Hadits: Mengangkat Pemimpin Bila Tiga Orang Bepergian

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

 Kaum muslimin rahimakumullah,

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat modern, perjalanan menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas kita sehari-hari—baik itu untuk bekerja, berdagang, berdakwah, belajar, maupun berwisata. Namun, seringkali kita menganggap perjalanan hanya sebagai urusan teknis tanpa menyadari bahwa Islam telah memberikan tuntunan akhlak dan aturan yang luhur bahkan dalam hal yang tampaknya sepele seperti musafir bersama beberapa orang.

Berapa banyak kita saksikan perjalanan rombongan yang semula diniatkan untuk kebaikan justru berakhir dengan perselisihan, kesalahpahaman, bahkan permusuhan. Semua itu sering bermula dari hal kecil: tidak adanya koordinasi, tidak jelas siapa yang harus memutuskan, atau ego masing-masing yang tak terkelola. Padahal, Islam dengan hikmahnya telah memberikan solusi jauh sebelum manusia menyadarinya. Di antara solusi itu adalah hadits Nabi ﷺ tentang keharusan memilih pemimpin dalam rombongan perjalanan, meskipun hanya bertiga orang.

Hadits yang akan kita pelajari hari ini adalah hadits pendek, namun sarat makna dan manfaat. Ia bukan hanya membimbing kita saat safar, tapi juga menjadi dasar dalam membangun keteraturan, kebersamaan, dan kepemimpinan yang adil dalam lingkup apa pun. Kajian ini sangat penting agar setiap kita mampu menghadirkan adab Islami dalam perjalanan, serta menjadikannya latihan untuk hidup teratur, musyawarah, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat. Maka marilah kita buka hati dan pikiran kita untuk merenungi dan mengamalkan ajaran Nabi ﷺ yang mulia ini.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Apabila ada tiga orang dalam suatu perjalanan, hendaklah mereka mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.

HR. Abu Daud (2609), Baihaqi (10649)

 


Arti dan Penjelasan Per Perkataan


إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ
Apabila ada tiga orang dalam suatu perjalanan.

Perkataan ini menggambarkan situasi umum yang sering terjadi, yaitu sekelompok kecil orang melakukan perjalanan bersama.

Dalam Islam, perjalanan bukan hanya sekadar berpindah tempat, tetapi juga ujian kebersamaan, pengaturan peran, dan pengelolaan emosi.

Tiga orang adalah jumlah minimal dalam kelompok yang memiliki dinamika sosial yang cukup untuk timbulnya perbedaan pendapat.

Oleh karena itu, syariat memberikan arahan agar perjalanan ini tidak menjadi sumber konflik, tetapi tetap dalam naungan adab dan keteraturan.

Perjalanan dalam Islam pun sering kali melibatkan tujuan-tujuan ibadah atau aktivitas yang bernilai maslahat.

Maka menjaga keharmonisan di dalamnya adalah bentuk penjagaan terhadap maslahat yang lebih besar.


فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
Maka hendaklah mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin.

Perkataan ini adalah perintah Nabi yang sangat bijak dalam membangun keteraturan sosial, bahkan dalam kelompok sekecil tiga orang.

Kepemimpinan dalam konteks ini bukanlah otoriter, tetapi fungsional: mengatur keputusan bersama, memediasi perbedaan, dan menjaga arah tujuan. Islam memerintahkan musyawarah, tetapi musyawarah tidak akan efektif tanpa seorang koordinator atau pemutus.

Dalam perjalanan, banyak keputusan mendesak harus diambil, dan jika semua orang memiliki hak veto, justru akan menimbulkan kekacauan.

Oleh karena itu, Nabi memberikan solusi yang sederhana namun sangat fundamental: pilih satu pemimpin.

Pemimpin ini dipilih dari mereka sendiri, menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam adalah kesepakatan bersama, bukan paksaan.

Bahkan dalam ruang lingkup kecil, Islam mengajarkan pentingnya struktur, tanggung jawab, dan kepatuhan demi kebaikan bersama.

 


Syarah Hadits


لِلسَّفَرِ آدَابٌ وَأَحْكَامٌ
Perjalanan memiliki adab dan hukum.

يَنْبَغِي أَنْ يَتَّبِعَهَا الْمُسْلِمُ إِنْ نَوَى السَّفَرَ
Seorang muslim sepatutnya mengikutinya jika ia berniat melakukan perjalanan.

وَهَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ بَيَانُ بَعْضِ آدَابِ السَّفَرِ
Dan hadits ini berisi penjelasan tentang sebagian adab dalam bepergian.

وَفِيهِ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan di dalamnya Nabi bersabda.

"إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ"
"Jika ada tiga orang dalam perjalanan."

أَيْ: ثَلَاثَةٌ فَأَكْثَرُ
Yaitu: tiga orang atau lebih.

"فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ"
"Maka hendaklah mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin."

أَيْ: لِيَجْعَلُوا أَحَدَهُمْ أَمِيرًا عَلَيْهِمْ
Yaitu: hendaklah mereka menjadikan salah satu dari mereka sebagai pemimpin.

يَكُونُ لَهُ اتِّخَاذُ قَرَارِهِمْ بَعْدَ الْمَشُورَةِ مَعَهُمْ
Yang bertugas mengambil keputusan setelah bermusyawarah dengan mereka.

كَاخْتِيَارِ وَقْتِ الذَّهَابِ وَالْبَيَاتِ وَنَحْوِهَا مِنْ أَحْوَالِ السَّفَرِ
Seperti menentukan waktu keberangkatan, tempat bermalam, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perjalanan.

وَفِي الْحَدِيثِ: الْحَثُّ عَلَى تَقْلِيلِ الْخِلَافِ وَتَوْحِيدِ الْكَلِمَةِ مَا أَمْكَنَ
Dan dalam hadits ini terdapat anjuran untuk meminimalkan perbedaan dan menyatukan suara sebisa mungkin.

Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/30670


Pelajaran dari Hadits ini


1. Pentingnya Mengatur Perjalanan dengan Serius

Dalam perkataan إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ (Jika tiga orang keluar untuk bepergian), Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa perjalanan bukan sekadar aktivitas biasa, tetapi kondisi yang perlu perhatian dan aturan khusus. Bepergian bisa mendatangkan tantangan, konflik, dan situasi darurat. Oleh karena itu, meskipun hanya bertiga, Islam mengajarkan bahwa kebersamaan tetap perlu dikelola dengan baik. Ini menunjukkan pentingnya tata kelola dan perencanaan dalam kegiatan bersama, sekecil apa pun kelompok itu. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

(Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.)
Ayat ini mendorong kita untuk memperhatikan konsekuensi dari tindakan kita ke depan, termasuk dalam urusan bepergian.


2. Kepemimpinan Merupakan Kebutuhan Dasar dalam Kelompok Kecil

Dalam perkataan فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ (maka hendaklah mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin), Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya untuk negara atau organisasi besar, tapi bahkan diperlukan dalam kelompok kecil seperti tiga orang yang bepergian. Tujuan dari kepemimpinan ini adalah agar urusan menjadi teratur, keputusan dapat diambil dengan cepat, dan konflik bisa diredam sejak awal. Hal ini juga mendidik kita untuk terbiasa menghargai struktur, tanggung jawab, dan kepatuhan. Dalam QS. An-Nisa ayat 59, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

(Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.)
Ayat ini menekankan pentingnya ketaatan kepada pemimpin yang sah dalam rangka menjaga kestabilan dan kebaikan bersama.


3. Musyawarah dan Pemilihan Pemimpin Secara Bijak

Perintah فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ juga menunjukkan bahwa pemimpin dipilih dari kalangan mereka sendiri, bukan ditunjuk dari luar. Artinya, Islam mendorong prinsip musyawarah dan pemilihan secara adil, bukan berdasarkan paksaan atau keturunan. Ini juga melatih tanggung jawab dan kepercayaan antar sesama anggota kelompok. Hal ini sejalan dengan prinsip syura dalam QS. Asy-Syura ayat 38:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

(Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.)


4. Tanggung Jawab Pemimpin dalam Menjaga Maslahat

Dari perintah mengangkat pemimpin dalam kelompok kecil ini, kita belajar bahwa setiap pemimpin, meskipun dalam lingkup terbatas, memiliki tanggung jawab untuk menjaga maslahat bersama. Ia tidak boleh bertindak semaunya, tapi harus mendengar masukan dan memutuskan dengan adil. Ini menjadi latihan awal dalam kepemimpinan Islami. Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

(Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.) – HR. al-Bukhari (2554) dan Muslim (1829).


5. Ketaatan kepada Pemimpin dalam Hal yang Ma’ruf

Hadits ini juga mengandung pelajaran bahwa ketika seorang pemimpin telah ditunjuk secara sah, maka anggota kelompok harus menaati keputusannya selama tidak menyuruh kepada maksiat. Ini menciptakan harmoni dan efisiensi dalam pelaksanaan tujuan bersama. Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ

(Wajib atasmu untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun mudah.) – HR. Muslim (1836).
Kepatuhan ini adalah bentuk kontribusi untuk menjaga stabilitas dalam kelompok dan keberhasilan dalam perjalanan.


6. Latihan Kepemimpinan Sejak Dini

Hadits ini juga memberikan pelajaran bahwa setiap individu bisa belajar menjadi pemimpin meski dalam lingkup kecil. Ini menjadi madrasah bagi umat Islam untuk mengasah kepemimpinan sejak dini, karena banyak orang besar dilatih dari tugas-tugas kecil. Pemilihan pemimpin dari sesama anggota menunjukkan bahwa setiap orang punya potensi memimpin dan dipimpin, tergantung pada situasinya. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 247 disebutkan bahwa Allah memilih Thalut sebagai raja meski kaumnya menganggapnya bukan orang terkemuka:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

(Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan memberinya kelebihan ilmu dan fisik.)


7. Menjaga Ukhuwah dan Mencegah Konflik dalam Perjalanan

Tujuan dari perintah pengangkatan pemimpin ini adalah untuk mencegah konflik di antara anggota kelompok. Perjalanan sering kali memicu perbedaan pendapat, kelelahan, atau keinginan yang tidak sejalan. Dengan adanya satu pemimpin, keputusan akhir bisa diambil dengan bijak dan cepat. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.)
Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga persaudaraan dan menyelesaikan perselisihan secepat mungkin, termasuk dalam perjalanan.


8. Menanamkan Nilai Kedisiplinan dan Tanggung Jawab

Dengan menetapkan pemimpin, hadits ini mendorong adanya kedisiplinan dalam menjalankan keputusan bersama. Setiap anggota memiliki peran dan harus menjaga amanahnya. Ini melatih umat untuk hidup teratur, tidak semaunya sendiri. Islam bukan agama chaos, tapi agama keteraturan. Dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

(Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan dan keteraturan akan mengangkat martabat umat.


9. Taat Kepada Aturan Adalah Bentuk Taat Kepada Nabi ﷺ

Ketika Nabi ﷺ menyuruh untuk memilih pemimpin saat bepergian, maka ini menjadi bagian dari sunnah yang harus diikuti. Mengabaikan arahan ini menunjukkan bahwa seseorang belum menaruh perhatian terhadap perintah Nabi. Allah berfirman dalam QS. An-Nur ayat 63:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ

(Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu takut akan ditimpa fitnah atau azab yang pedih.)
Ketaatan kepada Nabi bukan hanya dalam hal besar, tapi juga dalam hal-hal kecil seperti adab perjalanan.


10. Nilai Tambahan: Keputusan Syariah dalam Skala Kecil

Hadits ini membuktikan bahwa nilai-nilai syariah dan adab Islam berlaku bukan hanya di masjid atau negara, tapi juga dalam ruang-ruang kecil seperti perjalanan bertiga. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang komprehensif, mencakup segala aspek kehidupan. Bahkan urusan perjalanan pun ada tuntunannya, agar tidak menjadi sumber fitnah atau dosa. Hal ini menjadi pembeda antara Islam dan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, hadits ini mengajarkan bahwa dalam setiap bentuk kebersamaan, betapapun kecilnya, perlu ada kepemimpinan, aturan, dan tanggung jawab. Islam membimbing umatnya untuk hidup teratur, bermusyawarah, dan saling menghormati peran masing-masing. Kepemimpinan bukanlah dominasi, tetapi jalan untuk menjaga harmoni dan mencapai tujuan bersama. 


Penutup Kajian


Kaum muslimin yang dirahmati Allah,

Setelah kita mempelajari hadits yang agung ini, kita memahami bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keteraturan dan adab dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam urusan bepergian yang sering kali dianggap sepele. Hadits ini mengajarkan bahwa dalam kelompok sekecil apa pun, tetap dibutuhkan kepemimpinan agar tercipta keharmonisan, keteraturan, dan tercapainya tujuan bersama. Rasulullah ﷺ tidak hanya memerintahkan, tetapi memberi solusi konkret: “Jika tiga orang keluar bepergian, hendaklah mereka mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin.”

Faedah yang bisa kita ambil dari hadits ini sangat banyak, di antaranya: pentingnya musyawarah, perlunya kepemimpinan, keharusan meminimalkan konflik, dan pembiasaan hidup tertib serta terorganisir. Ini bukan hanya berlaku saat kita melakukan safar, tapi juga sangat relevan untuk aktivitas harian kita—baik dalam organisasi, keluarga, maupun komunitas kecil lainnya.

Harapan kami, semoga setelah mengikuti kajian ini, setiap peserta dapat menerapkan semangat hadits ini dalam kehidupan nyata. Saat bepergian bersama, biasakan memilih satu orang sebagai koordinator. Saat hidup bermasyarakat, biasakan musyawarah dan disiplin terhadap keputusan bersama. Dengan cara inilah umat Islam akan tampil sebagai umat yang rapi, kuat, dan penuh keberkahan, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. 

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

 

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.