Hadits: Larangan Salat dalam Keadaan Mengantuk
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Salah satu realita yang sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari adalah banyaknya kaum muslimin yang memaksakan diri untuk tetap melaksanakan salat meski dalam keadaan sangat mengantuk, kelelahan, atau tidak sadar penuh. Tak jarang kita temui orang yang tertidur dalam sujud, salah membaca bacaan salat, atau bahkan berdiri seperti robot tanpa tahu apa yang ia ucapkan. Fenomena ini mungkin dianggap sepele, namun sesungguhnya menunjukkan bahwa banyak dari kita yang belum memahami bahwa kualitas ibadah jauh lebih penting daripada sekadar menggugurkan kewajiban.
Dalam kondisi masyarakat modern yang penuh aktivitas dan tekanan, waktu malam yang seharusnya menjadi momen terbaik untuk salat tahajud atau witir, seringkali dilewati dengan tubuh yang letih dan pikiran yang tidak jernih. Akibatnya, salat menjadi kosong dari kekhusyukan dan makna. Padahal, salat adalah momen kita bermunajat kepada Allah, berbicara langsung kepada Sang Pencipta. Maka dari itu, memahami hadits Nabi ﷺ tentang larangan salat dalam keadaan mengantuk ini menjadi sangat penting.
Hadits ini bukan hanya sekadar anjuran untuk tidur, tetapi menunjukkan prinsip dasar dalam ibadah: bahwa Allah tidak membebani kita di luar kemampuan, dan bahwa ibadah harus dijalankan dengan kesadaran dan kesiapan penuh. Inilah mengapa kajian kali ini kita angkat: agar kita semua bisa memperbaiki kualitas salat kita, menjaga lisan kita saat bermunajat, dan tidak terjatuh pada kesalahan yang tampak ringan tapi besar akibatnya. Semoga setelah memahami hadits ini, kita menjadi hamba yang lebih sadar dan khusyuk dalam setiap salat kita.
Dari ʿAisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا نَعَسَ
أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ،
فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ، لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ
فَيَسُبُّ نَفْسَهُ.
"Jika salah seorang dari kalian mengantuk dalam salat,
maka tidurlah terlebih dahulu hingga rasa kantuk itu hilang darinya. Karena
sesungguhnya, jika seseorang salat dalam keadaan mengantuk, bisa jadi ia hendak
memohon ampun, tetapi justru mencaci dirinya sendiri."
HR. al-Bukhari (212) dan Muslim (786).
Arti dan Penjelasan per Perkataan
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ
Jika salah seorang dari kalian mengantuk dalam salat
Perkataan ini mengandung pengarahan dari Nabi ﷺ yang sangat halus dan manusiawi.
Rasulullah ﷺ tidak menuntut umatnya
memaksakan ibadah dalam keadaan yang tidak maksimal, seperti ketika kantuk
menyerang.
Kantuk dalam salat bisa menghilangkan kekhusyukan,
bahkan kesadaran akan makna bacaan dan gerakan.
Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan
kualitas ibadah, bukan sekadar kuantitas atau rutinitas gerakan lahiriah.
Perkataan ini juga menjadi dalil bahwa rasa kantuk bisa
menjadi uzur yang sah untuk menghentikan sementara salat demi menjaga
kesempurnaan ibadah.
فَلْيَرْقُدْ
Maka tidurlah
Nabi ﷺ memerintahkan agar orang
yang mengantuk mengambil waktu istirahat terlebih dahulu.
Perintah ini menunjukkan bahwa tidur dianggap solusi
untuk mengembalikan kesadaran dan kejernihan hati saat berdiri di hadapan
Allah.
Tidur bukan semata kelemahan manusia, tetapi bagian dari
kebutuhan biologis yang diakui dan diakomodasi dalam syariat.
Kata perintah فَلْيَرْقُدْ di
sini bukan sekadar anjuran, tapi menunjukkan kepedulian Nabi ﷺ terhadap
kesiapan mental dan spiritual seseorang dalam menjalankan salat.
حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ
Hingga rasa kantuk itu hilang darinya
Tujuan dari istirahat adalah agar kantuk benar-benar
hilang dan tubuh serta pikiran siap untuk khusyuk.
Dalam Islam, ibadah yang dilakukan dengan sadar dan
hadirnya hati lebih utama daripada yang dikerjakan secara otomatis tanpa
kesadaran.
Rasa kantuk bisa menyebabkan orang salah dalam membaca
atau bertindak dalam salat, yang dapat merusak makna ibadah itu sendiri.
Hadits ini juga mengajarkan pentingnya menyiapkan
kondisi fisik sebelum beribadah, karena tubuh yang siap akan lebih mudah
menghadirkan kekhusyukan hati.
فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ
نَاعِسٌ
Karena sesungguhnya jika salah seorang dari kalian salat
dalam keadaan mengantuk
Perkataan ini memberi alasan logis dari perintah
sebelumnya.
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang
yang mengantuk kehilangan kendali terhadap lisannya dan pikirannya saat salat.
Dalam kondisi itu, dia bisa kehilangan fokus, salah
ucap, atau bahkan tidak sadar apa yang dia baca.
Hal ini mengurangi nilai salat sebagai bentuk munajat
dan komunikasi dengan Allah ﷻ .
Ibadah dalam kondisi mengantuk bisa berubah dari amal
shalih menjadi perbuatan yang tidak disadari maknanya.
لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ
نَفْسَهُ
Bisa jadi ia hendak memohon ampun, tetapi justru mencaci
dirinya sendiri
Ini adalah bentuk kerusakan konkret yang bisa terjadi
akibat salat dalam keadaan kantuk berat.
Seorang yang ingin membaca doa istighfar, malah bisa
tergelincir ucapannya menjadi celaan atau perkataan buruk.
Ini menunjukkan bahaya mengabaikan kesiapan mental dalam
ibadah.
Istighfar adalah ibadah mulia yang membutuhkan kesadaran
penuh, karena mengandung permohonan ampun yang tulus.
Hadits ini memperingatkan bahwa kekeliruan dalam salat
bisa sampai pada level mencaci diri sendiri tanpa sadar, sebuah kondisi yang
tentu harus dihindari.
Syarah Hadits
الصَّلَاةُ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ
Salat adalah ibadah yang agung
يَقِفُ فِيهَا الْعَبْدُ بَيْنَ يَدَيْ
رَبِّهِ
Di dalamnya seorang hamba berdiri di hadapan Rabb-nya
فَلَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ وَاعِيًا نَشِيطًا،
خَاشِعًا مُتَدَبِّرًا
Maka haruslah ia dalam keadaan sadar, bersemangat, khusyuk, dan penuh
perenungan
وَلَا يَجْعَلَ وَقْتَ كَسَلِهِ وَتَعَبِهِ
وَنَوْمِهِ لِلصَّلَاةِ
Dan janganlah ia menjadikan waktu malas, lelah, dan kantuknya untuk salat
وَذَلِكَ حَتَّى يَحُوزَ عَلَى الْأَجْرِ
الْكَامِلِ
Hal itu agar ia memperoleh pahala yang sempurna
وَلَا تَكُونَ صَلَاتُهُ وَبَالًا عَلَيْهِ
Dan agar salatnya tidak menjadi bencana baginya
فَرُبَّمَا حَرَّفَ الْكَلَامَ وَالدُّعَاءَ
Karena bisa jadi ia salah dalam ucapan dan doanya
فَدَعَا عَلَى نَفْسِهِ
Lalu ia justru mendoakan keburukan atas dirinya sendiri
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dalam hadits ini Nabi ﷺ bersabda
"إِذَا نَعِسَ أَحَدُكُمْ"
“Jika salah seorang dari kalian mengantuk”
أَيْ: غَالَبَهُ النَّوْمُ مِنْ تَعَبٍ أَوْ
كَسَلٍ
Yaitu jika ia diliputi kantuk karena lelah atau malas
وَالنُّعَاسُ: أَوَّلُ مُقَدِّمَاتِ النَّوْمِ
Dan ngantuk adalah permulaan dari tidur
"فِي الصَّلَاةِ فَلْيَرْقُدْ"
“Dalam salat, maka tidurlah”
أَيْ: يَنْصَرِفْ عَنِ الصَّلَاةِ وَيَنَمْ
Yaitu hendaklah ia meninggalkan salat dan tidur
"حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ"
“Sampai kantuk itu hilang darinya”
أَيْ: حَتَّى يَنْشَطَ مَرَّةً أُخْرَى
وَيَبْتَعِدَ عَنْهُ النَّوْمُ وَالْكَسَلُ
Yaitu hingga ia kembali segar dan kantuk serta malas menjauh darinya
ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ الْكَرِيمُ
السَّبَبَ فِي ذَلِكَ فَقَالَ
Kemudian Nabi yang mulia menjelaskan sebabnya dengan bersabda
"فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ
نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ"
“Karena jika salah seorang dari kalian salat dalam keadaan mengantuk, bisa jadi
ia hendak beristighfar namun malah mencaci dirinya sendiri”
أَيْ: لَعَلَّ الَّذِي يُصَلِّي وَهُوَ فِي
حَالَةِ النُّعَاسِ
Yaitu, bisa jadi orang yang salat dalam keadaan mengantuk
وَهُوَ لَا يَدْرِي بِمَا يَقُولُهُ
Dan ia tidak sadar apa yang ia ucapkan
فَيُبَدِّلُ الْكَلَامَ
Lalu ia menyimpangkan ucapan
فَبَدَلًا مِنْ أَنْ يَدْعُوَ لِنَفْسِهِ
بِالْخَيْرِ
Sehingga bukannya ia berdoa kebaikan untuk dirinya
يَدْعُو عَلَى نَفْسِهِ بِالشَّرِّ
Ia justru mendoakan keburukan atas dirinya
أَوْ يَسُبُّ نَفْسَهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ
Atau ia mencaci dirinya sendiri tanpa ia sadari
وَفِي الْحَدِيثِ: الْحَثُّ عَلَى الْيَقَظَةِ
وَالتَّنَبُّهِ فِي الصَّلَاةِ
Dan dalam hadits ini terdapat anjuran untuk sadar dan waspada dalam salat
Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/87342
Pelajaran dari Hadits ini
1. Tidur saat salat itu wajar jika sudah mengantuk
Dalam perkataan إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ (Jika salah seorang dari kalian mengantuk dalam salat), Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa rasa kantuk saat salat bukan sesuatu yang dilarang atau memalukan. Ini adalah bagian dari kelemahan manusia yang diakui dalam Islam. Bahkan, Nabi ﷺ tidak mencela orang yang mengantuk dalam salat, tapi justru memberi solusi. Ini menunjukkan bahwa syariat Islam sangat realistis dan manusiawi. Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Baqarah: 286: لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا
وُسْعَهَا
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya).
Ini mengajarkan kita bahwa ibadah tidak boleh dilakukan secara memaksa hingga membahayakan diri atau merusak makna ibadah itu sendiri.
2. Istirahat itu bagian dari ibadah
Perkataan فَلْيَرْقُدْ (maka tidurlah) adalah perintah Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang. Tidur bukan sekadar istirahat fisik, tetapi dalam konteks ini adalah bentuk persiapan untuk menyempurnakan ibadah. Kadang-kadang, berhenti sejenak dari ibadah untuk memperbaiki kondisi fisik dan mental bisa membuat kualitas ibadah lebih baik daripada memaksakan diri. Salman radhiyallahu 'anhu berkata ketika menasehat Abu Darda radhiyallahu 'anhu, yang mana Nabi ﷺ membenarkan ucapan Salman:إنَّ لنَفْسِكَ عليكَ
حقًّا
(Sesungguhnya bagi dirimu ada hak atasmu) – HR. al-Bukhari (1968).
Maka, tidur di sini adalah bentuk menjaga hak tubuh agar ibadah yang dilakukan benar-benar hadir jiwa dan raganya.
3. Waktu tidur yang cukup menjaga kekhusyukan
Dalam perkataan حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ (hingga rasa kantuk itu hilang darinya), kita diajarkan pentingnya menunda ibadah jika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk khusyuk. Rasa kantuk akan menghilangkan fokus dan bisa menyebabkan kesalahan dalam membaca atau gerakan salat. Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Mu’minun: 2: الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
([yaitu] orang-orang yang khusyuk dalam salat mereka).
Maka, menghilangkan kantuk terlebih dahulu adalah bagian dari menjaga kekhusyukan dan kualitas salat. Tidur sebentar bisa menjadi solusi agar hati dan pikiran lebih siap menghadap Allah.
4. Mengantuk menghilangkan kesadaran dalam salat
Dalam perkataan فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ (karena sesungguhnya jika salah seorang dari kalian salat dalam keadaan mengantuk), dijelaskan bahwa orang yang mengantuk bisa kehilangan kesadaran terhadap apa yang dia baca. Hal ini sangat berbahaya dalam ibadah, karena salat bukan hanya gerakan tapi dialog antara hamba dan Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits disebutkan:إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا
قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ
(Sesungguhnya salah seorang dari kalian, apabila ia berdiri dalam salatnya, maka sungguh ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya.) – HR. al-Bukhari (405) dan Muslim (551)
Maka, jika munajat itu dilakukan tanpa sadar, tentu akan kehilangan makna dan hikmahnya.
5. Mengantuk bisa membuat lisan tergelincir
Perkataan لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ (bisa jadi ia hendak memohon ampun, tetapi justru mencaci dirinya sendiri) mengandung peringatan bahwa dalam kondisi mengantuk berat, orang bisa keliru dalam ucapan. Ia ingin beristighfar, tetapi tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang buruk. Ini adalah bentuk rusaknya kendali atas lisan saat salat dalam kondisi tidak sadar penuh. Rasulullah ﷺ bersabda:وَإِنَّ العَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِن سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا،
يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
(Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kata yang menyebabkan murka Allah, ia tidak menganggapnya penting, tetapi karena kata itu, ia terjerumus ke dalam neraka Jahannam.) – HR. al-Bukhari (6478).
Maka, menjaga kesadaran dalam salat sangat penting agar tidak tergelincir dalam kekeliruan yang bisa merugikan diri sendiri.
6. Jangan memaksakan ibadah ketika lemah
Hadits ini mengajarkan bahwa ibadah itu bukan sekadar dilakukan, tapi dilakukan dengan sadar, niat, dan pemahaman. Jika tubuh dan pikiran sudah lelah, maka memaksakan ibadah justru bisa menimbulkan kesalahan yang lebih besar. Dalam QS Al-Hajj: 78, Allah berfirman: وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ
حَرَجٍ
(Dan Dia tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan).
Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menyulitkan. Maka, ketika seseorang lelah atau mengantuk, ia tidak berdosa jika menunda ibadah untuk memperbaiki kondisi dirinya.
7. Islam adalah agama yang memperhatikan kondisi psikologis manusia
Hadits ini menunjukkan bahwa syariat Islam memperhatikan aspek psikologis dalam ibadah. Salat dalam kondisi mengantuk berat bukan hanya mengurangi kekhusyukan, tapi bisa merusak kepercayaan diri seseorang ketika sadar telah salah ucap atau gerak. Maka, Islam menganjurkan kita untuk memperhatikan suasana batin dan kesiapan sebelum menghadap Allah. Dalam QS Al-Baqarah: 45, Allah ﷻ berfirman: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى
الْخَاشِعِينَ
(Sesungguhnya salat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk). Artinya, hanya dengan kesiapan batin dan fisik, salat bisa menjadi ringan dan menyenangkan.
8. Tanggung jawab lisan dalam salat sangat besar
Salat bukan hanya soal gerakan, tapi juga bacaan yang keluar dari lisan. Salah ucap bisa terjadi jika tidak sadar, dan dalam konteks salat yang sakral, ini menjadi urusan serius. Dalam QS Qaf: 18, Allah ﷻ berfirman: مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ
رَقِيبٌ عَتِيدٌ
(Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat). Maka, menjaga lisan dalam salat termasuk bentuk takwa kepada Allah dan penghormatan terhadap ibadah.
9. Istighfar harus diucapkan dengan sadar dan penuh harap
Tujuan beristighfar adalah memohon ampun dengan kesadaran akan kesalahan. Bila dibaca dalam keadaan mengantuk dan tak sadar, maka hilanglah ruh dan maknanya. Rasulullah ﷺ bersabda:وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ، لوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ
يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ، فَيَغْفِرُ لهمْ
(Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian, lalu mendatangkan suatu kaum yang berdosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.) – HR. Muslim (2479).
Maka istighfar adalah amalan agung yang harus dilakukan dalam kondisi sadar penuh, bukan sekadar ucapan lisan.
10. Kualitas ibadah lebih penting daripada kuantitas
Hadits ini secara umum mengajarkan bahwa kualitas lebih utama daripada kuantitas. Nabi ﷺ tidak menganjurkan untuk tetap melanjutkan salat hanya karena ingin segera selesai, tetapi justru menyuruh untuk tidur lebih dulu agar salat lebih sempurna. Dalam QS Al-Mulk: 2 Allah ﷻ berfirman: لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
(Agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang paling baik amalnya).
Allah menilai kebaikan amal dari sisi kualitas dan keikhlasan, bukan semata-mata jumlah dan gerakan.
11. Perhatian Nabi ﷺ terhadap umatnya sangat besar
Dari hadits ini kita juga bisa melihat betapa lembutnya Nabi ﷺ dalam memberikan arahan. Beliau tidak memarahi orang yang salat sambil mengantuk, tapi justru menyarankan solusi terbaik. Ini adalah teladan dalam menyampaikan kebaikan dan membimbing umat dengan kasih sayang. Allah ﷻ memuji akhlak Nabi dalam QS At-Taubah: 128: لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ...
بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
(Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri... terhadap orang-orang beriman sangat penyantun lagi penyayang). Maka dari itu, umat Islam juga harus meneladani kelembutan beliau dalam membimbing sesama.
Penutupan Kajian
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Setelah kita pelajari bersama hadits yang agung ini, kita semakin paham bahwa Islam adalah agama yang tidak memberatkan, tetapi justru memperhatikan kondisi dan kemampuan hamba. Hadits ini mengajarkan bahwa salat bukan sekadar gerakan lahiriah, tapi dialog yang agung antara hamba dan Rabb-nya, yang harus dijalani dengan sadar, tenang, dan penuh khusyuk. Maka, jika rasa kantuk telah melemahkan kesadaran dan kekhusyukan, istirahat sejenak justru menjadi jalan untuk menyempurnakan ibadah, bukan mengabaikannya.
Faedah besar dari hadits ini adalah bahwa Allah menghendaki kualitas dalam ibadah, bukan sekadar kuantitas. Kita diajarkan untuk tidak memaksakan diri, menjaga lisan saat salat, dan senantiasa menghadirkan hati ketika bermunajat. Ini menjadi pengingat bahwa salat adalah sarana kita mendekat kepada Allah, dan harus dilakukan dalam keadaan terbaik yang kita mampu.
Harapan kami, semoga setelah mengikuti kajian ini, kita semua semakin bijak dalam menyikapi ibadah. Jangan ragu untuk mengambil jeda sejenak jika tubuh kita lelah. Jangan paksakan salat jika akal dan hati belum siap. Dan yang paling penting, semoga setiap rakaat salat yang kita lakukan ke depan dipenuhi dengan kekhusyukan, kesadaran, dan rasa cinta kepada Allah ﷻ. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menjaga kualitas ibadah dan diberi taufik untuk istiqamah dalam memperbaikinya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ
نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan
rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang
baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.