Hadits: Larangan Bepergian Sendirian

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

 Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah ﷻ yang telah memberikan kita nikmat ilmu, iman, dan kesempatan untuk duduk dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau yang istiqamah mengikuti sunnahnya hingga hari kiamat.

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah, pada kesempatan kajian kali ini, kita akan membahas sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang sangat penting namun kerap dilupakan, padahal faedahnya sangat relevan dengan realitas kehidupan kita hari ini, yaitu hadits tentang larangan bepergian sendirian. 

Di zaman modern ini, individualisme semakin menjamur. Banyak di antara kita yang lebih suka hidup menyendiri, menjauh dari kebersamaan, bahkan dalam perjalanan sekalipun. Ada yang merasa lebih bebas, lebih cepat, atau lebih nyaman tanpa orang lain. Namun tanpa disadari, sikap seperti ini sangat rentan menimbulkan bahaya baik dari sisi keselamatan, psikologis, maupun spiritual.

Banyak kasus kriminal, kecelakaan, bahkan kematian mendadak yang tidak tertangani dengan baik karena seseorang melakukan perjalanan sendirian. Di sisi lain, kita juga melihat gejala merosotnya semangat berjamaah dalam kehidupan kaum Muslimin. Padahal, Islam adalah agama kebersamaan. Maka, hadits ini mengajarkan kepada kita bukan hanya tentang adab safar, tetapi juga pentingnya hidup dalam kebersamaan, saling menjaga, dan memperkuat tali ukhuwah.

Karena itu, hadits ini sangat penting untuk kita pelajari dan pahami bersama. Agar kita tidak hanya selamat dalam perjalanan fisik, tetapi juga dalam perjalanan hidup kita menuju akhirat. Semoga dengan memahami kandungan hadits ini, kita bisa menghindari kebiasaan yang membahayakan diri, sekaligus memperkuat semangat berjamaah yang menjadi ciri khas umat Islam.


Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ، وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ

Orang yang bepergian sendirian adalah setan, dua orang yang bepergian juga adalah dua setan, sedangkan jika tiga orang bepergian maka itu adalah rombongan.

HR. Abu Dawud (2607), at-Tirmidzi (1674), dan an-Nasa’i (8798).


Arti dan Penjelasan Per Perkataan


الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ
Orang yang bepergian sendirian adalah setan

Perkataan ini menunjukkan larangan bepergian sendirian karena mengandung unsur bahaya dan menjauhkan diri dari perlindungan sosial.  

Bepergian sendiri membuat seseorang rentan terhadap gangguan fisik seperti pencurian, serangan, atau tersesat di jalan.

   Selain itu, dalam aspek spiritual, orang yang sendiri lebih mudah dikuasai oleh was-was syaitan dan terdorong untuk melakukan kesalahan atau maksiat tanpa pengawasan.

   Islam sangat memperhatikan aspek keselamatan jiwa dan menjaga kehormatan, sehingga larangan ini menunjukkan perlunya manusia hidup dalam kebersamaan dan saling menjaga.

   Dalam konteks modern, bepergian sendirian di tempat asing atau penuh risiko juga bisa mengakibatkan gangguan psikologis seperti kecemasan atau kesepian ekstrem.

   Oleh karena itu, Nabi menggunakan ungkapan “setan” untuk menggambarkan buruknya kondisi orang yang bepergian sendiri dari sisi agama dan keselamatan.


وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ
Dan dua orang yang bepergian adalah dua setan

Perkataan ini memperkuat pesan bahwa jumlah kecil dalam perjalanan tetap berisiko.

   Dua orang belum cukup kuat untuk saling mengingatkan atau melindungi satu sama lain secara optimal.

   Dalam perjalanan jauh atau misi yang berbahaya, dua orang bisa saja sepakat dalam kesalahan atau tidak cukup kuat menghadapi ancaman yang lebih besar.

   Kebersamaan dalam jumlah ganjil yang lebih dari dua memiliki makna syura (musyawarah), distribusi peran, dan kekuatan sosial yang lebih utuh.
   Dengan hanya dua orang, komunikasi bisa jadi terbatas dan kontrol moral menjadi lemah karena ketiadaan pihak ketiga yang menyeimbangkan.

   Ini mengajarkan bahwa jumlah minimal dalam perjalanan yang ideal bukanlah dua, tapi tiga yang mewakili kebersamaan sejati dan struktur komunitas.


وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ
Dan tiga orang adalah rombongan

Perkataan ini menetapkan standar minimal dalam membentuk rombongan yang ideal.

   Dalam Islam, rombongan bukan hanya tentang jumlah, tapi juga tentang keberkahan, perlindungan, dan peluang untuk saling menasihati.

   Tiga orang menciptakan keseimbangan dalam dinamika kelompok: satu bisa menjadi pemimpin, dua lainnya menjadi pendukung dan penguat.

   Dalam hadits lain, Nabi menganjurkan memilih pemimpin saat tiga orang bepergian, yang menunjukkan pentingnya keteraturan dan tanggung jawab kolektif.

   Tiga orang juga meminimalisir konflik karena ada penengah jika dua orang berselisih.

   Ini menunjukkan bahwa Islam sangat mendorong hidup dalam jamaah, termasuk saat melakukan perjalanan, karena dalam kebersamaan terdapat rahmat dan keamanan.


Syarah Hadits


لِلسَّفَرِ آدَابٌ وَأَحْكَامٌ
Untuk safar (perjalanan) ada adab-adab dan hukum-hukum.

يَنْبَغِي أَنْ يَتَّبِعَهَا الْمُسْلِمُ إِنْ نَوَى السَّفَرَ
Seorang Muslim seharusnya mengikutinya jika ia berniat melakukan perjalanan.

وَهَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ بَيَانُ بَعْضِ آدَابِ السَّفَرِ
Dan hadits ini mengandung penjelasan sebagian dari adab-adab perjalanan.

وَفِيهِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan di dalamnya Nabi bersabda:

"الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ، وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ"
"Orang yang bepergian sendirian adalah setan, dan dua orang yang bepergian adalah dua setan."

قِيلَ: مَعْنَاهُ أَنَّ التَّفَرُّدَ وَالذَّهَابَ وَحْدَهُ فِي الْأَرْضِ مِنْ فِعْلِ الشَّيْطَانِ
Dikatakan: maknanya adalah bepergian sendiri dan berjalan sendirian di bumi termasuk perbuatan setan.

فَالْمُنْفَرِدُ فِي السَّفَرِ يَسْهُلُ الطَّمَعُ فِيهِ
Maka orang yang menyendiri dalam perjalanan mudah menjadi sasaran kejahatan.

وَإِنْ مَاتَ فِي السَّفَرِ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مَنْ يُكَفِّنُهُ وَيُغَسِّلُهُ وَيُقِيمُ جِنَازَتَهُ
Dan jika ia meninggal dalam perjalanan, tidak ada yang mengkafaninya, memandikannya, dan menyelenggarakan jenazahnya.

وَكَذَلِكَ الْحَالُ مَعَ الِاثْنَيْنِ
Demikian pula keadaannya dengan dua orang.

وَقِيلَ: لِأَنَّ الشَّيْطَانَ يُحَاوِلُ الْوَسْوَسَةَ وَالْأَمْرَ بِالْمَعْصِيَةِ لِلْوَاحِدِ وَالِاثْنَيْنِ
Dan dikatakan: karena setan berusaha membisikkan dan memerintahkan maksiat kepada orang yang sendiri maupun berdua.

بِخِلَافِ الْجَمَاعَةِ
Berbeda halnya dengan kelompok (rombongan).

وَقِيلَ غَيْرُ ذَلِكَ
Dan ada pula pendapat lain.

"وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ"
"Dan tiga orang adalah rombongan."

أَيْ: فَإِنْ أَصْبَحُوا ثَلَاثَةً فَأَكْثَرَ كَانُوا صُحْبَةً وَرُفْقَةً
Artinya: jika mereka menjadi tiga orang atau lebih, maka mereka adalah teman perjalanan dan sahabat seperjalanan.

فَإِنَّهُمْ أَقْدَرُ عَلَى الْمُعَاوَنَةِ وَتَوْزِيعِ مَهَامِّ السَّفَرِ عَلَيْهِمْ
Karena mereka lebih mampu saling membantu dan membagi tugas-tugas perjalanan di antara mereka.

وَفِي الْحَدِيثِ: التَّحْذِيرُ مِنْ سَفَرِ الْفَرْدِ أَوِ الْفَرْدَيْنِ
Dan dalam hadits ini terdapat peringatan dari bepergian sendirian atau berdua saja.

Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/117685


Pelajaran dari Hadits ini


1. Bahaya Bepergian Sendirian

Perkataan الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ (orang yang bepergian sendirian adalah setan) mengajarkan bahwa bepergian sendirian adalah perbuatan yang tercela karena membahayakan diri dan membuka celah godaan setan. Rasulullah ﷺ menyamakan orang yang bepergian sendirian dengan setan, untuk menunjukkan betapa jauhnya dia dari kebaikan dan pengawasan. Orang yang sendiri mudah terjerumus ke dalam godaan karena tidak ada teman yang bisa menasihati atau menolong saat tergelincir. Perjalanan yang jauh membutuhkan perlindungan lahir dan batin, sedangkan kesendirian membuat seseorang lemah secara fisik dan spiritual. Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 27:
يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ
(Wahai anak cucu Adam! Janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga).
Nabi ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الْغَنَمِ الْقَاصِيَةَ
(Sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang terpisah dari rombongannya) [HR. Abu Dawud, no. 547].
Ini menekankan bahwa orang yang menyendiri sangat mudah diserang oleh setan, seperti kambing yang menyendiri mudah dimangsa oleh serigala.


2. Lemahnya Keamanan Dua Orang

Perkataan وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ (dan dua orang yang bepergian adalah dua setan) menunjukkan bahwa walau sudah berdua, itu belum cukup menjamin keselamatan atau menghindarkan dari keburukan. Dua orang saja bisa saja bersepakat dalam kesalahan, atau tidak cukup saling menasihati ketika salah satu lalai. Dalam perjalanan, diperlukan kelompok yang bisa membagi tugas, saling menjaga, dan mengingatkan dalam kebaikan. Dua orang belum memenuhi struktur sosial yang ideal dalam Islam, karena jika terjadi perselisihan, tak ada penengah. Dalam QS. Al-Maidah ayat 2, Allah ﷻ berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
(Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan).
Tolong-menolong dalam kebaikan akan sulit dilakukan bila jumlah terlalu sedikit dan tidak ada kontrol sosial. Karena itu, Islam mendorong agar kita lebih banyak bersosialisasi dalam kebaikan, termasuk dalam perjalanan.


3. Nilai Jamaah dalam Perjalanan

Perkataan وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ (dan tiga orang adalah rombongan) mengandung ajaran bahwa minimal tiga orang dapat membentuk kebersamaan yang bernilai dan bermanfaat. Tiga orang cukup untuk menghadirkan dinamika sosial, pembagian tugas, bahkan struktur kepemimpinan sederhana. Dalam hadits lain Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

(Jika ada tiga orang dalam perjalanan, maka hendaknya mereka mengangkat salah satu dari mereka menjadi pemimpin) [HR. Abu Dawud, no. 2609].
Perintah ini menunjukkan pentingnya keteraturan, tanggung jawab, dan kebersamaan dalam perjalanan. Rombongan bukan hanya aspek fisik, tapi juga menunjukkan adanya nilai ukhuwah, musyawarah, dan saling menjaga. Dalam QS. Ali Imran ayat 103 Allah ﷻ berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

(Berpeganglah kamu semua kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai).
Dalam rombongan, ada kekuatan yang muncul dari kebersamaan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.


4. Pentingnya Struktur dan Kepemimpinan

Perkataan وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ juga menyiratkan perlunya struktur sosial walaupun hanya dalam rombongan kecil. Islam sangat menekankan pentingnya kepemimpinan, termasuk dalam hal sederhana seperti perjalanan. Dengan adanya tiga orang, maka memungkinkan salah satu ditunjuk sebagai pemimpin yang bertanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa Islam mengatur kehidupan secara sistematis bahkan dalam skala kecil. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ يَكُونُونَ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ
(Tidak halal bagi tiga orang yang berada di tanah yang sunyi (dalam perjalanan) kecuali mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin) [HR. Ahmad, no. 8697].
Ini membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan menjauhkan dari anarki sosial dalam kehidupan muslim.


5. Anjuran Hidup dalam Kebersamaan

Meskipun hadits ini berbicara tentang perjalanan, namun maknanya juga berlaku dalam kehidupan secara umum. Islam adalah agama jamaah, bukan agama individualistik. Kehidupan bersama dalam komunitas mempermudah pelaksanaan syariat, menumbuhkan kasih sayang, serta menjadi benteng dari godaan syaitan. Dalam QS. As-Saff ayat 4, Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

(Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh).
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan dan keberkahan terletak pada keteraturan dan kebersamaan. Begitu juga dalam perjalanan hidup, orang-orang yang hidup bersama dan saling membantu lebih kuat, lebih terlindungi, dan lebih diberkahi.


6. Bahaya Individualisme dan Kesendirian dalam Kehidupan Sosial

Perkataan الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ juga memberi peringatan keras terhadap gaya hidup yang individualis dan tertutup dari masyarakat. Kesendirian bisa melahirkan kesombongan, kecurigaan terhadap orang lain, dan sikap menutup diri dari nasihat. Hal ini rentan merusak hubungan sosial dan menjauhkan dari ukhuwah Islamiyah. Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

(Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain) [HR. Bukhari, no. 2446].
Kehidupan manusia memang ditakdirkan untuk saling membutuhkan. Maka, menjauhi sikap individualisme adalah bagian dari kesempurnaan iman dan keutuhan masyarakat Islam.


Secara keseluruhan, hadits ini mengajarkan pentingnya kebersamaan dan bahaya kesendirian, khususnya dalam perjalanan dan umumnya dalam hidup. Islam sangat menekankan nilai jamaah, struktur sosial, serta saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Dalam kebersamaan, ada perlindungan dari godaan setan, ada kekuatan, ada cinta, dan ada berkah dari Allah ﷻ.

 


Penutup Kajian


Alhamdulillah, setelah kita mempelajari bersama hadits yang agung ini, kita memahami bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keselamatan, keteraturan, dan kebersamaan. Hadits tentang larangan bepergian sendirian ini bukan hanya sekadar anjuran untuk tidak sendirian saat safar, tetapi juga mengandung pelajaran besar tentang pentingnya hidup dalam jamaah, saling tolong-menolong, dan menghindari sikap individualisme yang bisa membuka pintu godaan setan dan membahayakan diri.

Hadits ini mengajarkan bahwa dalam kebersamaan terdapat keberkahan, perlindungan, dan kekuatan. Dengan hidup berjamaah, kita bisa saling menjaga, saling menasihati, dan saling menutupi kekurangan. Bahkan dalam perjalanan sekalipun, Islam mengajarkan agar kita punya struktur, pemimpin, dan pembagian tugas yang baik—ini menunjukkan betapa Islam mencintai ketertiban dan kerja sama.

Harapannya, setelah kajian ini, para peserta tidak hanya memahami hadits ini secara teoritis, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dari hal sederhana: jangan bepergian jauh sendirian tanpa alasan mendesak, biasakan bermusyawarah dalam kelompok, dan tanamkan kembali semangat ukhuwah dalam kehidupan bermasyarakat. Jadikan kebersamaan sebagai jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang hidup dalam keberkahan kebersamaan dan terhindar dari tipu daya setan. Aamiin. 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.