Khutbah: Mukmin Yang Kuat Lebih Baik Daripada Mukmin Yang Lemah

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ


KHUTBAH PERTAMA


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah,

Marilah kita sejenak merenungi realitas yang membentang di hadapan kita. Kita hidup di tengah pusaran zaman yang penuh dinamika, di mana informasi mengalir deras tanpa batas, tantangan datang silih berganti, dan ujian keimanan kerap menghampiri tanpa permisi. Ada di antara kita yang tampak kokoh menghadapi badai kehidupan, berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran, tak gentar menghadapi cemooh, dan terus berjuang menegakkan panji-panji Islam. Namun, tidak sedikit pula yang terombang-ambing, mudah goyah oleh godaan dunia, rentan terhadap bisikan syaitan, dan bahkan terkadang putus asa saat musibah menyapa.

 

Fenomena ini sejatinya bukanlah hal baru. Ia adalah cerminan dari pergulatan batiniah manusia sepanjang masa.

Lantas, bagaimana seorang mukmin seharusnya menyikapi fenomena ini?

Bagaimana kita bisa menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan senantiasa berorientasi pada kebermanfaatan?

Sesungguhnya, petunjuk agung telah Rasulullah sampaikan kepada kita, sebuah wasiat berharga yang mampu menjadi kompas penunjuk jalan di tengah lautan kehidupan.

 

Izinkanlah khatib pada kesempatan yang mulia ini untuk menyampaikan khutbah yang bertajuk: "Mukmin Yang Kuat Lebih Baik Daripada Mukmin Yang Lemah."

Hadits yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh sahabat mulia Abu Hurairah dan dicatat dalam Shahih Muslim, bukanlah sekadar deretan kata.

Ia adalah intisari bimbingan nabawi yang mengajak kita merefleksikan kembali hakikat kekuatan sejati seorang mukmin, pentingnya usaha, kebergantungan total kepada Allah, serta sikap pasrah yang benar di hadapan takdir Ilahi.

Kita akan mengurainya, bagian demi bagian, kalimat demi kalimat, agar maknanya meresap dalam sanubari dan menggerakkan amal perbuatan kita.


Pembacaan Hadits


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (2664), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ (لَوْ) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Jika suatu musibah menimpamu, maka janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”


Arti dan Penjelasan Per Kalimat


Marilah kita selami makna hadits agung ini, memetik hikmah dari setiap perkataan yang terucap dari lisan mulia Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar kita mendapatkan pencerahan.


Hadits ini dimulai dengan kalimat

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masingnya tetap ada kebaikan.

Kata الْمُؤْمِنُ menunjukkan bahwa tolok ukur utama dalam hadits ini adalah keimanan, bukan sekadar kekuatan fisik atau status sosial.

Istilah الْقَوِيُّ  bermakna kuat secara menyeluruh, mencakup kekuatan iman, mental, ilmu, tekad, dan juga fisik bila dibutuhkan untuk ketaatan.

Ungkapan خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ  menegaskan bahwa kekuatan yang digunakan dalam ketaatan menjadikan seorang mukmin lebih bermanfaat dan lebih dicintai Allah.

Kalimat وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ  memberikan penyeimbang agar tidak merendahkan mukmin yang lemah, karena iman tetap memiliki nilai kebaikan di sisi Allah.



احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu.

Kata احْرِصْ  mengandung makna kesungguhan, fokus, dan komitmen yang berkelanjutan, bukan sekadar keinginan sesaat.

Ungkapan مَا يَنْفَعُكَ  bersifat umum, mencakup manfaat dunia dan akhirat, baik dalam urusan ibadah, pekerjaan, ilmu, maupun kehidupan sosial.

Hadits ini mengajarkan prioritas hidup agar seorang mukmin tidak sibuk pada hal sia-sia yang menguras tenaga tanpa nilai kebaikan.


وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ
Mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah.

Perintah وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ  menegaskan bahwa usaha manusia harus selalu disertai ketergantungan hati kepada Allah.

Larangan وَلَا تَعْجِزْ  berarti jangan menyerah, malas, atau putus asa sebelum berusaha maksimal.

Kalimat ini menanamkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar dalam kehidupan sehari-hari.


وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا
Jika suatu musibah menimpamu, maka janganlah engkau berkata: “Seandainya tadi aku melakukan ini, pasti akan begini dan begitu.”

Kata أَصَابَكَ شَيْءٌ  mencakup segala bentuk kejadian yang tidak diinginkan, baik kegagalan, kerugian, maupun musibah.

Larangan mengucapkan لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ  mengajarkan agar tidak terjebak pada penyesalan berlebihan yang melemahkan jiwa.

Kalimat ini melatih mukmin untuk menghadapi masa lalu dengan sikap dewasa dan penuh iman.


وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
Akan tetapi ucapkanlah: “Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, itulah yang Dia lakukan.”

Ungkapan قَدَرُ اللَّهِ  menanamkan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi dengan ketentuan dan ilmu Allah.

Kalimat وَمَا شَاءَ فَعَلَ  menunjukkan sikap ridha dan pasrah setelah melakukan usaha terbaik.

Sikap ini menenangkan hati dan menjaga kestabilan mental seorang mukmin dalam menghadapi ujian hidup.


فَإِنَّ (لَوْ) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Karena sesungguhnya kata “seandainya” membuka pintu perbuatan setan.

Kata تَفْتَحُ  menunjukkan bahwa ucapan tertentu dapat menjadi pintu masuk godaan dan bisikan setan.

Istilah عَمَلَ الشَّيْطَانِ  mengarah pada bisikan putus asa, penyesalan berlebihan, dan protes terhadap takdir.

Hadits ini menutup pembahasan dengan peringatan agar seorang mukmin menjaga lisan dan hati dari sikap yang merusak iman.


Faedah Hadits Berdasarkan Urutan Perkataan


Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah,

Dari setiap perkataan dalam hadits yang agung ini, terpancar mutiara hikmah yang tak ternilai harganya. Mari kita dalami pelajaran-pelajaran penting ini dan jadikan sebagai bekal dalam menapaki jalan kehidupan.


Pelajaran pertama:

Urgensi Menjadi Mukmin yang Kuat di Segala Sisi

Hadits ini dengan tegas mengedepankan mukmin yang kuat sebagai pribadi yang khairun wa ahabbu ilallah (خير وأحب إلى الله) – lebih baik dan lebih dicintai Allah.

Ini adalah seruan untuk kita tidak berpuas diri dengan keimanan yang pasif.

Kekuatan yang dimaksud mencakup spektrum yang luas (ada 6 kekuatan yang perlu diperhatikan):

(1)      Kekuatan Iman: Ini adalah fondasi utama. Iman yang kuat adalah iman yang tidak goyah oleh cobaan, tidak luntur oleh godaan dunia, dan selalu memancarkan keyakinan akan kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ia adalah iman yang mendorong kita untuk taat dan menjauhi maksiat.

(2)      Kekuatan Ibadah: Mukmin yang kuat adalah yang konsisten dalam ibadah fardhu maupun sunnah, yang khusyuk dalam shalat, tekun membaca Al-Qur'an, dan bersemangat dalam berzikir. Ini akan menguatkan hubungan kita dengan Sang Pencipta.

(3)      Kekuatan Akal dan Ilmu: Islam menganjurkan kita untuk menjadi pribadi yang cerdas, berilmu, dan kritis dalam menyaring informasi. Dengan ilmu, kita dapat membuat keputusan yang bijak, membedakan yang haq dan batil, serta memberikan kontribusi nyata bagi umat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ

"...niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

(4)      Kekuatan Fisik dan Kesehatan: Tubuh adalah amanah dari Allah. Mukmin yang kuat fisiknya akan lebih mampu beribadah, bekerja mencari nafkah, berdakwah, dan membela agama-Nya. Jagalah kesehatan kita agar bisa beramal shalih secara optimal.

(5)      Kekuatan Moral dan Akhlak: Ini adalah cerminan keimanan yang sejati. Mukmin yang kuat akhlaknya adalah yang jujur, amanah, adil, pemaaf, dan berani menegakkan kebenaran.

(6)      Kekuatan Ekonomi dan Kemandirian: Seorang mukmin yang mandiri secara ekonomi akan lebih leluasa dalam beribadah, berinfak, dan tidak mudah terjerat oleh bujuk rayu dunia atau ketergantungan pada sesama manusia.

Mari kita introspeksi diri, di bidang apa saja kita bisa memperkuat diri demi meraih cinta dan keridhaan Allah.


Pelajaran Kedua: Optimisme dan Penghargaan atas Kebaikan Sekecil Apapun

Perkataan wa fi kullin khair (وفي كلٍّ خيرٌ) – dan pada masing-masing ada kebaikan – adalah pesan yang menghangatkan hati. Ia mengajarkan kita untuk tidak meremehkan kebaikan yang ada pada diri seseorang, betapapun ia tampak "lemah" di mata kita.

Ini juga menguatkan hati bagi kita yang merasa belum mampu mencapai derajat mukmin yang ideal, maka.

(1) Jangan Putus Asa:

Jika kita merasa belum mencapai level kekuatan yang ideal, janganlah berputus asa.

Setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah kebaikan itu sendiri yang dicatat di sisi Allah.

(2) Hargai Diri dan Orang Lain:

Kenali potensi kebaikan dalam diri kita dan terus kembangkan.

Dan yang tak kalah penting, jangan meremehkan orang lain.

Mungkin ada kebaikan tersembunyi pada mereka yang tidak kita ketahui.

Ini adalah ajakan untuk senantiasa optimis, terus berproses, dan menanamkan nilai-nilai positif dalam setiap interaksi.


Pelajaran Ke-3:

Proaktif dalam Mencari Manfaat dan Meminta Pertolongan Allah

Perintah ihris 'ala ma yanfa'uka (احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ) – bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu – adalah seruan untuk menjadi pribadi yang proaktif, berinisiatif, dan produktif.

Seorang mukmin sejati bukanlah pribadi yang pasif, malas, atau hanya menunggu kebaikan datang tanpa usaha. Maka:

(1) Identifikasi Manfaat:

Mulailah dengan mengidentifikasi apa saja yang benar-benar bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita.

Apakah itu ilmu, keterampilan, kesehatan, harta yang halal, atau amal shalih?

Fokuslah pada hal-hal tersebut.

 

(2) Berusaha dengan Maksimal:

Setelah mengidentifikasi, berusahalah dengan segenap daya dan upaya.

Jangan setengah-setengah. Kerahkan seluruh potensi yang Allah berikan.

 

(3) Tawakal yang Benar:

Setelah semua usaha maksimal kita lakukan, barulah kita sandarkan segala hasilnya kepada Allah.

Inilah esensi dari wasta'in billah (وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ) – dan mohonlah pertolongan kepada Allah. Kita berusaha, Allah yang menentukan.

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung: ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang."

 

(4) Jauhi Kelemahan dan Kemalasan:

Pesan wa la ta'jiz (وَلَا تَعْجِزْ) – dan janganlah engkau menjadi lemah/malas/putus asa – adalah penekanan agar kita tidak menyerah pada kemalasan atau keputusasaan.

Kelemahan dan keputusasaan adalah pintu gerbang menuju stagnasi dan kegagalan.

Bangkitlah, terus berusaha, karena Allah menyukai hamba-Nya yang berjuang.


Pelajaran Keempat:

Sikap Benar dalam Menghadapi Takdir dan Menutup Pintu Syaitan

Bagian terakhir hadits ini adalah panduan emas saat musibah atau hal yang tidak diinginkan menimpa kita.

Ia melarang ucapan lau anni fa'altu kana kadza wa kadza (لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا) – seandainya aku melakukan demikian dan demikian, niscaya akan terjadi demikian dan demikian. Maka:

(1)       Hindari Penyesalan Berlebihan:

Penyesalan atas sesuatu yang telah berlalu, apalagi jika disertai dengan "andai-andai" yang mempertanyakan takdir Allah, adalah sikap yang tidak produktif dan bisa merusak hati. Ini bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi diri, namun jangan sampai evaluasi itu menjadi penyesalan yang mendalam hingga menggerogoti iman.

 

(2) Tanamkan Keyakinan pada Takdir:

Solusinya adalah dengan mengatakan qadarullah wa ma syaa'a fa'ala (قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ) – Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.

Ini adalah manifestasi keimanan kita pada Qada dan Qadar Allah.

Mengimani bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya yang Maha Bijaksana, meskipun kita tidak selalu memahami hikmah di baliknya. Keyakinan ini akan menenangkan hati dan melapangkan dada.

 

(3) Bentengi Diri dari Bisikan Syaitan:

Peringatan fa inna (law) taftahu 'amala asy-Syaithan (فَإِنَّ (لَوْ) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ) – karena sesungguhnya (kata) 'seandainya' itu membuka pintu bagi perbuatan syaitan – adalah alarm bagi kita.

Syaitan sangat senang ketika seorang hamba dilanda penyesalan, keraguan, dan ketidakpuasan terhadap takdir Allah.

Dengan "andai-andai" ini, syaitan bisa menumbuhkan kesedihan berkepanjangan, kekecewaan mendalam, bahkan menggerogoti keimanan hingga seseorang menyalahkan Tuhan.

Maka, setelah berusaha semaksimal mungkin, dan takdir datang tidak sesuai harapan, katakanlah: "Ini adalah ketetapan Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan." Kemudian, bangkit dan tatap masa depan dengan semangat baru, tanpa terbelenggu masa lalu.


Penutup Khutbah Pertama


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Secara keseluruhan, hadits Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam ini adalah peta jalan yang komprehensif bagi setiap mukmin untuk meraih kehidupan yang berkualitas, baik di dunia maupun di akhirat.

Ia mendorong kita menjadi pribadi yang kuat secara menyeluruh, bersemangat dalam mencari kebaikan dan manfaat, senantiasa mengandalkan Allah dalam setiap usaha, tidak mudah menyerah pada kelemahan, dan memiliki sikap yang benar dalam menghadapi takdir, yakni menerima dengan lapang dada tanpa terjebak dalam penyesalan yang membuka pintu bagi tipu daya syaitan.

Ini adalah bimbingan agung yang membentuk karakter mukmin sejati yang produktif, optimis, dan bertawakal penuh kepada Rabb-nya.

Tanggung jawab kita bersama adalah tidak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat ini.


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


KHUTBAH KEDUA


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah,

Melanjutkan dari khutbah pertama, marilah kita jadikan hadits agung yang baru saja kita bedah ini sebagai cermin untuk mengoreksi diri dan peta jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Hadits ini bukan sekadar teori, melainkan seruan untuk perubahan nyata dalam setiap aspek hidup kita.

Pertama, mari ubah cara pandang kita terhadap ilmu dan amal. Jangan hanya berpuas diri dengan ibadah rutinitas.

Raihlah ilmu syar'i agar iman kita kokoh, dan raihlah ilmu dunia yang bermanfaat agar kita menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan mampu memberi kontribusi maksimal bagi kemaslahatan umat.

Ingatlah sabda Nabi, 'IHRISH 'ALA MA YANFA'UKA'"Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu." Jadilah pembelajar seumur hidup, karena ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan.

 

Kedua, tanamkan dalam jiwa kita semangat pantang menyerah dan optimisme.

Di hadapan setiap tantangan, jadikan ia sebagai peluang untuk tumbuh. Ketika kegagalan menghampiri, jangan biarkan ia membelenggu. Angkatlah kepala dan katakan, 'WASTA'IN BILLAHI WA LA TA'JIZ'"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau menjadi lemah/putus asa."

Kekuatan sejati datang dari keyakinan bahwa bersama Allah, tidak ada yang tidak mungkin.

 

Ketiga, latih hati kita untuk menerima takdir dengan lapang dada.

Ketika musibah datang, atau harapan tak sejalan dengan kenyataan, hindarilah kata "seandainya" yang menyesatkan. Cukuplah kita berucap, 'QADARULLAHI WA MA SYAA-A FA'ALA'"Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan."

Kalimat ini adalah perisai dari bisikan syaitan yang ingin menjerumuskan kita pada kekecewaan dan ketidakpuasan. Keimanan pada takdir akan membebaskan hati dari beban penyesalan dan membuka jalan menuju ketenangan batin.

 

Wahai kaum muslimin, mari kita jadikan diri kita mukmin yang kuat dalam segala dimensi: kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat fisiknya, kuat akhlaknya, dan kuat ekonominya. Kuat bukan untuk sombong, melainkan untuk lebih banyak memberi manfaat, lebih banyak membela kebenaran, dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah.

Marilah kita menengadahkan tangan, memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ الْأَقْوِيَاءِ الَّذِينَ يُحِبُّونَكَ وَتُحِبُّهُمْ، وَتَوَكَّلُوا عَلَيْكَ حَقَّ التَّوَكُّلِ، وَرَضُوا بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang mukmin yang kuat, yang mencintai-Mu dan Engkau mencintai mereka, yang bertawakal kepada-Mu dengan sebenar-benar tawakal, dan yang ridha dengan ketetapan dan takdir-Mu.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَحْرِصُونَ عَلَى مَا يَنْفَعُهُمْ، وَلَا يَضْعُفُونَ وَلَا يَعْجِزُونَ، وَاجْعَلْنَا صَابِرِينَ شَاكِرِينَ عِنْدَ الْبَلَاءِ، غَيْرَ قَائِلِينَ مَا يَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersemangat pada apa yang bermanfaat bagi mereka, yang tidak lemah dan tidak putus asa, dan jadikanlah kami orang-orang yang sabar dan bersyukur saat ditimpa musibah, dan tidak mengucapkan perkataan yang membuka pintu bagi perbuatan syaitan.

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا.

Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada jiwa-jiwa kami, sucikanlah ia karena Engkau sebaik-baik Dzat yang mensucikannya, Engkaulah Pelindung dan Penguasanya.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab api neraka.

 

[Penutup]

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

وَأَقِمِ الصَّلاةَ

 

 

Tampilkan Kajian Menurut Kata Kunci

  • Silakan pilih label dan klik tampilkan.