Hadits: Masa Semangat dan Masa Futur (Bosan) Dalam Ibadah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
وَمَنْ وَالَاهُ، أَمَّا بَعْدُ
Jama’ah sekalian yang dirahmati Allah,
Di zaman sekarang ini, kita menyaksikan dua fenomena ekstrem dalam kehidupan beragama. Di satu sisi, ada sebagian kaum Muslimin yang bersemangat tinggi dalam beribadah—mereka menggiatkan tahajjud, puasa sunnah, sedekah, dan berbagai amal saleh lainnya. Namun sayangnya, semangat itu tidak jarang melampaui batas yang diajarkan Nabi ﷺ. Mereka ingin serba maksimal, namun tidak mempertimbangkan kemampuan diri, sehingga kelelahan, jenuh, bahkan berhenti sama sekali dari amal.
Di sisi lain, ada pula yang terlalu longgar. Mereka menganggap bahwa berlebihan itu berbahaya, sehingga akhirnya bersikap santai dalam ibadah, tidak konsisten, dan tidak merasa perlu menjaga kontinuitas dalam amal. Akhirnya, ibadah jadi musiman, keimanan pun turun-naik tak terarah.
Fenomena semangat membara yang tidak berkesinambungan ini bukanlah hal baru. Bahkan Rasulullah ﷺ telah menyampaikan peringatan dan pengarahan yang sangat relevan dalam hadits yang akan kita pelajari hari ini. Beliau menggambarkan bahwa setiap amal pasti memiliki fase semangat tinggi (syirrah), dan kemudian akan datang fase lemah atau kendor (fatrah). Maka, siapa yang dalam fase lemah itu tetap berada di atas sunnah, maka dia telah mendapat petunjuk. Sebaliknya, jika lemah itu membuatnya keluar dari jalur Nabi ﷺ, maka dia tergelincir dalam kebinasaan.
Oleh karena itu, hadits ini sangat penting untuk kita pahami bersama. Ia membimbing kita agar semangat ibadah tidak menjadi racun bagi diri kita sendiri. Ia menuntun kita untuk membangun keistiqamahan dalam beramal, bukan sekadar berapi-api di awal tapi habis di tengah jalan. Terlebih di zaman serba cepat ini, ketika orang mudah membakar semangat tapi lemah dalam ketekunan dan kesabaran.
Maka, mari kita duduk dengan hati yang terbuka. Kita pelajari hadits ini secara runtut, agar kita bisa beribadah sesuai petunjuk Nabi ﷺ—bukan hanya semangat, tapi juga istiqamah dan selamat.
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ
شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي
فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
Sesungguhnya setiap amal itu memiliki masa semangat, dan
setiap masa semangat akan diikuti masa futur (lemah semangat). Maka barangsiapa
masa semangatnya menuju sunnahku, sungguh ia telah beruntung. Dan barangsiapa
masa lemahnya tidak menuju (sunnahku), maka sungguh ia telah binasa.
HR. Ahmad (6958), Ibnu Hibban (11), Thabrani (14274).
Arti
dan Penjelasan Per Kalimat
إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً
Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat
Perkataan ini menegaskan sunnatullah dalam jiwa manusia bahwa setiap amal kebaikan biasanya diawali dengan syirrah, yaitu semangat yang kuat, dorongan batin yang tinggi, dan antusiasme yang meluap.
Secara bahasa, شِرَّةً bermakna puncak gairah dan kekuatan dorongan, masa semangat yang menggebu-gebu.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini tampak ketika seseorang baru hijrah, baru mulai mengaji, atau baru menjalankan ibadah tertentu dengan penuh energi dan idealisme.
Islam tidak menafikan kondisi ini, bahkan mengakuinya sebagai bagian alami dari dinamika amal manusia.
وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً
Dan setiap masa semangat akan diikuti dengan masa lemah (futur)
Perkataan ini menjelaskan bahwa setelah puncak semangat, akan datang فَتْرَةً, yaitu masa menurun, melambat, atau berkurangnya dorongan.
Secara bahasa, fatrah berarti terputus, melemah, atau tidak sekuat sebelumnya.
Dalam praktik sehari-hari, fatrah bisa berupa rasa malas, jenuh, atau berkurangnya intensitas ibadah. Penurunan semangat bukanlah penyimpangan, melainkan fase manusiawi yang harus disikapi dengan bijak.
فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي
فَقَدْ أَفْلَحَ
Barangsiapa masa semangatnya menuju sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung
Perkataan ini memberikan standar penilaian terhadap masa semangat, yaitu arahnya harus mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bukan sekadar banyak atau beratnya amal.
Secara istilah, mengikuti sunnah berarti menempatkan ibadah dalam koridor keseimbangan, kontinuitas, dan tuntunan Rasulullah.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti bersemangat beribadah tanpa berlebihan, tidak memaksakan diri, dan tetap memperhatikan hak tubuh, keluarga, dan pekerjaan.
Keberuntungan sejati menurut hadits ini bukan pada ibadah yang ekstrim, tetapi pada kesesuaian ibadah dengan sunnah Nabi ﷺ.
وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ
ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ
Dan barangsiapa masa lemahnya tidak menuju ke (sunnahku), maka sungguh ia telah
binasa
Perkataan ini adalah peringatan keras bahwa fatrah menjadi berbahaya ketika membawa seseorang keluar dari batas sunnah.
Secara makna, kebinasaan di sini bukan hanya fisik, tetapi kerusakan iman dan istiqamah.
Dalam keseharian, hal ini tampak ketika seseorang meninggalkan ibadah wajib, meremehkan dosa, atau menjadikan fatrah sebagai alasan untuk kembali pada maksiat.
Yang menentukan keselamatan bukan ada atau tidaknya fatrah, melainkan ke mana fatrah itu membawa arah hidup seseorang.
Syarah Hadits
مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى
بِالْمُسْلِمِينَ
Dari rahmat Allah Ta‘ala kepada kaum Muslimin
أَنْ جَعَلَ لَهُمْ هٰذَا الدِّينَ يُسْرًا
Bahwa Dia menjadikan agama ini mudah bagi mereka
وَقَدْ حَثَّنَا نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan Nabi kita ﷺ telah menganjurkan kita
عَلَى الْاقْتِصَادِ فِي الْعِبَادَةِ
Untuk bersikap seimbang dalam beribadah
مَعَ الْإِخْلَاصِ فِيهَا وَالتَّسْدِيدِ
وَالْمُقَارَبَةِ
Dengan disertai keikhlasan, tepat sasaran, dan pendekatan yang bijak
وَنَهَانَا عَنِ التَّشَدُّدِ وَالْغُلُوِّ
Dan beliau melarang kita dari sikap berlebihan dan melampaui batas
وَعَنِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ
بِالْأَعْمَالِ
Dan dari riya dan mencari popularitas dengan amal
وَفِي هٰذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan dalam hadits ini Nabi ﷺ bersabda
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ
Sesungguhnya setiap sesuatu itu memiliki
أَيْ: جَمِيعِ الْأَشْيَاءِ وَالْأُمُورِ؛
كَالْعَمَلِ وَالْعِبَادَةِ وَالِاجْتِهَادِ، وَالْحُبِّ وَالْكُرْهِ، وَغَيْرِ
ذٰلِكَ، لَهُ،
Yaitu semua hal seperti amal, ibadah, kesungguhan, cinta, benci, dan yang
semisalnya itu mempunyai
شِرَّةً
Semangat membara
أَيْ: نَشَاطًا وَشِدَّةً وَحِرْصًا
وَرَغْبَةً فِي أَوَّلِهِ
Yaitu gairah, kekuatan, keinginan, dan antusiasme di awalnya
وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ
Dan setiap semangat membara itu ada masa kendurnya
أَيْ: ضَعْفٌ وَخُمُولٌ وَسُكُونٌ فِي آخِرِهِ
Yaitu berupa kelemahan, kelesuan, dan ketenangan di akhirnya
فَالْعَابِدُ يُبَالِغُ فِي الْعِبَادَةِ
أَوَّلًا
Maka seorang ahli ibadah biasanya berlebihan dalam ibadah di awalnya
ثُمَّ تَسْكُنُ شِرَّتُهُ وَتَفْتُرُ
عَزِيمَتُهُ
Lalu semangatnya mereda dan tekadnya melemah
لِذَا أَمَرَ بِهٰذَا
Karena itu beliau memerintahkan hal ini
فَمَنْ كَانَ فَتْرَتُهُ
Barang siapa masa kendurnya...
أَيْ: فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَةُ خُمُولِهِ
وَضَعْفِهِ
Yaitu barang siapa masa lemahnya dan kelesuannya itu...
إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى
Menjadi sesuai dengan sunnahku, maka sungguh ia telah mendapat petunjuk
وَسُنَّةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ هِيَ الْاقْتِصَادُ وَالتَّوَسُّطُ
Sunnah Nabi ﷺ adalah bersikap seimbang dan pertengahan
مَعَ الْمُدَاوَمَةِ وَالْإِخْلَاصِ لِلَّهِ
Dengan terus menerus dan ikhlas karena Allah
وَعَدَمِ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ
Dan tidak mencari riya atau ketenaran
وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ فَقَدْ
هَلَكَ
Dan barang siapa tidak sesuai dengan itu maka dia binasa
لِأَنَّ مَنْ سَلَكَ غَيْرَ هَدْيِهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ مِنَ الْهَالِكِينَ
Karena siapa saja yang menempuh jalan selain petunjuk Nabi ﷺ, maka ia termasuk
orang yang binasa
وَفِي الْحَدِيثِ: حَثٌّ عَلَى لُزُومِ
السُّنَّةِ
Dan dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berpegang teguh pada sunnah
Maraji: https://dorar.net/hadith/sharh/121322
Pelajaran dari Hadits ini
1. Semangat dalam beramal adalah bagian dari fitrah manusia
Perkataan إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً (Sesungguhnya setiap amal memiliki masa semangat) mengajarkan bahwa semangat menggebu dalam berbuat kebaikan adalah hal yang wajar dan bagian dari sifat dasar manusia. Saat seseorang mulai merasakan manisnya iman, biasanya ia terdorong untuk memperbanyak ibadah, belajar agama, bersedekah, atau berdakwah dengan semangat tinggi. Ini adalah fase yang sangat baik, namun perlu diiringi dengan ilmu dan bimbingan agar semangat tersebut tidak berlebihan atau menyalahi syariat. Nabi ﷺ tidak melarang semangat itu, bahkan mengakuinya sebagai sesuatu yang terjadi pada semua orang. Semangat ini harus dikelola agar bisa bertahan lama dan tetap dalam koridor yang benar.
2. Futur adalah keniscayaan, bukan aib
Perkataan وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً (Dan setiap masa semangat akan diikuti dengan masa lemah) menekankan bahwa kondisi menurunnya semangat bukanlah sebuah keburukan selama masih berada dalam batas ketaatan. Nabi ﷺ tidak menyuruh kita untuk selalu berada di puncak semangat, tapi mengajarkan bahwa masa lemah itu pasti datang, dan yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Futur bisa menjadi fase evaluasi diri dan memperbaiki niat, bukan alasan untuk meninggalkan amal. Bahkan para sahabat pun mengalami futur. Karena itu, masa futur seharusnya menjadi sarana untuk menjaga istikamah, bukan titik jatuh dalam kemaksiatan.3. Ikuti sunnah di masa semangat, agar tetap selamat
Perkataan فَمَنْ كَانَتْ شِرَّتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ (Barangsiapa masa semangatnya menuju sunnahku, maka sungguh ia telah beruntung) menjadi kunci keselamatan amal. Rasulullah ﷺ memberi panduan bahwa di saat kita sedang semangat, arahkanlah semangat itu untuk mengikuti sunnah beliau, bukan sekadar mengikuti hawa nafsu atau inovasi tanpa tuntunan. Sunnah bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam akhlak, muamalah, dan cara hidup. Orang yang membatasi semangatnya agar tidak keluar dari jalan Nabi ﷺ, itulah yang benar-benar mendapat keberuntungan dunia dan akhirat.قال رسول الله ﷺ: فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
(Artinya: "Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk; gigitlah ia dengan gigi geraham (peganglah dengan sangat kuat)." – Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (44), dan Ahmad (17144))
4. Masa futur yang menyimpang dari sunnah adalah kehancuran
Perkataan وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ (Dan barangsiapa masa lemahnya tidak menuju ke sunnahku, maka sungguh ia telah binasa) adalah peringatan keras dari Rasulullah ﷺ bahwa kondisi lemah semangat bisa menjadi sebab kebinasaan jika seseorang tidak menjaganya. Jika seseorang saat futur justru meninggalkan kewajiban, malas shalat, membuka pintu maksiat, atau bahkan berhenti berdakwah karena kecewa, maka ia telah keluar dari jalur keselamatan. Masa futur harus tetap dijaga agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang dibenci Allah. Maka penting sekali menjaga lingkungan, sahabat, dan aktivitas yang mendukung ketaatan saat masa futur datang.سورة آل عمران، الآية 134 – 135
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ
وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ. وَٱلَّذِينَ
إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟
لِذُنُوبِهِمۡ
(Artinya: Orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka…)
5. Pentingnya menjaga keseimbangan dalam ibadah
Hadits ini mengajarkan kita bahwa semangat yang membara dan futur yang melemah harus dikelola dengan seimbang. Jangan memaksakan diri melebihi kemampuan dalam beribadah karena hal itu bisa memicu kejenuhan dan meninggalkan amal. Sebaliknya, jangan pula menurunkan semangat terlalu jauh hingga meninggalkan kewajiban. Rasulullah ﷺ menyukai amal yang sedikit tetapi terus-menerus.قال رسول الله ﷺ: أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ
قَلَّ
(Artinya: "Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit." – HR. Al-Bukhari (6465) dan Muslim (783))
6. Hindari ghuluw (berlebihan) dalam beragama
Hadits ini juga secara tidak langsung memperingatkan dari sikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam agama. Ketika seseorang semangat tanpa ilmu, ia bisa terjerumus ke dalam sikap ekstrem, membebani diri, atau bahkan meremehkan orang lain. Rasulullah ﷺ membimbing kita agar semangat kita tetap berpijak pada keseimbangan dan petunjuk beliau.قال رسول الله ﷺ: إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي
الدِّينِ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ
(Artinya: "Hati-hatilah kalian dari sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena berlebih-lebihan dalam agama." – HR. an-Nasa'i (3057), Ibnu Majah (3029), Ahmad (1851))
7. Bersahabatlah dengan orang-orang yang meneguhkan di masa futur
Salah satu pelajaran tambahan dari hadits ini adalah pentingnya berada dalam lingkungan yang mendukung ketaatan, terutama saat masa futur datang. Teman yang shalih akan mengingatkan kita untuk tetap berada di jalan sunnah meskipun semangat sedang menurun. Dengan begitu, masa futur tidak berubah menjadi kemunduran iman yang berbahaya.قال رسول الله ﷺ: الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ،
فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
(Artinya: "Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman." – HR. Abu Dawud (4833), at-Tirmidzi (2378), dan Ahmad (8398))
8. Kembali kepada ilmu adalah solusi saat futur datang
Ketika mengalami futur, salah satu solusi paling efektif adalah kembali belajar ilmu agama. Ilmu akan menguatkan hati, memperbaiki niat, dan mengarahkan amal agar kembali sesuai sunnah. Dengan ilmu, kita dapat membedakan antara futur yang wajar dan futur yang berbahaya. Ilmu juga menghidupkan semangat secara sehat, tidak berlebihan, dan tidak menyalahi tuntunan.Secara keseluruhan, hadits ini memberikan panduan hidup bagi setiap Muslim untuk menghadapi dinamika keimanan dengan bijak. Masa semangat dan masa futur adalah sunnatullah, namun kunci keselamatan adalah tetap mengikuti sunnah dalam keduanya. Dengan menjaga keseimbangan, menghindari ghuluw, dan memperkuat lingkungan serta ilmu, seorang mukmin akan tetap teguh di jalan Allah hingga akhir hayat.
Penutup
Kajian
Setelah kita mempelajari hadits ini dengan penuh perhatian, kita dapat menyimpulkan bahwa Rasulullah ﷺ sedang membimbing kita untuk memahami tabiat jiwa manusia dalam beramal. Setiap amal, betapapun semangatnya diawal, pasti akan menghadapi masa turun semangat. Dan di saat itulah, ujian terbesar datang: apakah kita tetap berada di atas petunjuk sunnah, ataukah kita tergelincir keluar dari jalan yang lurus.
Hadits ini memberikan pelajaran besar agar kita tidak tertipu oleh semangat sesaat. Islam mengajarkan keseimbangan: tidak terlalu memaksakan diri hingga futur, tapi juga tidak lalai dan meninggalkan kewajiban. Nabi ﷺ ingin kita membangun pola ibadah yang stabil, berkelanjutan, sesuai sunnah, dan penuh keikhlasan. Inilah jalan orang-orang yang selamat.
Harapan kami, setelah kajian ini, setiap kita mulai mengatur kembali semangat beribadah secara bijak. Bagi yang sedang semangat, pertahankan dan arahkan semangat itu dengan ilmu dan kesesuaian dengan sunnah. Bagi yang sedang futur, jangan menyerah, kembalilah pelan-pelan dengan tetap berada di jalur yang benar.
Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk beramal secara konsisten, semangat yang lurus, dan hati yang senantiasa terikat dengan petunjuk Nabi ﷺ. Dan semoga hadits ini menjadi cahaya yang membimbing amal kita sehari-hari, agar kita tidak hanya bersemangat di awal, tetapi juga istiqamah hingga akhir hayat. Aamiin.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ
وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ
إِلَيْكَ
وَصَلَّى اللَّهُ
عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ