Hadits: Kebaikan Dalam Islam Dilipatgandakan Sepuluh Hingga Tujuh Ratus Kali Lipat
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang telah membawa ajaran Islam yang penuh rahmat dan kemudahan bagi umat manusia.
Jama’ah rahimakumullāh,
Di zaman sekarang ini, kita hidup dalam masyarakat yang serba cepat dan sibuk. Banyak orang berlari mengejar dunia, sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, urusan keluarga, bahkan kegiatan sosial. Namun sayangnya, di tengah kesibukan itu, banyak yang mulai abai terhadap amalan-amalan kecil dalam agama, meremehkan dosa-dosa ringan, atau merasa tidak perlu memperbaiki kualitas keislaman mereka. Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa amal baiknya belum cukup berarti karena hanya sedikit dan tidak seberapa.
Di sisi lain, ada juga yang merasa pesimis karena merasa terlalu banyak dosa, hingga mengira bahwa amal kebaikan mereka tidak akan berguna di sisi Allah. Ada yang malas berbuat baik karena mengira itu tidak akan membawa pengaruh besar, dan ada pula yang terus menunda taubat karena menganggap dosanya masih kecil.
Padahal, dalam Islam, sekecil apa pun amal tidak akan pernah sia-sia. Dan sebesar apa pun dosa, selama masih hidup, pintu taubat selalu terbuka. Karena itulah, hadits yang akan kita bahas hari ini sangat penting untuk kita pahami dan renungi bersama. Hadits ini memberikan gambaran tentang kemurahan dan keadilan Allah dalam menilai amal hamba-Nya. Hadits ini juga menyadarkan kita tentang pentingnya memperbaiki kualitas keislaman kita, karena di situlah letak kunci pelipatgandaan pahala dan penghapusan dosa.
Dengan memahami hadits ini, insyaAllah kita akan lebih semangat dalam berbuat baik, tidak meremehkan amal sekecil apa pun, dan lebih waspada terhadap dosa, sekecil apa pun itu. Maka dari itu, mari kita bersama-sama menyimak dan menghayati makna dari sabda Rasulullah ﷺ berikut ini, agar hidup kita lebih terarah, lebih bernilai di sisi Allah, dan lebih bermakna untuk akhirat kelak.
Mari kita membacakan haditsnya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ
فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ
مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا.
Apabila seorang dari kalian memperbaiki keIslamannya maka
dari setiap kebaikan yang dikerjakannya akan ditulis baginya sepuluh kebaikan
yang serupa hingga tujuh ratus kelipatan, dan setiap satu keburukan yang
dikerjakannya akan ditulis satu keburukan saja yang serupa dengannya.
HR Al Bukhori (40)
Arti dan Penjelasan Per Kalimat
إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ
Apabila salah seorang di antara kalian membaguskan keislamannya
Kata إِذَا menunjukkan syarat, yaitu
ketika suatu kondisi terpenuhi maka akan ada konsekuensi setelahnya.
Ungkapan أَحْسَنَ berarti memperindah atau
memperbaiki dengan sungguh-sungguh.
Kata أَحَدُكُمْ menunjukkan bahwa pesan
ini berlaku untuk setiap individu Muslim.
Istilah إِسْلَامَهُ merujuk pada kualitas
keislaman seseorang, baik dalam akidah, ibadah, maupun akhlak.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti seorang Muslim
berusaha menjalankan agama dengan ikhlas, benar, dan konsisten, tidak sekadar
formalitas.
فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا
Maka setiap kebaikan yang ia kerjakan
Huruf فَ menunjukkan hubungan sebab akibat
dari kondisi sebelumnya.
Kata كُلُّ menunjukkan keumuman, artinya
semua jenis kebaikan tanpa terkecuali.
Istilah حَسَنَةٍ mencakup segala bentuk amal
baik, baik ibadah seperti shalat dan sedekah maupun perbuatan sosial seperti
membantu orang lain.
Kata يَعْمَلُهَا menegaskan bahwa kebaikan
itu benar-benar dilakukan, bukan sekadar niat.
Dalam praktik sehari-hari, ini mengajarkan bahwa tidak ada
kebaikan yang sia-sia, sekecil apa pun akan diperhitungkan.
تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Akan dituliskan baginya sepuluh kali lipat
Kata تُكْتَبُ menunjukkan bahwa amal
tersebut dicatat oleh malaikat sebagai pahala.
Ungkapan لَهُ menegaskan bahwa pahala itu
khusus untuk pelaku amal tersebut.
Frasa بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا berarti minimal
pahala yang diberikan adalah sepuluh kali lipat dari satu kebaikan.
Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dalam memberi
balasan, jauh melebihi usaha manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini memotivasi kita untuk
rajin berbuat baik karena hasilnya berlipat ganda.
إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ
Hingga tujuh ratus kali lipat
Kata إِلَى menunjukkan batas maksimal yang
bisa dicapai.
Ungkapan سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ berarti tujuh
ratus kali lipat, bahkan bisa lebih sesuai kehendak Allah.
Ini menunjukkan bahwa kualitas amal, seperti keikhlasan dan
kesungguhan, mempengaruhi besarnya pahala.
Dalam praktik sehari-hari, amal yang dilakukan dengan hati
yang tulus dan cara yang benar bisa mendapatkan pahala yang sangat besar.
وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا
Dan setiap keburukan yang ia kerjakan
Huruf وَ menunjukkan perbandingan antara
kebaikan dan keburukan.
Kata كُلُّ kembali menunjukkan keumuman,
bahwa semua keburukan juga diperhitungkan.
Istilah سَيِّئَةٍ mencakup segala bentuk
dosa, baik kecil maupun besar.
Kata يَعْمَلُهَا menegaskan bahwa dosa
tersebut benar-benar dilakukan, bukan sekadar terlintas dalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini menjadi pengingat agar
kita berhati-hati dalam setiap perbuatan.
تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا
Akan dituliskan baginya sebagaimana adanya
Kata تُكْتَبُ menunjukkan bahwa dosa juga
dicatat dengan adil.
Ungkapan بِمِثْلِهَا berarti satu
keburukan dibalas satu keburukan, tidak dilipatgandakan.
Ini menunjukkan keadilan Allah, bahwa keburukan tidak
diperberat, berbeda dengan kebaikan yang dilipatgandakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini memberi harapan bahwa
rahmat Allah lebih besar daripada murka-Nya, sekaligus menjadi peringatan agar
tidak meremehkan dosa.
Syarah Hadits
الدُّخُولُ فِي الإِسْلَامِ هُوَ نَجَاةُ
العَبْدِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Masuk ke dalam Islam adalah
keselamatan seorang hamba di dunia dan akhirat.
فَهُوَ دِينُ التَّوْحِيدِ لِلَّهِ
سُبْحَانَهُ وَعَدَمِ الإِشْرَاكِ بِهِ
Karena Islam
itu adalah agama tauhid kepada Allah, Mahasuci Dia, dan tidak menyekutukan-Nya.
وَهُوَ مَا جَاءَتْ بِهِ جَمِيعُ الرُّسُلِ
وَالأَنْبِيَاءِ
Dan Islam itulah
yang dibawa oleh semua rasul dan nabi.
وَفِي هَذَا الحَدِيثِ يُخْبِرُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan di hadis
ini, Nabi ﷺ memberitakan.
أَنَّ الكَافِرَ إِذَا أَسْلَمَ وَحَسُنَ
إِسْلَامُهُ
Bahwa seorang kafir jika masuk Islam
dan Islamnya menjadi baik.
فَأَسْلَمَ إِسْلَامًا مُحَقَّقًا بَرِيئًا
مِنَ الشُّكُوكِ
Maka ia masuk Islam dengan Islam
yang benar, bebas dari keraguan.
مُؤْمِنًا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Beriman secara lahir dan batin.
فَإِنَّ اللَّهَ يُكَفِّرُ عَنْهُ
سَيِّئَاتِهِ الَّتِي زَلَفَهَا
Maka Allah menghapuskan darinya
dosa-dosa yang telah dilakukannya.
أَي: قَدَّمَهَا وَعَمِلَهَا قَبْلَ
إِسْلَامِهِ
Yaitu dosa yang dia perbuat sebelum
keislamannya.
مِنَ الصَّغَائِرِ أَوِ الكَبَائِرِ
Baik dari dosa kecil maupun dosa
besar.
تَفَضُّلًا مِنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Sebagai anugerah dari-Nya, Mahasuci
Dia dan Maha Tinggi.
ثُمَّ يُعَامَلُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ
بِالقِصَاصِ
Kemudian dia diperlakukan setelah
keislamannya dengan pembalasan setimpal.
وَذَلِكَ بِمُقَابَلَةِ كُلِّ عَمَلٍ مِنْ
أَعْمَالِهِ بِمِثْلِهِ
Yaitu dengan membalas setiap amalnya
dengan yang setimpal.
خَيْرًا كَانَ أَوْ شَرًّا
Baik itu amal kebaikan atau
keburukan.
فَيُجَازَى عَلَى الحَسَنَةِ بِالمَثُوبَةِ
Maka dia diberi balasan atas
kebaikannya dengan ganjaran.
وَعَلَى السَّيِّئَةِ بِالعُقُوبَةِ
Dan atas keburukan dengan hukuman.
فَيُثَابُ عَلَى الحَسَنَةِ بِعَشْرِ
أَضْعَافِهَا
Dia diberi ganjaran atas kebaikannya
dengan sepuluh kali lipat.
وَقَدْ تَتَضَاعَفُ المَثُوبَةُ إِلَى سَبْعِ
مِئَةِ ضِعْفٍ
Dan ganjarannya bisa dilipatgandakan
hingga tujuh ratus kali lipat.
أَمَّا السَّيِّئَةُ فَلَا يُجَازَى إِلَّا
بِمِثْلِهَا
Sedangkan keburukan, tidak dibalas
kecuali setimpal dengannya.
وَقَدْ يَعْفُو اللَّهُ عَنْهَا بِفَضْلِهِ
وَكَرَمِهِ
Dan bisa jadi Allah memaafkannya
dengan anugerah dan kemuliaan-Nya.
وَمَنِّهِ وَإِحْسَانِهِ
Dan kemurahan serta kebaikan-Nya.
فَلَا يُعَاقَبُ عَلَيْهَا فَاعِلُهَا
Maka pelakunya tidak dihukum atasnya.
وَفِي الحَدِيثِ: أَنَّ الإِسْلَامَ يَهْدِمُ
مَا قَبْلَهُ مِنَ الذُّنُوبِ وَالآثَامِ
Dan dalam hadis ini disebutkan bahwa
Islam menghapuskan dosa dan kesalahan sebelumnya.
Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/2685
Pelajaran dari Hadits ini
1. Kualitas Islam Menentukan Nilai Amal
Perkataan إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ (Apabila salah seorang
di antara kalian membaguskan keislamannya) mengajarkan bahwa inti dari amal
bukan sekadar banyaknya, tetapi kualitas keislaman seseorang. Ihsan dalam Islam
berarti menjalankan agama dengan ikhlas, benar sesuai tuntunan, dan sungguh-sungguh.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti seseorang tidak hanya shalat, tetapi
juga menjaga kekhusyukan, tidak hanya sedekah, tetapi juga menjaga keikhlasan.
Semakin baik kualitas Islam seseorang, semakin tinggi nilai amalnya di sisi
Allah. Hal ini dikuatkan dalam Al-Qur’an QS Al-Mulk ayat 2 bahwa Allah menilai
amal yang paling baik, bukan sekadar yang paling banyak.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ
عَمَلًا
(Yang
menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang
paling baik amalnya)
2.
Semua Kebaikan Tidak Pernah Sia-sia
Perkataan فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا (Maka setiap kebaikan
yang ia kerjakan) menunjukkan bahwa sekecil apa pun kebaikan pasti
diperhitungkan. Tidak ada amal baik yang terbuang, baik itu ibadah besar maupun
hal sederhana seperti senyum, membantu orang, atau berkata baik. Dalam
kehidupan sehari-hari, ini memberi semangat agar tidak meremehkan kebaikan
kecil. Bahkan sesuatu yang terlihat sepele bisa bernilai besar di sisi Allah.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa sekecil apa pun amal akan
diperlihatkan balasannya (QS Az-Zalzalah ayat 7).
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
(Barang
siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat
(balasannya))
3.
Besarnya Pahala Minimal Sepuluh Kali Lipat
Perkataan تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا (Akan dituliskan
baginya sepuluh kali lipat) menunjukkan kemurahan Allah dalam memberi pahala.
Satu kebaikan tidak dibalas satu, tetapi minimal sepuluh kali lipat. Ini adalah
bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, ini memotivasi
kita untuk memperbanyak amal, karena hasilnya jauh lebih besar dari usaha yang
kita lakukan. Hal ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an tentang balasan kebaikan
yang berlipat ganda (QS Al-An’am ayat 160).
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ
فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
(Barang
siapa membawa satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipatnya)
4.
Pahala Bisa Berlipat Hingga Sangat Besar
Perkataan إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ (Hingga tujuh ratus
kali lipat) menunjukkan bahwa pahala tidak berhenti di angka sepuluh, tetapi
bisa meningkat sangat besar tergantung keikhlasan, kesungguhan, dan kondisi
amal tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, amal yang dilakukan dengan hati
yang tulus, di waktu yang sulit, atau dengan pengorbanan besar bisa mendapatkan
pahala berlipat-lipat. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an dengan perumpamaan
orang yang bersedekah (QS Al-Baqarah 261).
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ
حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
(Perumpamaan
orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji, dan Allah
melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki)
5.
Setiap Dosa Tetap Dicatat
Perkataan وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا (Dan setiap keburukan
yang ia kerjakan) mengingatkan bahwa semua dosa, kecil maupun besar, tetap
dicatat oleh Allah. Tidak ada yang terlewat, sehingga seorang Muslim harus
berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan. Dalam kehidupan sehari-hari, ini
membuat kita lebih waspada terhadap dosa yang sering dianggap ringan, seperti
ghibah atau berkata kasar. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an QS Qaf ayat 18 bahwa
setiap ucapan manusia dicatat.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
(Tidak
ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada malaikat pengawas
yang selalu siap mencatat)
6.
Keadilan Allah dalam Membalas Keburukan
Perkataan تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا (Akan dituliskan
baginya sebagaimana adanya) menunjukkan bahwa keburukan tidak dilipatgandakan,
tetapi dibalas sesuai dengan perbuatannya. Ini menunjukkan keadilan Allah yang
sempurna, berbeda dengan kebaikan yang dilipatgandakan. Dalam kehidupan sehari-hari,
ini memberi harapan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada murka-Nya, sekaligus
menjadi peringatan agar tidak meremehkan dosa. Hal ini juga ditegaskan dalam
Al-Qur’an dalam QS Al-An’am: 160:
وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا
(Dan
barang siapa membawa keburukan, maka dia tidak diberi balasan melainkan
seimbang dengan keburukannya)
7.
Rahmat Allah Lebih Besar dari Murka-Nya
Dari keseluruhan perkataan dalam hadits ini terlihat bahwa kebaikan
dilipatgandakan, sedangkan keburukan tidak. Ini menunjukkan bahwa Allah lebih
mengedepankan rahmat dibandingkan hukuman. Dalam kehidupan sehari-hari, ini
memberi semangat untuk terus berbuat baik dan tidak putus asa dari rahmat Allah
meskipun pernah berbuat dosa. Nabi ﷺ juga menegaskan hal ini dalam hadits
qudsi.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
(Sesungguhnya
rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku)
8.
Pentingnya Ikhlas dalam Melipatgandakan Pahala
Pelajaran tambahan dari hadits ini adalah bahwa faktor utama yang membuat
pahala berlipat bukan hanya amalnya, tetapi keikhlasannya. Amal yang kecil bisa
menjadi besar jika ikhlas, dan amal besar bisa menjadi kecil jika riya. Dalam
kehidupan sehari-hari, ini mengajarkan agar kita selalu memperbaiki niat dalam
setiap amal. Hal ini ditegaskan dalam hadits tentang niat.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
(Sesungguhnya
amal itu tergantung pada niatnya)
Penutup
Kajian
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kita untuk bersama-sama mempelajari salah satu sabda Nabi kita ﷺ yang penuh hikmah dan pelajaran. Hadits yang telah kita bahas tadi memberikan gambaran yang sangat jelas tentang keadilan dan kemurahan Allah dalam menilai amal perbuatan manusia. Ia menyadarkan kita bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia. Bahkan satu kebaikan bisa dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, tergantung niat dan kualitas amalnya.
Sebaliknya, hadits ini juga memperingatkan kita agar tidak meremehkan dosa, meskipun hanya satu, karena semuanya dicatat dan diperhitungkan. Namun, dalam keadilan-Nya, Allah tidak melipatgandakan dosa seperti Dia melipatgandakan pahala. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah, agar kita tidak merasa berat dalam menjalani agama ini, namun tetap berhati-hati.
Jama'ah sekalian,
Hadits ini mengajarkan kita untuk terus memperbaiki keislaman kita, karena itulah yang menjadi sebab utama diterimanya amal dan dilipatgandakannya pahala. Ia juga mendorong kita untuk semangat beramal walau kecil, tidak menunda-nunda taubat, dan selalu berharap rahmat Allah namun tetap takut akan hisab-Nya.
Maka, harapan kita setelah kajian ini adalah agar setiap dari kita keluar dari majelis ini dengan tekad baru:
Untuk menjaga dan membaguskan keislaman,
Untuk memperbanyak amal walau sederhana,
Untuk menjauhi dosa walau tampak ringan,
Dan untuk selalu mengisi hari-hari dengan kebaikan, karena semua akan dicatat, dan tidak ada yang luput dari pengawasan Allah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang diperhitungkan amal baiknya dan dimaafkan kesalahannya, serta diterima keislamannya dengan baik, sehingga kelak kita termasuk orang yang beruntung di dunia dan akhirat.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
(Ya Rabb kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ
وَصَلَّى اللَّهُ
عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ
Belajar
membaca dan menerjemahkan syarah hadits tanpa harakat
الدخول في الإسلام هو نجاة العبد في الدنيا والآخرة؛
فهو دين التوحيد لله سبحانه وعدم الإشراك به، وهو ما جاءت به جميع الرسل
والأنبياء.وفي هذا الحديث يخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن الكافر إذا أسلم وحسن
إسلامه، فأسلم إسلاما محققا بريئا من الشكوك، مؤمنا ظاهرا وباطنا، فإن الله يكفر
عنه سيئاته التي زلفها، أي: قدمها وعملها قبل إسلامه؛ من الصغائر أو الكبائر،
تفضلا منه سبحانه وتعالى، ثم يعامل بعد إسلامه بالقصاص وذلك بمقابلة كل عمل من
أعماله بمثله، خيرا كان أو شرا؛ فيجازى على الحسنة بالمثوبة، وعلى السيئة
بالعقوبة؛ فيثاب على الحسنة بعشر أضعافها، وقد تتضاعف المثوبة إلى سبع مئة ضعف،
أما السيئة فلا يجازى إلا بمثلها، وقد يعفو الله عنها بفضله وكرمه، ومنه وإحسانه،
فلا يعاقب عليها فاعلها. وفي الحديث: أن الإسلام يهدم ما قبله من الذنوب والآثام.
