Khutbah Treadmill Hedonisme: Kemerdekaan Batin di Tengah Tekanan Kerja

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى جَزِيْلِ الْهِبَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا وَأَقْبَلَ عَلَى رَبِّ الْبَرِيَّاتِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْمَكْرُمَاتِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى مَلَاذُ الْمُتَّقِيْنَ وَسَبِيْلُ الْفَائِزِيْنَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Beberapa waktu lalu, jagat digital kita diramaikan oleh sebuah kisah nyata yang menyesakkan dada tentang seorang profesional muda di sebuah ibu kota. Ia adalah sosok yang secara standar duniawi telah "sampai".

Jabatannya mentereng, huniannya di kawasan elit, dan penampilannya selalu memukau di linimasa media sosial.

Namun, di balik tirai pencitraan yang sempurna itu, ia ditemukan tumbang oleh tekanan batin yang luar biasa.

Ia terjebak dalam apa yang disebut sebagai treadmill hedonisme; sebuah perlombaan di mana seseorang berlari kencang mengejar standar hidup yang terus meninggi, namun hatinya tetap di tempat yang sama: kosong dan hampa.

Kebahagiaannya telah tergadaikan pada angka-angka saldo, pada jumlah "like" di unggahannya, dan pada validasi orang asing di dunia maya. Ketika satu saja dari instrumen materi itu goyah, dunianya runtuh seketika.

Fenomena ini adalah potret nyata di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang serba cepat, di mana kesuksesan sering kali diukur hanya dari angka di saldo rekening, model kendaraan, hingga merek pakaian yang melekat di badan.

Kita sering terjebak dalam perlombaan yang tidak ada ujungnya. Kita hidup di zaman di mana eksistensi diri kerap ditentukan oleh apa yang kita miliki, bukan oleh siapa diri kita di hadapan Sang Pencipta.

Inilah perbudakan modern; sebuah kondisi di mana seseorang secara fisik tampak merdeka dan berkuasa, namun secara batin ia adalah tawanan dari benda-benda yang ia miliki sendiri. Ia tidak lagi memiliki dirinya, karena seluruh suasana hatinya telah dikendalikan oleh harta.

Dalam kaitan inilah, Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat tajam sekaligus reflektif dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ،

"Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian (mewah). Jika diberi, ia merasa senang, namun jika tidak diberi, ia merasa dongkol (marah).

Celakalah ia dan tersungkurlah! Jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat mencabutnya.

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ،

Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah, dalam keadaan rambutnya kusut dan kakinya berdebu.

إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ.

Jika ia ditugaskan di barisan penjagaan, ia tetap setia di sana. Jika ia ditugaskan di barisan belakang, ia tetap setia di sana.

Jika ia meminta izin (untuk menemui penguasa), ia tidak diizinkan, dan jika ia memberi syafaat (bantuan), maka syafaatnya tidak diterima."

Ma’asyiral Muslimin,

Hadits ini tidak sedang melarang kita untuk menjadi kaya. Islam tidak memusuhi harta. Namun, Rasulullah SAW sedang memotret sebuah fenomena psikologis yang sangat relevan dengan masyarakat urban saat ini, yaitu perbudakan mental terhadap materi.

Istilah عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ atau "Hamba Dinar, Hamba Dirham, dan Hamba Pakaian Mewah" merujuk pada kondisi psikologis seseorang yang menggantungkan seluruh indikator kebahagiaan, harga diri, hingga motivasi beramalnya pada angka nominal uang dan penampilan fisik dari pakaian yang dikenakannya.

Akibatnya, kesehatan mental dan kestabilan jiwa kita menjadi sangat rapuh. Saat ambisi duniawi itu tercapai, kita merasa terbang tinggi dan pongah. Namun, begitu kegagalan atau krisis melanda, kita langsung hancur berkeping-keping hingga kehilangan arah dan orientasi hidup.

Sabda Rasulullah SAW: إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ (Jika diberi ia ridha, jika tidak diberi ia marah) menunjukkan bahwa orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akan berubah-ubah sikapnya tergantung keadaan materi. Ia senang saat sukses mendapatkan apa yang ditujunya (‘dinar/dirham/uang dan khomisoh), tetapi kecewa bahkan marah saat tidak mendapatkannya.

Inilah rasionalitas di balik ucapan Nabi SAW: تَعِسَ وَانْتَكَسَ—(celaka dan tersungkur)". Seseorang disebut tersungkur karena ia meletakkan barometer keberhasilannya pada pencapaian dunia. Jika dunianya tidak tercapai, maka dia merasa dirinya tersungkur, jatuh dalam kesedihan dan tidak kuat menghadapi masalah kecil.

Profil Manusia Merdeka

Sebaliknya, Rasulullah SAW menawarkan profil "Manusia Merdeka". Beliau menggambarkan sosok yang memegang tali kendali kudanya demi Allah.

Manusia merdeka’ tidak peduli apakah ia berada di garis depan sebagai pemimpin yang dipuja, atau di baris belakang sebagai staf yang tak dikenal. Ia tidak butuh panggung untuk berbuat baik.

Manusia merdeka’ bekerja dengan integritas tinggi karena ia tahu Allah sedang menatapnya, bukan karena ia sedang mencari "like" atau pujian manusia.

Sosok ini adalah mereka yang di kantornya bekerja jujur tanpa harus diawasi CCTV, mereka inilah yang beramal tanpa harus pamer di status media sosial, bukan demi tepuk tangan manusia, berkorban bukan karena pujian. Mereka lah yang meski namanya tidak dikenal di bumi, namun harum di langit.

Inilah sosok yang disebut Nabi sebagai 'al-khafiy'—pribadi yang tersembunyi, tidak suka pamer dan menonjolkan dirinya di medsis. Pribadi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW:

"إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ"

"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang kaya (hatinya), dan yang tersembunyi (tidak populer/tidak suka pamer)." (HR. Muslim)

Manusia merdeka adalah praktisi Ihsan di dunia modern; yang menyadari bahwa meskipun pimpinan tidak melihat, meskipun followers tidak memberi 'like', namun pandangan Allah (Muraqabah) sudah cukup baginya.

Ingatkah kita dengan hadits Jibril, ketika Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW:

...فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"...Beritahukan aku tentang Ihsan. Rasulullah SAW menjawab: 'Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu'." (HR. Muslim)

Bagi mereka, cukuplah Allah sebagai saksi (Wakafaa billaahi syahiida).

Hadirin yang berbahagia,

Melalui khutbah ini, mari kita evaluasi diri.

Marilah menjadi ‘hamba yang beruntung’ sebagaimana disebutkan pada sambungan hadits nabi SAW di atas:

طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

(Beruntunglah hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah).

Kata طُوبَى menunjukkan keberuntungan besar bahkan sampai di akhirat. Kebahagiaan sejati ada pada orang yang hidupnya diabdikan untuk Allah. Ia tidak sibuk mengejar dunia, tetapi sibuk beramal.

Potongan hadits: أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٌ قَدَمَاهُ (Rambutnya kusut dan kakinya berdebu) mengajarkan bahwa orang yang bekerja di jalan Allah tidak terlalu memikirkan penampilan. Bukan berarti Islam mengajarkan kotor, tetapi menekankan bahwa kesibukan dalam kebaikan lebih utama daripada sibuk memperindah diri demi pandangan manusia.

Potongan hadits: إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ (Jika di penjagaan ia di sana, jika di belakang ia tetap di sana) mengajarkan bahwa orang ikhlas tidak memilih posisi. Ia tidak mencari tempat yang terlihat, tetapi menjalankan amanah di mana pun ia ditempatkan. Inilah ciri keikhlasan yang sebenarnya.

Potongan hadits: إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ (Jika meminta izin tidak diizinkan, jika memberi syafaat tidak diterima) menunjukkan bahwa seseorang bisa saja tidak dikenal dan tidak dihargai manusia, tetapi justru memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Ukuran kemuliaan dalam Islam bukan popularitas, tetapi ketakwaan.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup, marilah kita kuatkan komitmen kita untuk menjadi pribadi yang teguh di tengah arus materialisme.

Mari kita jadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, jabatan kita sebagai amanah, dan harta kita sebagai sarana untuk berbagi.

Hadits ini mengajarkan bahwa harta hanyalah alat/ujian. Jika disikapi dengan benar, ia menjadi jalan pahala, tetapi jika disikapi salah, ia menjadi sumber kehancuran. Karena itu, seorang muslim harus menjadikan harta di tangan, bukan di hati.

Hadits ini mengajarkan pentingnya menjaga keikhlasan. Di zaman sekarang, banyak orang berlomba tampil dan dikenal. Hadits ini mengingatkan bahwa nilai amal bukan pada seberapa banyak dilihat orang, tetapi seberapa tulus dilakukan untuk Allah.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.

Ya Allah, jadikanlah dunia ini berada di tangan kami, bukan di dalam hati kami. Berikanlah kami kekuatan untuk tetap ikhlas berkarya meski tanpa pujian, dan tetap teguh dalam kebenaran meski dalam kesunyian. Jadikanlah negeri kami, Indonesia, negeri yang aman, makmur, dan penuh keberkahan di bawah naungan rida-Mu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.



Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.