepada Allah.
Dengan kata lain:
Ayat 7 memperingatkan tentang kesempatan yang hilang.
Ayat 8 mengajarkan bagaimana memanfaatkan kesempatan yang masih ada.
P: Bagaimana menerapkan ayat ini dalam kehidupan bisnis?
J: Jangan mengukur keberhasilan bisnis hanya dengan keuntungan.
Perhatikan juga cara mendapatkannya.
Hindari riba, penipuan, manipulasi, penggelapan, pemalsuan, kecurangan timbangan, penyembunyian cacat barang, dan berbagai bentuk kezaliman.
Seorang pengusaha Muslim harus bertanya bukan hanya: “Apakah saya bisa lolos dari pemeriksaan manusia?”
tetapi: “Apakah saya dapat mempertanggungjawabkan transaksi ini di hadapan Allah?”
P: Bagaimana jika seseorang memiliki hak orang lain yang belum diselesaikan?
J: Selama masih hidup, segera selesaikan.
Jika memiliki utang, bayar atau komunikasikan dengan pihak yang memberikan utang.
Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikan.
Jika pernah merugikan seseorang, perbaiki kerugiannya sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.
P: Apakah semua keuntungan bisnis akan dipertanggungjawabkan?
J: Harta termasuk amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia akan ditanya mengenai hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
Karena itu, seorang Muslim harus memperhatikan bukan hanya jumlah hartanya, tetapi juga sumber dan penggunaannya.
P: Bagaimana jika seseorang merasa dosanya sudah terlalu banyak?
J: Jangan berputus asa.
Selama masih hidup, kesempatan bertobat masih ada.
Yang harus dilakukan adalah berhenti dari dosa, menyesalinya, bertobat kepada Allah, memperbaiki kerusakan, mengembalikan hak manusia, dan berusaha tidak mengulanginya.
Kesalahan masa lalu tidak boleh dijadikan alasan untuk terus melakukan kesalahan pada masa depan.
7. Kesimpulan
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَعْتَذِرُوا۟ ٱلْيَوْمَ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang kafir! Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan.”
Ayat ini mengajarkan sekurang-kurangnya lima pesan besar.
Pertama, manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.
Kedua, akan datang masa ketika kesempatan memperbaiki amal telah berakhir.
Ketiga, alasan yang digunakan untuk mempertahankan kesalahan tidak akan menyelamatkan manusia pada hari pembalasan.
Keempat, keadilan Allah sempurna; Allah tidak menzalimi manusia walaupun sebesar zarah.
Kelima, selama masih hidup, manusia harus menggunakan kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki amal.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya muncul setelah membaca ayat ini bukan: “Alasan apa yang akan saya gunakan nanti?”
Tetapi: “Apa yang harus saya perbaiki hari ini sebelum saya tidak lagi mempunyai kesempatan?”
Jangan menunggu hari ketika alasan tidak lagi berguna.
Jangan menunggu kematian untuk menyelesaikan utang.
Jangan menunggu akhirat untuk mengembalikan hak orang lain.
Jangan menunggu sakit untuk memperbaiki ibadah.
Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga.
Jangan menunggu laporan diperiksa untuk memperbaiki kejujuran.
Jangan menunggu manusia mengetahui kesalahan untuk meninggalkan kecurangan.
Sebab manusia mungkin dapat menyembunyikan perbuatan dari manusia, tetapi tidak dari Allah.
Hari ini adalah masa untuk beramal.
Besok belum tentu menjadi milik kita.
Adapun akhirat adalah masa untuk menerima balasan.
Maka, sebelum datang hari ketika kita tidak lagi dapat berkata, “Saya akan memperbaikinya,” marilah kita memperbaikinya sekarang.
Jangan menunggu hari ketika alasan tidak lagi berguna. Bertobatlah sebelum kesempatan berakhir.
8. Daftar Pustaka (Marāji‘)
Al-Bukhari, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
Al-Qurṭubi, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1964.
Al-Sa‘di, ‘Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir. Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Tahqiq ‘Abd al-Raḥmān ibn Mu‘allā al-Luwayḥiq. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.
Al-Tirmidhi, Muḥammad ibn ‘Īsā. Sunan al-Tirmidhī.
Al-Ṭabari, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Tahqiq ‘Abdullah ibn ‘Abd al-Muḥsin al-Turki. Riyadh: Dār Hajr, 2001.
Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah.
Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim.
Catatan Akhir
1 Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS At-Taḥrīm [66]: 7. ↩
2 Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS At-Taḥrīm [66]: 7. ↩
3 ‘Abd al-Raḥmān ibn Nāṣir al-Sa‘di, Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS At-Taḥrīm [66]: 7. ↩
4 Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS At-Taḥrīm [66]: 7. ↩
Pesan Penutup untuk Jamaah
Ada satu perbedaan besar antara dunia dan akhirat.
Di dunia, ketika kita salah, kita masih bisa berkata: “Maaf, saya salah.”
Di dunia, kita masih bisa berkata: “Saya akan memperbaikinya.”
Di dunia, kita masih bisa berkata: “Saya akan mengembalikan haknya.”
Di dunia, kita masih bisa berkata: “Saya akan bertobat.”
Tetapi akan datang suatu hari ketika manusia tidak lagi diberi kesempatan untuk memperbaiki amal.
Pada hari itu Allah berfirman:
لَا تَعْتَذِرُوا۟ ٱلْيَوْمَ
“Janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini.”
Maka, selama kita masih berada pada “hari ini” di dunia, jangan sia-siakan kesempatan.
Bertobatlah hari ini.
Perbaiki amal hari ini.
Kembalikan hak orang lain hari ini.
Perbaiki ibadah hari ini.
Perbaiki keluarga hari ini.
Perbaiki sumber penghasilan hari ini.
Tinggalkan transaksi haram hari ini.
Karena boleh jadi, hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita untuk berubah.