Hadits Larangan Permusuhan dan Pentingnya Persaudaraan dalam Islam
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang dirahmati Allah.
Hari ini, kita akan mengkaji sebuah hadits yang sangat mendalam maknanya, sebuah nasihat agung dari Rasulullah ﷺ yang relevan sepanjang masa, terutama di tengah kondisi masyarakat kita saat ini. Coba kita renungkan sejenak, berapa banyak di antara kita yang mungkin merasakan ada keretakan dalam hubungan persaudaraan? Mungkin di lingkungan keluarga, antar tetangga, rekan kerja, atau bahkan sesama muslim di media sosial.
Kita sering mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri, bagaimana salah paham kecil bisa membesar jadi permusuhan, bagaimana rasa iri hati atau dengki bisa merusak tatanan silaturahmi, dan bagaimana perpecahan bisa muncul hanya karena perbedaan pendapat yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah. Ada saudara yang tadinya akrab, tiba-tiba saling mendiamkan, atau bahkan saling membelakangi dan memutuskan komunikasi. Ini adalah gambaran nyata dari apa yang terjadi di sekeliling kita, dan sayangnya, fenomena ini kian mengkhawatirkan.
Padahal, Allah SWT dan Rasul-Nya sangat menekankan pentingnya persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Agama kita adalah agama yang membawa kedamaian, kasih sayang, dan kebersamaan. Lantas, mengapa masih banyak di antara kita yang terperangkap dalam lingkaran kebencian, kedengkian, dan permusuhan? Inilah urgensi kita mengkaji hadits yang mulia ini. Hadits ini bukan sekadar teori, tapi panduan praktis bagi kita untuk menjaga hati, lisan, dan perilaku agar senantiasa berada dalam koridor persaudaraan Islam.
Dengan memahami hadits ini, kita akan belajar bagaimana mencegah bibit-bibit perpecahan muncul, bagaimana mengatasi perselisihan dengan cara yang Islami, dan bagaimana menumbuhkan kembali semangat kasih sayang serta tolong-menolong di antara kita. Mari kita buka hati dan pikiran kita malam ini, semoga kajian ini menjadi lentera yang menerangi langkah kita dalam mewujudkan masyarakat Muslim yang bersatu, harmonis, dan dirahmati Allah SWT. Amin ya Rabbal Alamin.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا
تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ
أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
"Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian
saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian
hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk
mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari."
HR. Al-Bukhari (6065) dan Muslim (2559)
Arti dan Penjelasan per Perkataan
لَا تَبَاغَضُوا
Janganlah kalian saling membenci.
Perkataan ini melarang umat Islam untuk
saling menaruh rasa benci atau permusuhan dalam hati.
Ini adalah landasan penting untuk menjaga
persatuan dan keharmonisan dalam masyarakat.
Membenci sesama Muslim dapat merusak
ikatan persaudaraan yang diajarkan Islam.
وَلَا تَحَاسَدُوا
Janganlah kalian saling mendengki.
Larangan ini menggarisbawahi pentingnya
membersihkan hati dari sifat iri hati atau dengki terhadap nikmat yang diterima
orang lain.
Hasad dapat memicu perilaku negatif
seperti menjatuhkan atau merendahkan orang lain demi keuntungan pribadi.
Islam mengajarkan untuk bersyukur atas
nikmat Allah dan tidak mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain.
وَلَا تَدَابَرُوا
Janganlah kalian saling membelakangi.
Perkataan ini dapat diartikan sebagai
larangan untuk saling menjauhi, memutuskan hubungan, atau saling acuh tak acuh.
Ini juga bisa berarti tidak saling
membantu atau mendukung.
Dalam konteks sosial, ini berarti umat
Islam harus selalu menjaga komunikasi, silaturahmi, dan tidak saling
memunggungi dalam menghadapi persoalan.
وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang
bersaudara.
Ini adalah perintah positif yang
menegaskan hakikat persaudaraan dalam Islam.
Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim
lainnya, karena mereka semua adalah hamba Allah.
Persaudaraan ini melampaui batas suku,
ras, atau status sosial, membentuk satu komunitas yang solid.
وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ
أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
Dan tidak halal bagi seorang muslim untuk
mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.
Perkataan ini memberikan batasan waktu
untuk perselisihan atau ketidaksepahaman yang mungkin terjadi antar Muslim.
Meskipun konflik bisa saja timbul, Islam
tidak membenarkan putusnya hubungan persaudaraan dalam jangka waktu yang lama.
Batasan tiga hari menunjukkan pentingnya
segera berdamai dan memperbaiki hubungan, mencegah permusuhan berlarut-larut
yang dapat melemahkan umat.
Syarah Hadits
مِمَّا حَثَّتْ عَلَيْهِ الشَّرِيعَةُ
Di antara yang didorong oleh syariat adalah:
الْأُلْفَةُ وَالْمَحَبَّةُ بَيْنَ
الْمُسْلِمِينَ
keakraban dan kasih sayang di antara kaum Muslimin.
لِذَا جَاءَ النَّهْيُ عَنْ كُلِّ أَسْبَابِ
الْفُرْقَةِ وَالتَّشَاحُنِ فِي الْمُجْتَمَعِ
Oleh karena itu, datanglah larangan dari segala sebab
perpecahan dan pertengkaran dalam masyarakat.
وَقَدْ أَخْبَرَ اللهُ تَعَالَى أَنَّ
الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةٌ فِي الدِّينِ
Dan sungguh Allah Ta'ala telah mengabarkan bahwa
orang-orang mukmin itu bersaudara dalam agama.
وَالْأُخُوَّةُ يُنَافِيهَا الْحِقْدُ
وَالْبَغْضَاءُ
Dan persaudaraan itu meniadakan kedengkian dan
kebencian.
وَتَقْتَضِي التَّوَادُدَ وَالتَّنَاصُرَ
وَقِيَامَ الْأُلْفَةِ وَالْمَحَبَّةِ فِيمَا بَيْنَهُمْ
Dan menuntut kasih sayang, saling menolong, serta
terjalinnya keakraban dan cinta di antara mereka.
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ نَهَى النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَعْضِ مَا يُسَبِّبُ الْعَدَاوَةَ
وَالْقَطِيعَةَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan dalam hadits ini, Nabi ﷺ melarang sebagian hal
yang menyebabkan permusuhan dan pemutusan hubungan di antara kaum Muslimin.
لِمَا فِي تَبَاغُضِهِمْ مِنَ التَّفَرُّقِ
Karena dalam saling membenci mereka terdapat perpecahan.
وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّحَاسُدِ
Dan beliau melarang mereka dari saling mendengki.
وَهُوَ تَمَنِّي زَوَالِ النِّعَمِ عَنِ
الْآخَرِينَ
Yaitu mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain.
وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّدَابُرِ
Dan beliau melarang mereka dari saling membelakangi.
وَهُوَ أَنْ يُوَلِّيَ الْمُسْلِمُ أَخَاهُ
الْمُسْلِمَ ظَهْرَهُ وَدُبُرَهُ
Yaitu seorang Muslim membelakangi saudaranya sesama
Muslim.
إِمَّا حِسِّيًّا فَلَا يُجَالِسُهُ وَلَا
يَنْظُرُ إِلَيْهِ
Baik secara fisik, sehingga ia tidak duduk bersamanya
dan tidak melihat kepadanya.
وَإِمَّا مَعْنَوِيًّا فَلَا يُظْهِرُ
الاهْتِمَامَ بِهِ
Atau secara maknawi, sehingga ia tidak menunjukkan
perhatian kepadanya.
وَالْمَقْصُودُ: نَهْيُهُمْ عَنِ التَّقَاطُعِ
وَالتَّهَاجُرِ
Dan maksudnya adalah: larangan bagi mereka untuk saling
memutuskan hubungan dan saling menjauhi.
ثُمَّ بَيَّنَ لَهُمُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونُوا عَلَيْهَا Kemudian beliau menjelaskan kepada
mereka kedudukan yang seharusnya mereka capai.
وَهِيَ الْأُخُوَّةُ
Yaitu persaudaraan.
كَأُخُوَّةِ النَّسَبِ فِي الشَّفَقَةِ
وَالرَّحْمَةِ
Seperti persaudaraan nasab dalam kasih sayang dan
rahmat.
وَالْمَحَبَّةِ وَالْمُوَاسَاةِ
Dan cinta serta simpati.
وَالْمُعَاوَنَةِ وَالنَّصِيحَةِ
Dan saling menolong serta menasihati.
فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْخُذُوا بِأَسْبَابِ
كُلِّ مَا يُوصِلُهُمْ لِمِثْلِ الْأُخُوَّةِ الْحَقِيقِيَّةِ مَعَ صَفَاءِ
الْقَلْبِ
Maka beliau memerintahkan mereka untuk mengambil segala
sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada persaudaraan sejati dengan hati
yang bersih.
وَالنَّصِيحَةِ بِكُلِّ حَالٍ
Dan nasihat dalam setiap keadaan.
وَنَهَاهُمْ عَنْ هَجْرِ الْمُسْلِمِ
وَتَرْكِهِ
Dan beliau melarang mereka dari menjauhi dan
meninggalkan Muslim.
زِيَارَةً، أَوْ كَلَامًا، وَنَحْوِ ذَلِكَ
مِنْ أَشْكَالِ الْهِجْرَانِ
Baik dalam hal kunjungan, atau ucapan, dan bentuk-bentuk
menjauh lainnya.
فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ إِنْ كَانَ
الْخِلَافُ عَلَى أَمْرِ الدُّنْيَا
Lebih dari tiga hari jika perselisihannya mengenai
urusan dunia.
وَفِي الْحَدِيثِ: الْحِرْصُ عَلَى وَحْدَةِ
الْمُسْلِمِينَ أَفْرَادًا وَجَمَاعَاتٍ وَشُعُوبًا
Dan dalam hadits ini terkandung: semangat untuk menjaga
persatuan kaum Muslimin baik secara individu, kelompok, maupun bangsa.
وَفِيهِ: وُجُوبُ التَّآخِي وَالتَّعَاوُنِ
بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ
Dan di dalamnya terdapat: kewajiban bersaudara dan
saling tolong-menolong di antara kaum Muslimin.
Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/13228
Pelajaran dari Hadits ini
1. Larangan Saling Membenci
Perkataan لَا تَبَاغَضُوا (Janganlah kalian saling membenci) mengajarkan kita untuk menjaga hati dari rasa benci atau permusuhan terhadap sesama Muslim. Rasa benci adalah penyakit hati yang bisa merusak ukhuwah (persaudaraan) dan persatuan umat. Ketika hati dipenuhi kebencian, sulit sekali untuk berbuat baik dan menjaga hubungan yang harmonis. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ
اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ
بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
(Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara). Hal ini menunjukkan bahwa persatuan dan kasih sayang adalah nikmat besar dari Allah yang harus kita jaga, jauh dari kebencian.
2. Larangan Saling Mendengki
Perkataan وَلَا تَحَاسَدُوا (Janganlah kalian saling mendengki) mengingatkan kita agar tidak memiliki sifat iri hati atau dengki terhadap apa yang dimiliki orang lain, baik itu harta, kedudukan, atau kebaikan. Hasad (dengki) adalah salah satu penyakit hati yang bisa menghancurkan amal kebaikan seseorang. Orang yang dengki tidak akan pernah merasa cukup dan selalu ingin melihat orang lain kehilangan nikmatnya. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Abu Daud:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ
فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
(Jauhilah sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar). Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur atas apa yang kita miliki dan turut berbahagia atas kebaikan yang didapatkan oleh saudara kita.
3. Larangan Saling Membelakangi
Perkataan وَلَا تَدَابَرُوا (Janganlah kalian saling membelakangi) memiliki makna yang luas, yaitu tidak saling memutuskan hubungan, tidak saling memunggungi, atau tidak saling mengabaikan. Ini berarti kita harus selalu menjaga komunikasi, silaturahmi, dan tidak berpaling dari saudara kita, terutama saat mereka membutuhkan bantuan atau dukungan. Menjaga hubungan baik adalah kunci keberlangsungan sebuah komunitas yang sehat. Allah SWT juga berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ
وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ
وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
(
4. Menjadi Hamba Allah yang Bersaudara
Perkataan وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا (Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara) adalah inti dari ajaran persaudaraan dalam Islam. Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, karena kita semua adalah hamba Allah dan memiliki ikatan akidah yang sama. Persaudaraan ini harus diwujudkan dalam sikap saling mengasihi, tolong-menolong, dan melindungi. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Muslim (2564):
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا
يَحْقِرُهُ
(Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (saat kesusahan), dan tidak menghinanya). Ini menunjukkan bahwa persaudaraan dalam Islam bukanlah sekadar ikatan nama, tetapi harus tercermin dalam perilaku nyata.
5. Batasan Mendiamkan Saudara
Perkataan وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ (Dan tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari) memberikan solusi praktis ketika terjadi perselisihan. Meskipun terkadang ada perbedaan pendapat atau masalah yang membuat kita enggan berbicara dengan saudara kita, Islam memberikan batasan maksimal tiga hari untuk "diam-diaman". Ini adalah toleransi waktu untuk mendinginkan kepala dan berpikir jernih. Setelah itu, kita diwajibkan untuk kembali berdamai dan menjalin silaturahmi. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan dan mencegah permusuhan berlarut-larut. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Al-Bukhari (6077):
لا يَحِلُّ لِرَجُلٍ
أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا
وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
(Tidak halal bagi seorang mukmin untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu lalu ini berpaling dan itu berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam).
Ini mengajarkan kita untuk berinisiatif dalam mendamaikan diri.
6. Pentingnya Berpikir Positif
Selain pelajaran di atas, hadits ini secara tidak langsung juga mengajarkan pentingnya berpikir positif dan husnuzan (berprasangka baik) kepada sesama. Dengan tidak membenci, mendengki, dan saling membelakangi, kita diajak untuk melihat kebaikan dalam diri saudara kita dan menjauhi prasangka buruk yang dapat merusak hubungan.
7. Tanggung Jawab Sosial dan Kolektif
Pelajaran lain yang bisa diambil adalah adanya tanggung jawab sosial dan kolektif. Ketika kita dilarang untuk saling membenci, mendengki, dan membelakangi, ini menunjukkan bahwa kebaikan individu akan berdampak pada kebaikan komunitas secara keseluruhan. Masyarakat Muslim yang kuat adalah masyarakat yang anggotanya saling peduli, mendukung, dan bersatu.
Penutupan Kajian
Alhamdulillah, kita telah sampai di penghujung kajian kita malam ini. Semoga apa yang kita pelajari dari hadits yang agung ini tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tapi benar-benar meresap ke dalam hati dan terefleksi dalam tindakan kita sehari-hari.
Faedah dan Penerapan Hadits
Dari hadits "Lā Tabāghadhū...", kita bisa memetik banyak sekali pelajaran berharga. Kita belajar betapa pentingnya menjaga hati dari kebencian dan kedengkian. Kedua sifat ini adalah penyakit yang bisa menggerogoti iman dan merusak hubungan baik. Jika kita bisa membersihkan hati dari keduanya, insyaallah hidup kita akan lebih tenang dan damai.
Kemudian, kita diingatkan untuk tidak saling membelakangi atau memutuskan silaturahmi. Di era digital ini, mudah sekali kita menjauh dari orang lain, bahkan hanya karena perbedaan pandangan di media sosial. Hadits ini mengajak kita untuk selalu menjaga jalinan komunikasi, saling peduli, dan tidak mudah menarik diri dari persaudaraan.
Yang paling mendasar, hadits ini menegaskan bahwa kita adalah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Ikatan persaudaraan seiman ini lebih kuat dari ikatan darah sekalipun. Ini adalah landasan untuk saling mencintai, menolong, dan mendukung dalam kebaikan.
Terakhir, kita mendapatkan batasan yang jelas: tidak halal mendiamkan saudara lebih dari tiga hari. Ini adalah "aturan main" yang sangat bijaksana. Jika ada perselisihan, berilah waktu untuk menenangkan diri, tapi jangan sampai permusuhan berlarut-larut. Segeralah berdamai, saling memaafkan, dan kembalikan kehangatan persaudaraan. Ingatlah, yang terbaik di antara kita adalah yang berinisiatif memulai salam atau perdamaian.
Harapan Penerapan
Maka dari itu, mari kita jadikan hadits ini sebagai pegangan hidup. Dimulai dari diri kita sendiri, lalu di lingkungan keluarga, tetangga, teman, hingga masyarakat luas. Jika kita bisa menerapkan nilai-nilai ini, bayangkan betapa indahnya kehidupan kita! Masyarakat kita akan dipenuhi kedamaian, kasih sayang, dan saling tolong-menolong. Tidak ada lagi permusuhan yang berkepanjangan, tidak ada lagi dengki yang merusak hati.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah-Nya untuk dapat mengamalkan hadits ini dalam setiap aspek kehidupan kita. Semoga kita semua selalu diberkahi persaudaraan yang erat dan penuh cinta karena Allah. Amin. Terima kasih atas kehadiran dan perhatian Bapak/Ibu sekalian.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.