Tafsir: Tiga Pilar Kepribadian Muttaqin - Surah Al-Baqarah ayat 3
Manusia modern hidup di tengah limpahan informasi, tetapi tidak selalu memiliki arah batin. Yang tampak, terukur, dan segera menghasilkan sering dianggap paling nyata; sementara pertanggungjawaban akhirat, pengawasan Allah, dan nilai ibadah mudah tersisih. Salat dapat berubah menjadi rutinitas yang tidak membentuk perilaku, sedangkan harta dipandang sebagai kepemilikan mutlak yang harus diamankan untuk diri sendiri. Akibatnya, kecanggihan tidak otomatis melahirkan ketenangan, kedisiplinan, kepedulian, ataupun kejujuran.
QS. Al-Baqarah ayat 3 menawarkan susunan pendidikan iman yang utuh. Keyakinan kepada yang gaib menata cara pandang; penegakan salat menata hubungan dengan Allah dan waktu; sedangkan infak menata hubungan dengan harta serta sesama. Ketiganya bukan daftar kebajikan yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian sifat orang bertakwa: keyakinan batin dibuktikan dalam ibadah personal dan diluaskan menjadi manfaat sosial.
Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 3:
QS. Al-Baqarah [2]: 3.
Ayat ini tidak berdiri sebagai definisi lengkap ketakwaan, tetapi menjadi bagian awal dari profil orang bertakwa pada QS. Al-Baqarah ayat 2–5. Tidak adanya riwayat sebab turun khusus yang kuat justru menegaskan cakupan petunjuknya yang umum bagi setiap mukmin.
Kata ٱلَّذِينَ menunjuk kepada kelompok yang telah disebut pada ayat sebelumnya, yaitu orang-orang bertakwa. Kata يُؤْمِنُونَ berbentuk verba kini-akan datang yang mengesankan iman sebagai keadaan yang terus dipelihara, bukan pengakuan sesaat. Iman mencakup pembenaran hati, pengakuan, dan konsekuensi amal. Adapun بِٱلْغَيْبِ berarti segala yang tidak terjangkau indra, tetapi diketahui melalui wahyu yang benar: Allah, para malaikat, wahyu, hari akhir, surga, neraka, kebangkitan, dan takdir.
Kutipan ini mencegah pemahaman bahwa iman kepada yang gaib hanyalah menerima informasi metafisik. Iman yang benar melahirkan orientasi dan tindakan. Pemaknaan di atas semakin utuh ketika disandingkan dengan firman Allah yang lain:
Ayat pendukung ini menunjukkan buah etis iman kepada yang gaib: rasa takut yang sehat dan hati yang kembali kepada Allah, bahkan ketika seseorang tidak diawasi manusia. Al-Maḥallī dan al-Suyūṭī dalam Tafsīr al-Jalālayn menjelaskan: «مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ: خَافَهُ وَلَمْ يَرَهُ، وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ: مُقْبِلٍ عَلَى طَاعَتِهِ».2
Dengan demikian, “gaib” bukan alasan bagi spekulasi tanpa batas. Sumber pengetahuan tentangnya adalah wahyu, sedangkan buktinya tampak pada ketaatan. Jika ayat tersebut meletakkan fondasi pada tataran prinsip, Rasulullah ﷺ mempertegasnya secara praktis dalam hadis berikut:
Hadis Jibril memberi batas yang terang bagi perkara gaib yang wajib diimani. Ia juga menunjukkan bahwa iman dipelajari berdasarkan wahyu, bukan dibentuk oleh ramalan, horoskop, perdukunan, atau klaim spiritual tanpa dalil. Dari keterpaduan ayat pendukung dan hadis di atas, dapat ditarik benang merah bahwa iman kepada yang gaib adalah pembenaran berbasis wahyu yang menumbuhkan ketaatan ketika dilihat maupun tidak dilihat manusia.
Orang bertakwa membangun keputusan hidup di atas wahyu dan kesadaran akan pengawasan serta pertanggungjawaban kepada Allah.
Huruf وَ menghubungkan iman batin dengan amal lahir. Kata يُقِيمُونَ tidak sekadar berarti mengerjakan; ia mengandung makna menegakkan secara lurus, memelihara, dan menyempurnakan. Salat ditegakkan dengan memenuhi waktu, syarat, rukun, wajib, kekhusyukan, serta pengaruh moralnya. Al-Ṭabarī dalam Jāmi‘ al-Bayān menyatakan: «وَإِقَامَتُهَا: أَدَاؤُهَا بِحُدُودِهَا وَفُرُوضِهَا وَالْوَاجِبِ فِيهَا عَلَى مَا فُرِضَتْ عَلَيْهِ».4
Ibn Kathīr juga merekam penjelasan salaf bahwa penegakan salat mencakup kesempurnaan rukuk, sujud, bacaan, kekhusyukan, perhatian, waktu, dan bersuci.5 Dengan demikian, ayat tidak memuji keberadaan gerak ritual semata, tetapi kualitas pemeliharaan salat. Untuk mendudukkan makna perkataan ini pada kerangka yang lebih luas, Allah berfirman pula:
Ayat ini menjelaskan arah transformasi salat. Al-Maḥallī dan al-Suyūṭī dalam Tafsīr al-Jalālayn menafsirkan: «إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ شَرْعًا، أَيْ مِنْ شَأْنِهَا ذَلِكَ مَا دَامَ الْمَرْءُ فِيهَا».6
Pencegahan itu bertumbuh melalui salat yang benar dan terus dijaga. Karena itu, ketidaksesuaian antara salat dan akhlak menuntut muhasabah terhadap mutu salat, bukan penolakan terhadap kewajibannya. Semangat yang sama digemakan kembali oleh Nabi ﷺ dalam riwayat berikut:
Salat disebut sebagai penyangga bangunan Islam. Ia memberi ritme harian bagi iman: seorang hamba berulang kali memutus kesibukan, bersuci, menghadap kiblat, membaca wahyu, dan bersujud. Bertolak dari dalil Al-Qur’an dan hadis yang telah dipaparkan, tergambar jelas bahwa menegakkan salat berarti memelihara ibadah sesuai ketentuannya hingga membentuk disiplin dan akhlak.
Orang bertakwa tidak hanya melaksanakan salat, tetapi memelihara ketepatan, kesempurnaan, kekhusyukan, dan daya ubahnya dalam kehidupan.
Kata وَمِمَّا tersusun dari “dan”, “dari”, serta kata penghubung yang berarti “apa yang”; bentuk ini menunjukkan sebagian dari rezeki, bukan seluruhnya. Kata رَزَقْنَٰهُمْ menisbatkan rezeki kepada Allah: manusia memperoleh, mengelola, dan mempertanggungjawabkannya, tetapi tidak menciptakan sumber rezekinya secara mandiri. Kata يُنفِقُونَ berarti mengeluarkan atau membelanjakan pada jalan yang benar, mencakup zakat, nafkah wajib, sedekah, dan bentuk kemanfaatan lain sesuai hukum dan prioritas.
Ibn Kathīr dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menukil dan menyintesiskan cakupannya: «وَاخْتَارَ ابْنُ جَرِيرٍ أَنَّ الْآيَةَ عَامَّةٌ فِي الزَّكَاةِ وَالنَّفَقَاتِ».8
Keluasan ini perlu dibaca bersama batas syariat. Tidak setiap pengeluaran disebut infak terpuji; sumbernya harus halal, tujuannya benar, kewajiban didahulukan, dan tidak boleh menelantarkan pihak yang menjadi tanggungan. Kedalaman makna yang terkandung dalam perkataan ini menemukan penguatnya dalam firman Allah:
Ibn Kathīr dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menerangkan fungsi perumpamaan tersebut: «هَذَا مَثَلٌ ضَرَبَهُ اللَّهُ تَعَالَى لِتَضْعِيفِ الثَّوَابِ لِمَنْ أَنْفَقَ فِي سَبِيلِهِ وَابْتِغَاءِ مَرْضَاتِهِ».9
Ayat tidak menjanjikan rumus keuntungan tunai yang mekanis. Pelipatgandaan berada dalam hikmah Allah dan dapat berupa pahala, keberkahan, kemaslahatan, atau penjagaan dari keburukan. Untuk memperjelas penerapan makna ayat ini dalam keseharian, perhatikan pula sabda Rasulullah ﷺ berikut:
Secara nominal, uang yang dikeluarkan memang berkurang. Hadis menjelaskan bahwa pengurangan itu tidak identik dengan kerugian: Allah menggantinya dengan pahala, keberkahan, ketenteraman, hubungan sosial, dan bentuk kebaikan lain menurut kehendak-Nya. Merangkai kedua dalil di atas, pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa rezeki merupakan amanah Allah yang disucikan dan ditumbuhkan manfaatnya melalui pengeluaran yang halal, proporsional, dan tepat sasaran.
Orang bertakwa memandang rezeki sebagai titipan Allah yang harus diperoleh secara halal, dikelola secara bertanggung jawab, dan dialirkan kepada yang berhak.
Susunan ayat bergerak dari batin menuju tindakan: iman kepada yang gaib, penegakan salat, lalu infak. Ini menunjukkan bahwa agama tidak cukup dipersempit menjadi keyakinan pribadi, ritual formal, atau aktivitas sosial saja. Keyakinan tanpa ibadah kehilangan disiplin penghambaan; ibadah tanpa kepedulian sosial terancam menjadi kesalehan yang tertutup; kepedulian tanpa orientasi kepada Allah mudah bergantung pada citra dan pengakuan.
Penerapannya dapat dimulai dengan audit mingguan sederhana: apa yang diyakini, ibadah apa yang dijaga, dan manfaat apa yang dialirkan kepada orang lain. Seorang profesional, misalnya, tidak cukup mengaku percaya bahwa Allah mengawasi; keyakinan itu harus tampak pada pencatatan yang jujur, penjagaan salat di tengah tenggat, dan kesediaan mengalokasikan sebagian penghasilan untuk kewajiban serta kepentingan sosial.
Frasa ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ mendidik manusia agar tidak membatasi realitas pada apa yang tertangkap indra. Namun, ayat ini tidak membenarkan setiap klaim gaib. Perkara gaib diterima berdasarkan wahyu yang sahih, sedangkan fenomena empiris diteliti melalui cara yang sesuai. Pembedaan ini menyelamatkan mukmin dari dua ekstrem: materialisme yang menolak semua yang tak terindra dan takhayul yang mempercayai setiap kabar misterius.
Dalam ruang digital, penerapannya ialah tidak menyebarkan ramalan, konten paranormal, atau klaim mukjizat yang tidak terverifikasi. Seorang mukmin boleh menggunakan ilmu pengetahuan dan data untuk urusan empiris, tetapi menyadari keterbatasannya dalam menjangkau hakikat Allah, malaikat, akhirat, dan takdir. Sikap ini melahirkan kerendahan hati intelektual sekaligus keteguhan akidah.
Iman kepada yang gaib menghadirkan kesadaran bahwa tindakan yang luput dari kamera, atasan, auditor, atau masyarakat tidak pernah luput dari Allah. Inilah fondasi integritas ketika sistem pengawasan manusia tidak sempurna. Ketakwaan bukan hanya kepatuhan karena takut sanksi, tetapi kesediaan memilih yang benar ketika pelanggaran dapat disembunyikan.
Penerapannya sangat luas: tidak memanipulasi laporan, tidak menggunakan akses data untuk kepentingan pribadi, tidak mencontek, tidak melakukan transaksi rahasia yang merugikan pihak lain, dan tidak membangun identitas palsu di media sosial. Kontrol internal tetap diperlukan, tetapi iman memberi “kontrol dari dalam” yang tidak dapat digantikan prosedur.
Ayat memakai ungkapan “menegakkan”, bukan sekadar “melakukan”. Salat yang ditegakkan memperoleh prioritas dalam jadwal, ditunaikan dengan bersuci dan rukun yang benar, serta diupayakan kekhusyukannya. Kekhusyukan bukan alasan menunda sampai perasaan ideal datang; ia dilatih melalui ilmu, persiapan, pemahaman bacaan, dan pengurangan gangguan.
Aplikasi praktisnya antara lain memasukkan waktu salat ke kalender kerja, mengambil jeda sebelum takbir, menonaktifkan notifikasi, menyelesaikan kebutuhan dasar agar tidak terganggu, dan mengevaluasi satu bacaan salat setiap pekan. Bagi lembaga, menyediakan ruang dan waktu salat yang wajar merupakan dukungan terhadap kedisiplinan, bukan hambatan produktivitas.
Salat bukan transaksi yang membuat seseorang otomatis sempurna, tetapi salat yang terus diperbaiki seharusnya menguatkan kemampuan menolak kekejian dan kemungkaran. Karena itu, kemarahan, kecurangan, ghibah, dan kezaliman setelah salat menjadi bahan muhasabah. Kekurangan akhlak tidak menggugurkan kewajiban salat; justru menunjukkan perlunya memperbaiki salat dan proses pendidikan diri.
Penerapan konkret ialah menetapkan satu sasaran akhlak yang dikaitkan dengan salat, misalnya menjaga lisan selepas Subuh, menahan emosi selepas Zuhur, atau menutup hari dengan rekonsiliasi kesalahan selepas Isya. Dengan cara ini, salat membentuk rantai kesadaran yang menghubungkan mihrab dengan rumah, ruang kelas, kantor, pasar, dan dunia maya.
Ungkapan رَزَقْنَٰهُمْ menanamkan tauhid bahwa Allah adalah Pemberi rezeki. Hal itu tidak meniadakan sebab-sebab usaha, keahlian, kontrak, dan produktivitas. Sebaliknya, karena rezeki adalah karunia, cara memperolehnya harus tunduk kepada hukum Allah. Keuntungan tidak menjadi halal hanya karena diperoleh dengan kerja keras.
Dalam praktik ekonomi, seorang mukmin menolak penipuan, riba, suap, pencurian data, dan penghasilan dari barang atau jasa haram. Ia menyusun anggaran, meningkatkan kompetensi, dan mengelola risiko, tetapi tidak menyombongkan hasil seolah sepenuhnya ciptaan dirinya. Syukur ditunjukkan melalui penggunaan rezeki yang benar, bukan hanya ucapan.
Keluasan kata يُنفِقُونَ mencakup pengeluaran wajib dan sukarela. Urutan prioritas harus dijaga: nafkah orang yang menjadi tanggungan, pembayaran utang jatuh tempo, zakat bila memenuhi syarat, lalu sedekah dan kemaslahatan lain. Sedekah sunah tidak boleh menjadi alasan menelantarkan keluarga atau menunda hak kreditur.
Penerapannya dapat berupa pos anggaran khusus untuk zakat dan sedekah, dukungan pendidikan, bantuan darurat, wakaf, serta kontribusi keahlian. Infak tidak terbatas pada nominal besar; ayat menyebut “sebagian” rezeki, sehingga yang dituntut adalah keikhlasan, keteraturan, kemampuan, dan ketepatan sasaran. Transparansi lembaga pengelola juga penting agar amanah publik terjaga.
Harta yang hanya berputar pada kepentingan diri memperlebar jarak sosial. Infak mengalirkan daya beli, akses pendidikan, kesehatan, dan modal kebajikan kepada pihak yang membutuhkan. Dalam kerangka ekonomi syariah, ia melengkapi mekanisme pasar dengan tanggung jawab moral dan instrumen redistribusi.
Keluarga dapat membangun dana kebajikan, komunitas dapat membuat program beasiswa atau bantuan produktif, dan lembaga dapat mengukur dampak sosial penyalurannya. Namun, bantuan perlu dirancang tanpa merendahkan penerima, tanpa publikasi berlebihan, dan—bila berbentuk pemberdayaan—disertai pendampingan yang realistis.
Penyandingan salat dan infak memperlihatkan keseimbangan antara ibadah yang manfaat langsungnya dominan bagi pelaku dan amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain. Ibn Kathīr menegaskan bahwa salat berhubungan dengan penghambaan kepada Allah, sedangkan infak merupakan ihsan kepada makhluk.11 Seorang mukmin tidak memilih salah satunya dengan mengabaikan yang lain.
Pada tingkat kelembagaan, keseimbangan ini mendorong budaya yang menghormati ibadah sekaligus memastikan upah, hak pekerja, pajak, zakat, dan tanggung jawab sosial ditunaikan secara benar. Kesalehan institusional bukan slogan, melainkan tata kelola yang adil.
Ayat ini menegakkan tauhid dalam cara mengetahui, beribadah, dan memiliki. Perkara gaib diterima karena Allah dan Rasul-Nya mengabarkannya; salat ditegakkan karena Allah berhak disembah; rezeki dibagikan karena Allah adalah Pemberinya. Dari sini tumbuh akhlak kepada Allah berupa percaya kepada berita-Nya, tunduk kepada perintah-Nya, bersyukur atas karunia-Nya, berharap pahala-Nya, dan takut akan pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Iman kepada yang gaib juga membentuk ihsan: beramal seakan-akan melihat Allah dan menyadari bahwa Allah melihat hamba-Nya. Kesadaran ini bukan ketakutan yang melumpuhkan, tetapi kewaspadaan yang menenangkan karena kehidupan memiliki arah, nilai, dan tujuan akhir.
Pendidikan karakter Qur’ani tidak berhenti pada pengetahuan. Ayat menyusun kurikulum internal: keyakinan yang benar, kebiasaan ibadah yang teratur, dan kepedulian yang nyata. Dalam kehidupan digital, tiga pilar tersebut menjadi penyaring informasi, pengatur perhatian, dan pengarah pemanfaatan teknologi. Iman menolak disinformasi gaib; salat memutus arus distraksi; infak mengubah teknologi menjadi sarana solidaritas.
Masyarakat yang sehat membutuhkan manusia yang dapat dipercaya ketika tidak diawasi, disiplin menjalankan kewajiban, dan bersedia berbagi sumber daya. Ayat ini membangun ketiganya sekaligus. Iman melahirkan integritas, salat melatih keteraturan, dan infak memperkuat kohesi sosial. Karena itu, ketakwaan memiliki konsekuensi sosial tanpa kehilangan fondasi transendennya.
Dalam ekonomi syariah, frasa “rezeki yang Kami anugerahkan” menolak konsep kepemilikan absolut manusia. Kepemilikan individual diakui, tetapi dibatasi oleh cara perolehan yang halal, larangan merusak, hak pihak lain, kewajiban zakat dan nafkah, serta pertanggungjawaban akhirat. Infak menjadi bukti bahwa harta adalah amanah dan sarana ibadah.
Ayat ini bukan dalil rinci untuk semua akad, tetapi menyediakan fondasi moralnya: kejujuran karena beriman kepada pengawasan Allah, disiplin karena menegakkan salat, serta keberpihakan pada kemaslahatan melalui infak. Tata kelola, audit, dan regulasi tetap diperlukan; iman memperkuatnya dengan akuntabilitas batin.
P: Apakah iman kepada yang gaib berarti mempercayai semua cerita yang tidak dapat dijelaskan?
J: Tidak. Yang gaib dalam akidah ditetapkan melalui Al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Klaim paranormal, ramalan, atau cerita viral tidak otomatis menjadi bagian iman; semuanya harus diuji dengan dalil dan kaidah pengetahuan yang benar.
P: Apakah sains bertentangan dengan iman kepada yang gaib?
J: Tidak. Sains meneliti fenomena empiris melalui observasi dan pengujian, sedangkan wahyu memberitakan hakikat yang berada di luar jangkauan metode empiris. Konflik muncul bila sains dipaksa menilai perkara di luar wilayah metodenya atau klaim agama dibuat tanpa dalil yang sah.
P: Mengapa ayat memakai ungkapan “menegakkan salat”, bukan sekadar “salat”?
J: Ungkapan itu menekankan pemeliharaan salat dengan waktu, syarat, rukun, kewajiban, kekhusyukan, dan pengaruh moralnya. Kehadiran ritual penting, tetapi kualitas penegakannya harus terus diperbaiki.
P: Jika seseorang salat tetapi masih melakukan maksiat, apakah salatnya sia-sia?
J: Tidak boleh langsung dinyatakan sia-sia. Kewajiban salat tetap harus dijalankan, sementara maksiat wajib ditinggalkan. Ketidaksesuaian tersebut menjadi alasan untuk bertobat dan memperbaiki ilmu, kekhusyukan, serta daya pengaruh salat terhadap perilaku.
P: Apakah “menginfakkan sebagian rezeki” hanya berarti zakat?
J: Maknanya luas. Zakat termasuk di dalamnya, demikian pula nafkah wajib, sedekah, dan pengeluaran kebajikan lain. Namun, hukum, penerima, dan prioritas setiap jenis pengeluaran berbeda dan harus diperhatikan.
P: Mana yang harus didahulukan: sedekah atau kebutuhan keluarga?
J: Hak dan kewajiban didahulukan. Nafkah pihak yang menjadi tanggungan, utang jatuh tempo, dan zakat yang wajib tidak boleh ditelantarkan demi sedekah sunah. Setelah kewajiban terpenuhi, sedekah dilakukan sesuai kemampuan.
P: Apakah infak selalu berupa uang?
J: Tidak. Rezeki mencakup harta dan berbagai kemampuan yang Allah karuniakan. Konteks pengeluaran harta sangat kuat dalam ayat, tetapi semangat berbagi manfaat dapat diwujudkan pula melalui makanan, fasilitas, waktu, ilmu, dan keahlian, selama tidak mengaburkan kewajiban finansial yang memang harus dibayar.
P: Bagaimana memahami hadis bahwa sedekah tidak mengurangi harta?
J: Secara nominal, harta yang diberikan berkurang. Maknanya ialah pengurangan itu tidak menjadi kerugian hakiki karena Allah memberi pahala, keberkahan, pengganti, perlindungan, atau kemanfaatan lain sesuai hikmah-Nya. Hadis bukan janji skema keuntungan tunai instan.
P: Apakah infak boleh dipublikasikan?
J: Pada dasarnya, keikhlasan dan kehormatan penerima harus dijaga. Publikasi dapat dibenarkan untuk transparansi, edukasi, atau mendorong kebaikan bila aman dari riya dan tidak mengeksploitasi penerima. Informasi pribadi tidak boleh dibuka tanpa alasan dan izin yang sah.
P: Apa hubungan ketiga sifat dalam ayat ini?
J: Iman kepada yang gaib memberi orientasi batin, salat membentuk disiplin penghambaan, dan infak membuktikan kepedulian sosial. Ketiganya menggambarkan ketakwaan yang utuh: benar keyakinannya, terjaga ibadahnya, dan nyata manfaatnya.
P: Bagaimana menerapkan ayat ini dalam profesi akuntansi dan audit?
J: Iman kepada pengawasan Allah menguatkan independensi dan kejujuran ketika bukti sulit dilacak; salat melatih disiplin serta jeda etis; infak dan konsep amanah mengingatkan bahwa informasi dan harta pihak lain tidak boleh dimanipulasi. Standar profesional tetap wajib dipatuhi sebagai perangkat akuntabilitas lahiriah.
Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq al-Najāh, 1422 H.
Al-Maḥallī, Jalāl al-Dīn, dan Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī. Tafsīr al-Jalālayn. Kairo: Dār al-Ḥadīth, tahun terbit perlu dicek.
Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Ed. Aḥmad Muḥammad Shākir. Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000.
Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Ed. Sāmī ibn Muḥammad Salāmah. Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya: Edisi Penyempurnaan 2019. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2019.
Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, tahun terbit perlu dicek.
TafsirWeb. “Surat Al-Baqarah Ayat 3.” https://tafsirweb.com/221-surat-al-baqarah-ayat-3.html (diakses 16 Agustus 2026).