Hadits: Satu Kalimat Bisa ke Surga atau ke Neraka
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang menciptakan lisan dan mengajarkan manusia cara berbicara. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, suri teladan dalam menjaga lisan dan menebar kebaikan dengan kata-kata.
Para hadirin rahimakumullah,
Hari ini kita hidup di zaman di mana informasi menyebar begitu cepat, dan lisan — atau dalam konteks digital, jari-jemari — menjadi senjata yang sangat kuat. Satu ucapan, satu komentar, satu status, atau satu potongan video pendek bisa menjatuhkan martabat seseorang, menghasut kebencian, menimbulkan fitnah, bahkan memecah belah keluarga dan umat. Yang menyedihkan, banyak di antara kita tidak merasa bersalah setelah mengucapkan atau menyebarkan kata-kata tersebut. Kita anggap itu hal sepele. Kita pikir itu hanya candaan, kelakar, atau sekadar membalas emosi sesaat.
Namun hadits yang akan kita kaji hari ini membongkar anggapan itu. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa satu perkataan — yang seringkali tidak kita pedulikan, "لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا" — bisa menjadi sebab naiknya derajat kita di surga, atau sebaliknya, menjatuhkan kita ke dalam neraka Jahannam. Inilah realita yang luput dari kesadaran banyak orang: bahwa ucapan bukanlah sekadar suara, tetapi tanggung jawab. Dan setiap kata akan dicatat oleh malaikat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.
Oleh karena itu, hadits ini sangat urgen untuk dipelajari dan direnungkan. Kita semua adalah pengguna lisan, dan di zaman ini, pengguna media sosial yang setiap hari menulis, berbicara, membagikan, bahkan mengomentari. Maka hadits ini bukan hanya untuk para dai, bukan hanya untuk para khatib atau guru, tetapi untuk setiap muslim — anak muda, orang tua, bahkan ibu rumah tangga sekalipun. Karena setiap kita memiliki lisan, dan setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang keluar darinya.
Maka mari kita simak dan renungkan hadits yang agung ini, agar Allah karuniakan kepada kita kemampuan untuk menjaga lisan, menahan dari kata-kata yang sia-sia dan berdosa, serta membiasakan diri berkata yang baik atau diam. Semoga kajian ini menjadi sebab terjaganya kehormatan kita di dunia dan keselamatan kita di akhirat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا،
يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي
جَهَنَّمَ
Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu
perkataan yang berasal dari keridhaan Allah, yang ia anggap ringan, namun Allah
mengangkatnya beberapa derajat karenanya. Dan sungguh seorang hamba benar-benar
mengucapkan satu perkataan yang berasal dari kemurkaan Allah, yang ia anggap
ringan, namun ia terjerumus karenanya ke dalam neraka Jahannam.
HR.
al-Bukhari (6478) dan Muslim (2988).
Arti dan Penjelasan per Perkataan
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ
Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang berasal
dari keridhaan Allah.
Perkataan ini menekankan bahwa seorang hamba bisa saja
mengucapkan satu kalimat yang diridhai oleh Allah, meskipun tampak sederhana
atau spontan.
Kalimat tersebut bisa berupa pujian kepada Allah, ajakan
kepada kebaikan, nasihat yang ikhlas, atau sikap yang menunjukkan keimanan dan
tawakal.
Meskipun ia tidak menyadari pengaruh besar dari
ucapannya, Allah mencintai perkataan tersebut karena lahir dari hati yang tulus
dan niat yang bersih.
Ini menunjukkan bahwa ucapan seorang mukmin tidak boleh
diremehkan nilainya, karena bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah
dan mengundang rahmat-Nya.
لَا يُلْقِي لَهَا
بَالًا
Ia tidak memperhatikannya.
Kalimat ini menggambarkan bahwa sang hamba tidak
menganggap penting atau besar perkataan itu.
Ia tidak bermaksud mencari pahala besar atau menunjukkan
ketakwaan lewat ucapannya, namun ia mengatakannya dengan niat yang ikhlas tanpa
beban riya.
Dalam pandangannya, itu hanya ucapan biasa, namun di
sisi Allah, nilainya sangat tinggi.
Ini menunjukkan bahwa amal yang tampak kecil dan ringan
bisa menjadi sangat agung karena niat yang lurus dan kesesuaiannya dengan ridha
Allah.
يَرْفَعُهُ اللَّهُ
بِهَا دَرَجَاتٍ
Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan itu.
Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Menghitung amal
hamba-Nya, membalas satu ucapan tersebut dengan kebaikan yang berlipat.
Ia menaikkan derajat hamba itu di dunia dalam bentuk
kemuliaan, dan di akhirat dengan kedudukan tinggi di sisi-Nya.
Ini menegaskan bahwa amal yang paling sederhana pun bisa
menjadi sebab keselamatan dan kemuliaan seorang mukmin jika dilakukan dengan
niat yang benar dan sesuai dengan syariat.
Derajat yang Allah berikan ini tidak terbatas pada satu
bentuk, tetapi bisa berupa ilmu, kemuliaan, pahala, atau bahkan kedekatan
dengan Allah.
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ
Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang
berasal dari kemurkaan Allah.
Sebagaimana satu kata dapat membawa kepada ridha Allah,
satu kata pula bisa membawa kepada murka-Nya.
Perkataan yang menyakitkan, menyesatkan, menghina agama,
menyebarkan fitnah, atau mencemooh kebenaran bisa menjadi sebab kemurkaan
Allah.
Sering kali, seseorang tidak sadar bahwa lisannya
menjadi sumber dosa besar.
Allah murka bukan semata karena kata itu kasar, tapi
karena ia bertentangan dengan nilai iman, menyebarkan kerusakan, dan keluar
dari hati yang kotor.
Ini menunjukkan pentingnya menjaga lisan dan berpikir
sebelum berbicara.
لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا
Ia tidak memperhatikannya.
Hamba ini mengucapkan perkataan buruk tersebut tanpa
merasa khawatir atau peduli akan dampaknya.
Ia tidak menganggap bahwa kalimat itu bisa berdosa
besar, atau bahkan membahayakan dirinya di akhirat. Sikap ini adalah bentuk
kelalaian dan kelancangan terhadap Allah.
Bisa jadi ia merasa bahwa ucapannya hanya candaan atau
ekspresi emosi sesaat, namun di sisi Allah, itu adalah pelanggaran terhadap
kehormatan, keimanan, atau nilai kebaikan.
Ini menjadi peringatan bahwa setiap kata memiliki
konsekuensi, baik atau buruk.
يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
Ia terjerumus karenanya ke dalam neraka Jahannam.
Inilah akibat dari kelalaian dalam menjaga lisan—satu
kata dapat menjadi sebab kehancuran abadi.
Allah memasukkan hamba tersebut ke dalam neraka karena
ucapannya yang buruk, menunjukkan bahwa dampak ucapan bisa lebih berbahaya
daripada perbuatan.
Kata-kata yang menghina agama, melecehkan sesama, atau
menyebarkan permusuhan dapat menyeret pelakunya ke dalam azab jika tidak
diiringi taubat.
Hadits ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab kita
atas lisan, dan bahwa neraka bukan hanya bagi perbuatan besar, tapi juga bagi
ucapan yang tak terjaga.
Syarah Hadits
اللِّسَانُ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ الْعَظِيمَةِ
Lisan adalah salah satu nikmat Allah yang agung
وَلَطَائِفِ صُنْعِهِ الْبَدِيعَةِ
dan bagian dari ciptaan-Nya yang halus dan indah
فَإِنَّهُ مَعَ صِغَرِ جِرْمِهِ
karena sesungguhnya meskipun bentuknya kecil
قَدْ يَكُونُ سَبَبًا فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ
ia bisa menjadi sebab masuk surga
أَوِ انْكِبَابِ صَاحِبِهِ عَلَى وَجْهِهِ فِي
النَّارِ
atau terjerumusnya pemiliknya dengan wajahnya ke dalam neraka
لِذَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْفَظَ
لِسَانَهُ
maka dari itu seorang muslim seharusnya menjaga lisannya
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ
dan dalam hadits ini
بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Rasulullah ﷺ menjelaskan
أَثَرَ الْكَلِمَةِ وَمَا يَتَرَتَّبُ
عَلَيْهَا
dampak dari suatu kata dan apa yang ditimbulkannya
مِنْ أَجْرٍ أَوْ وِزْرٍ
berupa pahala atau dosa
حَتَّى إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ
بِالْكَلِمَةِ
hingga seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kata
مِمَّا يَرْضَاهُ اللَّهُ وَيُحِبُّهُ
yang diridhai dan dicintai oleh Allah
لَا يَلْتَفِتُ لَهَا قَلْبُهُ وَبَالُهُ
namun hatinya dan pikirannya tidak memperhatikannya
لِقِلَّةِ شَأْنِهَا عِنْدَهُ
karena ia menganggapnya sepele
فَيَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ فِي
الْجَنَّةِ
maka Allah mengangkatnya beberapa derajat di surga karena kata itu
وَإِنَّهُ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ
الْوَاحِدَةِ
dan sesungguhnya ia benar-benar mengucapkan satu kata
مِمَّا يَكْرَهُهُ اللَّهُ وَلَا يَرْضَاهُ
yang dibenci dan tidak diridhai oleh Allah
لَا يَلْتَفِتُ بَالُهُ وَقَلْبُهُ
لِعِظَمِهَا
namun pikirannya dan hatinya tidak memperhatikan betapa besar bahayanya
وَلَا يَتَفَكَّرُ فِي عَاقِبَتِهَا
dan tidak memikirkan akibat dari kata itu
وَلَا يَظُنُّ أَنَّهَا تُؤَثِّرُ شَيْئًا
dan tidak menyangka bahwa itu akan berpengaruh apa-apa
وَلَكِنَّهَا عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمَةٌ فِي
قُبْحِهَا
padahal di sisi Allah itu sangat besar dalam keburukannya
فَيَهْوِي بِهَا
lalu ia terjerumus karena kata itu
أَيْ: يَنْزِلُ وَيَسْقُطُ بِسَبَبِهَا
yakni ia jatuh dan tergelincir karenanya
فِي دَرَكَاتِ جَهَنَّمَ
ke dalam tingkatan neraka Jahannam
وَهَذَا تَحْذِيرٌ لِلْمُسْلِمِ
dan ini adalah peringatan bagi seorang muslim
مِنْ خُطُورَةِ الْكَلِمَةِ
tentang bahaya sebuah kata
فَإِنَّ الْكَلِمَةَ إِذَا لَمْ تَخْرُجْ مِنَ
الْفَمِ
karena sesungguhnya kata jika belum keluar dari mulut
فَالْإِنْسَانُ مَالِكُهَا
maka manusia masih memilikinya
فَإِذَا خَرَجَتْ
tetapi jika telah keluar
كَانَ أَسِيرَهَا
ia menjadi tawanannya
وَفِي الْحَدِيثِ
dan dalam hadits ini
أَنَّ مَوْضُوعَ الْكَلَامِ
bahwa topik pembicaraan
هُوَ مَا يُحَدِّدُ أَثَرَهُ الْمُتَرَتِّبَ
عَلَيْهِ
itulah yang menentukan dampak yang ditimbulkan darinya
فَقَدْ يَخْرُجُ الْمُسْلِمُ مِنْ إِسْلَامِهِ
karena bisa jadi seorang muslim keluar dari Islamnya
بِسَبَبِ كَلِمَةٍ
karena satu kata
وَقَدْ يَنْصُرُ اللَّهُ الْإِسْلَامَ
بِكَلِمَةٍ
dan bisa saja Allah menolong Islam dengan satu kata
وَفِيهِ
dan di dalam hadits ini
التَّأَمُّلُ وَالتَّفَكُّرُ فِيمَا يَنْطِقُ
بِهِ الْإِنْسَانُ
terdapat anjuran untuk merenung dan memikirkan apa yang diucapkan manusia.
Sumber: https://dorar.net/hadith/sharh/13275
Pelajaran dari Hadits ini
1. Nilai Sebuah Perkataan yang Diridhai Allah
Perkataan إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ (Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang berasal dari keridhaan Allah) menunjukkan bahwa satu ucapan yang sesuai dengan kehendak Allah, walau ringan dan sederhana, bisa membawa pahala besar. Misalnya, ucapan tasbih, tahmid, doa yang tulus, nasihat baik, atau ajakan ke jalan yang benar. Semua itu dapat menjadi sebab keridhaan Allah karena menunjukkan keimanan dan kebaikan hati seseorang. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim: 24–25:أَلَمْ تَرَ كَيْفَ
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا
ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ
رَبِّهَا
(Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya).
2. Pentingnya Niat dan Keikhlasan dalam Ucapan
Perkataan لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا (Ia tidak memperhatikannya) mengajarkan bahwa meskipun seseorang tidak menyadari nilai besar dari ucapannya, Allah tetap membalasnya jika ia lahir dari niat yang ikhlas dan hati yang bersih. Ucapan yang keluar tanpa mengharap pujian atau pengakuan dari manusia, bisa sangat dicintai Allah karena mencerminkan ketulusan. Nabi ﷺ bersabda:إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّاتِ
(Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya) (HR. Bukhari no. 1).
Artinya, sekecil apapun amal—termasuk ucapan—akan dinilai dari hati yang melandasinya.
3. Ucapan yang Mengangkat Derajat di Sisi Allah
Perkataan يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ (Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan itu) menunjukkan bahwa pahala dari sebuah perkataan bisa menjadikan seseorang mulia di dunia dan akhirat. Derajat tersebut bisa berupa kemuliaan hati, kebaikan di tengah masyarakat, atau kedudukan di surga. Allah berfirman dalam QS. Al-Mujādilah: 11:يَرْفَعِ اللَّهُ
الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
(Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat).
Ucapan yang mengandung ilmu dan kebaikan, yang menyentuh hati orang lain, akan menjadi wasilah terangkatnya kedudukan seseorang.
4. Bahaya Perkataan yang Mengundang Murka Allah
Perkataan وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ (Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang berasal dari kemurkaan Allah) memperingatkan bahwa satu kalimat pun bisa menjadi sebab kemurkaan Allah jika bertentangan dengan syariat. Ucapan seperti celaan terhadap agama, dusta, ghibah, dan fitnah adalah bentuk-bentuk kalimat yang mengundang murka Allah. Firman-Nya dalam QS. Qāf: 18:مَا يَلْفِظُ مِنْ
قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
(Tidak satu pun ucapan yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir).
Setiap kata diawasi, dan kata yang menyebabkan kemurkaan bisa menghapus amal baik.
5. Lalai Menjaga Lisan adalah Bencana
Perkataan لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا (Ia tidak memperhatikannya) kembali ditegaskan untuk menunjukkan bahwa kelalaian terhadap bahaya ucapan bisa sangat merugikan. Banyak orang merasa ringan mengatakan sesuatu yang sebenarnya sangat berat dosanya. Mereka mengira ucapan itu biasa saja, padahal bisa menghancurkan kehormatan orang lain atau menebarkan permusuhan. Nabi ﷺ bersabda:وَإِنَّ الرَّجُلَ
لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنَ السُّخْطِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا
بَلَغَتْ، يَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ
(Seseorang sungguh-sungguh mengucapkan satu kata dari kemurkaan, ia tidak mengira sejauh mana dampaknya, namun Allah mencatat murka padanya hingga hari ia bertemu dengan-Nya) (HR. Malik dalam Al-Muwaththa’).
6. Ucapan Bisa Menjerumuskan ke Neraka
Perkataan يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ (Ia terjerumus karenanya ke dalam neraka Jahannam) menunjukkan bahwa satu kalimat saja bisa membawa seseorang pada kehancuran abadi. Ini menekankan pentingnya menjaga lisan karena konsekuensinya bukan hanya di dunia, tapi juga akhirat. Nabi ﷺ bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:وَهَلْ يَكُبُّ
النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ، إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟
(Bukankah manusia akan dijatuhkan ke neraka di atas wajah mereka, tidak lain kecuali karena hasil panen lisan mereka?)
Ini adalah peringatan keras agar seorang mukmin senantiasa berhati-hati terhadap setiap kata yang keluar dari lisannya.
7. Kontrol Lisan adalah Ciri Kesempurnaan Iman
Hadits ini juga mengandung pesan bahwa mengendalikan lisan adalah salah satu bukti sempurnanya iman seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda dalam HR. Bukhari-Muslim:مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
(Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam).
Maka diam saat tidak yakin kebaikan ucapan, atau menghindari debat, fitnah, dan ghibah adalah bentuk iman yang nyata.
8. Ucapan Bisa Menjadi Amal Jariyah atau Dosa Jariyah
Satu kalimat dapat tersebar luas melalui media sosial, menjadi sumber pahala terus-menerus jika baik, atau sebaliknya menjadi dosa berantai jika buruk. Perkataan dalam hadits ini mencakup semua bentuk media: lisan, tulisan, bahkan postingan daring. Nabi ﷺ bersabda dalam HR. Muslim:مَنْ سَنَّ فِي
الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً... وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً...
(Barang siapa memulai satu sunnah yang baik... dan barang siapa memulai satu sunnah yang buruk...)
Ini mencakup ucapan dan perbuatan yang ditiru banyak orang setelahnya.
Penutupan Kajian
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah ﷻ yang telah memudahkan kita duduk dalam majelis ilmu dan mengkaji hadits Nabi ﷺ yang sangat penting ini. Hadits yang kita pelajari hari ini bukanlah hadits biasa, tapi hadits yang membuka mata hati kita tentang betapa besar dampak sebuah ucapan, meski hanya satu kalimat, yang mungkin kita anggap ringan dan sepele.
Faedah hadits ini sangat jelas dan mendalam. Kita diajarkan bahwa lisan adalah nikmat besar dari Allah, namun juga bisa menjadi sebab celaka yang dahsyat jika tidak dijaga. Ucapan yang baik, yang diridhai Allah, walau kecil, bisa mengangkat derajat kita di surga. Sebaliknya, ucapan yang buruk, walau tampak remeh, bisa menyeret kita ke neraka, na‘ūdzu billāh.
Hadits ini juga mengajarkan pentingnya berpikir sebelum berbicara, merenungkan isi dan dampak dari setiap kata yang kita ucapkan. Ia juga mengajarkan bahwa diam adalah keselamatan, dan bahwa kata-kata adalah amanah yang harus dijaga.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kami berharap setelah kajian ini, kita semua menjadi lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih cerdas dalam menggunakan lisan, dan lebih bertanggung jawab dalam menyampaikan kata-kata — baik di dunia nyata maupun di media sosial. Jadikan hadits ini sebagai rem diri, sebagai pengingat dalam setiap interaksi harian kita: apakah ucapan kita membawa pahala atau dosa? Apakah perkataan kita mendekatkan kita ke surga atau justru menjerumuskan ke neraka?
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا
مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ
نَلْقَاكَ، وَاخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penghuni surga dengan
rahmat-Mu. Jadikanlah hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa
dengan-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman serta dengan akhir yang
baik.
وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ
إِلَىٰ أَقْوَمِ الطَّرِيقِ.
Kita tutup kajian dengan doa kafaratul majelis:
🌿 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
وَالسَّلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.