Hadits: Amalan Agar Mendapatkan Ampunan Allah di Hari Jumat

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah mempertemukan kita kembali dalam majelis ilmu yang insya Allah penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beserta keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.  

Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dirahmati Allah,

Hari Jumat adalah hari yang istimewa, hari raya mingguan bagi umat Islam. Hari di mana kita diwajibkan untuk berkumpul melaksanakan salat Jumat, sebuah ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam agama kita. Namun, seringkali kita jumpai di tengah masyarakat kita, barangkali termasuk diri kita sendiri, beberapa kebiasaan atau praktik yang kurang selaras dengan sunah-sunah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ terkait hari Jumat. Ada yang datang ke masjid terburu-buru, kurang memperhatikan kebersihan dan kerapian, mungkin berbicara saat khutbah, atau bahkan mengganggu jamaah lain.

Latar belakang masalah ini adalah bahwa banyak dari kita yang mungkin belum sepenuhnya memahami faedah atau manfaat luar biasa yang dijanjikan oleh Allah bagi mereka yang menyempurnakan adab-adab Jumat sesuai tuntunan Nabi. Akibatnya, kita bisa jadi melakukan ibadah Jumat hanya sebatas kewajiban gugur, tanpa benar-benar meraup keberkahan dan faedah agung yang Allah sediakan. Kita mungkin luput dari pintu ampunan dosa yang dibuka lebar pada hari itu.

Inilah mengapa mempelajari hadits mengenai amalan-amalan hari Jumat menjadi sangat urgensi bagi kita semua. Hadits ini bukan sekadar daftar anjuran, tetapi merupakan kunci untuk membuka faedah terbesar dari hari Jumat, yaitu pengampunan dosa antara satu Jumat dengan Jumat berikutnya. Dengan memahami hadits ini, kita akan tahu langkah-langkah spesifik apa saja yang harus kita lakukan – mulai dari persiapan di rumah hingga saat berada di dalam masjid – agar ibadah Jumat kita diterima dan kita berhak mendapatkan pengampunan dari Allah. Memahami hadits ini memotivasi kita untuk beribadah dengan lebih baik, lebih khusyuk, dan tentunya, lebih sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan kesempatan ini untuk bersama-sama menyelami makna hadits yang mulia ini. Semoga kajian kita hari ini menjadi langkah awal bagi kita untuk memperbaiki amalan Jumat kita, meraih faedah dan keberkahan yang dijanjikan, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Mari kita mulai kajian kita dengan penuh harap akan bimbingan dan ridha Allah. Bismillahirrahmanirrahim.


Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَومَ الجُمُعَةِ، ويَتَطَهَّرُ ما اسْتَطَاعَ مِن طُهْرٍ، ويَدَّهِنُ مِن دُهْنِهِ، أوْ يَمَسُّ مِن طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فلا يُفَرِّقُ بيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي ما كُتِبَ له، ثُمَّ يُنْصِتُ إذَا تَكَلَّمَ الإمَامُ، إلَّا غُفِرَ له ما بيْنَهُ وبيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى.

Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jumat, dan bersuci semampu yang ia bisa, dan memakai minyak dari minyaknya, atau menyentuh wewangian rumahnya, kemudian ia keluar dan tidak memisahkan antara dua orang, kemudian ia salat apa yang telah ditetapkan baginya, kemudian ia diam ketika imam berkhutbah, kecuali diampuni baginya dosa antara Jumat ini dan Jumat yang lain.

HR. Bukhari (883)


Arti dan Penjelasan Per Kalimat


لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَومَ الجُمُعَةِ

Tidaklah mandi seorang laki-laki pada hari Jumat.

Perkataan ini memberikan pemahaman awal tentang anjuran mandi bagi kaum laki-laki sebelum melaksanakan ibadah salat Jumat. 

Mandi di sini bukan hanya sekadar membersihkan diri dari kotoran, tetapi juga sebagai bentuk persiapan spiritual dan fisik untuk menghadap Allah dalam keadaan sebaik-baiknya.


ويَتَطَهَّرُ ما اسْتَطَاعَ مِن طُهْرٍ

Dan bersuci semampu yang ia bisa dari bersuci.

Setelah mandi, hadits ini menekankan pentingnya bersuci atau berwudu sesuai dengan kemampuan. 

Ini menunjukkan bahwa syariat Islam tidak memberatkan umatnya. 

Jika seseorang tidak dapat melakukan wudu secara sempurna karena alasan tertentu, maka ia tetap dianjurkan untuk bersuci semampunya. 

Hal ini juga mencakup membersihkan pakaian dan menghilangkan segala najis yang mungkin melekat.


ويَدَّهِنُ مِن دُهْنِهِ

Dan memakai minyak dari minyaknya.

Anjuran selanjutnya adalah memakai minyak rambut atau minyak wangi yang dimilikinya. 

Hal ini merupakan bagian dari berhias dan menjaga penampilan yang baik ketika hendak beribadah, terutama dalam pertemuan besar seperti salat Jumat. 

Menggunakan minyak memberikan kesan rapi dan menyenangkan bagi orang lain.


أوْ يَمَسُّ مِن طِيبِ بَيْتِهِ

Atau menyentuh wewangian rumahnya.

Jika tidak memiliki minyak rambut atau minyak khusus, seseorang dianjurkan untuk menggunakan wewangian yang ada di rumahnya. 

Ini kembali menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan aroma tubuh yang baik saat berada di masjid dan berkumpul dengan jamaah lain. 

Islam sangat menganjurkan kebersihan dan keharuman, terutama dalam ibadah.


ثُمَّ يَخْرُجُ فلا يُفَرِّقُ بيْنَ اثْنَيْنِ

Kemudian ia keluar dan tidak memisahkan antara dua orang.

Ketika menuju masjid, seseorang dianjurkan untuk tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk berdekatan. 

Hal ini mengajarkan etika dalam bermajelis dan menjaga persaudaraan antar sesama muslim. 

Tindakan memisahkan dua orang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan merusak keharmonisan dalam barisan salat.


ثُمَّ يُصَلِّي ما كُتِبَ له

Kemudian ia salat apa yang telah ditetapkan baginya.

Setelah tiba di masjid, sebelum imam naik mimbar untuk berkhutbah, seseorang dianjurkan untuk melaksanakan salat sunah sebanyak yang ia mampu atau yang telah ditetapkan baginya. 

Ini memberikan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan mempersiapkan hati untuk mendengarkan khutbah.


ثُمَّ يُنْصِتُ إذَا تَكَلَّمَ الإمَامُ

Kemudian ia diam ketika imam berkhutbah.

Puncak dari rangkaian amalan ini adalah mendengarkan khutbah Jumat dengan penuh perhatian dan khusyuk. 

Diam dan mendengarkan dengan seksama merupakan adab yang sangat penting ketika khutbah disampaikan. 

Dengan mendengarkan, seorang muslim dapat mengambil pelajaran, nasihat, dan petunjuk agama yang disampaikan oleh khatib.


إلَّا غُفِرَ له ما بيْنَهُ وبيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

Kecuali diampuni baginya dosa antara Jumat ini dan Jumat yang lain.

Bagian akhir hadits ini menjelaskan keutamaan dan pahala bagi orang yang melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan sebelumnya. 

Allah menjanjikan ampunan dosa-dosa kecil yang terjadi antara Jumat yang satu dengan Jumat berikutnya. 

Ini menunjukkan betapa besar rahmat dan karunia Allah kepada hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan melaksanakan sunah-sunah pada hari yang mulia ini.


Syarah Hadits


Hari Jumat adalah sebaik-baik hari, dan ia adalah hari raya mingguan kaum muslimin, mereka berkumpul di dalamnya untuk kebaikan dan mengingat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Oleh karena itu, termasuk adab yang paling penting pada hari ini adalah bersuci dan kebersihan, harum baunya, bersegera untuk salat, menjauhi segala sesuatu yang menyakiti manusia, dan mendengarkan khatib.

Dalam hadits ini, Nabi mengabarkan tentang keutamaan adab-adab ini. Nabi memulai dengan anjuran untuk mandi, dan dengan bersuci yang dimaksudkan adalah bersungguh-sungguh dalam membersihkan diri. Oleh karena itu, disebutkan dalam bab Tafa''ul yang menunjukkan adanya usaha (bersungguh-sungguh). Yang dimaksud dengannya adalah membersihkan diri dengan memotong kumis, memotong kuku, dan mencukur bulu kemaluan. Kemudian Nabi menyebutkan adab lain, yaitu hendaknya seorang muslim memakai wewangian, baik menggunakan wewangian khusus miliknya atau menggunakan wewangian istrinya. Kemudian ia keluar untuk pergi ke masjid.

Jika ia memasukinya, فَلَا يُفَرِّقُ بَيۡنَ اثۡنَيۡنِ  "maka janganlah ia memisahkan antara dua orang." Ini merupakan isyarat untuk bersegera (datang awal), karena jika ia datang lebih awal, ia tidak akan terpaksa melangkahi leher-leher jamaah dan memisahkan antara orang-orang yang sudah duduk sebelumnya. Dikatakan juga maknanya: janganlah ia berdesakan dengan dua orang laki-laki lalu duduk di antara keduanya, karena itu mungkin menyempitkan mereka, terutama saat panas terik dan berkumpulnya napas-napas.

ثُمَّ يُصَلِّيۡ مَا كُتِبَ لَهُ  "Kemudian ia salat apa yang ditulis baginya," dari salat-salat sunah.

ثُمَّ يُنۡصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الۡإِمَامُ  "Kemudian ia diam mendengarkan ketika berbicara imam," maka ia mendengarkan khutbah dengan baik.

Maka barang siapa melakukan demikian, diampuni baginya dosa-dosa yang ia lakukan dalam masa ini antara dua Jumat, mulai dari salat Jumat dan khutbahnya hingga waktu yang sama pada Jumat yang kedua.

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk mandi pada hari Jumat. Di dalamnya juga terdapat anjuran untuk memakai minyak dan wewangian. Di dalamnya terdapat larangan melangkahi jamaah pada hari Jumat, kecuali bagi orang yang tidak menemukan jalan menuju tempat salat kecuali dengan cara itu. Di dalamnya disyariatkannya salat sunah sebelum salat Jumat sebanyak yang ia kehendaki. Dan di dalamnya terdapat anjuran untuk diam mendengarkan ketika khatib memulai khutbah.

Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/13534


Pelajaran dari Hadits ini



1. Anjuran Mandi Sebelum Salat Jumat

Perkataan pertama dalam hadits adalah: لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَومَ الجُمُعَةِ (Tidaklah mandi seorang laki-laki pada hari Jumat). Ini menunjukkan anjuran yang kuat bagi setiap laki-laki muslim yang akan melaksanakan salat Jumat untuk mandi terlebih dahulu. Mandi ini bukan hanya sekadar membersihkan badan dari kotoran dan bau, tetapi juga merupakan sunah yang sangat dianjurkan untuk menyambut hari yang mulia ini. Dengan mandi, seorang muslim diharapkan dapat menghadap Allah dalam keadaan yang bersih dan segar, baik secara fisik maupun spiritual.


2. Kesempurnaan Bersuci Sesuai Kemampuan

Perkataan selanjutnya adalah: ويَتَطَهَّرُ ما اسْتَطَاعَ مِن طُهْرٍ (Dan bersuci semampu yang ia bisa dari bersuci). Setelah mandi, hadits ini mengajarkan untuk menyempurnakan kebersihan diri dengan berwudu sesuai dengan kemampuan. Jika ada keterbatasan dalam menggunakan air atau anggota wudu, maka seorang muslim tetap dianjurkan untuk bersuci semampunya. Ini mencerminkan prinsip kemudahan dalam Islam, di mana Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا (Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.) (QS. Al-Baqarah: 286)  


3. Berhias dengan Minyak dan Wewangian

Kemudian disebutkan: ويَدَّهِنُ مِن دُهْنِهِ، أوْ يَمَسُّ مِن طِيبِ بَيْتِهِ (Dan memakai minyak dari minyaknya, atau menyentuh wewangian rumahnya). Hadits ini menganjurkan untuk merapikan diri dengan menggunakan minyak rambut atau minyak wangi yang dimiliki, atau setidaknya menggunakan wewangian yang ada di rumah. Hal ini merupakan bagian dari adab dan etika dalam beribadah, khususnya ketika berkumpul dengan banyak orang di masjid. Berpenampilan rapi dan harum merupakan bentuk penghormatan terhadap ibadah dan sesama muslim.


4. Menjaga Ketertiban di Masjid

Perkataan berikutnya adalah: ثُمَّ يَخْرُجُ فلا يُفَرِّقُ بيْنَ اثْنَيْنِ (Kemudian ia keluar dan tidak memisahkan antara dua orang). Ketika menuju masjid dan mencari tempat duduk, seorang muslim hendaknya menghindari memisahkan dua orang yang sudah duduk berdekatan. Tindakan ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu kekhusyukan orang lain. Islam mengajarkan untuk menjaga persaudaraan dan menghormati ruang pribadi sesama muslim di dalam masjid.


5. Salat Sunah Sebelum Khutbah

Selanjutnya dikatakan: ثُمَّ يُصَلِّي ما كُتِبَ له (Kemudian ia salat apa yang telah ditetapkan baginya). Sesampainya di masjid sebelum imam naik mimbar untuk menyampaikan khutbah, disunahkan bagi seorang muslim untuk melaksanakan salat sunah sebanyak yang ia mampu atau yang telah ditentukan baginya. Salat sunah ini merupakan bentuk ibadah tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengisi waktu sebelum ibadah utama dimulai.


6. Mendengarkan Khutbah dengan Seksama

Perkataan selanjutnya adalah: ثُمَّ يُنْصِتُ إذَا تَكَلَّمَ الإمَامُ (Kemudian ia diam ketika imam berkhutbah). Ketika imam menyampaikan khutbah, seorang muslim wajib mendengarkannya dengan penuh perhatian dan khusyuk. Berbicara, bermain-main, atau melakukan hal-hal yang melalaikan dapat menghilangkan pahala Jumat. Mendengarkan khutbah adalah bagian penting dari rangkaian ibadah Jumat.

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (Artinya: Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari Jumat, ‘Diamlah,’ ketika imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.) (HR. Bukhari dan Muslim)


7. Pengampunan Dosa Antara Dua Jumat

Bagian akhir hadits adalah: إلَّا غُفِرَ له ما بيْنَهُ وبيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى (Kecuali diampuni baginya dosa antara Jumat ini dan Jumat yang lain). Ini adalah keutamaan besar bagi orang yang melaksanakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits. Allah menjanjikan ampunan dosa-dosa kecil yang terjadi antara Jumat yang satu dengan Jumat berikutnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga amalan-amalan sunah pada hari Jumat.


8. Keutamaan Bersegera ke Masjid

Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, hadits ini secara implisit mendorong untuk bersegera datang ke masjid. Dengan datang lebih awal, seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk melaksanakan salat sunah dan mendapatkan tempat yang lebih baik tanpa harus memisahkan orang lain.


9. Menjaga Kebersihan dan Kerapian Diri dalam Beribadah

Hadits ini secara keseluruhan menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan kerapian diri ketika hendak melaksanakan ibadah, terutama ibadah yang melibatkan banyak orang seperti salat Jumat. Hal ini mencerminkan ajaran Islam yang selalu menganjurkan kebaikan dan keindahan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah.

Secara keseluruhan, hadits ini memberikan panduan lengkap mengenai amalan-amalan sunah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari Jumat. Dimulai dari membersihkan diri dengan mandi dan berwudu, berhias dengan minyak dan wewangian, menjaga ketertiban di masjid, melaksanakan salat sunah, hingga mendengarkan khutbah dengan khusyuk. Keutamaan bagi yang melaksanakan amalan-amalan ini adalah ampunan dosa antara dua Jumat, menunjukkan betapa besar rahmat Allah bagi hamba-Nya yang menghidupkan sunah-sunah pada hari yang mulia ini.


Penutup Kajian


Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kemudahan bagi kita untuk menyelesaikan kajian kita pada hari ini, menelaah hadits yang mulia tentang adab-adab di hari Jumat. Semoga ilmu yang kita dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua.

Saudara dan Saudari sekalian yang dirahmati Allah,

Kita telah mempelajari serangkaian amalan yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk hari Jumat, mulai dari persiapan di rumah hingga saat mendengarkan khutbah di masjid. Dan kita juga telah memahami faedah yang sangat agung dari melaksanakan amalan-amalan ini dengan sebaik-baiknya. Apa faedah terbesar itu? Yaitu janji Rasulullah ﷺ bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa kita yang terjadi di antara Jumat yang satu dengan Jumat berikutnya. Masya Allah, betapa besar rahmat Allah! Ini adalah kesempatan emas mingguan yang Allah berikan kepada kita untuk 'membersihkan diri' dari noda-noda dosa kecil yang mungkin kita lakukan dalam sepekan.

Namun, faedah pengampunan dosa ini bukanlah sesuatu yang datang tanpa sebab. Ia adalah buah manis dari ketaatan kita dalam mengikuti tuntunan Nabi ﷺ. Setiap langkah yang kita lakukan: mandi dengan niat ibadah Jumat, bersuci dengan sempurna, memakai wewangian, menjaga adab di jalan dan di masjid, salat sunah, dan mendengarkan khutbah dengan khusyuk, adalah 'investasi' kita untuk meraih ampunan itu.

Oleh karena itu, harapan besar kita bersama, setelah memahami hadits ini, adalah munculnya tekad yang kuat dalam diri kita masing-masing untuk menerapkan sunah-sunah ini dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada hari Jumat. Jangan biarkan kesibukan atau kebiasaan lama menghalangi kita dari meraih faedah yang luar biasa ini. Mari kita mulai dari Jumat yang akan datang, niatkan dalam hati untuk melaksanakan setiap tahapan adab Jumat ini dengan kesadaran dan kekhusyukan yang lebih baik.

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mengamalkan setiap sunah yang telah kita pelajari. Semoga setiap Jumat kita menjadi lebih bermakna, lebih dekat dengan tuntunan Nabi, dan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kita. Teruslah berusaha istiqamah, karena faedah ini datang berulang setiap pekannya bagi mereka yang berpegang teguh pada sunah Nabi-Nya.

Mari kita akhiri kajian kita dengan memohon ampunan dan taufik dari Allah. Kita tutup dengan doa kafaratul majelis: 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.