Hadits: Isra Mi'raj, Pelajaran Penting Dari Peristiwa Dahsyat
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah
yang dirahmati Allah,
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman yang teguh di
tengah badai keraguan dunia. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa risalah kebenaran.
Bapak,
Ibu, dan Saudara seiman yang dirahmati Allah,
Hari
ini, kita hidup di sebuah era yang sering disebut sebagai "Era
Skeptisisme" atau zaman serba ragu. Masyarakat kita saat ini tengah
dikepung oleh gelombang pemikiran yang hanya mendewakan logika materi; sebuah
pandangan yang menganggap bahwa kebenaran hanyalah apa yang bisa dihitung
secara matematis atau dilihat oleh mata kepala.
Dampaknya
sangat nyata: banyak di antara saudara kita, atau bahkan mungkin dalam diri
kita sendiri, muncul benih-benir keraguan terhadap perkara gaib.
Ketika
ada berita dari Al-Qur'an dan Sunnah yang dianggap tidak masuk akal oleh sains
modern, sebagian orang mulai merasa malu mengakui agamanya, sebagian lagi
berusaha "memelintir" makna wahyu agar sesuai dengan selera logika
manusia, dan yang paling menyedihkan, ada yang perlahan-lahan kehilangan iman
karena lebih memuja akal daripada Sang Pencipta akal.
Fenomena
ini sebenarnya bukanlah hal baru. Empat belas abad yang lalu, saat peristiwa
Isra Mikraj terjadi, masyarakat Makkah mengalami guncangan yang sama.
Peristiwa
ini menjadi "mesin penyaring" yang memisahkan antara emas murni dan
loyang; memisahkan antara mereka yang beriman karena Allah dengan mereka yang
imannya hanya ikut-ikutan.
Di
sinilah letak urgensi kita mempelajari hadis tentang keteguhan Abu Bakar
Ash-Shiddiq ini. Hadis ini bukan sekadar dongeng sejarah tentang perjalanan
malam, melainkan sebuah "Manual Ketahanan Iman". Kita perlu
mempelajari hadis ini karena:
1. Sebagai Penawar Racun Keraguan: Agar kita memiliki cara
pandang yang benar dalam mendudukkan posisi wahyu di atas akal, sehingga iman
kita tidak mudah murtad atau goyah saat diterpa narasi-narasi skeptis.
2. Membangun Karakter Ash-Shiddiq: Kita perlu meneladani
bagaimana Abu Bakar membangun kepercayaan mutlak kepada Rasulullah ﷺ, sebuah loyalitas yang lahir dari pengenalan (makrifat) yang
mendalam kepada Allah.
3. Meluruskan Tauhid: Memahami bahwa peristiwa Mikraj adalah
bukti nyata tentang keagungan Allah yang Maha Tinggi, yang memiliki otoritas
penuh atas alam semesta, termasuk dimensi-dimensi yang tidak terjangkau oleh
teknologi tercanggih sekalipun.
Jika
pada masa itu orang-orang kafir menggunakan berita Isra Mikraj untuk
menghancurkan dakwah Islam, maka di masa kini, berbagai fitnah syubhat
digunakan untuk melemahkan semangat beragama kita. Maka, kajian ini sangat
penting bagi kita semua agar kita bisa kembali pulang dengan hati yang mantap
berkata, "Jika Allah dan Rasul-Nya yang berfirman, maka sungguh itu
adalah kebenaran," sebagaimana mantapnya lisan Abu Bakar saat
membungkam keraguan kaum kafir Quraisy.
Mari
kita buka hati dan pikiran kita untuk menyelami samudera hikmah dalam hadis
yang mulia ini.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
لَمَّا أُسْرِيَ
بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى،
أَصْبَحَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ بِذَلِكَ، فَارْتَدَّ نَاسٌ مِمَّنْ كَانُوا
آمَنُوا بِهِ وَصَدَّقُوهُ، وَسَعَوْا بِذَلِكَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ، فَقَالُوا: هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ؟ يَزْعُمُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ
اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ! قَالَ: أَوَ قَالَ ذَلِكَ؟ قَالُوا:
نَعَمْ. قَالَ: لئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ. قَالُوا: أَوَ
تُصَدِّقُهُ أَنَّهُ ذَهَبَ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَجَاءَ قَبْلَ
أَنْ يُصْبِحَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ
ذَلِكَ؛ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غُدُوِّهِ أَوْ رَوْحِهِ. فَلِذَلِكَ
سُمِّيَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقَ.»
Ketika
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperjalankan di malam hari (Isra) ke
Masjidil Aqsa, orang-orang mulai membicarakan hal tersebut. Maka murtadlah
sebagian orang yang tadinya telah beriman dan membenarkannya. Mereka lalu
bergegas menemui Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan berkata: Apakah kamu sudah
mendengar kabar tentang sahabatmu itu? Dia mengaku bahwa dia diperjalankan
semalam ke Baitul Maqdis! Abu Bakar bertanya: Apakah dia benar-benar
mengatakannya? Mereka menjawab: Ya. Abu Bakar berkata: Jika dia memang
mengatakannya, maka sungguh dia telah berkata benar. Mereka bertanya lagi:
Apakah kamu membenarkannya bahwa dia pergi ke Baitul Maqdis semalam dan sudah
kembali sebelum pagi? Beliau menjawab: Ya, sesungguhnya aku membenarkannya
dalam hal yang lebih jauh dari itu; aku membenarkannya mengenai kabar dari
langit yang datang kepadanya di waktu pagi maupun sore. Karena itulah Abu Bakar
dijuluki sebagai Ash-Shiddiq.
HR.
Al-Hakim (4407), Al-Baihaki dalam Dala'il an-Nubuwwah (2/360), Abu Nu’aim dalam
Ma’rifat ash-Shahabah (69).
Arti dan Penjelasan per Perkataan
لَمَّا أُسْرِيَ
بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Ketika
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperjalankan di malam hari ke
Masjidil Aqsa
Kata "Lamma" dalam bahasa sehari-hari sering digunakan untuk
menunjukkan keterangan waktu yang berarti "ketika" atau
"saat", berfungsi sebagai penghubung peristiwa yang akan diceritakan.
Istilah "Usriya" berasal dari kata "Isra" yang
secara bahasa berarti perjalanan di malam hari, namun secara istilah merujuk
pada mukjizat luar biasa perjalanan Rasulullah dari Makkah ke Palestina yang
melampaui logika jarak manusia pada masa itu.
Penyebutan "Al-Masjid Al-Aqsha" secara harfiah berarti masjid
yang paling jauh, yang secara kontekstual merujuk pada kesucian dan kedudukan
tinggi tempat tersebut sebagai kiblat pertama umat Islam dan titik berangkatnya
perjalanan menuju langit.
أَصْبَحَ يَتَحَدَّثُ
النَّاسُ بِذَلِكَ
Orang-orang mulai membicarakan hal tersebut (di pagi hari)
Kata "Ashbaha" secara bahasa berarti memasuki waktu pagi,
namun dalam struktur kalimat ini ia juga berfungsi menunjukkan dimulainya suatu
keadaan atau reaksi yang terjadi segera setelah peristiwa Isra selesai.
Kata "Yatahaddatsu" menggambarkan aktivitas percakapan yang
intens atau menjadi buah bibir, di mana dalam konteks sosial hal ini
menunjukkan bahwa berita tersebut menjadi viral dan memicu perdebatan di
seluruh penjuru kota.
Istilah "An-Naas" yang berarti manusia merujuk pada
masyarakat umum di Makkah saat itu, baik yang beriman maupun yang kafir, yang
semuanya bereaksi terhadap berita yang dianggap sangat kontroversial tersebut.
فَارْتَدَّ نَاسٌ
مِمَّنْ كَانُوا آمَنُوا بِهِ وَصَدَّقُوهُ
Maka murtadlah sebagian orang yang tadinya telah beriman
dan membenarkannya
Kata "Fartadda" secara bahasa berarti kembali atau berbalik
arah, namun secara istilah agama digunakan untuk menggambarkan seseorang yang
keluar dari Islam karena keraguan yang tidak bisa mereka atasi terhadap
kebenaran nubuwwah.
Perkataan "Mimman kaanu aamanu" menunjukkan bahwa iman mereka
sebelumnya bersifat formalitas atau belum meresap dalam sanubari, sehingga
ketika dihadapkan pada ujian akal yang berat, fondasi kepercayaan mereka
runtuh.
Istilah "Shaddaqquhu" berasal dari kata "Shidq"
yang berarti membenarkan, menunjukkan bahwa sebelumnya mereka mengakui
kejujuran Nabi, namun pengakuan tersebut ternyata hanya bertahan selama
peristiwa tersebut masih masuk dalam nalar terbatas mereka.
وَسَعَوْا بِذَلِكَ
إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Dan mereka (kaum musyrik) bergegas membawa berita itu
kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu
Kata "Sa'au" secara harfiah berarti berlari kecil atau
berusaha dengan sungguh-sungguh, yang dalam percakapan ini menggambarkan niat
jahat kaum kafir untuk segera menghasut Abu Bakar agar ikut meninggalkan Islam.
Penyebutan "Ila Abi Bakrin" menunjukkan posisi Abu Bakar
sebagai tokoh sentral dan rujukan utama dalam Islam, sehingga kaum musyrik
merasa jika Abu Bakar goyah, maka seluruh dakwah Nabi akan hancur.
Tindakan membawa berita "Bidzalika" (dengan hal itu)
menunjukkan taktik adu domba atau provokasi yang digunakan musuh untuk
menyerang kredibilitas Rasulullah melalui orang-orang terdekatnya.
هَلْ لَكَ إِلَى
صَاحِبِكَ؟ يَزْعُمُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ اللَّيْلَةَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ
Apakah kamu sudah mendengar kabar tentang sahabatmu itu?
Dia mengaku bahwa dia diperjalankan semalam ke Baitul Maqdis!
Kalimat "Hal laka" adalah ungkapan ajakan atau penawaran
perhatian dalam bahasa Arab yang digunakan untuk memancing rasa ingin tahu
seseorang terhadap suatu berita besar yang mengejutkan.
Kata "Saahibika" yang berarti sahabatmu digunakan oleh kaum
musyrik sebagai bentuk sarkasme atau sindiran untuk menekankan kedekatan Abu
Bakar dengan sosok yang mereka anggap sudah kehilangan akal.
Istilah "Yaz'umu" sering kali digunakan untuk klaim yang
diragukan kebenarannya atau anggapan sepihak, mencerminkan nada ejekan dan
ketidakpercayaan kaum kafir terhadap peristiwa gaib tersebut.
قَالَ: لَئِنْ كَانَ
قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ
Abu
Bakar berkata: Jika dia memang mengatakannya, maka sungguh dia telah berkata
benar
Penggunaan "La'in kaana" (jika benar-benar) menunjukkan
sebuah premis logis yang sangat kuat, di mana Abu Bakar tidak langsung menelan
berita tersebut tetapi memberikan syarat mutlak atas sumbernya.
Kata "Qala dhalika" menegaskan bahwa bagi Abu Bakar,
satu-satunya parameter kebenaran adalah apakah ucapan tersebut keluar dari
lisan Nabi atau tidak, tanpa peduli seberapa mustahil isinya.
Istilah "Laqad shadaqa" adalah penegasan luar biasa dengan
huruf "Lam" dan "Qad" yang berfungsi memperkuat keyakinan
bahwa kejujuran Rasulullah bersifat absolut dan tidak mungkin ternoda oleh
kebohongan.
إِنِّي لَأُصَدِّقُهُ
فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ؛ أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غُدُوِّهِ
أَوْ رَوْحِهِ
Sesungguhnya aku membenarkannya dalam hal yang lebih jauh
dari itu; aku membenarkannya mengenai kabar dari langit yang datang di waktu
pagi maupun sore
Kata "Ab'adu" yang berarti lebih jauh digunakan oleh Abu
Bakar untuk membandingkan antara perjalanan horizontal (bumi ke bumi) dengan
perjalanan vertikal wahyu yang jauh lebih tidak masuk akal bagi nalar
materialistik.
Istilah "Khabari as-samaa" (berita langit) merujuk pada wahyu
Allah, yang menurut logika Abu Bakar, jika seseorang bisa dipercaya menerima
pesan dari Tuhan semesta alam, maka perjalanan ke Baitul Maqdis hanyalah
perkara kecil.
Kata "Ghuduwwihi" (pagi) dan "Rawhihi" (sore)
menggambarkan rutinitas turunnya wahyu yang terjadi setiap saat, menunjukkan
konsistensi keimanan Abu Bakar yang tidak bergantung pada satu kejadian saja
melainkan pada seluruh integritas kenabian.
فَلِذَلِكَ سُمِّيَ
أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقَ
Karena itulah Abu Bakar dijuluki sebagai Ash-Shiddiq
Kata "Fullidhalika" (karena hal itu) menunjukkan hubungan
sebab-akibat yang jelas antara keteguhan iman saat kritis dengan pemberian
gelar kehormatan yang abadi bagi Abu Bakar.
Istilah "Summiya" (diberi nama/dijuluki) menunjukkan bahwa
gelar ini bukan sekadar nama panggilan, melainkan pengakuan resmi dari
masyarakat mukmin dan sejarah atas kualitas spiritual yang luar biasa.
Gelar "Ash-Shiddiq" menggunakan bentuk mubalaghah
(penyangatan - 'sangat') yang berarti seseorang yang sangat, selalu, dan benar-benar
membenarkan, menjadi simbol kesetiaan tertinggi dalam hubungan antara murid dan
guru.
Pelajaran dari Hadits ini
1.
Kemuliaan Masjidil Aqsa
dan Mukjizat Isra
Perkataan
لَمَّا أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى (Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam diperjalankan di malam hari ke Masjidil Aqsa) mengajarkan kita
tentang kedudukan istimewa Masjidil Aqsa sebagai tempat yang diberkahi Allah
dalam peristiwa luar biasa yang menembus batas nalar manusia. Kejadian ini
bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan pemuliaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ dan penegasan hubungan spiritual antara Masjidil Haram dan
Masjidil Aqsa yang menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas oleh ruang
dan waktu. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي
أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ
الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ
السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(Mahasuci
Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil
Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat).
2.
Berita Besar Menjadi
Ujian Sosial
Perkataan
أَصْبَحَ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ بِذَلِكَ (Orang-orang mulai
membicarakan hal tersebut di pagi hari) memberikan pelajaran bahwa setiap
kebenaran besar atau mukjizat sering kali menjadi buah bibir yang memicu reaksi
beragam di masyarakat. Informasi yang dianggap tidak masuk akal oleh logika
awam akan segera tersebar dan menjadi ujian bagi siapa saja yang mendengarnya,
apakah mereka akan mencari kebenaran atau justru menjadikannya bahan olok-olok.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ
بِكُلِّ مَا سَمِعَ
(Cukuplahseseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar).
3.
Bahaya Iman yang Rapuh
dan Penyakit Murtad
Perkataan
فَارْتَدَّ نَاسٌ مِمَّنْ كَانُوا آمَنُوا بِهِ وَصَدَّقُوهُ
(Maka murtadlah sebagian orang yang tadinya telah beriman dan membenarkannya)
memberikan pelajaran mendalam bahwa iman yang hanya di lisan dan belum meresap
ke dalam hati akan mudah goyah saat diterpa badai ujian logika. Peristiwa Isra
Mikraj berfungsi sebagai penyaring antara mukmin yang sejati dengan mereka yang
ragu-hal ini membuktikan bahwa agama tidak hanya dibangun di atas nalar manusia
yang terbatas, melainkan di atas wahyu Ilahi. Allah mengingatkan dalam Surah
Al-Baqarah ayat 143:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ
مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ
(Dan
Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi arahmu (dahulu) melainkan agar Kami
mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot).
4.
Upaya Provokasi dari
Musuh Kebenaran
Perkataan
وَسَعَوْا بِذَلِكَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
(Dan mereka kaum musyrik bergegas membawa berita itu kepada Abu Bakar
radhiyallahu 'anhu) menunjukkan taktik klasik penentang kebenaran yang
selalu berusaha mencari celah untuk menggoyahkan tokoh-tokoh kunci. Mereka
mengira dengan memberikan fakta yang sulit diterima nalar, mereka bisa memutus
ikatan kesetiaan antara pemimpin dan pengikutnya, sehingga kita harus selalu
waspada terhadap upaya adu domba. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat
6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا
(Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa
suatu berita, maka telitilah kebenarannya).
5.
Upaya Provokasi dan Tipu
Daya Musuh Kebenaran
Perkataan
هَلْ لَكَ إِلَى صَاحِبِكَ؟ يَزْعُمُ أَنَّهُ أُسْرِيَ بِهِ اللَّيْلَةَ
إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ (Apakah kamu sudah mendengar kabar
tentang sahabatmu itu? Dia mengaku bahwa dia diperjalankan semalam ke Baitul
Maqdis!) memberikan pelajaran tentang bagaimana para penentang kebenaran
sering kali menggunakan cara-cara provokatif untuk menggoyahkan keyakinan
seseorang melalui orang-orang terdekatnya. Kalimat tanya "Apakah kamu
sudah mendengar?" digunakan bukan untuk mencari informasi, melainkan
sebagai pembuka untuk menanamkan keraguan dan mempermalukan pihak yang dibela.
Penggunaan kata "sahabatmu" merupakan taktik psikologis untuk
membenturkan loyalitas Abu Bakar dengan logika yang mereka anggap mustahil,
sementara kata "mengaku-ngaku" (yaz'umu) sengaja dipilih untuk
merendahkan kredibilitas Rasulullah ﷺ. Hal ini mengingatkan kita bahwa
musuh-musuh agama akan selalu mencari celah dalam hubungan antarumat Islam
untuk memecah belah kekuatan mereka dengan narasi yang menyesatkan. Allah
berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 30:
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ
وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
(Dan
(ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad)
untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka
membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah
sebaik-baik pembalas tipu daya).
6.
Karakteristik Narasi
Skeptis terhadap Perkara Gaib
Pelajaran
ini menyoroti bagaimana orang-orang yang tidak memiliki iman cenderung mengejek
segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera atau teknologi pada
masanya. Kalimat kaum musyrik ini mencerminkan sikap sombong yang hanya
mengagungkan materi dan logika sempit, sehingga mereka menganggap mukjizat
sebagai sebuah kebohongan atau khayalan belaka. Dalam kehidupan sehari-hari,
kita akan sering menemui tantangan serupa di mana nilai-nilai agama dianggap
kuno atau tidak masuk akal oleh standar pemikiran manusia yang terbatas. Namun,
bagi seorang mukmin, keterbatasan logika manusia justru menjadi bukti bahwa ada
kekuatan Maha Besar yang mengatur semesta di luar jangkauan akal. Allah
berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2-3:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا
رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
(Kitab
(Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan
menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka).
7.
Keyakinan Mutlak pada Kejujuran Pembawa Wahyu
Perkataan
لَئِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ لَقَدْ صَدَقَ (Jika dia memang
mengatakannya, maka sungguh dia telah berkata benar) adalah puncak dari
pelajaran tentang integritas, di mana Abu Bakar mengajarkan bahwa jika sumber
berita adalah Nabi yang teruji kejujurannya, maka isinya tidak perlu diragukan.
Logika iman melampaui logika materi; jika kita percaya Allah pencipta semesta,
maka peristiwa ini adalah hal mudah bagi-Nya. Allah berfirman dalam Surah
An-Najm ayat 3-4:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ
الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
(Dan
tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur'an itu)
adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya).
8.
Logika Keimanan yang Cerdas dan Tauhid Khabar
Perkataan
أُصَدِّقُهُ بِخَبَرِ السَّمَاءِ فِي غُدُوِّهِ أَوْ رَوْحِهِ
(Aku membenarkannya mengenai kabar dari langit yang datang di waktu pagi
maupun sore) mengajarkan cara berpikir konsisten: jika seseorang sudah
menerima mukjizat turunnya wahyu dari langit, maka menerima perjalanan di bumi
adalah hal yang lebih kecil skalanya. Ini adalah bentuk tauhid tasdiq, di mana
seorang hamba tunduk sepenuhnya kepada berita dari Allah meskipun melampaui
indra panca manusia. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 136:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى
رَسُولِهِ
(Wahai
orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya).
9.
Keteguhan Sikap Membuahkan Kehormatan Abadi
Perkataan
فَلِذَلِكَ سُمِّيَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقَ (Karena itulah Abu
Bakar dijuluki sebagai Ash-Shiddiq) memberikan motivasi bahwa mereka yang
berdiri tegak membela kebenaran di saat orang lain ragu akan mendapatkan
kemuliaan abadi. Gelar ini menjadi simbol kesetiaan tertinggi dan membuktikan
bahwa jujur dalam beragama akan menuntun seseorang pada kedudukan tertinggi di
surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ
فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى
الْجَنَّةِ
10.
Tauhid Uluw: Allah Berada di Atas Langit
Pelajaran
dari peristiwa Mikraj menuju Sidratul Muntaha menegaskan prinsip tauhid bahwa
Allah Azza wa Jalla berada di atas seluruh makhluk-Nya, yaitu di atas langit
ketujuh, bukan menyatu dengan alam atau berada di mana-mana secara zat.
Perjalanan Nabi ﷺ yang naik menembus lapisan langit untuk “bertemu” dan menerima
perintah langsung dari Allah menunjukkan adanya arah ketinggian (uluw) yang
merupakan sifat keagungan bagi-Nya. Hal ini membantah pemahaman yang meniadakan
keberadaan Allah di atas Arsy, karena jika Allah berada di mana-mana, tentu
perjalanan Mikraj ke langit tertinggi tidak memiliki urgensi khusus sebagai
bentuk “kedekatan” kepada Sang Pencipta. Allah berfirman dalam Surah Thaha ayat
5:
الرَّحْمَنُ عَلَى
الْعَرْشِ اسْتَوَى
(Yaitu
Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy).
11.
Sistem Penjagaan Langit yang Ketat
Pelajaran
dari perjalanan melewati tiap lapisan langit menunjukkan bahwa langit adalah
bangunan yang sangat kokoh dan dijaga dengan sangat ketat oleh para malaikat,
sehingga makhluk tidak bisa menembusnya tanpa izin atau perintah dari Allah.
Dalam riwayat lengkap Isra Mikraj, digambarkan bahwa setiap kali Jibril dan
Nabi ﷺ sampai di pintu langit, para malaikat penjaga bertanya tentang
siapa yang datang dan apakah ia telah diutus (diizinkan), yang menunjukkan
adanya sistem keamanan Ilahi yang luar biasa. Hal ini mengajarkan kita bahwa
alam semesta memiliki keteraturan dan hukum-hukum gaib yang mutlak, di mana jin
maupun manusia tidak akan mampu menembus penjagaan langit kecuali dengan
kekuatan dari Allah. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 33:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا
مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا
بِسُلْطَانٍ
(Wahai
golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi,
maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari
Allah)).
12.
Ujian Tauhid dalam Membenarkan Perkara Gaib
Pelajaran
selanjutnya adalah kewajiban seorang hamba untuk tunduk sepenuhnya kepada
berita yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, meskipun hal tersebut melampaui
batas observasi indrawi manusia. Tauhid bukan sekadar mengakui Allah sebagai
pencipta, tetapi juga mengesakan-Nya dalam ketaatan dan pembenaran berita gaib
(tasdiq), sebagaimana yang dicontohkan Abu Bakar ketika lebih memercayai
"kabar dari langit" daripada hukum fisika dunia. Keimanan pada hal
gaib seperti surga, neraka, malaikat, dan perjalanan Mikraj adalah pilar utama
yang membedakan mukmin yang mentauhidkan Allah dengan mereka yang hanya
mempertuhankan logika dan akal semata. Allah berfirman dalam Surah Al-An'am
ayat 59:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ
الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
(Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri).
Secara
keseluruhan, hadis ini menggambarkan bahwa iman sejati adalah keyakinan yang
tidak tergoyahkan oleh keraguan sosial maupun keterbatasan logika manusia.
Melalui keteguhan Abu Bakar, kita diajarkan untuk mengutamakan wahyu di atas
akal dan mengakui keagungan Allah yang Maha Tinggi di atas Arsy-Nya. Peristiwa
ini menjadi penyaring kualitas tauhid seorang hamba dalam membenarkan berita
gaib serta memahami kekuasaan Allah yang mutlak atas seluruh alam semesta.
Ketaatan dan kejujuran dalam memegang prinsip kebenaran di tengah fitnah adalah
jalan menuju kemuliaan yang abadi di sisi Allah.
Penutupan Kajian
Setelah
kita menyelami bait demi bait dari hadis yang mulia ini, sampailah kita pada
penghujung materi. Perjalanan Isra Mikraj dan sikap teguh Abu Bakar Ash-Shiddiq
bukanlah sekadar fragmen sejarah untuk dikenang, melainkan sebuah kompas bagi
jiwa kita yang hidup di tengah hiruk-pikuk fitnah akhir zaman.
Faedah
terbesar yang kita petik hari ini adalah bahwa iman bukanlah tentang apa
yang sanggup dijangkau oleh mata, melainkan apa yang sanggup diyakini oleh hati
melalui cahaya wahyu. Kita belajar bahwa ketika logika dunia berbenturan
dengan ketetapan Allah, maka seorang mukmin sejati akan memilih untuk berdiri
di atas landasan wahyu, karena ia tahu bahwa akal manusia hanyalah setetes air
di tengah samudera ilmu Ilahi yang tak bertepi.
Harapan
saya, setelah kita keluar dari majelis ini, ada perubahan nyata dalam cara kita
memandang dunia:
1.
Jadilah
"Shiddiq" di Lingkungan Anda: Di zaman di mana hoaks dan adu
domba bertebaran seperti debu, jadilah orang pertama yang membenarkan kebenaran
Islam dan membela kehormatan saudara seiman, sebagaimana Abu Bakar membela
Rasulullah ﷺ saat semua orang mencemoohnya.
2.
Utamakan Perintah Allah
Tanpa Tapi: Saat syariat memanggil—baik itu dalam urusan salat, amanah,
maupun akhlak—jangan biarkan logika keberatan kita menghambat ketaatan.
Ingatlah bahwa Tuhan yang mampu memperjalankan hamba-Nya menembus tujuh lapis
langit dalam semalam, adalah Tuhan yang juga Maha Mampu menyelesaikan segala
kerumitan hidup kita.
3.
Kukuhkan Tauhid Uluw:
Selalulah merasa diawasi oleh Allah yang Maha Tinggi di atas Arsy-Nya.
Kesadaran bahwa Allah berada di atas langit tertinggi akan melahirkan sifat ihsan,
yaitu beribadah seolah-olah kita melihat-Nya, dan jika tidak melihat-Nya, kita
yakin Dia melihat kita.
Jadikanlah
hadis ini sebagai perisai saat keraguan mulai membisikkan ketidakpastian dalam
hati kita. Jika orang-orang di luar sana meragukan janji-janji Allah karena
tidak masuk akal bagi mereka, maka katakanlah dengan bangga seperti Abu Bakar: "Jika
Allah yang berfirman, maka sungguh Dia telah berkata benar."
Semoga
Allah mengumpulkan kita kelak bersama Baginda Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar
Ash-Shiddiq di surga Firdaus yang tertinggi, sebagaimana kita hari ini
berkumpul untuk membenarkan risalah mereka.
Aamiin
Ya Rabbal 'Alamiin.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ
نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan
rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang
baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.